Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12, BAYANGAN DAN CAHAYA
Hutan di bagian utara terasa berbeda. Udara di sini terasa berat, seolah ada tekanan yang menekan dada setiap orang yang melintasinya. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus dedaunan, sehingga suasana selalu berada dalam senja yang kelabu.
"Jangan menatap ke mana-mana terlalu lama," peringatkan Elara dengan suara rendah. "Hutan ini... berubah. Banyak orang yang pernah tersesat di sini berkata bahwa pohon-pohon itu seolah bergerak saat mereka tidak melihatnya."
"Apakah itu sihir?" tanya Kael, suaranya sedikit bergetar.
"Entah itu sihir atau bukan," jawab Arvin, tangannya erat memegang gagang pedangnya. "Tapi kita harus tetap berjalan lurus. Jangan ikuti bisikan apa pun yang kalian dengar. Itu bukan orang yang memanggil kita."
Seolah menjawab kata-kata Arvin, suara bisikan itu terdengar lebih jelas. Kali ini terdengar seperti suara ibu Kael yang memanggil namanya dengan lembut. Kael berhenti berjalan, matanya kosong seketika.
"Ibu?" gumamnya pelan, hendak melangkah ke arah semak belukar yang gelap.
"Kael! Jangan!" Zhoo langsung menarik lengannya dengan kuat. "Itu bukan ibumu! Itu tipuan!"
Kael terguncang, lalu tersadar sepenuhnya, wajahnya pucat. "Maaf... suaranya begitu nyata... seolah dia ada di sana."
"Kekuatan di sini memakan kerinduan dan ketakutan kita," kata Elara dengan wajah serius. "Semakin kita merindukan seseorang, semakin nyata suara itu terdengar. Kita harus menjaga pikiran kita tetap jernih."
Mereka berjalan terus, semakin dalam, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah lembah kecil yang dikelilingi pohon-pohon mati yang tidak berdaun. Di tengah lembah itu berdiri sebuah bangunan batu kuno yang sudah runtuh sebagian—sebuah kuil yang dibangun oleh orang-orang zaman dahulu, sebelum tujuh kerajaan terbentuk.
"Ini tempat terlarang," bisik Elara. "Kisah kuno mengatakan bahwa di sini tempat pertemuan antara dunia kita dan dunia bayangan. Orang-orang Oakhaven tidak pernah berani mendekatinya."
"Dan di sinilah orang-orangmu menghilang?" tanya Zhoo.
Elara mengangguk. "Mereka yang pergi memeriksa tempat ini tidak pernah kembali. Atau... seperti yang kukatakan... mereka kembali dalam keadaan yang bukan diri mereka lagi."
Tiba-tiba tanah bergetar pelan. Dari reruntuhan kuil itu, muncul beberapa sosok yang berjalan kaku, mata mereka kosong dan hitam, kulit mereka pucat dan penuh urat-urat gelap. Mereka mengenakan pakaian penduduk desa Oakhaven.
"Mereka..." Elara menahan napas. "Itu orang-orang dari desaku!"
Sosok-sosok itu menggeram rendah, lalu menyerang. Mereka tidak memiliki rasa sakit, tidak memiliki rasa takut—hanya dorongan untuk menghancurkan apa pun yang hidup.
"Jangan bunuh mereka!" seru Elara saat Arvin hendak menebas salah satu sosok itu. "Mereka masih orang kita! Hanya saja mereka dirasuki sesuatu!"
"Kalau begitu bagaimana kita menghentikannya?" tanya Arvin sambil menangkis serangan dengan pedangnya.
Zhoo memperhatikan mereka dengan saksama. Di antara sosok-sosok itu, ada satu titik cahaya redup yang berdenyut di dada setiap orang yang dirasuki. "Ada sesuatu di dalam diri mereka! Sesuatu yang mengendalikan mereka!"
"Bagaimana cara mengeluarkannya?" tanya Kael yang sedang berusaha menahan salah satu sosok itu dengan tubuhnya.
Zhoo melihat ke arah pusat kuil yang runtuh. Di sana, di atas altar batu yang retak, terdapat bola cahaya gelap yang berputar perlahan, memancarkan kabut hitam yang merayap ke tanah. "Itu sumbernya! Selama benda itu masih ada, mereka tidak akan kembali normal!"
"Aku akan menghancurkannya!" seru Kael, hendak berlari ke arah altar.
"Jangan!" teriak suara berat dari balik bayangan.
Semua orang menoleh. Dari balik pilar batu yang besar, muncul seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah berwarna kelabu, rambutnya panjang berwarna putih perak, dan matanya yang tajam namun tenang—Rhaen.
"Kau siapa?" tanya Zhoo waspada.
"Aku Rhaen," jawab pria itu tenang. "Dan aku sudah menunggu kalian. Benda itu tidak bisa dihancurkan begitu saja. Jika kau menghancurkannya dengan kekerasan, semua orang yang dirasukinya akan mati seketika. Kekuatan itu terikat pada jiwa mereka."
"Lalu bagaimana cara menghentikannya?" tanya Elara dengan cemas.
Rhaen menatap Zhoo dalam-dalam. "Hanya dengan seseorang yang memiliki kemauan yang cukup kuat untuk melawan kegelapan itu dari dalam. Seseorang yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi juga memikirkan orang lain. Seseorang yang hatinya belum ternoda oleh ambisi yang gelap." Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah Zhoo. "Itu kau, Zhoo."
"Aku?" Zhoo terkejut. "Aku bukan penyihir. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan."
"Kau tidak perlu menjadi penyihir," kata Rhaen pelan namun tegas. "Kau hanya perlu percaya. Percaya bahwa cahaya itu ada, bahkan di tempat yang paling gelap sekalipun. Dan kau harus berani melangkah masuk ke dalam kegelapan itu, bukan dengan pedang, tapi dengan hati yang terbuka."
Zhoo menatap bola cahaya gelap itu. Ia tahu itu berbahaya—bisa jadi ia tidak akan kembali sama seperti sebelumnya. Namun ia juga tahu bahwa jika ia mundur, orang-orang itu akan hilang selamanya. Dan jika ia ingin menyatukan benua ini, ia harus belajar menghadapi hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan fisik saja.
"Baiklah," kata Zhoo tegas. "Aku akan melakukannya."
"Zhoo, jangan!" Elara mencoba menahannya. "Kita belum tahu apa yang akan terjadi!"
"Jika aku tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu," jawab Zhoo lembut padanya. "Tunggu aku di sini. Jika dalam waktu satu jam aku belum keluar... pergilah. Dan lupakan aku."
Zhoo berjalan mendekati altar itu. Semakin dekat, semakin berat rasa tubuhnya, seolah ada beban dunia yang menumpu di pundaknya. Pikiran-pikiran gelap mulai menyerbu masuk—keraguan, ketakutan, keinginan untuk menyerah. Ia teringat kata-kata Arvin: Semakin tinggi kau naik, semakin banyak orang yang ingin menjatuhkanmu. Ia teringat kata-kata Rhaen: Percaya bahwa cahaya itu ada.
Zhoo mengulurkan tangannya perlahan menyentuh bola cahaya gelap itu. Saat kulitnya menyentuh permukaannya, dunia di sekelilingnya berubah menjadi kegelapan total. Ia tidak bisa melihat apa-apa, tidak bisa mendengar apa-apa, hanya merasakan kesepian yang mendalam.
Kau tidak cukup kuat, bisikan suara di dalam kegelapan itu. Kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan siapa pun. Semua orang yang kau sayangi akan binasa di depan matamu. Dan kau hanya akan berdiri diam, tak berdaya.
Zhoo berlutut, kepalanya terasa sakit seolah akan pecah. Namun di tengah kegelapan itu, ia teringat wajah orang-orang di desanya saat ia menang melawan perwira Veyra. Ia teringat tatapan harapan di mata mereka. Ia teringat Elara, Arvin, dan Kael yang menunggunya di luar. Dan di tengah kegelapan itu, ia mulai menyadari sesuatu—kekuatan terbesarnya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari orang-orang yang percaya padanya.
"Kau salah!" teriak Zhoo di dalam kegelapan itu. "Aku tidak sendirian! Dan selama masih ada orang yang percaya padaku, aku tidak akan pernah kalah!"
Dari dadanya, muncul cahaya keemasan yang lembut namun terus membesar, menerangi kegelapan di sekelilingnya. Cahaya itu bukan miliknya semata—ia memancarkan kehangatan yang menyentuh setiap sosok yang dirasuki, dan perlahan-lahan kabut gelap keluar dari tubuh mereka, lenyap diserap oleh cahaya itu. Bola cahaya gelap di altar itu berubah menjadi cahaya putih yang lembut, lalu pecah menjadi butiran-butiran cahaya yang terbang ke langit.
Zhoo terhuyung mundur, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia kembali ke dunia nyata. Di depannya, sosok-sosok yang dirasuki telah jatuh ke tanah, bernapas pelan namun dengan wajah yang tenang, perlahan kembali sadar.
Elara berlari mendekatinya, menahan bahunya agar tidak jatuh. "Kau berhasil... kau benar-benar berhasil."
"Itu bukan aku," jawab Zhoo lemah namun tersenyum. "Itu kita semua."
Rhaen berdiri di belakang mereka, tersenyum tipis. "Benar sekali. Kekuatan sejati tidak pernah datang sendirian. Dan kau baru saja menemukan hal terpenting dalam perjalananmu, Zhoo."
"Apa itu?" tanya Zhoo.
"Bahwa kau tidak perlu menaklukkan dunia sendirian," jawab Rhaen. "Dan bahwa orang-orang yang berdiri di sisimu adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada pasukan mana pun di benua ini."