Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Buku Tua bersampul kulit kayu

"Kreeeeekkkk... "

Mayanza membuka lemari tua di gudang rumah kakek.

𝙱𝚞𝚔𝚞 𝚝𝚞𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚎𝚋𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚑𝚊𝚝𝚒𝚊𝚗 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊.

𝙱𝚞𝚔𝚞 𝚒𝚝𝚞 𝚍𝚒 𝚝𝚎𝚙𝚞𝚔-𝚝𝚎𝚙𝚞𝚔 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊 𝚍𝚒𝚋𝚎𝚛𝚜𝚒𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚍𝚎𝚋𝚞-𝚍𝚎𝚋𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚋𝚊𝚕.

Buku bersampul coklat dari kulit kayu.

"Uhuk.. Uhukk" Mayanza terbatuk.

Mayanza keluar ruangan gudang yang pengap itu ke halaman depan gudang.

Membawa buku itu membersihkan kotoran yang menempel di sampul buku tua.

"Mayanza... Apa yang kau lakukan disitu" ibunya melambaikan tangan untuk masuk kerumah.

Mayanza menoleh ke arah Ibu.

lalu menuju ke arah rumah Kakek.

Rumah kayu ber cat puth bergaya eropa dengan bingkai jendela yang besar. Halaman rumah rumput hijau yang sangat luas.

Mayanza memasukan buku itu di dalam tasnya.

**

Makan malam bersama.

"Seminggu sudah kakek meninggal, kakek tidak ada pesan apapun selain mewariskan rumah ini untuk kita bersama" kata Paman kakak tertua ibu.

Ibu punya Paman, satu-satunya keluarga.

Kami semua tinggal terpisah dari kakek.

Rumah kakek jaraknya lima kilometer dari rumah kami.

Paman di Kota Lembah Emas, dan kami tinggal di Kota ini satu dengan kakek, Kota Lunar.

Pamanku adalah pengusaha yang kaya raya, dia sangat sayang pada Ibuku adiknya yang bungsu.

Karena kami tinggal satu kota.

Kakek sering mendongeng padaku.

Aku sering sekali mengunjungi kakek, merawatnya sampai menghembuskan nafas terakhir.

Dan pesan di akhir perjumpaan kami.

Kakek membisikan sesuatu.

"Kalau kamu mau tau semua dongengku benar.

Kamu bisa mengambil buku itu di gudang"

Dan Aku Mayanza selalu penasaran dengan kebenaran kisah kakek. Usiaku baru 21 Tahun dan aku seorang dokter muda.

**

Aku tetap berkerja seperti biasa sebagai dokter.

jadwal piketku malam ini sudah selesai.

Aku balik mengendarai mobilku menuju parkiran.

Mobil sport berwarna merahku melaju di jalan beraspal menuju rumah.

Kuletakan tas di samping kursi kemudi.

Tiba-tiba kucing melintas di jalanan sepi.

Tasku yang tadi lupa aku tutup jatuh.

Isinya berhamburan.

Termasuk buku tua yang belum sempat kubaca dari kemarin.

Kumasukan kembali buku itu ke dalam tas kuniatkan membacanya malam ini.

Tiba di rumah,

Suasana rumah sepi.

Ibu dan Ayah seperti biasanya pasti sudah tidur.

Aku mandi menggunakan piyama putihku lalu berbaring di kasur.

Rasanya belum mengantuk, aku akhirnya membuka tas dan membaca.

Membaca buku tua.

**

" Siapapun yang bisa menemukan Bunga Teratai Emas di Dunia Zink.

Dia pasti akan mampu menyembuhkan penyakit kanker. "

Kisah kakek terngiang-ngiang di ingatanku.

Bunga dalam dongengnya.

Sampul buku itu sangat kokoh walaupun buku itu tua terasa berat di sampulnya terdapat gambar bunga teratai dan aksara yang tidak ku kenal.

Belum pernah aku mengenal aksara seperti itu dan aku tidak tau artinya.

Kusentuh perlahan aksara itu dengan jari telunjukku..

tiba-tiba ada kulit kayu yang menusuk jariku, jariku terluka berdarah.

reflek kuisap dengan mulutku menghentikan pendarahan.

Tidak banyak namun terasa sakit...

kuambil antiseptik.

dan membersihkan lukaku.

Kupandangi buku itu.

Darahku tertinggal di sampul.

Ku usap dengan tissu basah.

Tidak bisa hilang.

Darahku mengering masuk di salah satu aksara.

Kubuka lembaran pertama kertas itu bau lembab, dan masih berdebu.

akhirnya aku ke kamar mandi mengambil beberapa alat pembersih debu, lap dan kemoceng kecil.

"Akhirnya... " aku bergumam sendiri.

Buku tua ini menjadi bersih.

Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.

Aku pelan- pelan membaca setiap lembar yang di tulis dalam bahasa latin.

Buku itu menceritakan keajaiban bunga teratai emas yang bisa menyembuhkan banyak sekali penyakit.

Beberapa halaman menggambarkan bentuk teratai. Sama seperti bentuk teratai biasa.

Beberapa cara meracik teratai itu untuk pengobatan.

Hanya dengan menempelkan kelopaknya pada tempat penyakit yang ada.

Penyakit itu sembuh.

Bedanya teratai itu digambarkan berwarna emas dan bercahaya.

Aku membolak balikan buku.

mencari pengarang buku tersebut tidak ditemukan.

Lima halaman terbaca dan aku sangat mengantuk.

Aku menguap, lalu menyimpan buku itu di meja samping tempat tidurku.

**

Hari ini cerah, kicauan burung di pepohonan pinus sangat merdu.

Ibu sudah membuka jendela kamarku pagi ini.

Aku turun untuk sarapan,

Ibu sudah menyiapkan roti dan jeruk hangat.

Ayah sudah siap-siap berkerja.

Kami sarapan bersama lalu ayah pergi berkerja, ibu mengantarnya ke depan.

"Kamu tidak masuk berkerja pagi ini?" tanya ibu.

"Tidak bu. Nanti malam jadwal piketku" ucapku.

Ibu dan Bibi membersihkan meja makan.

Aku masuk ke kamar merapikan barang dan tatapanku berhenti pada buku yang terbuka.

Angin dan udara lembab di luar masuk ke kamar.

Bau tanah sehabis hujan dan udara yang dingin.

Tiba-tiba tubuhku kedinginan.

Hembusan angin sesaat terasa seperti angin musim salju.

Aku terpana pada gelas di atas meja...

berembun seperti di terpa angin es.

Aku diam, lalu kututup buku itu.

Ku tengok keluar jendela hanya terlihat hutan pinus dan udara yang dingin menerpa wajahku terasa tidak nyaman.

Kututup jendela kamarku.

**

Larut malam aku tiba di rumah, badanku lelah setelah mandi air hangat aku berbaring.

Kubuka Buku Tua Teratai Emas.

Kusebut begitu saja.

Aku tidak tau judul buku ini.

Tapi membacanya membuatku mengantuk, aku tertidur pulas.

Besok paginya, aku tertidur memeluk buku.

Tapi anehnya semua isi buku itu terasa selalu menempel di pikiranku.

Setiap aksara asing pun sepertinya aku ingat jelas.

"Heiii.. kenapa melamun" kata Ibu mengagetkanku ketika sarapan.

Aku tidak lahap memakan roti keju sosis dan secangkir teh hijau hidangan buatan ibu.

"Kamu tidak ada libur" kata Ayah yang duduk disampingku.

"Hari ini dan besok aku libur yah" kataku.

"Lumayan.. Kamu bisa istirahat lebih banyak kata Ayah lagi.

Aku mengangguk.

Semoga tidak ada panggilan operasi dari rumah sakit.

Aku bisa tenang istirahat dirumah.

Aku mulai mengantuk lagi, energiku sepertinya habis terserap, kelelahan.

Kuminum vitamin.

Terasa tidur semalam meninggalkan pegal.

Aku membuka laptop, mulai mencari manfaat teratai emas di internet.

Tidak ada yang tau manfaatnya.

Dan tidak ada yang tau dimana sejarah Negeri Zink berada.

Yang aku tau kisah kakek terasa nyata.

**

Pagi ini aku sudah siap berpakaian lengkap, tiba-tiba temanku meminta bertukar waktu piket.

Akhirnya aku memutar balik mobil kembali ke rumah. Di perjalanan macet. Mobilku berhenti di bawah pohon besar.

Terlintas di benakku mantra dan jariku mulai bergerak...

Bergerak mengikuti rapalan mantra membentuk pola di depan kaca mobil.

Tiba-tiba pola itu muncul membentuk gambar yang sama persis dari buku tua yang aku baca.

Aku terbelalak.

Sekejap aku berada di hutan tropis, aku duduk di bawah kayu besar.

Akar merambat dan tetesan embun kusentuh di dedaunan.

Aku rasa aku bermimpi..

Aku menepuk-nepuk pipiku, mencubit tanganku.

Ini nyata.

Aroma hutan...

Dedaunan hijau...

Aku mengadah keatas...

Cahaya matahari hampir tidak terlihat.

lalu aku bergerak maju ke depan ada suara-suara burung dan gemercik air.

Tali-tali dari akar kayu dan tumbuhan rambat terlihat mendominasi kayu-kayuan besar.

Aku melangkah...

di depan suara air...

Tiba-tiba aku mendengar suara orang berbicara di belakang semakin dekat...

Gerak kaki menginjak ranting.

"Krak... "

Aku takut...

Aku memutar jari merapalkan mantra...

Dan....

Aku kembali di mobil.

Ya aku sudah di mobilku...

Klakson nyaring di belakang memintaku untuk maju ke depan mengatasi macet.

Aku benar-benar tidak percaya.

Setibanya di rumah aku buru-buru lari ke kamar...

"Mayanza... Ada apa? " tanya ibu yang keheranan dari bawah tangga.

Dan aku mencoba mantra itu lagi sekali...

Aku berhasil, mencoba berjalan lebih jauh.

Aku masuk hutan dan kembali lagi ke dunia masa kini...

Aku mencoba lagi berulang kali, membawa peralatan senter dan pisau kecil.

Aku berhasil...

Ini nyata...

Aku berada di dunia berbeda...

Hutan ini bukan seperti kisah di buku.

Aku dimana???

Aku kembali gemetaran, bajuku kotor karena lumpur dan kakiku tertusuk duri tanaman.

Aku berhasil.

Kukunci pintu lalu aku membaca lebih banyak buku tua itu.

Aku mandi lalu berusaha tidak terjadi apa-apa di tengah keluargaku.

Pergi ke dunia lain sungguh mengasikan...

aku memetik bunga anggrek hutan berwarna putih dan kubawa kembali.

Kusimpan bunga itu di vas di meja belajarku di kamar....

Bunga Anggrek itu nyata...

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜....

𝙳𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊??

𝙰𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊 𝚔𝚎𝚖𝚞𝚍𝚒𝚊𝚗?

𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚜𝚞𝚔𝚊 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚜𝚊𝚑 𝚏𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜𝚒 𝚒𝚗𝚒...

𝚖𝚎𝚗𝚞𝚛𝚞𝚝𝚖𝚞 𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚎𝚔𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗 𝙼𝚊𝚢𝚊𝚗𝚣𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚝𝚊𝚖𝚋𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗.

𝚔𝚒𝚜𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊𝚔𝚞 𝚐𝚎𝚗𝚛𝚎 𝙵𝚊𝚗𝚝𝚊𝚜𝚒.

𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗 𝚜𝚞𝚔𝚊, 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗, 𝚏𝚘𝚕𝚕𝚘𝚠 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚑𝚊𝚛𝚎 𝚢𝚊..

𝚜𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚗𝚊𝚕...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!