Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA PULUH EMPAT
Di tempat yang berbeda, dipinggir jalan Raya terlihat Rindu sedang berjalan seorang diri. Rindu berjalan terus mengikuti jalan seakan tidak tahu kemana arahnya berjalan, hingga Rindu melihat beberapa tukang ojek yang sedang duduk dipangkalan ojek. Tanpa sungkan, Rindu memberanikan diri untuk bertanya.
"Permisi pak, saya mau bertanya, kalau daerah sini counter pulsa atau yang jual pulsa paling deket dimana ya pak?" tanya Rindu.
"Aduh neng tos tabuh sabaraha iyeu, paling oge lamun hayang ngisi pulsa nu cakeut mah di minimarket simpangan payun eta neng" jawab salah seorang tukang ojek separuh baya.
"Maksudnya pak? Maaf saya ngak begitu ngerti bahasa sunda" tanya Rindu dengan bingung mendengar tukang ojek tersebut berbicara dengan bahasa sunda.
"Maaf neng begini maksudnya, sekarang kan udah malem, udah jam berpa ini, palingan kalau mau ngisi pulsa yang deket tuh di minimarker di persimpangan depan itu neng" jawab tukang ojek lainnya sambil menunjuk ke arah persimpangan yang tidak terlalu jauh.
"Oh iya simpangan yang depan itu ya kang? Sebelah mana nya kang?" tanya Rindu.
"Iya persimpangan yang itu, nanti kekiri aja, udah keliatan kok dari persimpangan situ paling sekitar 50 meteran" jawab tukang ojek.
"Makasih ya kang" ucap Rindu sambil langsung melanjutkan perjalanannya meninggalkan pangkalan ojek tempat dirinya bertanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 jalanan sudah terlihat mulai sepi, hanya beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang disana. Setelah lama berjalan, Akhirnya Rindu tiba di persimpangan yang dimaksud tadi. Rindu menghadapkan dirinya ke arah kiri, disana dia melihat sebuah minimarket yang dimaksudkan oleh tukang ojek tadi.
Di pangkalan ojek tadi tempat Rindu bertanya, terlihat Langit datang dengan nafas terengah-engah setelah berlari dari penginapan. "Punteun kang, mau nanya saya, tadi akang-akang liat cewek sepantaran saya ga kemariin, kayaknya sih dia nyari counter pulsa gitu atau minimarket" tanya Langit.
"Oh iya tadi ada sih, perempuan ya sepantaran sama ade sih, tadi nanyain yang jual pulsa gitu, ya saya kasih tahu di sini paling minimarket dekat persimpangan yang masih buka jam segini" jawab tukang ojek.
"Persimpangan yang mana ya kang? Mudah-mudahan itu teman saya ya" tanya Langit.
"Itu jang, persimpangan yang itu, terus di sebelah kirinya ada minimarket ya kurang lebih 50 meteran lah dari persimpangan" jawab tukang ojek sambil menunjukkan jari nya ke arah persimpangan yang dimaksud.
"Oh di situ, makasih ya kang" ucap Langit dengan nafas masih terengah-engah.
"Nih kamu minum dulu , kecapean itu kamu" ucap tukang ojek sambil memberikan sebotol air mineral.
"Makasih ya kang" ucap Langit sambil menerima botol ai rmineral tersebut dan langsung meminumnya hingga habis. "maaf ya kang saya habisin airnya, saya permisi ya akang-akang" lanjut Langit yang kemudian berlari meninggalkan pangkalan ojek tersebut menuju arah persimpangan jalan.
Di tempat lainnya, Rindu terlihat sedang membayar pada kasir didalam mini market. Setelah usai membayar, Rindu berjalan munuju pintu minimarket tersebut. Sesaat akan membuka pintu, dari arah luar terlihat beberapa sepeda motor datang dan memarkirkan sepeda motornya didepan minimarket tersebut. Terlihat para remaja tanggung turun dari sepeda motor tersebut. Rindu terkejut ketika yang dilihat dihadapannya adalah remaja-remaja yang membawa senjata tajam sejenis samurai dan cerurit. Dengan membabi buta remaja itu membalikkan meja-meja dan kursi-kursi yang semula tersusun rapih didepan minimarket tersebut.
Rindu yang awalnya ingin keluar dari minimarket akhirnya mengurungkan niatnya, dia tetap bertahan berdiri didalam minimarket tepat didepan pintu. Hingga akhirnya Rindu terkejut dan sangat ketakutan disaat para remaja bersenjata itu mulai masuk kedalam minimarket. Dirinya terjatuh saat salah satu remaja bersenjata tersebut menabrak dirinya. Pegawai minimarket terlihat sangat ketakutan saat senjata tajam ditodongkan kepada mereka.
Di saat pegawai minimarket yang lainnya menyerahkan beberapa bungkus rokok dan uang tunai kepada remaja bersenjata yang menodongkan senjata, salah seorang pegawai diam-diam menekan sebuah tombol darurat yang diletakkan dibawah meja kasir sejacar tersembunyi. Ternyata itu adalah tombol yang secara langsung tersambung kepada jaringan internet untuk memberitahukan keadaan darurat sedang terjadi di minimarket itu kepada pos polisi yang berjarak tidak jauh dari sana sebenarnya.
Rindu terlihat sangat ketakutan, dia mencoba mencari kesempatan untuk keluar dari situasi tersebut. Rindu bergerak perlahan menyembunyikan handphone dan dompet kecil miliknya pada baju bagian dalamnya. Saat Remaja bersenjata itu lengah, dirinya berlari secepat kilat keluar dari minimarket, namun tidak disangka tidak dikira, teman-temannya yang berada diluar melihat Rindu berlari hingga mengejarnya.
Di tempat yang tidak jauh dari sana terlihat Langit sedang berjalan ke arah minimarket tempat Rindu berada sebelumnya. Langkah Langit terhenti disaat dirinya melihat Rindu yang tengah berlari kencang kearahnya diikuti oleh dua orang laki-laki bersenjata tajam.
"Rindu? Kenapa dia berlari kencang sekali?" tanya Langit dalam hatinya melihat Rindu semakin mendekatinya.
"Langit !!! untung ada lu, tolongin gue !!" teriak Rindu hingga akhirnya bersembunyi dibalik tubuh Langit.
"Ada apa Rin sebenernya? Mereka siapa?" tanya Langit.
"Gue juga nggak tahu mereka siapa, yang gue tahu mereka tiba-tiba aja dateng ke minimarket bikin rusuh di sana" jawab Rindu terengah-engah.
"Nah lu ngapain keluar penginapan sendirian, kan Bu Riri udah peringatin daerah sini lagi riskan sama geng motor yang brutal" tegas Langit.
"Ahh masa? Kapan bilangnya? Apa pas gue tidur ya" tanya Rindu yang takt ahu sama sekali karena saat itu dia sedang tertidur.
Di tengah pembicaraannya, tiba-tiba 2 remaja bersenjata itu menodongkan senjatanya kepada mereka.
"Eh lu cewek muna !! ngapain pake lari segala lu ! gue sama temen-temen gue nggak minta banyak kok, paling minta cium sedikit aja, sama barang-barang lu siniin" ancam seorang remaja itu sambil menodongkan golok.
"Eh lu kalau punya mulut dijaga ya, kagak disekolahin tuh mulut lu pada" balas Langit sambil mencoba melindungi Rindu.
"Kenapa lu gak suka? Mulut-mulut gue , suka-suka gue" bentak seorang remaja tersebut.
"Udah hajar aja, banyak omong ini orang" timpa remaja lainnya.
Remaja tersebut langsung menyabetkan goloknya kearah Langit, Lagit berusaha menepis dengan menahan tangan kanan remaja tersebut, lalu Langit menendangnya menggunakan kaki kanannya hingga seorang remaja itu terjatuh. Melihat rekannya terjatuh, remaja lainnya langsung menyerang Langit. Perkelahian tidak dapat dihindari, sementara Rindu hanya terdiam ketakutan di belakang Langit. Serangan demi serangan dari remaja bersenjata itu berhasil dihindari oleh Langit, hingga akhirnya gerakan Langit terhenti dan tatapannya terpaku disaat melihat teman-teman dari remaja tersebut mulai berdatangan dengan sepeda motor dan senjata tajam ditangannya.
Langit dan Rindu terkejut melihat hal tersebut, tanpa berpikir panjang Langit segera menarik lengan Rindu dan mengajaknya untuk berlari sekencang mungkin menghindari gerombolan tersebut. Dengan langkah seribu Langit dan Rindu berlari menuju tempat yang ramai menghindari gerombolan genk motor tersebut, hingga akhirnya langkah mereka terhenti ketika salah seorang anggota genk tersebut ada yang mengeluarkan senapan angin dan mengarahkan kepada Langit. "Doorr!!!" suara yang keluar dari senapan angin tersebut dimana pelurunya tepat mengarah ke kaki kanan Langit. Langit berusaha menahan rasa sakitnya dan terus berlari menjauh dari genk motor yang mengejarnya.
"Tolonggg tolonggg..." teriak Rindu mencoba mencari pertolongan.
Dengan peluru yang masih bersarang dikaki kanannya, Langit masih berusaha berlari mengikuti kecepatan lari dari Rindu. Dari arah yang berlawanan terlihat beberapa sepeda motor yang dikendarai oleh orang berseragam kepolisian, ternyata itu adalah tim Prabu dari polrestabes Bandung yang memang bertugas menjaga keamanan kota Bandung di malam hari.
Melihat kedatangan dari tim Prabu, gerombolan genk motor yang mengejar Langit dan Rindu akhirnya memutuskan untuk memutar balik dan kabur secepat kilat. Bebberapa dari tim Prabu terlihat mengejar gerombolan tersebut sambil sesekali memberikan tembakan ke udara sebagai peringatan. Sementar 2 orang tim Prabu datang menghampiri Langit untuk membantu.
"Pak tolong temen saya pak, kakinya kena tembak anak-anak tadi" ucap Rindu dengan tanpa disadari meneteskan air mata.
"Briptu Noval tolong antar nona ini beserta temannya ke rumah sakit terdekat" ucap salah satu anggota tim Prabu kepada rekannya.
"Teman sayanya aja pak, saya nanti naik ojek mau kepenginapan tempat sekolah kami menginap untuk memberi tahu guru kami" ucap Rindu sambil terus menangis.
"Baik kalau begitu, Briptu Noval tolong bawa dia ke rumah sakit terdekat suruh langsung dilakukan tindakan, terus tolong kamu panggil tukang ojek yang masih ada didepan" perintah anggota Tim Prabu.
"Siap laksanakan" jawab Briptu Noval.
Dengan dibantu Rindu, Langit menaiki sepeda motor yang dikendarai oleh Briptu Noval. Air mata trus menetes dari mata Langit menahan sakit dikakinya. Briptu Noval mulsi memacu sepeda motornya dengan perlahan. Menyelusuri jalan yang gelap sepeda motor berjalan dengan perlahan dan hati-hati , briptu Noval berhenti sejenak disebuah pangkalan ojek dimana disana masih ada beberapa tukang ojek yang mangkal.
"Selamat malam pak, maaf saya dari Tim Prabu mau minta tolong, barang kali ada salah satu dari bapa menuju ke sana untuk mengantarkan seorang gadis ke penginapan tempat sekolahnya menginap, dia adalah teman anak ini yang tertembak oleh genk motor yang sedang kami buru" ucap Briptu Noval.
"Siap pak , biar saya saja yang mengantarnya , kebetulan mereka tadi yang bertanya kepada saya lokasi minimarket daerah sini" ucap seorang tukang ojek sambil menghidupkan sepeda motornya.
Salah seorang tukang ojek akhirnya pergi meninggalkan panggkalan ojek tersebut menuju tempat Rindu berada, sementara Briptu Noval pergi menuju rumah sakit terdekat daerah Lembang. Rindu sedang berdiri ditemani seorang tim Prabu d ipinggir jalan menunggu tukang ojek yang akan datang. Belum lama menunggu tukang ojek yang ditunggu akhirnya tiba, dengan cepat Rindu segera menaiki ojek tersebut dan langsung meninggalkan tim Prabu di sana.