"Aku tidak butuh pernikahan. Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi cinta pertamaku.”
Di usianya yang sudah matang, Arsen Winston, pewaris tunggal Winston Group berada di puncak kejayaan. Namun, tekanan keluarga menuntutnya untuk segera berumah tangga. Menolak menyerah pada pendirian sang putra, Adrian, sang ayah, merancang rencana gila dengan menyewa seorang wanita malam demi mendapatkan keturunan.
Namun, sebuah kesalahan fatal terjadi. Wanita yang menghabiskan malam dengan Arsen bukanlah wanita sewaan sang ayah, melainkan seorang gadis misterius yang menghilang tanpa jejak.
Lima tahun berlalu…
Di atas kapal pesiar mewah, sebuah insiden mengerikan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan. Arsen bertindak cepat untuk menyelamatkannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, jantung Arsen seolah berhenti berdetak.
Anak menggemaskan itu memiliki garis wajah yang sangat identik dengannya, bahkan punya alergi sepertinya.
“Hai bocah, kamu tidak suka kacang?”
“Ndak cuka, bikin gatal-gatal badan Lupia. Paman Endut ndak cuka kacang juga?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Punya Ayah
Setelah menempuh perjalanan udara yang panjang, Adara akhirnya menginjakkan kaki di tanah ibu kota bersama kedua buah hatinya dalam keadaan selamat. Begitu keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, agen cantik itu langsung mencegat sebuah taksi dengan tergesa-gesa.
"Ayo, Lucian, Lucky! Kita harus segera pergi ke tempat rekan Bibi kalian sebelum hujan turun."
Adara menarik kopernya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari mungil Lucian dan Lucky.
"Mommy, kita tidak langsung pergi ke Luvia?" tanya Lucky dengan mata berbinar-binar penuh rasa penasaran begitu ia duduk di jok belakang taksi.
Adara menggeleng pelan, lalu membelai surai hitam putra keduanya dengan kelembutan. "Sayang, dengarkan Mommy. Kita tidak boleh bertindak gegabah. Jika kita terburu-buru, justru adik kalian yang akan berada dalam bahaya besar."
Tak lama kemudian, armada taksi itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai dinaungi awan gelap. Tak berselang lama, tetesan air hujan mulai menghujani kaca jendela mobil.
Namun, cuaca buruk itu sama sekali tidak menyurutkan tekad Adara. Di tengah deru air hujan, manik mata indahnya sibuk memindai berbagai petunjuk untuk melacak kediaman sang CEO Grup Winston. Karena begitu banyaknya alamat yang membingungkan dan membuatnya pusing, ia akhirnya memutuskan untuk mencari kediaman utama dari keluarga besar pria berdarah dingin itu.
Di saat Adara tengah fokus memutar otak, kedua bocah laki-laki di sampingnya justru sibuk menatap takjub gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di luar sana.
"Kak Lucian! Cepat lihat itu!" Lucky menunjuk antusias ke arah papan reklame raksasa yang menampilkan logo megah dengan ukiran huruf emas: Winston Group.
"Bagus, Lucky! Matamu benar-benar tajam." Pujian spontan itu sukses membuat dada Lucky membusung bangga.
"Lalu, apa rencana kita?" bisik Lucky, melirik sang kakak yang tengah menyipitkan mata dengan otak cerdasnya yang berputar cepat.
"Apa kita harus langsung menerobos masuk bersama Mommy?" desak Lucky yang sudah terbakar oleh rasa rindu pada adiknya.
"Jangan bodoh. Mommy pasti akan melarang kita ikut campur. Kali ini... kita bergerak berdua saja."
"Caranya?"
Lucian mendekatkan wajahnya, membisikkan sebuah rencana licik ke telinga adiknya. Sontak, mata Lucky membelalak sebelum akhirnya mengangguk berulang-ulang kali.
"Kakak benar-benar pintar! Lucky setuju!" seru anak itu tanpa sadar dengan suara yang cukup nyaring, membuat fokus Adara buyar seketika.
"Setuju? Apa yang baru saja kalian bicarakan di belakang Mommy?" Adara menyipitkan mata, menatap lekat-lekat kedua putranya yang seketika memasang wajah polos dan tersenyum canggung untuk menutupi rencana rahasia mereka.
"Bukan apa-apa, Mom! Sungguh!"
Adara mendengus lalu menoleh ke jendela yang basah oleh sisa rintik hujan yang mulai reda.
Tak lama kemudian, taksi tersebut memasuki sebuah kompleks perumahan elit yang tampak tenang. Berbekal intuisi tajamnya sebagai seorang agen, Adara tidak butuh waktu lama untuk menemukan unit bernomor 205B, kediaman rekan Rosa.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan dihantui ketakutan akan bayang-bayang mata-mata Erlangga, Adara menekan tombol bel.
Ting!
Pintu kayu bercat putih itu terbuka lebar, menampilkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan rahang yang ditumbuhi janggut tipis.
"Kalian... mencari siapa?" Pria brewokan itu menyipitkan maniknya pada mereka dengan tatapan waspada dan dingin.
"Maaf sudah mengganggu Anda. Saya Adara, keponakan dari Rosa Belricta, dan kedua anak ini anak saya..."
Seketika, sorot mata pria itu melunak. Ia baru saja mengingat pesan yang dikirimkan Rosa perihal kedatangan kerabatnya. "Ah, jadi kalian rupanya! Cepat masuk, udara di luar sangat dingin."
"Terima kasih banyak!" Adara membungkuk hormat, lalu bergegas membawa si kembar masuk ke dalam rumah sebelum angin malam memperparah kesehatan mereka.
Dua menit kemudian, setelah memperkenalkan diri sebagai Bram, pria itu mulai membahas inti permasalahan. Namun, sebelum percakapan dimulai, Adara sempat menyuruh Lucian dan Lucky untuk pergi ke kamar.
Tentu saja, dua bocah genius itu tidak benar-benar menuruti titah sang ibu. Mereka justru menyelinap dan bersembunyi di balik lemari pajangan, mencuri dengar setiap kata yang keluar dari mulut orang dewasa tersebut.
"Jadi... anak perempuanmu diambil oleh CEO Winston itu?" ulang Bram dengan kening berkerut dalam setelah mendengar penjelasan Adara.
"Benar, Paman! Apakah Paman punya koneksi atau orang dalam yang bekerja di perusahaan pria kejam itu? Kumohon, bantu aku..." Adara meremas jemarinya sendiri saking cemasnya.
Bram menghela napas berat, lalu menggeleng perlahan.
Harapan Adara seolah pupus seketika. Bahunya merosot lemas.
"Jangan terlalu putus asa. Pria itu mungkin berdarah dingin, tapi anakmu tidak akan disakiti," bujuk Bram mencoba menenangkan.
"Tidak, Paman! Paman tidak mengerti! Mereka itu sekumpulan monster tanpa hati! Aku takut Luvia menangis ketakutan di tempat asing. Usianya baru empat tahun, tubuhnya begitu rapuh, dan ia memiliki alergi parah! Aku tidak sanggup jika terjadi sesuatu padanya..."
Di balik lemari, hati si kembar bergetar hebat mendengar penuturan sang ibu.
"Kak Lucian... apa kita harus lanjut misi ini?" cicit Lucky gelisah.
Manik mata Lucian menajam, rahang kecilnya mengeras. Tangannya terkepal hingg memerah.
"Demi Adik Luvia, kita harus lanjut!"
Ia pun menarik lengan adiknya. "Ayo, kita cari tahu CEO itu. Kita pakai tablet ini mumpung Mommy masih nangis di sana."
Dengan gesit, Lucian menyelinap mengambil tablet canggih Adara dari dalam koper.
"Memangnya kakak bisa buka itu? Sandinya rumit! Mommy saja selalu ganti setiap minggu, kita tidak mungkin—"
Ting!
Ucapan Lucky terputus saat layar gelap gulita itu tiba-tiba menyala terang, menampilkan barisan kode pemrograman yang berhasil dijebol oleh jemari sang kakak.
"Kak... serius? Gimanaaa bisa terbuka?!" bisik Lucky takjub, matanya terbelalak lebar.
Lucian menarik sudut bibirnya membentuk smirk arogan yang sangat mirip dengan seseorang. "Aku belajar dari Nenek. Tidak seperti kamu yang tahu cara menangis dan makan saja."
"Kakak curang!"
"Sstt! Jangan teriak! Cepat ke kamar sebelum Mommy sadar kita masih di sini!"
Lucky menggembungkan pipinya kesal, namun tanpa perlawanan ia mengekori langkah sang kakak.
Setibanya di kamar tamu, Lucian langsung melompat ke atas ranjang. Jari-jemari kecilnya menari bagaikan jemari seorang peretas profesional di atas papan ketik virtual. Dalam hitungan detik, mesin pencari menampilkan sederet arsip profil lama tentang sang CEO misterius. Arsen Winston.
"Kak Lucian... coba lihat ini!" Lucky menunjuk potret seorang pria kekar berwajah rupawan. Wajah pria itu bagaikan cetakan yang sama persis dengan cermin diri mereka.
Lucian terpaku diam. Napasnya tercekat, maniknya membelalak tak percaya menatap wajah Arsen di layar.
"Kak... Paman itu… mirip sekali sama kita. Apa ini... Daddy?" gumam Lucky sembari mencengkram dadanya yang berdegup liar di luar batas normal.
Lucian mengepalkan kedua tangannya lagi. Ia mulai paham alasan Ibunya mati-matian menyembunyikan identitas ayahnya dan melarang mereka menyentuh tabletnya selama ini.
"Kak Lucian! Jangan diam saja! Katakan kalau Paman ini hanya kebetulan mirip kita..." mohon bocah manja itu.
Lucian pun membuang muka. Ia menggigit bibirnya hingga terasa perih demi menahan genangan air di pelupuk matanya. Ia menoleh menatap wajah sang adik yang kini basah oleh air mata.
"Dia... Daddy."
“Daddy… Lucky masih punya Ayah. Kak Lucian, ayo pergi ke Daddy,” pinta Lucky sangat merindukan Ayahnya. Selama ini mereka hanya bisa bermimpi, tapi sekarang rindunya itu meledak tak terkendali.
“Tapi… apa Daddy mau?” Lucian ragu.
“Kalau tidak mau, kita culik saja!”
"Culik?"
____
CEO gendut itu emang bisa kalian culik?
Arsen hancur kan mereka,,, ingat yea Adara jgn mudah tertipu dan luluh sama ibu yg sudah membuang mu