Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Suasana ruang makan keluarga yang megah itu terasa jauh lebih lengang dari biasanya. Di atas meja kayu jati berpelitur halus, berbagai hidangan lezat tertata rapi sup iga hangat yang asapnya masih mengepul tipis, ayam bakar bumbu kecap, tumis buncis kesukaan Bian, serta sambal terasi buatan Husna. Semua disiapkan dengan kesempurnaan yang sama seperti hari-hari biasa.
Namun, satu kursi utama di ujung meja tampak kosong.
Husna duduk dengan tenang, jemarinya memegang sendok dan garpu dengan sangat anggun. Di hadapannya, Devan dan Deka duduk bersebelahan. Kedua remaja SMA itu tak menyentuh makanan mereka. Pandangan mereka tertuju pada pintu menuju selasar belakang, tempat suara Bian terdengar samar-samar.
"Ya, Salma... Laporan untuk rapat besok disiapkan saja. Nanti Mas periksa lagi..." Suara Bian terdengar amat lembut, bernada perhatian yang dipaksakan sopan, namun terlalu hangat untuk sekadar obrolan antara atasan dan bawahan.
Sudah dua bulan belakangan ini pemandangan serupa berulang. Bian yang biasanya selalu hadir penuh di meja makan, kini seolah ragu untuk duduk bersama keluarganya. Ia selalu mengulur waktu entah berdalih menerima telepon penting dari kantor, mengecek email pekerjaan, atau berpura-pura menyelesaikan urusan mendadak.
"Makanannya dihabiskan, Devan, Deka. Nanti dingin," ucap Husna lembut, memecah keheningan yang kaku.
Deka meletakkan sendoknya ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan nyaring. Matanya menatap Husna dengan raut kekecewaan yang tak lagi mampu ia tutupi.
"Bagaimana kami bisa makan dengan tenang, Bun?" tanya Deka. Suaranya tertahan, namun tegas. "Ini sudah dua bulan. Papa makin tidak jelas. Setiap pulang ke rumah, matanya selalu tertempel di ponsel. Dan sekarang, waktu makan malam pun harus terganggu karena telepon dari wanita itu."
Devan mengangguk menyetujui saudaranya. Ia memajukan posisinya, menatap sang ibu yang tetap menunjukkan raut wajah tenang tanpa cela.
"Devan setuju sama Deka, Bun," sapa Devan pelan tapi bernada menuntut jawaban. "Bunda tidak bisa pura-pura tidak tahu lagi. Perubahan sikap Papa itu sudah kelewatan. Kalau cuma masalah pekerjaan kantor, Papa tidak pernah tersenyum sendirian seperti orang mabuk kasmaran waktu membalas pesan."
Husna menghentikan suapannya. Ia mengambil serbet kain, menyapu sudut bibirnya dengan perlahan, lalu menatap kedua putra kembar yang sangat ia cintai itu. Di mata mereka, Husna melihat kilat kecerdasan sekaligus kehangatan anak laki-laki yang ingin melindungi ibunya.
"Papa kalian sedang banyak pikiran di kantornya," jawab Husna dengan nada datar yang teratur. "Karier di tingkat eksekutif memang menuntut tanggung jawab besar. Kalian fokus saja pada ujian sekolah dan kegiatan kalian."
"Bunda!" potong Deka gemas. "Kenapa Bunda masih membela Papa? Sibuk apa, Bun? Sibuk dengan pacar barunya, iya kan?"
Kalimat Deka melayang di udara, membuat suasana ruang makan seketika makin membeku. Tidak ada riak terkejut di wajah Husna. Ia hanya menatap Deka lurus-lurus.
"Deka sudah lihat sendiri, Bun," lanjut Deka dengan napas yang mulai tak beraturan. "Tiga hari lalu, Deka dan Devan tidak sengaja melihat mobil Papa berhenti di depan restoran dekat kompleks perkantoran. Papa turun sama karyawatinya cewek muda yang gaya pakaiannya centil itu. Papa bahkan membukakan pintu mobil buat dia. Papa tidak pernah lagi melakukan itu buat Bunda!"
"Kami bukan anak kecil lagi yang bisa Bunda bohongi dengan alasan 'urusan kantor'," timpal Devan. Tangannya mengepal di atas meja. "Kami sudah besar, Bun. Kami tidak butuh sosok Papa yang seperti itu pria yang tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Kalau Papa sudah tidak menghargai Bunda, untuk apa kita terus bertahan pura-pura jadi keluarga bahagia di rumah ini?"
Mendengar penuturan jujur dari kedua putranya, pertahanan dingin di dada Husna sempat goyah sejenak. Ada rasa haru yang mengaliri hatinya saat menyadari betapa dewasa dan protektifnya Devan dan Deka. Mereka tidak buta oleh kemewahan yang diberikan Bian, melainkan lebih peduli pada martabat dan kebahagiaan sang ibu.
Namun, sebagai wanita yang kenyang pengalaman hidup dan persaingan bisnis, Husna tahu bahwa emosi mentah tidak akan pernah menyelesaikan masalah dengan elegan. Impulsif hanya akan merugikan posisi mereka.
Husna menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pandangannya bergantian menatap Devan dan Deka.
"Kalian dengarkan Bunda baik-baik," kata Husna. Suaranya tidak keras, tetapi memiliki tekanan yang membuat kedua remaja itu mendadak bungkam dan menyimak.
"Bunda tahu apa yang terjadi. Bunda tahu persis siapa wanita itu, kapan mereka bertemu, dan sampai di mana hubungan mereka berjalan," lanjut Husna tenang.
"Bunda tidak buta, dan Bunda sama sekali tidak sedang dibodohi oleh Papa kalian."
"Lalu kenapa Bunda diam saja?" tanya Deka, nadanya kini melunak, berganti rasa heran yang mendalam. "Kenapa Bunda tidak labrak wanita itu? Atau minta penjelasan langsung dari Papa?"
Husna tersenyum tipis sebuah senyuman penuh makna yang memancarkan aura ketangguhan seorang pemegang kendali.
"Melabrak dan membuat drama itu hanya pekerjaan wanita yang tidak punya kelas dan tidak punya strategi, Deka," ujar Husna lugas. "Kalau Bunda mengamuk sekarang, Papa kalian hanya akan merasa tersudut dan mencari pembenaran untuk berlari ke wanita itu. Bunda tidak akan memberikan dia kepuasan seperti itu."
Devan mengerutkan keningnya, mencoba mencerna arah jalan pikiran ibunya.
"Maksud Bunda?"
"Kalian cukup ikuti alurnya saja," jawab Husna tegas. Matanya memancarkan ketajaman yang sangat dipahami oleh siapa pun yang pernah berhadapan dengannya di dunia bisnis. "Jangan buat keributan. Tetap bersikap sopan pada Papa kalian sebagaimana mestinya, tapi tidak perlu memberikan rasa hormat yang berlebihan."
Husna jeda sejenak, menatap pintu selasar di mana langkah kaki Bian mulai terdengar mendekat.
"Bunda pastikan satu hal pada kalian berdua," bisik Husna sebelum Bian benar-benar sampai di ruang makan. "Bunda tidak akan pernah membuat papa kalian tenang hidupnya setelah apa yang dia perbuat. Tahta dan masa depan keluarga ini tetap milik kalian, bukan milik siapa pun yang mencoba masuk."
Devan dan Deka saling pandang. Ada rasa lega sekaligus takjub yang menyelusup di dada mereka. Ibu mereka bukanlah korban yang pasrah teraniaya, melainkan seorang ahli strategi yang sedang menyusun langkah skakmat.
Tak lama kemudian, Bian melangkah masuk ke ruang makan dengan wajah yang dihiasi senyum tipis senyum yang langsung pudar begitu merasakan atmosfer tegang di meja makan.
"Maaf ya, tadi ada urusan pekerjaan penting yang harus Papa selesaikan lewat telepon," kata Bian merasa canggung seraya menarik kursi di ujung meja. "Lho, kok makanannya belum dimakan?"
Deka menatap Bian dengan tatapan dingin, lalu meraih sendoknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Devan hanya menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti sebelum mulai menyuap nasi ke mulutnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Ayo makan," sahut Husna sangat tenang, sembari menuangkan air putih ke gelas suaminya dengan gerakan yang amat sempurna.
Di balik sikap melayaninya yang tetap santun, Husna tahu, babak permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan ia sudah memegang seluruh kartu as di tangannya.
kmren waktu msh punya jabatan ,,
berasa kayak raja sampe nekat punya selir ,,
pdahal????
aaakh sudah laaa ,,
Selamat menempuh hidup baruuuu yx bian ,, 😒😒😒
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?