Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal sihir sang pencuri petaka batu magis
Fenomena tidak asing yang ditunjukkan oleh Leo adalah tanda jelas bahwa ia telah mengonsumsi buah magis. Kini, Leo mampu menyerap energi alam bahan baku utama dari segala sihir.
Namun, karena ini adalah pengalaman pertamanya tanpa bimbingan ataupun pengetahuan dasar, Leo hanya bisa menyerap tanpa tahu cara mengaktifkan sihir tersebut. Entah bagaimana, penyerapan energi pertamanya langsung melonjak dalam skala yang masif. Padahal, seharusnya jumlah dan aliran energi alam tumbuh berkembang secara bertahap seiring latihan sang pengguna.
Melihat fenomena mengerikan itu, sang bos dan seluruh anak buahnya yang tersisa langsung panik total. Baru kali ini mereka menyaksikan aliran energi sederas itu. Secara serentak, mereka menodongkan tongkat sihir ke arah Leo, bersiap menembak sebelum terlambat.
Di saat yang sama, Leo mulai panik setengah mati. Energi alam yang dihisapnya kian menguat, membesar, dan mulai terasa panas membakar. Penyerapan itu menolak berhenti, terus-menerus menjejalkan energi ke dalam batu magis di tongkatnya di luar kendali. Batu magis di ujung tongkat curian itu menyala kian benderang, memancarkan cahaya putih menyilaukan yang menelan seisi ruangan. Leo tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan atau mengalihkan energi sialan ini.
KREK... KREK...
Batu magis pada tongkat tersebut mulai retak, tak kuasa menahan luapan energi raksasa yang terus dialirkan oleh tubuh Leo. Retakan demi retakan menjalar dalam hitungan milidetik, lalu...
BLAAASTTT!!!
Sebuah ledakan sihir murni yang luar biasa dahsyat berdentum, memekakkan telinga, dan menghancurkan apa pun di hadapan Leo hingga rata dengan tanah. Dinding gubuk mereka hancur berkeping-keping menjadi abu. Gelombang kejut raksasa yang tercipta menghempaskan tubuh Leo ke belakang, membuatnya bergulingan belasan meter di atas tanah halaman.
Asap tebal dan debu perlahan menipis diterpa angin lembah. Leo terbatuk-batuk hebat, mencoba bangkit berdiri dengan tubuh gemetar, lebam, dan linu di sekujur sendi. Namun, saat ia mendongak dan memandang ke depan, pemandangan di hadapannya tampak begitu mengerikan. Efek kehancuran akibat ledakan itu membentang sangat jauh, hingga Leo bahkan tidak bisa melihat di mana ujungnya.
Sebagian besar anak buah berjas rapi tadi telah terkapar tak bernyawa di atas tanah yang menghitam akibat hantaman ledakan jarak dekat. Sementara itu, sang bos berhasil selamat, meski menderita luka-luka yang sangat parah di sekujur tubuhnya.
Nyawanya tertolong hanya berkat tameng hidup dari lima anak buah setianya. Walau sempat mengaktifkan sihir pelindung, kelima orang itu tewas di tempat demi melindungi sang bos. Dengan sisa tenaga yang habis, sang bos akhirnya ambruk dan pingsan di tengah reruntuhan kayu yang terbakar.
Setelah debu ledakan agak mereda, Leo yang masih syok langsung menghampiri Rheno dan Cheeta yang untungnya terlindungi oleh sisa dinding batu. Dengan ekspresi wajah yang masih tidak percaya pada kekuatan dahsyat yang baru saja keluar dari tubuhnya sendiri, Leo buru-buru memotong tali yang mengikat kedua temannya.
"Apa yang baru saja kau lakukan, hah?!" tanya Cheeta dengan napas terengah-engah, matanya membelalak lebar menuntut penjelasan logis.
"Tidak tahu," jawab Leo polos, pendek, dan acuh tak acuh karena otaknya sudah terlalu lelah untuk berpikir.
PLETAK!
Jawaban pendek tak bertanggung jawab itu langsung dihadiahi sebuah jitakan keras di dahi Leo oleh Cheeta yang masih jengkel.
"Oyy! Si bos ternyata masih hidup!" teriak Rheno dari kejauhan sambil memeriksa tubuh pria paruh baya yang terkapar pingsan itu. Di dunia yang kejam ini, menemukan mayat di jalanan adalah hal yang lumrah. Itulah mengapa mereka begitu santai meski semua anak buah si bos sudah tidak bernyawa lagi.
Mendengar hal itu, sebuah senyum penuh kelicikan tiba-tiba terukir di wajah Cheeta. Jiwa mereka sebagai pemburu sisa-sisa perang langsung meronta-ronta melihat tumpukan barang mewah di depan mata.
Tanpa membuang waktu lagi, ketiganya langsung melucuti pakaian mahal milik geng berjas rapi tersebut. Mereka menjarah semua barang berharga yang tersisa: kantong koin emas, perhiasan, hingga beberapa tongkat sihir yang tidak hancur akibat ledakan.
Setelah si bos diikat erat-erat menggunakan sisa tali pada satu-satunya tiang gubuk yang masih berdiri, mereka duduk beristirahat sejenak di atas reruntuhan. Sembari memulihkan tenaga yang terkuras, Leo teringat bahwa si bos awalnya membawa empat buah magis. Artinya, masih ada tiga buah lagi yang tersisa.
Setelah dirasa cukup beristirahat, trio gubuk itu kembali berkumpul dan mengerumuni si bos. Rheno mengangkat seember air sumur yang dingin, lalu... BYURR! Ia menyiramkannya tepat ke wajah pria paruh baya tersebut agar segera siuman.
"Ahkkkhh...!"
Sang bos tersentak bangun dan berteriak kesakitan. Luka-luka bakar di sekujur tubuhnya terasa luar biasa perih dan menyengat akibat terkena siraman air. Sebelum kesadaran pria itu pulih sepenuhnya, Cheeta berjalan mendekat dengan perlahan. Ia membungkuk, lalu mencengkeram dagu si bos dengan gaya yang dibuat sok elegan.
"Kamu lumayan tampan juga," ucap Cheeta dengan nada berbisik, menirukan persis kata demi kata yang diucapkan si bos kepadanya beberapa saat lalu.
Bedanya, kali ini tidak ada lagi anak buah berjas yang berani berbisik untuk mengingatkannya.
Cheeta lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia berdeham canggung dan bergumam pelan pada diri sendiri, "Ops, maaf. Aku hampir melenceng dari tujuan utama."
Seketika, wajah si bos memucat pasi melihat tatapan ketiga remaja di depannya.
"Woi! Jelaskan semuanya sekarang! Apa yang sebenarnya terjadi dengan buah itu? Dari mana kalian mendapatkannya? Aku tahu kamu masih punya buah yang lain. Katakan di mana sisanya! Kalau tidak... Leo!" ancam Cheeta dengan nada ketus dan dingin.
Mendengar namanya dipanggil untuk menggertak, Leo langsung melangkah maju dengan senyum menyeringai lebar. Ia memamerkan sekantong batu magis hasil jarahan mereka.
"Siap! Aku punya banyak batu aneh di sini untuk diledakkan lagi tepat di depan wajahmu!" seru Leo meyakinkan.
"Itu batu magis mentah! Bukan begitu cara memakainya, dasar amatir bodoh!" teriak si bos frustrasi sekaligus ketakutan setengah mati. Ia membayangkan tempat itu akan meledak dan rata dengan tanah untuk kedua kalinya.
"Oh, jadi sekarang kau sudah siap bicara?" sindir Cheeta sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Rheno yang memperhatikan interaksi kejam itu dari tadi hanya bisa menelan ludah dengan ngeri. Ia menatap si bos dengan pandangan penuh rasa kasihan yang mendalam.
Walaupun Cheeta hanya berniat meniru kelakuan si bos sebelumnya untuk menggertak, di mata Rheno yang terlalu polos, Cheeta saat ini terlihat jauh lebih menyeramkan. Baginya, gadis itu adalah definisi nyata dari manusia yang adil dan biadab.
Menggigil ketakutan karena dikepung oleh seorang gadis kejam, si "singa nekat" yang memegang kantong bom magis, dan si otot raksasa, nyali sang bos akhirnya runtuh total. Demi menyelamatkan nyawanya yang berada di ujung tanduk, ia pun mulai membuka mulut dan menceritakan semuanya.