Indonesia
NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 12

...Memberi maaf, dan meminta maaf itu bukanlah suatu hal yang harus di sepelekan!...

...- Ardanayudha -...

Cahaya lampu yang satu persatu Yudha matikan, tidak membuat sang empu merasa takut di bawah kegelapan yang menutup langkah kakinya. "Aku harus melihatnya lebih dulu." Gumam Yudha, berjalan kearah dimana kamar Lingga berada.

Yudha hanya ingin memastikan jika artisnya itu sudah berada di alam mimpinya, sebelum Yudha enyah dari rumah Lingga untuk menemui teman-temannya yang mungkin sudah menunggunya.

Setelah melihat Lingga, kini Yudha melangkah keluar dengan perasaan tenang. Karena Lingga sudah tertidur lelap seperti dugaannya. Dan Yudha juga harus mempercayai Lingga saat ini, jika Lingga tidak akan keluar tanpa sepengetahuannya. Itu janji Lingga padanya sebagai manajernya.

Menutup kepalanya dengan tudung hoodie abu-abunya, sembari menuruni anak tangga. Berjalan dijalan yang sepi, tidak ada satupun orang lalang disekitarnya. Karena jarum jam kini menunjuk pukul sebelas malam, dimana banyak orang yang sudah berada di alam mimpi mereka.

Tapi tidak dengan Yudha, karena pria itu harus menuntaskan paksaan dari teman-temannya yang senang membuat janji sepihak, tanpa menunggu persetujuan dari dua belah pihak.

Itu sangat menyusahkan, tapi Yudha mensyukuri semua itu.

Terus berjalan dengan kepala sesikit menunduk untuk membaca pesan dari obrolan teman-temannya yang terus mengirim balasan satu sama lain.

Hal itu membuat senyum hangat kembali terpancar di wajah Yudha, kini menyimpan handphonenya di kantong jumper-nya. Berjalan sedikit cepat dengan pandangan lurus kedepan, tanpa melenyapkan lingkungan kecil itu.

Akan tetapi kaki jenjang itu perlahan memelan saat getaran yang berasal dari handphonenya, membuat Yudha mengambil kembali benda pipih itu. Untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan.

Dengan sudut bibir yang tersinggung, memberi itu menari diatas layar untuk memberi balasan. Dan menjanjikan sesuatu yang mungkin tidak akan langsung Yudha kabulkan. Karena akhri-akhir ini pekerjaannya begitu banyak.

Berjalan di atas zebra cross sembari menyimpan handphonenya, pandangan Yudha tidak sengaja melihat sosok familiar yang baru saja keluar dari jalan rumahan orang itu.

"Rama__" panggil Yudha, membuat sang pemilik nama menghentikan langkahnya sesaat. Dengan kepala menoleh kebelakang dimana Yudha melangkah mendekat.

"Kau meninggalkan Lingga sendiri?" Bertanya bukanlah hal sulit bagi Rama. Berjalan beriringan dengan pandangan yang sesekali bertemu.

"Dia tidak akan pergi. Karena dia sudah berjanji padaku, aku juga harus lebih percaya padanya." Balas Yudha, yang tidak sedikitpun melunturkan senyumannya.

"Benar, kau memang harus percaya pada artismu sendiri. Karena hanya dirimu yang bisa dia andalkan." Rama merangkul pundak Yudha dengan senyum riangnya.

Sebenarnya Yudha ingin menanyakan suatu hal yang menyangkut adiknya Rama, tapi keberanian itu terurung karena tempat tujuan mereka sudah berada di depan mata. Hingga membuat Yudha menelan mentah-mentah kalimat yang sejak tadi pria itu susun dengan sangat rapi.

Masuk ke dalam tempat makan yang sangat sederhana, dan tidak begitu banyak pengunjung. Karena bangunan itu terlihat kuno dari luar. Tapi jika sudah berada didalam, siapapun yang menjadi tamu di tempat itu pasti akan merasa nyaman. Dan ingin kembali berkunjung setiap jiwa diselimuti rasa lelah.

"Oh Sella, kau ada disini juga?" Sapa Rama, kini duduk sisi kanan Tirtha yang menyimpan handphonenya, mengurungkan jemarinya untuk membalas pesan dari seseorang di seberang sana.

"Aku akan pulang sekarang." Ucap Sella sembari mengangguk kecil, dengan tangan tangannya menyampirkan tali tas di pundaknya.

"Kenapa? Kau harus makan bersama kita." Tidak begitu cepat, Yudha mengatakannya. Menatap Sella dengan sorot nata tidak percaya. Karena merasa, jika Sella tidak nyaman akan kehadirannya bersama Rama.

"Tirtha akan mengijinkan ku pulang, jika kalian tiba disini. Jadi__" diam sejenak, Sella menatap Tirtha yang tersenyum. "Berhentilah melibatkan ku, itu sangat melelahkan."

"Kau ingin aku mengantarkan mu?" Tawaran tidak terduga dari Yudha. Membuat Rama dengan Tirtha saling pandang penuh makna. Apalagi, senyum iblis itu mereka tampilkan.

"Kau ingin membuat mereka percaya jika kau memang menyukai ku?" Sentak Sella, sekilas menoleh kearah Rama maupun Tirtha yang tertawa kecil.

"Ahh__" paham Yudha. Mengangguk mengerti akan situasinya saat ini. Hal itu membuat Sella beranjak dari duduknya, melangkah keluar setelah berpamitan pada ketiga temannya itu. Dan tidak lupa, Sella tersenyum hangat kepada pemilik tempat itu.

Setelah Sella benar-benar pergi Yudha kembali membuka suara untuk menuntaskan perkataannya. "Aku memang menyukainya, tapi bukan berarti aku menyayanginya. Karena, jika aku melewati batas seseorang akan langsung membunuhku." Membuat klarifikasi pada kedua temannya itu yang hanya tersenyum mengangguk percaya.

Sekilas Yudha menggerakkan kepalanya. Melihat kedua temannya dengan pandangan yang begitu ragu, jika mereka percaya apa yang Yudha katakan. "Kalian harus mempercayaiku. Aku tidak memiliki rasa apapun kepada Sella. Kita hanya sebatas teman."

"Jika kau tidak punya rasa pada Sella. Kenapa kau terlihat marah saat kita menjahili mu?" Bukan Rama namanya jika pria itu diam, tidak menggoda Yudha.

"Aish, Rama, kau__" Yudha membuka tudung hoodie yang sejak tadi menutup kepalanya. "Kenapa kau mengatakan hal itu? Seharusnya kau mencurigai Tirtha. Karena dia yang selalu bersama dengan Sella. Dia selalu meminta Sella berada di sampingnya."

Yudha terlihat sangat frustasi. Benar-benar kehilangan akal, akan Rama yang tidak memihaknya sekalipun. Temannya satu itu terlalu setia pada Tirtha. Padahal, Tirtha begitu kejam seperti iblis. Tapi kenapa banyak orang yang percaya pada Tirtha? Padahal Tirtha seorang penipu yang harus dikurung.

Dan saat itu Tama dengan Elvarrio masuk kedalam dengan senyum khas mereka. Untuk menyapa pemilik tempat. Duduk dikursi kosong yang ada di dekat teman-temannya.

"Kenapa? Kenapa? Ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu kusam sekali? Apa Lingga membuat masalah lagi?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Tama, yang langsung membuat Elvarrio membuka handphonenya-- untuk memeriksa media sosialnya, apa ada artikel buruk tentang Lingga.

Yudha membuang napas lelah, sebentar memainkan lidahnya di dalam mulut. Menatap Tama penuh balas kasihan. "Katakan pada mereka, jika Sella kekasih mu." Tekan Yudha sedikit mencengkeram hoodie Tama.

"Berhentilah membicarakan hal omong kosong seperti itu." Tidak begitu kasar, Tama menyingkirkan kedua tangan Yudha yang kini sudah terlepas dari hoodie Tama.

"Sekali saja, berpihak lah padaku. Karena mereka selalu mengatakan hal mustahil itu." Pinta Yudha, sebentar menunjuk kearah Rama maupun Tirtha.

"Aku percaya padamu, karena kau tidak memiliki waktu untuk berkencan." Cetus Elvarrio, menyumpal mulutnya dengan potongan kecil daging ayam yang dibalut menggunakan tepung.

"Tidak hanya dirimu, kitapun juga tidak memiliki waktu untuk berkencan. Karena pekerjaan yang membuat kita seperti itu." Sambung Elvarrio apa adanya.

"Bekerja mendapat uang itu jauh lebih baik, dari pada berkencan yang berujung sakit hati." Tama menampilkan perkataannya. Mendapat anggukan dari teman-temannya.

"Kau tidak lagi marah padaku?" Suara dari Tirtha menghancurkan keheningan sesaat itu.

"Aku tidak pernah marah padamu. Hanya sedikit menyimpan dendam pada hidupku. Kenapa harus seperti ini?" Yudha memberi balasan, dengan senyum hangatnya yang selalu pria itu tunjukkan kepada siapapun.

"Tidak ada yang mudah di dunia ini. Jadi kita harus mensyukuri dipertemukan dengan Tirtha. Jika dia egois, mungkin kita masih menjadi pengangguran yang ingin mengakhiri hidup." Timpal Tama, kini menegak minumannya.

1
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!