Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Rank S (2)
Akira sedang berdiri dengan kedua tangan melipat di dada, di depannya terlihat Lumina dan Nako yang sedang duduk berlutut dengan kepala menunduk ke bawah.
“Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidur?” tanya Akira sambil mengamati ruang tamu yang kacau berantakan bagai kapal pecah.
“Kak Lumina yang melakukannya!” Nako mengangkat kepalanya sambil menatap Akira dia menunjuk Lumina disebelahnya.
“H-hah?!” Lumina mengangkat kepalanya menatap Nako, tidak menerima bahwa dirinya dituduh.
“Apaan! bukankah kau yang memulainya!”
“Tapi kan kakak yang mudah terpancing!”
Lumina dan Nako saling bertatapan merasa diri mereka berdua tidak bersalah.
Akira menepuk wajahnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia berpikir tidak heran jika Nako yang melakukan semua ini, karena Akira memang tau sifatnya bagaimana, tapi ia tak menyangka Lumina juga ikut serta.
“Sudahlah, kau bisa membereskannya dengan kekuatanmu kan, Nako?”
“Eh, i-itu sih~” Nako menggaruk pipinya dengan telunjuk sambil menghindari tatapan Akira.
“Jangan-jangan…”
“Hehe, Aku sudah menggunakan semuanya.” ucap Nako sambil tersenyum ke arah Akira.
Akira menghela nafas panjang kemudian berkata,
“Kalau begitu, kalian berdua harus membersihkannya.”
“Baik, aku akan bertanggung jawab!” ucap Lumina dengan tegas tanpa pikir panjang.
“Ehhh~ tapi kan bisa besok saja,” ucap Nako.
“Apa kau mau tidur di luar?”
Nako tersenyum mendengar perkataan Akira dan dengan mata tertutup dia berkata,
“Kakak tau? Aku sudah pernah tidur diluar saat kemarin, jadi—”
Nako membuka matanya menunjukan tatapan seriusnya.
“Aku akan membersihkan rumah ini dengan cepat!” Nako berdiri tegak dengan wajah berseri-seri sambil mengepalkan satu tangannya di depan.
“Akan kubersihkan rumah ini dalam sekejap! Hiyaa!”
Nako langsung membereskan barang-barang yang berantakan dengan semangat dan cepat bersama Lumina yang membersihkan secara perlahan namun teliti.
Ding... Dong…
“Hmm? Siapa ya,” ucap Akira.
Mendengar suara bel berbunyi, Akira berjalan menuju pintu masuk, ia pun membuka pintunya dan melihat Amamiya.
Amamiya yang berada di depannya, fokusnya teralihkan karena melihat ruang tamu yang berantakan di belakang Akira.
“Apa yang terjadi?” tanya Amamiya.
“Hanya sedikit masalah saja, jadi kalau ada yang ingin dibicarakan bisa disini saja?”
“Tidak masalah, lalu, saya ingin membahas mengenai komplotan iblis.”
“Komplotan iblis?”
“Iya, mereka adala—”
BRAK!
Suara keras dari ruang tamu terdengar memotong pembicaraan Amamiya.
“Jangan dipedulikan.”
“Ah iya, mereka merupakan kumpulan dari orang-orang yang mengikat perjanjian dengan monster yang menyebut diri mereka iblis dari benua Nox, selain itu mereka juga bisa memanggil monster.”
Mendengar perkataan Amamiya, membuat Akira teringat tentang perkataan Nako, selain itu ia juga baru tau orang-orang bisa mengikat perjanjian dengan monster di benua Nox, hal ini membuatnya harus memikirkan variabel lain yang mungkin terjadi.
“Begitu ya… apa kau ke sini untuk meminta bantuan ku?” Akira menatap ke bawah sebentar lalu menatap Amamiya kembali.
“Benar, baru baru ini di Tok—”
BRAKK!!
Suara yang lebih kencang dari sebelumnya terdengar di ruang tamu.
“Jangan pedulikan.”
“Ah baik, mengenai hal tadi, baru-baru ini di Tok—”
BRAAKKK!!!
Suara yang lebih kencang lagi terdengar di ruang tamu, membuat Akira merasa jengkel namun menahannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Amamiya.
“Tidak apa-apa tunggu sebentar.”
Akira menutup pintu dan masuk ke dalam meninggalkan Amamiya.
“Hmm?”
Amamiya yang menunggu hanya bisa kebingungan dengan apa yang terjadi.
Tidak lama, Akira membukakan pintunya kembali dan suara gaduh yang sebelumnya terdengar sudah hilang.
“Lanjutkan yang tadi,” ucap Akira.
“Ah baik, baru-baru ini di Tokyo ada pergerakan komplotan iblis, namun baru kemarin malam, setengah komplotan iblis itu sudah dibasmi.”
“Siapa pelakunya?”
“Dari rumor yang beredar katanya seorang gadis kecil yang memakai pakaian mencolok.”
“Sudah kuduga itu Nako,” pikir Akira.
“Lalu apa yang bisa kubantu dari hal itu? Apa aku harus membasmi komplotan iblis yang tersisa?”
“Sebenarnya itu juga termasuk, tapi permintaan saya sekarang bukan hal itu.”
“Lalu apa?”
“Saya ingin anda mencari tahu identitas sebenarnya dari Gadis kecil yang mengalahkan Komplotan iblis itu, walau dia melakukan hal baik, dia terlalu bahaya jika dibiarkan.”
“Jika mencari orang itu, dia ada disini, tapi aku harus menanyakannya dulu, apa ada hadiah yang bisa kudapatkan,” pikir Akira.
“Apa yang kudapatkan?”
“Kami baru saja mendapatkan beberapa Item Rank S di penaklukan Dungeon, jika anda mau, saya bisa memberikan item Rank S tersebut.”
“Item Rank S? itu bagus sekali, tapi bukannya itu terlalu berlebihan ya,” pikir Akira.
“Tidak rugi?” tanya Akira.
“Tidak masalah, jika itu anda, kami bisa mempercayakannya.”
“Kalau begitu, aku juga sudah menemukan identitas orang itu.”
“Eh? Sudah?” Amamiya terkejut sekaligus bingung mendengar perkataan Akira.
“Iya, ikuti aku.”
Akira pun masuk kedalam disusul dengan Amamiya.
Saat masuk, Amamiya melihat ruang tamu yang berantakan bagai kapal pecah, dia juga melihat Lumina yang sedang membereskan Ruang Tamu.
Amamiya yang sedang mengikuti Akira dibawa ke salah satu pojok ruang tamu, setelah itu Amamiya hanya terdiam melihat Nako yang sedang menghadap sudut tembok sambil bermain main dengan telunjuknya di lantai.
“Si-siapa dia?” Tanya Amamiya keheranan.
"Dia itu—"
Nako yang mendengar suara Akira dengan cepat berbalik dan memeluk Akira sambil menatap mata Akira.
“Ma-maaf, aku gak bakal jatuhin barang- barang lagi… aku gak sengaja,” ucap nako dengan mata berbinar karena air mata yang keluar.
“Iya iya, sudahlah lepas dulu.”
Nako langsung melepas pelukannya, lalu berbalik badan dan mengelap air matanya.
“Hihi, Kakak memang mudah tertipu,” ucap Nako.
“Aku dengar.”
Nako berbalik badan dan menghindari tatapan Akira sambil berbicara.
“Ehh, dengar apa ya~”
Melihat tingkah laku Nako, Akira hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ka-kakak? A-apa dia adikmu yang lain?” tanya Amamiya dengan gagap.
“Bukan, dia hanya memanggilku begitu, lalu dia adalah gadis kecil yang kau cari itu.”
“Di-dia?” ucap Amamiya sambil menatap ke arah Nako.
Sedangkan Nako yang ditatap hanya sedikit memiringkan kepalanya.
“Nako, kembalilah bersih-bersih, lakukan seperti Lumina.”
“Siap!” jawab Nako sambil hormat dan langsung bergegas membersihkan ruang Tamu.
“Anak itu bener-bener berbeda saat aku pertama kali bertemu dengannya.” pikir Akira sambil mengingat kejadian saat ia terpental jauh karena Nako.
“Maaf Yoshikawa, apa benar dia adalah gadis kecil itu?” tanya Amamiya.
“Iya, apa kau tidak percaya?”
“Bu-bukan begitu, hanya saja anda terlihat sangat dekat dengannya, apa anda kenalannya?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Kalau begitu, sepertinya saya tidak perlu khawatir, dan untuk hadiahnya akan saya kirim besok apa tidak masalah?”
“Jangan.”
“Eh kenapa? apa anda mau sekarang?” tanya Amamiya dengan bingung.
“Bukan, tapi rasanya tidak adil, aku akan membasmi komplotan iblis yang tersisa jika kau mau.”
"Apa tidak masalah?"
"Bukan masalah, santai saja."
“Kalau begitu, saya sangat berterimakasih,” ucap Amamiya sambil sedikit menunduk.
“Untuk hadiahnya akan saya kirim secepatnya jika tugas anda sudah selesai, lalu saya izin pamit dahulu, karena ada beberapa pekerjaan yang harus saya urus.”
“Ya, hati-hati.”
Amamiya pun pergi keluar, namun dia sedikit mengintip ke belakang melihat Akira sambil berpikir,
"Entah kenapa... cara bicaranya jadi berubah."
Tidak lama setelah itu Amamiya sudah pergi keluar dari rumah.
Sedangkan Akira masih berdiri sedang memegang dagunya sambil bergumam,
“Komplotan iblis ya… apa mungkin mereka ada hubungannya dengan Raja iblis Zarvath, bisa saja ad—”
BRAAKKK!!!
“Wahhh! Kak Lumina! jangan menggangguku!”
“Apa kau bercanda! jarak kita saja sangat jauh!”
Akira berbalik badan dan menatap Nako yang menjatuhkan barang lagi.
“Anak itu… apa ada efek samping ketika penggunaan Skillnya habis ya,” gumamnya.