Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyelamatkan Prem

Kudaku melangkah perlahan di pemukiman, masih terang.

Aku menghentikan kuda di depan rumah Nuy.

Rumah itu sepi.

"Nona" aku berbalik.

Pria itu menunduk tersungkur.

Rupanya Tetua.

Penduduk lainnya datang.

Mereka memandangi Pakaianku.

Pakaian kuning adalah pakaian kehormatan kerajaan.

"Ampuni kami... " kata Tetua.

Semua bersujud.

Mereka ketakutan.

"Dimana Nuy dan anak-anaknya?" tanyaku.

Nuy berlari di balik kerumunan...

"Ampuni aku... ampuni aku... " katanya menangis gemetaran memegang kakiku.

"Apa yang terjadi? " tanyaku pelan turun dari kuda.

Mereka menceritakan kejadiannya.

Prem datang ke kota menjual perhiasan Pemberian Mayanza.

Setelah perhiasan itu dibayar, dia keluar dari toko dihadang prajurit.

Prem dipukuli dan dibawa ke istana.

Setelah mendengar cerita itu.

"Aku titip Nuy" kataku pada Tetua.

"Aku akan kembali membawa Prem" aku menaiki kudaku meninggalkan desa menuju Istana.

Kubuka sebuah mantra yang belum pernah aku coba, kulentikan jariku merapalkan mantra mataku bersinar bunga teratai, hologram raksasa muncul.... kusebut pelan tujuanku "lapangan istana"

**

Aku menunggangi kuda tiba di lapangan Istana.

Pengawal terkejut melihat aku dan kudaku sudah berada di tengah-tengah lapangan Istana Zink.

Aku melihat sekeliling pengawal siap dengan tombaknya.

Raja Yuko datang berjalan sendiri dengan gagah dari arah istana dengan jubah hitam bermotifkan bunga teratai emas berkibar tertiup angin.

Sebelum tiba Raja di depanku, aku merapal mantra membuka portal mendorong kuda masuk ke dalam gerbang kembali ke kandangnya.

aku menutup gerbang itu secepatnya.

Berdiri tegak sendiri terkepung Pengawal, pedang di kananku bersiap kucabut dari sarungnya.

Raja Yuko datang, memegang sesuatu di tangannya. Keningnya tergores terlihat bekas luka.

Selangkah dia maju mendekat.

"Apa maksudmu? " mengangkat gelang giok mengambil lengan kananku dan memaksa memasangnya di lenganku.

Aku melawan berusaha melepas tangan kananku dan terlepas.

Gelang tidak berhasil dipasang, gelang itu masih di tangannya.

Aku tersenyum.

"Kalian kemanakan Prem? " tanyaku.

Prem diseret ke tengah lapangan tangannya terikat wajahnya dipukuli tubuhnya dicambuk celananya sobek-sobek.

Duduk di tanah.

"Kalian menyakiti anak sekecil ini" aku mendekati Prem yang diam dengan tatapan kosong.

"Dia pencuri! " kata Raja Yuko.

"Pencuri? Aku yang memberikan tusuk konde itu pada ibunya" kataku berteriak di hadapan Raja Yuko.

Wajahnya menegang rahangnya mengeras menahan marah karena aku meneriakinya.

Aku lancang, tapi aku membela Prem dan keluarganya.

"Dia putra pengawalmu yang mati berperang untukmu Baginda Raja Yang Terhormat" kataku.

"Apa yang bisa kau berikan untuk keluarganya? " tanyaku mendekati wajahnya dua puluh senti saja, disertai tatapan yang penuh amarah sangat dekat lalu aku mundur menjauh.

Raja Yuko melotot marah padaku.

Aku mendekati Prem lagi.

Prajurit mundur, aku mendekat menyentuh Prem.

Aku mengeluarkan pedangku mengarahkan kesegala arah ke prajurit.

"Ada yang berani mendekat", aku mengancam.

"Ada yang perlu kita bicarakan Mayanza!" kata Raja dengan nada membentak.

Mendekat...

Aku menebas ikat pinggangnya giok kerajaan jatuh ke tanah.

Raja Yuko mundur dua langkah.

"Berani sekali kau menghunuskan pedang pada Raja!!! " kata Panglima membentakku ingin menyerang.

Pasukan Pemanah siap menembakan panahnya.

Prem gemetaran di sampingku.

Raja Yuko memberi komando dengan tangannya menahan serangan.

Dia memungut giok yang jatuh ke tanah.

Aku merapalkan mantra, memindah dimensi ke kediaman kakek.

Prem pingsan.

Bibi sudah menunggu di kandang kuda.

Membawa bungkusan makanan yang kuminta.

Bibi membantuku menaikan Prem ke Kuda.

Bibi Sarah kembali ke Rumah Kakek.

**

Aku berkuda pelan.. Memegang tubuh lemas Prem menuju perkampungan, hari sudah malam, bintang bersinar sangat indah.

Prem tertidur, lukanya sudah aku sembuhkan.

Bulan bercahaya dengan terang.

Kami tiba di Rumah Nuy.

Baru saja aku turun dari kuda...

Nuy berlari sambil menggendong Melati keluar.

Prem tertidur, lukanya sudah sembuh.

warga membantu mengangkat Prem ke tempat tidurnya.

"Jaga Prem baik-baik aku tidak bisa meninggalkan apa-apa" kataku, "hanya ini." Kuberikan bungkusan makanan, sayur dan buah yang kuminta bibi siapkan.

Baju kain blancu milik Nuy yang pernah kupinjam dan beberapa gulung kain sutra untuk baju.

Nuy menangis tidak bisa berkata-kata.

Aku keluar dari rumah.

Di depan sudah berdiri Raja Yuko dengan Jubah Hitamnya bersama pasukan pengawal.

Mereka membawa beberapa kotak hadiah yang diserahkan ke Tetua dan menyerahkan kepada Nuy, serta mengembalikan uang harga perhiasan konde emas yang terjual.

Aku tertawa memalingkan wajah.

Berjalan ke arah kudaku,

" Mau pergi kemana? " tanya Raja Yuko menarik tanganku.

Aku melepasnya.

Menunduk pamit dan menaiki kudaku pergi dengan cepat dari perkampungan.

Raja Yuko menyusul dengan kudanya dari belakang.

Aku berhenti di atas bukit memandang perkampungan dari atas.

Raja Yuko mendekat pelan dengan Kudanya.

Saat aku bersiap dengan mantra kembali, dia melompat kearahku.

Portal tertutup kembali.

Aku jatuh ke tanah berumput.

Raja Yuko menindihku dengan tubuhnya agar aku tidak bergerak.

Aku menarik pelan pisau bedahku dari persembunyiannya di saku tanganku.

Aku mengancam tanpa bicara, dengan tatapan akan menusuk leher Raja Yuko.

Mataku dan Raja Yuko bertatapan, masing-masing dengan amarah.

Dia bangkit perlahan setelah ancaman pisauku.

"Kau harus ikut ke istana" katanya pelan.

"Kenapa? " tanyaku.

"Banyak hal yang akan kujelaskan disana" katanya lagi.

"Kalau aku menolak" jawabku.

"Kau akan menanggung akibatnya" jawabnya tidak mau kalah.

Aku menguap.

"Sepertinya selama ini aku terlalu sering menanggung akibatnya" kataku.

Pasukan berkuda datang, membawa obor berhenti di sekitar Aku dan Raja Yuko berdiri. Aku berniat naik ke pelana kuda, Raja Yuko menotokku dari belakang, hingga tak bergerak dan pingsan.

**

Aku terbangun di Istana Selatan.

Kamar kediaman Raja.

di kasur sutra berwarna merah.

Hari sudah pagi.

Aku melihat pedangku ada di samping tempat tidur.

lenganku terlingkar gelang giok putih berlilitkan akar emas dan bunga melati.

"Sudah bangun...? " kata Raja Yuko yang datang dari luar kamar berjalan ke arahku dengan baju berwarna biru cerah.

Aku diam.

Dia menatap gelang giok yang kulepas di meja.

"Gelang itu milikmu!" ucap Raja Yuko.

"Aku tidak suka, terserah mau aku pakai atau aku buang" kataku.

"Kau buang lempar ke dahiku?" tanyanya dengan marah menunjuk dahinya mendekat wajahku.

Aku memundurkan wajah tetap berusaha tenang, walaupun rasanya senang tepat sasaran.

"Aku tidak tau kalau melempar dahimu, yang aku tau aku melempar masuk kediamanmu" kataku menjelaskan.

"Cih... " Raja Yuko duduk dan mencibir.

"Dahimu tidak sebanding dengan apa yang terjadi denganku di hutan itu" aku menatapnya.

Matanya menatapku balik.

"jadi itu kau kembali ke duniamu?" katanya.

"Aku tidak kembali saat itu" kataku

"Aku ditemukan Prem tersesat di hutan, di Danau Orang Mati, anak yang hampir kalian bunuh adalah penyelamatku" kataku.

"Aku tinggal sebagai pemetik buah, datang ke istana" kataku.

"Apa yang aku lihat di istana?? "

Aku bangkit berdiri.

"Mana putri Swanzi? " tanyaku

"Apa tuan putri di Istana Timur" kataku tertawa sinis.

"Apa kau sedang cemburu?? " kata Raja Yuko.

" Cemburu?apa urusannya?" kataku.

"Dari kata-katamu aku nilai kau cemburu terhadap Swanzi" kata Raja Yuko.

"Tidak ada alasan untuk cemburu, karena Swanzi sudah terlalu sering main-main serta mau membunuhku" jawabku.

"Aku memperhatikan Swanzi, karena aku sudah mengenalnya dari kecil" kata Raja Yuko.

Kenapa menjelaskan ini untukku.

Cemburu adalah kata untuk urusan asmara sedangkan aku tidak punya pemikiran ke arah asmara lebih kepada membayar kesalahan.

"Aku tidak pernah cemburu kepada siapapun di dunia kalian, aku hanya berpikir aku selalu dijadikan tumbal" kataku.

"Saat di hutan kami diserang, kau hilang.

Swanzi datang menolong kami" kata Raja Yuko.

"Karena menolong kami, kekuatannya hilang dan dia kembali menjadi manusia biasa yang tidak punya ilmu sihir" katanya lagi menjelaskan.

"Baiklah kalau begitu, berarti semuanya sudah tuntas dan duniamu aman" kataku.

"Aku mau pulang" kataku.

"Semuanya belum selesai" katanya.

"Portal yang terbuka sangatlah besar, kau harus tetap menjaga keseimbangan Dunia Zink" katanya lagi.

"Kenapa harus aku? " tanyaku.

**

Bersambung...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!