Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Selagi Masih Ada Waktu
'Selagi masih punya kesempatan, aku harus terus menabung.'
Mireya membuka mata. Tatapannya jatuh kepada Elden yang masih tidur nyenyak di tengah mereka.
Anak kecil itu menggenggam ujung selimut dengan wajah tenang.
Mireya tersenyum tipis. “Untuk sementara…”
Tangannya mengusap rambut Elden dengan lembut. “Aku akan tetap menjadi Ibu yang baik untukmu.”
Ia kemudian memejamkan mata kembali. Tidak lama kemudian, ia akhirnya benar-benar tertidur.
Namun di sisi lain, Arven ternyata belum tidur. Ia mendengar bisikan Mireya barusan untuk Elden.
Pria itu miring ke arah Mireya. Tak hanya itu, obrolan mereka tadi terus terngiang di kepalanya.
'Takut? Apa yang kau takutkan padaku?'
'Apa dia takut dengan pernikahan atau bagaimana?'
Arven terus menatap Mireya. Ia benar-benar telah lelap. Suara napasnya teratur dan telah masuk ke dunia mimpinya.
Arven menghela napas pelan. “Apa kau tak bisa memberikan satu saja petunjuk atau rahasia yang begitu besar untuk kau simpan itu?"
Namun, tak ada jawaban.
Hanya terdengar suara napas yang teratur dan pelan.
Tangan panjang Arven bergerak menarik rambut yang sedikit menutupi wajah Mireya.
"Aku hanya berharap, kamu tak memilih berakhir denganku karena sesuatu itu." Akhirnya ia memejamkan mata.
.
.
Keesokan paginya, mereka sedang duduk di meja makan. Hanya Elden yanh semangat menikmati sarapannya.
Mireya yang menyuapi, tampak lemas dengan kantung mata yang sedikit menggelap.
"Ayo, Bu. Aku mau makan yang banyak. Aku mau berkebun," bocah itu dengan penuh semangat.
“Apa?” Mireya yang tampak cukup lesu menatap Elden dengan kening mengerut.
"Ayo lah, Bu. Aya juga sudah siap."
Satu alis Arven terangkat. "Ayah? Kenapa dengan Ayah?"
Elden menautkan kedua alisnya. “Apa Ayah lupa? Kita kan mau lanjut berkebun. Tanaman kita harus rajin disiram biar tumbuh dengan baik," terang Elden was-was jika saja Arven membatalkan kembali rencana mereka.
Arven menatap putranya. Kemudian menatap Mireya.
Mireya hanya tersenyum kikuk. “Sepertinya Mas lupa lagi kalau kemarin sudah berjanji sama Elden.”
Arven mencoba mengingat kembali. Ia meminum kopi tersisa dan bangkit dari posisinya. “Baik.”
Elden bersorak. “Yeay!”
Mireya tersenyum. Ia tidak menyadari bahwa Arven terus memperhatikannya. Senyum kecil itu. Senyum yang muncul ketika bersama Elden.
Entah mengapa, Arven mulai menyukai rumah yang seperti ini. Tidak lagi sunyi seperti dulu.
Tidak lagi hanya berisi dirinya dan seorang anak yang sulit berbicara dengan orang lain dan hanya bersembunyi di belakangnya.
Sekarang ada suara langkah Mireya. Ada ciloteh dan tawa Elden.
Ada seseorang yang akan menegurnya ketika ia salah menanam.
Dan seseorang yang akan mengingatkannya untuk pulang sebelum makan siang.
.
.
Di kebun, Mireya sibuk memeriksa bibit yang sudah bertambah tingginya beberapa senti.
Elden membantu di sampingnya. "Bu ... Udah tambah besar," ucapnya takjub.
"Iya, sayuran kita udah mulai tumbuh dengab baik. Setelah ini, harus rajin kita rawat biar nanti semakin bagus dan tentu menghasilkan sayuran yang banyak."
Elden mengangguk cepat.
"Nanti kamu harus memakannya juga ya? Kan ini hasil jerih payah kita."
Elden menutup mulut dan kali ini menggeleng cepat.
"Jangan begitu, nanti sayurannya sedih dan ngga mau besar bagaimana?" bujuk Mireya dengan sedikit bumbu kebohongan ala ibu-ibu di negara ini.
Elden tampak sedikit kaget karena mata dan bibirnya membulat secara bersamaan. "Benarkah?"
Arven yang memperhatikan diam-diam hanya bisa menahan geli. Bahkan, pemandangan yang sesederhana itu begitu dinikmatinya
Arven yang sedari tadi memegang alat penyiram tanaman akhirnya menyela. “Yang ini harus kita siram?”
Mireya menoleh. “Iya, dikit-dikit aja ya. Kalau terlalu banyak, nanti benihnya malah langsung terbongkar terbawa air.”
Arven mengangguk paham. “Baik lah ...”
.
.
Siang harinya, setelah makan, Mireya kembali ke kebun seorang diri. Ia membawa buku kecil.
Di dalamnya terdapat catatan mengenai perkembangan tanaman yang ada di kebun, kebutuhan pupuk, dan hasil yang mungkin diperoleh.
Ia juga menuliskan sesuatu di halaman paling belakang. Catatan jumlah tabungan yang sudah disimpannya.
Kemudian menambahkan sedikit dari uang yang ia dapatkan bulan itu.
Cukup banyak, karena uang belanja yang diberikan Arven tiap bulannya sebanyak dua digit.
Arven mengatakan uang yang diterimanya sebagai istri. Namun dalam pikiran Mireya, itu sebagai upahnya dalam mengasuh Elden.
Mireya menutup buku. “Aku harus terus menabung.” Ia memasukkan buku tersebut ke dalam saku.
.
.
Menjelang sore, Mireya dan Elden kembali menyiram tanaman. Saat itu Arven baru kembali dari pekerjaannya.
“Kau belum selesai?”
Mireya menoleh. “Sebentar lagi.”
Arven melihat sekeliling. “Besok pekerja akan membantu membersihkan bagian belakang.”
Mireya mengangguk. “Baik.”
“Kau tidak perlu mengerjakan semuanya berdua saja meski sebenarnya kamu melakukannya sendirian.”
Mireya menatap Arven. “Sebenarnya aku bisa sendiri.”
Arven menahan napas. "Kamu tak boleh menolak keinginanku. Aku tak mau kamu terlalu lelah."
Mireya tersenyum. “Baik lah. Apa pun yang suami bilang harus aku turuti.”
Arven menatapnya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. "Berbalik lah!" perintahnya.
"Kenapa?"
"Putarkan saja badanmu!"
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?