Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Batu Penggembala
Di lapangan hiburan alun-alun Kota Eunha, puluhan tenda berdiri berdesakan seperti perahu yang ditambatkan di dermaga, masing-masing bersaing merebut perhatian orang yang lewat.
"Ramalan jitu! Meramal masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan batu ramal!"
"Tebak jodoh! Sebut namanya, sebut sukunya, sebut jalan tempat ia tinggal!"
"Datanglah! Peramal terkenal dari kota lain hanya singgah sampai besok!"
Nuri melewati tenda-tenda itu satu per satu. Bau malam yang hangat, minyak lampu, dan daging panggang bercampur menjadi satu. Di salah satu sudut, seekor monyet tua yang diikat ke sebuah panggung kecil sedang memungut koin dari telapak tangan orang-orang yang lewat.
Nuri berdiri sesaat di depan tenda pendek yang lusuh itu, menekan topinya, menimbang-nimbang antara melangkah masuk dan berbalik pulang.
Barang yang gratis justru menagih harga yang paling mahal, desahnya dalam hati.
Sejak awal ia sudah memutuskan bahwa apa pun layanan tambahan yang ditawarkan perempuan itu, ia akan menolaknya dengan tegas.
Kalau memang semahir itu, coba ramalkan bahwa aku sedang berdiri di dalam tubuh orang lain, di dunia yang bukan rumahku!
Dengan pikiran itu, Nuri mengikuti perempuan berwajah dicat merah dan kuning itu, menundukkan badan sedalam-dalamnya untuk memasuki tenda pendek.
Bagian dalam tenda sangat gelap; hanya beberapa berkas cahaya yang berhasil menyusup dari celah-celah kain yang meneranginya samar-samar. Di bawah cahaya sekecil itu, tampak sebuah papan kayu berpalung dengan tiga lengkung di permukaannya, dan sebuah cawan hitam yang menampung sejumlah batu ramal berukir.
Perempuan bertopi runcing itu sama sekali tidak terganggu oleh gelapnya tenda. Jubah hitamnya yang panjang meluncur seperti mengalir di atas air ketika ia berjalan memutari meja, duduk di sisi yang berseberangan, lalu menyalakan sebatang lilin.
Cahaya kuning yang redup itu berkedip-kedip, membuat isi tenda terang dan gelap silih berganti. Seketika suasana itu bertambah misterius.
Nuri memerhatikan gerak-gerik perempuan itu dalam diam. Dari punggung tangannya yang kasar dan kuku-kukunya yang kotor, ia menduga sebagian besar waktu perempuan itu dihabiskan untuk naik turun jalan setapak dan melatih hewan, bukan untuk duduk meramal di balik papan.
Nuri duduk dengan tenang, dan pandangannya menyapu papan ramal di depannya. Ia mengenali susunan yang tampak familier: tiga lengkung untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta deretan batu berukir yang serupa namun belum pernah ia lihat dengan matanya sendiri.
Mungkinkah Hyeonmu ini seorang pendahulu sejati? Ia bertanya-tanya di dalam hati. Entah apakah orang itu juga pendatang dari negeri yang jauh seperti diriku.
Sebelum ia sempat menyelesaikan pengamatannya, perempuan yang mengaku pandai meramal itu telah mengulurkan kedua tangannya dan mengumpulkan seluruh batu di atas papan itu ke dalam cawan hitam. Ia mengguncang-guncangnya pelan, lalu meletakkan cawan itu di depan Nuri.
"Kocok batu-batunya dulu, kemudian tuang," kata perempuan itu dengan suara yang teredam.
"Aku? Mengocok batu?" Nuri menjawab tanpa sadar.
Cat merah dan kuning di wajah perempuan itu mengerut bersama-sama ketika ia memperlihatkan senyum tipis. "Tentu saja. Takdir setiap orang hanya bisa diurai oleh orang itu sendiri. Aku hanyalah pembaca yang menyalurkannya."
Nuri langsung menaruh kecurigaan. "Meramal seperti ini tidak memungut biaya tambahan, bukan?"
Sebagai peramal yang konon hanya tahu sedikit, ia sudah terlalu sering melihat trik-trik macam ini!
Perempuan itu tampak terkejut sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan suara teredam, "Gratis."
Nuri menghela napas lega. Ia menggeser belati di lipatan dalam saku mantelnya sedalam-dalamnya supaya tidak tampak menonjol, lalu dengan tenang mengambil cawan itu dan mengguncang-guncang batu di dalamnya dengan cekatan.
"Sudah." Ia meletakkan cawan yang berisi batu yang telah dikocoknya di tengah papan.
Perempuan itu menumpangkan kedua tangannya di sisi papan dan memerhatikan cawan itu dengan saksama. Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba membuka mulut. "Maaf, aku lupa bertanya: tentang apa kira-kira yang ingin Tuan tanyakan?"
Ketika merayu pujaan pertamanya dulu, Nuri pernah meneliti cara meramal dengan batu ramal. Ia menjawab tanpa ragu, "Masa lalu, masa kini, dan masa depan."
Itulah salah satu cara meramal yang lazim dipakai pada papan berpalung: tiga lengkung yang diisi secara berurutan melambangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan seseorang.
Perempuan itu mengangguk lebih dulu, lalu melengkungkan bibirnya menjadi senyuman. "Kalau begitu, kocok batu-batunya sekali lagi. Kau hanya akan memperoleh tanda yang benar-benar kau inginkan bila kau tahu apa yang ingin kau tanyakan."
Sekarang kau mempermainkanku? Sebegitu piciknya? Bukankah aku cuma bertanya-tanya apakah ini gratis? Ujung pipi Nuri berkedut. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil cawan itu kembali dan mengguncangnya sekali lagi.
"Kali ini tidak akan ada masalah lagi, kan?" Ia meletakkan kembali cawan itu di atas papan.
"Tidak ada masalah." Perempuan itu menjulurkan jarinya ke dalam cawan, mengambil sebutir batu, dan menaruhnya di lengkung sebelah kiri. Suaranya semakin lama semakin pelan. "Batu ini melambangkan masa lalumu."
"Batu ini melambangkan masa kinimu." Perempuan itu menaruh batu kedua tepat di lengkung di depannya.
Kemudian ia mengambil batu ketiga dan menaruhnya di lengkung sebelah kanan Nuri. "Batu ini melambangkan masa depanmu."
"Baik, batu mana yang ingin Tuan lihat lebih dulu?" Setelah selesai menaruh batu-batu itu, perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap Nuri dengan mata biru kelabunya yang dalam.
"Aku ingin melihat 'masa kini' dulu," kata Nuri setelah berpikir sejenak.
Perempuan itu mengangguk pelan dan membalik batu yang berada tepat di depan Nuri.
Pada permukaan batu itu terukir sosok berpakaian warna-warni yang mengenakan topi compang-camping, dengan sebatang tongkat di pundaknya. Di ujung tongkat itu menggantung sebuah gendongan, dan seekor anak anjing mengikuti dari belakang. Di sisi yang sejajar terpahat angka "0."
"Batu Penggembala," ujar perempuan itu pelan, mata biru kelabunya terus tertuju pada Nuri.
Batu Penggembala? Tanda angka nol? Sebuah permulaan? Awal yang segar dengan segala macam kemungkinan? Nuri bahkan tidak bisa disebut penggemar batu ramal, sehingga ia hanya bisa membaca artinya secara kasar, mengira-ngira dari kesan yang samar-samar.
Tepat ketika perempuan itu hendak berkata-kata, tirai kain tenda tiba-tiba terangkat. Cahaya matahari yang menyorot masuk begitu menyilaukan sehingga Nuri, yang membelakangi pintu masuk, tanpa sadar menyipitkan matanya.
"Kenapa lagi-lagi kau meniru-niruku! Meramal untuk orang adalah tugasku! Cepat kembali ke posmu! Ingat, kau hanya seorang pelatih binatang!" sebuah suara perempuan menggeram marah.
Pelatih binatang? Mata Nuri sudah beradaptasi dengan cahaya sekarang. Ia melihat seorang perempuan yang hampir mirip: mengenakan topi runcing yang sama, jubah hitam yang sama, dan wajah yang juga dicat merah dan kuning. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa yang baru datang ini lebih tinggi dan berperawakan lebih ramping.
Perempuan yang duduk di depannya segera bangkit dan berkata dengan nada tidak puas, "Jangan dipedulikan, itu cuma karena aku suka melakukannya. Tapi harus kuakui, kadang ramalan dan tebakanku memang sangat jitu. Sungguh..."
Sambil berkata begitu, ia mengangkat ujung jubahnya, berjalan memutari sisi meja, lalu berlari kecil keluar dari tenda.
"Tuan, mau kubacakan arti batu-batu Tuan?" peramal sejati itu menatap Nuri dan bertanya sambil tersenyum.
Kedua ujung bibir Nuri berkedut. Ia bertanya dengan tulus, "Apa itu gratis?"
"...Tidak," jawab peramal sejati itu.
"Kalau begitu, lupakan saja." Nuri menarik kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia menggenggam belati dan uangnya dengan erat sebelum menundukkan badan dan keluar dari tenda.
Sial! Orang yang baru saja meramalku itu ternyata seorang pelatih binatang?
Bukankah pelatih binatang yang tidak mau jadi pelatih binatang adalah badut yang paling menghibur?
Dengan cepat Nuri melupakan perkara itu. Ia membeli satu kati daging kambing yang kualitasnya kurang baik seharga tujuh keping tembaga di Pasar Sayur dan Daging. Lalu ia juga membeli kacang polong muda, kubis, bawang, dan kentang, serta beberapa barang lain. Ditambah roti gandum yang ia beli sebelumnya, total belanja hari itu genap dua puluh lima keping tembaga, setara dengan dua keping perak dan satu keping tembaga.
Pasar Sayur dan Daging di alun-alun Kota Eunha memang padat pada jam segini. Para pedagang saling berteriak menawarkan dagangan, para ibu menawar dengan lantang, dan anak-anak berlarian menyusuri lorong sempit di antara kios-kios kayu. Nuri menunduk menembus kerumunan, lalu menepi setiap kali ada gerobak dorong lewat.
Ia berhenti di kios langganannya di ujung kiri, memilih barang-barang yang harganya paling murah, lalu melanjutkan langkah. Roti gandum yang ia beli di pagi hari menekan perutnya yang mulai keroncongan, tetapi ia mengekang godaan untuk membeli makanan lain. Di tengah jalan, ia sempat berpapasan dengan seorang petugas pos yang membaca surat sambil berjalan, seekor kucing belang yang duduk di atas karung beras, dan dua orang murid yang bersitegang soal giliran piket kelas.
"Sungguh tidak cukup untuk dibagi-bagi... Kasihan Wonho..." Bukan hanya dua lembar uang yang ia bawa keluar yang ludes; uang itu pun harus ia genapi dengan beberapa keping tembaga dari saku celananya.
Ia hanya menghela napas dan tidak berpikir lebih jauh, lalu bergegas pulang.
Dengan makanan pokok yang tersedia, kini ia bisa melaksanakan ritus penyeimbang nasib!
---
Setelah para penyewa lantai dua satu per satu keluar rumah, Nuri masih belum terburu-buru melaksanakan ritus itu.
Ia justru melatih kalimat-kalimat berkat itu dalam Bahasa Langit Tua dan dalam bahasa sehari-hari Kerajaan Hwaryeong, dengan niat mencoba ritus itu sekali lagi besok memakai bahasa-bahasa setempat apabila doa aslinya tidak membuahkan hasil.
Bagaimanapun, ia harus memperhitungkan perbedaan antara dua dunia. Di bumi dipijak, di situ langit dijunjung!
Adapun untuk menerjemahkannya menjadi doa ritus kuno yang memakai bahasa upacara khusus, Nuri kesulitan menyelesaikannya karena kosa katanya yang amat terbatas.
Setelah segala sesuatunya siap, ia akhirnya mengambil empat potong roti gandum.
Satu potong ia letakkan di sudut tempat anglo pernah berdiri, satu lagi di sisi dalam bawah cermin rias, satu di puncak lemari tempat dua dinding bertemu, dan satu potong terakhir di sisi kanan meja tulis yang dipenuhi barang-barang.
Nuri menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri di tengah ruangan dan meluangkan beberapa menit untuk menenangkan diri.
Setelah itu, ia mengambil satu langkah khidmat ke depan dan bergerak berlawanan arah jarum jam membentuk segi empat.
Ketika mengambil langkah pertama, ia membisikkan doa, "Penjaga langit timur yang menyalakan fajar, ucapkan berkat untukku."
Pada langkah kedua, ia memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh, "Penjaga langit selatan yang menahan terik, ucapkan berkat untukku."
Pada langkah ketiga, Nuri mengembuskan napas pelan. "Penjaga langit barat yang menggulung senja, ucapkan berkat untukku."
Pada langkah keempat, Nuri membisikkan doa dengan pelan, "Penjaga langit utara yang menjaga malam, ucapkan berkat untukku."
Ketika kembali ke posisi semula, Nuri memejamkan mata dan menanti hasil di tempatnya.
Ada harapan di dadanya, ada kegusaran, ada kecemasan, dan ada ketakutan.
Mampukah ia kembali ke Negeri Cahaya?
Akankah ritus ini benar-benar berbuah?
Mungkinkah muncul keadaan yang tidak terduga?
Meski begitu, ia tetap berdiri tegak di tengah ruangan, menekan gejolak di dadanya. Apa pun hasilnya nanti, tidak ada gunanya berlari kencang bila arah tujuan saja belum jelas. Sementara cahaya di jendela belum juga menguning, tak seorang pun berada di sisinya untuk sekadar menguatkan ataupun menenangkannya.
Sesuatu yang tidak diketahui di depannya terasa dialiri cahaya merah penuh harapan. Pikiran Nuri berputar-putar di kepalanya, sulit diredam.
Pada saat itulah ia tiba-tiba merasakan udara di sekelilingnya berhenti bergerak, menjadi pekat dan peka, penuh misteri.
Sejurus kemudian, terdengar bisikan di sisi telinganya: kadang nyata, kadang tajam, kadang seperti khayalan, kadang merayu, kadang mendera, kadang liar.
Ia jelas tidak memahami isi bisikan-bisikan itu, tetapi Nuri tetap tidak kuasa menahan keinginannya untuk mendengarkannya, untuk membedakan apa yang sedang mereka ucapkan.
Kepalanya kembali terasa sakit. Sakitnya begitu menyiksa, seolah ada bor baja yang menusuk ke dalamnya.
Nuri hanya merasa kepalanya seperti hendak meledak. Pikirannya dipenuhi warna-warni yang kacau.
Ia tahu ada yang tidak beres dan mencoba membuka matanya. Namun ia bahkan tidak sanggup menyelesaikan gerakan sesederhana itu.
Seluruh tubuhnya semakin lama semakin menegang, terasa seperti bisa remuk berkeping-keping kapan saja.
Pada saat itu, pemikiran yang menertawakan diri sendiri muncul di benak Nuri.
Seandainya tadi ia tidak mencoba-coba, sekarang ia tidak akan berada dalam keadaan celaka begini.
Ia tidak lagi sanggup menahannya. Tepat ketika pikirannya hendak pecah, bisikan-bisikan itu memudar, dan sekelilingnya seketika menjadi sangat sunyi. Suasana di sekitarnya terasa ganjil.
Bukan hanya suasana; Nuri merasakan tubuhnya melayang dalam sensasi yang sama.
Ia mencoba sekali lagi membuka matanya, dan kali ini gerakan yang begitu mudah itu berhasil.
Kabut abu-abu menyelimuti pandangannya, samar, pekat, dan tanpa ujung.
"Apa maksud keadaan ini?" Nuri tiba-tiba menengok ke sekelilingnya lalu menunduk, dan barulah ia menyadari bahwa ia sedang mengambang di tepi lautan kabut yang tiada bertepi.
Kabut itu mengalir seperti air dan dihiasi banyak 'bintang' merah tua. Sebagian berukuran besar, sebagian kecil; sebagian tampak tersembunyi di kedalaman, sebagian lagi mengambang tipis di permukaan kabut yang bagaikan air itu.
Menatap pemandangan yang nyaris seperti ilusi itu, Nuri mengulurkan tangan kanannya, setengah bingung, setengah penasaran, untuk mencoba menyentuh 'bintang' merah tua yang tampak mengambang di permukaan. Ia sedang mencari jalan untuk meninggalkan tempat ini.
Ketika tangannya menyentuh permukaan bintang itu, riak air tiba-tiba terbit dari dalam tubuhnya, mengguncang bintang-bintang di sekitarnya menjadi ledakan 'merah tua' yang membara. Ledakan itu seperti kobaran api dalam mimpi.
Nuri kaget karenanya. Ia menarik tangan kanannya dengan panik, tetapi tanpa sengaja menyentuh bintang merah tua yang lain.
Akibatnya, bintang itu ikut meledak dalam cahaya yang indah pula.
Sebaliknya, Nuri merasakan pikirannya menjadi kosong dan jiwanya tercerai-berai.
---
Di ibu kota Kerajaan Hwaryeong, Kota Bongnae. Di dalam sebuah vila mewah di kawasan istana.
Putri Hana duduk di depan sebuah meja rias yang ukirannya kuno. Di atas permukaannya berdiri sebuah cermin perunggu yang sumbing.
"Cermin, bangunlah...
"Dengan nama keluarga Hana, aku memerintahkanmu untuk bangun!"
...
Apa pun yang dilakukan cermin ini, Hana telah menyiapkan banyak cara untuk membangunkannya. Ia mencoba mantra-mantra dalam bahasa kuno yang dihafalnya dari buku-buku di perpustakaan istana, lalu doa-doa yang biasa dilantunkan pengasuhnya ketika panik, dan terakhir lagu pengantar tidur yang kerap dinyanyikan ibunya ketika ia masih kecil.
Ia berganti-ganti melafalkan banyak susunan kalimat, dari yang serius sampai yang konyol, tetapi cermin itu sama sekali tidak bergeming.
Setelah lebih dari sepuluh menit, ia akhirnya memilih menyerah. Dengan cemberut manja ia bergumam pelan, "Ayah memang pandai membual. Ia selalu bercerita bahwa cermin ini adalah peninggalan zaman Maharaja Gelap, dan bahwa cermin ini tergolong benda gaib..."
Ucapannya terhenti. Cermin perunggu yang tergeletak di atas meja rias itu tiba-tiba menyala dalam cahaya merah tua yang menyelubungi seluruh tubuhnya.
---
Di Laut Kilau, sebuah kapal layar bertiang tinggi yang tampak seperti peninggalan zaman dulu sedang berlayar menembus badai.
Laksamana Narin berdiri di geladak, tubuhnya mengikuti irama ombak dan dengan mudah menjaga keseimbangannya.
Ia mengenakan jubah bersulam pola kilat, dan di tangannya ia menggenggam sebuah botol kaca berbentuk aneh. Di dalam botol itu kadang-kadang tampak gelembung-gelembung yang mengelegak, kadang embun beku yang berubah menjadi salju, kadang terlihat tanda-tanda angin kencang yang berputar-putar.
Praktik kecil ini telah ia jalani tanpa henti selama bertahun-tahun demi menempuh jalannya sendiri di tengah lautan. Setiap tetes darah Hiuhantu yang berhasil ia kumpulkan berarti satu langkah lebih dekat menuju tujuannya.
"Masih kurang darah Hiuhantu..." gumam Narin.
Namun pada saat itu juga, di celah antara botol kaca dan permukaan telapak tangannya muncul ledakan merah tua. Dalam sekejap ledakan itu menyelimuti sekelilingnya.
---
Di dalam kabut kelabu, Putri Hana berangsur-angsur pulih penglihatannya.
Dalam keadaan ngeri dan bingung, ia mulai memperhitungkan situasi ketika ia melihat sosok samar seorang laki-laki di seberangnya melakukan hal yang sama.
Sejurus kemudian, mereka berdua menyadari ada sosok misterius lain yang berdiri tidak jauh dari mereka, terselubung kabut kelabu.
Sosok misterius itu tidak lain adalah Nuri. Ia sama tercengangnya dengan mereka berdua.
Beberapa belahan dunia yang saling berjauhan kini dijalin menjadi satu di sini, dalam balutan kabut kelabu yang tidak masuk akal. Hana menahan napas, Narin menurunkan bahu, dan Nuri memutar otak mencari kata-kata pertama yang paling tepat untuk memulai percakapan.
"Tuan, di mana kita berada?"
Hana dan Narin sama-sama terkejut sesaat lalu terdiam. Tidak lama kemudian, keduanya segera berkata serentak, "Apa yang hendak Tuan lakukan?"
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh