Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Penyesalan yang Selalu Terlambat
Kemacetan malam Jakarta yang diguyur sisa-sisa hujan terasa kian menghimpit dada Saka. Pernikahan barunya dengan Valerie yang kini sudah berjalan lebih dari satu bulan, sama sekali tidak membawa kebahagiaan yang dulu ia impikan. Apalagi dalam satu bulan lebih itu, ia harus melewati proses persidangan cerai yang diajukan Arunika. Proses yang cukup panjang dan melelahkan.
Di ruang tengah rumah mewah yang dulu dia tempati bersama Arunika, lengkingan suara Valerie yang kembali pecah menyambut kepulangannya. Keheningan yang Saka cari setelah seharian menghadapi tekanan dewan direksi akibat penurunan saham Daniswara Group di kantor langsung hancur berantakan. Istri barunya itu meletupkan kemarahan yang dipicu oleh penolakan transaksi dari pihak bank.
"Saka! Kamu dengar aku tidak, sih?! Semua rekening kartu kredit yang kamu berikan diblokir sementara oleh akuntan perusahaanmu! Bagaimana bisa seorang CEO Daniswara Group tidak punya uang tunai bahkan hanya untuk membayar cicilan tas Hermes baru dan supir pribadiku?!" teriak Valerie dengan wajah memerah penuh amarah, berdiri di tengah ruangan yang berantakan dengan vas bunga porselen yang pecahannya belum sepenuhnya dibersihkan.
Saka yang teramat lelah hanya menatap Valerie dengan pandangan mata yang kosong dan datar. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk membalas rentetan makian itu. Baru satu bulan mereka mengarungi rumah tangga, namun rasanya seluruh energi Saka telah terkuras habis.
Dengan gerakan lambat namun pasti, Saka meraih kunci mobil sport-nya yang tergeletak di atas meja kopi, berbalik arah tanpa memedulikan Valerie, dan melangkah lebar menembus pintu depan menuju area parkir. Dia mengabaikan teriakan histeris Valerie yang memanggil namanya berkali-kali.
Di dalam kabin mobilnya yang melaju tanpa tujuan membelah malam Jakarta yang dingin, cengkeraman kedua tangan Saka pada kemudi perlahan melonggar. Untuk pertama kalinya, di tengah kesunyian malam ibu kota, pikiran Saka mulai membanding-bandingkan dua wanita yang pernah dan sedang mengisi hidupnya.
Dulu, dia begitu mengangungkan Valerie sebagai wanita impian. Seorang dari kelas atas yang menyenangkan untuk diajak berbagi waktu. Namun kini, ketika badai skandal dan krisis keuangan akibat merosotnya saham perusahaan menghantam hidupnya, topeng itu luruh. Valerie menunjukkan wajah aslinya. Dia berubah menjadi sosok yang sangat egois, bising, penuh tuntutan materi, dan sama sekali tidak memedulikan kondisi mentalnya.
Seharusnya Valerie hadir sebagai sosok yang menenangkan dirinya, memberikan dukungan dan kekuatan untuk menghadapi semua masalah yang tengah menghantam hidupnya. Bukan hanya menuntut hak sebagai istrinya.
Tanpa Saka minta, pikirannya terlempar jauh pada memori tentang kamar ujung lorong lantai dua yang kini kosong. Sosok Arunika. Wanita bersahaja yang selama empat tahun selalu dia abaikan namun selalu ada untuknya.
Seburuk apa pun suasana hati Saka saat pulang larut dari kantor, Arunika tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya di depan Saka. Arunika tidak pernah menuntut kemewahan tas bermerek, pakaian mahal, atau perhiasan ratusan juta yang sering ia berikan. Istri pertamanya itu selalu ada di sana, terjaga dalam diam untuk menyambutnya dengan senyum lembut, menyiapkan pakaian ganti, membuatkan teh jahe hangat, dan memastikan seluruh kebutuhan suaminya terpenuhi secara sempurna.
Saka diam-diam mencengkeram kemudi lebih erat, dadanya mendadak terasa dihantam godam besar yang tak kasat mata. Rasa sesak akibat penyesalan yang terlambat mulai merayap naik ke tenggorokannya, meruntuhkan kebohongan ego lelakinya yang selama ini dia pertahankan. Dulu dengan melihat Arunika saja, semua beban kerjanya dan persoalan yang dia hadapi terasa ringan dan berlahan menguap. Dia merindukan ketenangan dan ketulusan yang dulu Arunika bawa di dalam rumahnya. Kehilangan Arunika ternyata meninggalkan lubang hitam yang teramat besar di dalam jiwanya.
Buntu dan tidak tahu harus melarikan diri ke mana lagi dari kepedihan hatinya, Saka mengarahkan kendaraannya menuju kediaman utama keluarga Daniswara. Dia membutuhkan tempat untuk bersandar, dan satu-satunya orang yang ada di kepalanya saat ini adalah sang Kakek, Agung Daniswara, pria tua berkharisma yang selama dua puluh delapan tahun ini selalu memanjakannya dan menjadikannya cucu kesayangan di keluarga besar itu.
Saka menyakini, sebagai cucu laki-laki dari anak laki-laki kandung, Kakek Agung akan selalu menjadi pelindung terbaiknya. Namun Saka lupa, dia sudah membohongi kakeknya itu saat meminta izin menikah lagi dengan Valerie.
Saka melangkah masuk ke dalam rumah bergaya kolonial yang megah namun sepi tersebut. Langkah kakinya yang berat membimbingnya menuju ruang perpustakaan pribadi di lantai dasar. Di sana, di bawah temaram lampu meja yang redup, sang Kakek sedang duduk diam di kursi goyangnya, memegang sebuah buku tua dengan pandangan mata yang kosong. Sang Kakek masih menyimpan kekhawatiran mendalam pasca-skandal video, didera rasa bersalah karena telah memberikan restu poligami tanpa memikirkan perasaan Arunika.
"Kakek..." suara Saka terdengar sangat bergetar saat dia melangkah mendekat dan langsung berlutut di samping kursi kayu tersebut.
Saka menyandarkan kepalanya yang terasa begitu berat di atas lutut sang Kakek, persis seperti gestur yang sering dia lakukan saat masih kecil ketika sedang dirundung masalah berat. "Saka kacau, Kek. Arunika benar-benar pergi dari rumah. Saka tidak tahu harus mencari Nika ke mana. Detektif yang Saka bayar tidak bisa menemukan dia. Jejak Arunika hilang total. Dan sekarang hubungan kami sudah dinyatakan resmi bercerai oleh pengadilan agama. Dan berita itu membuat saham perusahaan yang sebelumnya berhasil stabil, kini kembali turun," keluh Saka dengan napas memburu, menumpahkan seluruh kerapuhannya tanpa ada yang bisa dia sembunyikan lagi.
Kakek Agung terdiam sejenak, menghentikan gerakan lambat kursi goyangnya. Dalam hatinya dia masih menyimpan kecewa terhadap Saka yang berani membohonginya. Namun, melihat Saka yang rapuh seperti ini, hati kecilnya ikut terenyuh dengan kehancuran rumah tangga cucu kesayangannya ini.
Perlahan jemari Kakek Agung bergerak mengusap rambut Saka dengan penuh kasih sayang seorang kakek yang batinnya juga didera oleh kegelisahan batin. Pak Baskoro sudah menemuinya dan memberikan kabar tentang perceraian Saka. Dan karena adanya perceraian itu, Pak Baskoro akan membacakan wasiat lanjutan dalam waktu dekat. Sementara Kakek Agung hanya bisa bertanya-tanya, apa isi wasiat lanjutan itu yang saat ini masih terkunci rapat di brankas Pak Baskoro.
"Saka," bisik Kakek Agung dengan suara serak yang tenang namun terdengar begitu berat. "Manusia sering kali baru menyadari kilau sebuah permata setelah permata itu jatuh ke dalam lumpur yang dalam dan hilang dari genggaman. Kamu sudah membuat kesalahan besar yang melukai harga diri Arunika, bahkan kamu sampai berbohong pada Kakekmu ini. Jadi, bersiaplah untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Kakek memang menyayangimu, tetapi penyesalan selalu datang di lembar terakhir sebuah cerita."
Saka tertegun mendengar kalimat dari Kakeknya. Dadanya semakin bergemuruh oleh rasa cemas dan kehilangan. Hidupnya berubah dalam satu malam hanya karena langkah sunyi Arunika.
Sementara itu di sudut lain kota Jakarta, Valerie yang tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh Saka, memilih untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dia berniat mengadukan sikap Saka yang terlalu sibuk mencari Arunika, hingga mengabaikannya setiap harinya. Valerie ingin meminta ayahnya untuk membantunya menegur Saka, serta meminta bantuan dana untuk memulihkan rekeningnya yang dibekukan oleh akuntan perusahaan Daniswara.
Namun, begitu Valerie melangkah masuk melewati pintu ruang tamu, dia tidak mendapati pembelaan yang dia harapkan.
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara ayah Valerie terdengar menggelegar
Di malam yang sama, ego Saka mulai hancur lebur oleh bayang-bayang kebaikan Arunika yang terlambat dia sadari. Sementara Valerie harus menelan pil pahit diusir oleh keluarganya sendiri akibat keserakahannya.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍