Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:949.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Sean berdiri tegak. Tangannya menggenggam sesuatu di belakang punggung. "Aku mau tanya. Kamu sebenarnya mau apa?"

Vivi mengernyit. "Maksudnya?"

"Kamu menikah dengan Ayah karena apa?" Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi. Sean melanjutkan sebelum Vivi sempat menjawab. "Karena rumah ini? Karena uang Ayah? Karena Nenek? Atau karena apa?" Sean mengeluarkan sebuah foto dari belakang punggungnya. Foto keluarga lama mereka. Ada Baskara. Ada ibunya. Ada dirinya dan saudara-saudaranya. Foto yang diambil saat semua orang masih bahagia.

Sean meletakkan foto itu di meja. Tepat di depan Vivi. Lalu menatapnya lurus-lurus. "Kalau begitu kenapa?"

Vivi terdiam. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke rumah ini, anak itu tidak sedang membuat jebakan. Tidak sedang bermain-main. Tidak sedang mencari cara untuk menang. Ia benar-benar ingin tahu. Karena jauh di dalam hatinya, Sean sebenarnya takut. Takut kalau suatu hari wajah ibunya dilupakan. Takut kalau suatu hari adik-adiknya lebih menyayangi Vivi. Takut kalau dirinya sendiri mulai terbiasa dengan kehadiran perempuan itu. Dan ketakutan itulah yang membuatnya terus melawan.

Vivi memandangi foto keluarga itu cukup lama. Kemudian ia tersenyum kecil. Bukan kepada Sean. Melainkan kepada sosok wanita dalam foto tersebut. Lalu ia mengangkat pandangannya. Menatap Sean. Dan menjawab dengan jujur. "Aku juga belum tahu."

Sean membeku. "Hah?"

"Aku benar-benar belum tahu." Jawaban itu tidak masuk dalam semua skenario yang telah ia siapkan. "Aku tidak menikah karena rumah ini karena aku juga punya rumah sendiri. Tidak karena uang karena aku bekerja dan mendapatkan gaji yang cukup untukku. Tidak karena ayahmu karena kami baru bertemu beberapa kali."

Sean semakin bingung. "Lalu kenapa?"

Vivi tersenyum tipis. "Karena aku sedang mencoba mencari tempatku. Dan sampai hari ini..." Vivi melirik foto keluarga itu lagi. "aku juga masih belum tahu apakah tempat itu ada di rumah ini atau tidak."

Sean tidak bisa menjawab. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Wanita itu ternyata tidak datang sebagai penakluk. Tidak datang sebagai pengganti. Tidak datang sebagai pemenang. Ia sama bingungnya dengan mereka. Sama asingnya. Sama-sama sedang berusaha bertahan. Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat Sean semakin sulit memusuhi Vivi. Yang membuatnya kesal adalah Ia belum siap untuk berhenti melawan. Karena jika ia berhenti sekarang, maka skor akan berubah lagi. Dan Sean tidak boleh membiarkan Vivi unggul 3-0.

"Sean, ada kondisi yang tak bisa aku beritahukan kenapa akhirnya aku menerima untuk menikah dengan ayahmu." ujar Vivi.

"Kondisi apa?" tanya Sean.

"Kamu masih terlalu kecil untuk memahaminya. Yang jelas aku tak seperti apa yang ada dipikiranmu." Vivi mengusap kepala Sean pelan. Usapan yang tiba-tiba mengingatkan Sean pada ibunya.

"Tolong jangan! Aku tak mau menyayangimu. Masa aku harus takhluk dihari pertama kamu datang ke rumah ini!" Sean berteriak di dalam hatinya.

***

Percakapan dengan Sean menguras tenaga Vivi lebih dari yang ia kira. Anak itu baru berusia sepuluh tahun. Tetapi cara berpikirnya sering kali seperti orang dewasa.Bukan kenakalannya yang melelahkan. Melainkan beban yang dipikulnya. Sean tidak sedang melawan Vivi. Sean sedang berusaha menjaga kenangan tentang ibunya. Dan itu membuat Vivi sulit marah.

Namun belum sempat ia mencerna percakapan itu, masalah lain sudah menunggu. Karena Sean mungkin pemimpin kelompok. Tetapi empat adiknya juga bukan lawan yang mudah. Masing-masing memiliki cara sendiri untuk membuat hidup Vivi rumit.

Yuan, Anak yang Terlalu Pintar Vivi menemukan masalah pertama saat hendak menyiapkan jadwal belajar anak-anak. Ia duduk di ruang keluarga sambil menyusun beberapa buku sekolah. Tiba-tiba Yuan datang. Membawa buku matematika. "Tante."

"Iya?"

"Aku nggak bisa soal ini."

Vivi tersenyum. Sebagai guru, ini wilayah yang sangat nyaman baginya. "Coba lihat."

Yuan menyerahkan buku. Vivi langsung mulai menjelaskan. Panjang. Detail. Sampai lima belas menit. Setelah selesai, Yuan mengangguk. "Oh..."

"Nah, paham?" Yuan mengangguk dan itu Bagus. Vivi kembali ke pekerjaannya.

Lalu Yuan berkata santai, "Padahal itu soal kelas enam."

Vivi berhenti menulis. Perlahan menoleh. Yuan sedang tersenyum polos. Sangat polos. Terlalu polos. "Kamu sengaja?"

"Tante kan guru." Yuan mengangkat bahu. "Aku cuma mau tahu seberapa pintar."

Vivi menutup mata sesaat. Anak ini, Anak ini jelas berbahaya. Bukan karena nakal.Tetapi karena menikmati permainan pikiran. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi Ia tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

***

Jika Yuan menggunakan otak. Saka menggunakan kekacauan. Menjelang siang Vivi mendengar suara ribut dari halaman belakang. Bruk! Disusul suara teriakan. "SAKAAA!"

Vivi langsung berlari keluar. Dan menemukan pemandangan yang membuatnya memijat pelipis. Saka berdiri di atas kursi plastik. Memegang selang air. Sementara seluruh halaman belakang berubah menjadi lautan lumpur. Tanaman rusak. Pot roboh. Dan seekor ayam berlari panik ke sana kemari. "Astaga."

Saka tersenyum lebar. "Halo Tante."

"Kamu sedang apa?"

"Mancing."

Vivi menatap lumpur. Lalu ayam. Lalu kolam. Lalu kembali ke Saka."Mancing apa?"

"Belum tahu." Anak itu menjawab dengan penuh keyakinan.

Vivi menengadah ke langit. Mencari kesabaran. Karena ia mulai yakin sebagian uban orang tua muncul akibat anak seperti Saka. Tetapi Vivi memutuskan membiarkan Saka untuk eksplorasi. Biarkan ia aktif, menghabiskan energinya sebab kalau dilarang, ia akan mencari akal lainnya. Setidaknya hanya halaman belakang yang harus dikorbankan.

***

Kalau Yuan membuat lelah. Kalau Saka membuat pusing. Maka Ella membuat hati Vivi sakit. Anak perempuan itu sedang menggambar saat Vivi menghampirinya. "Wah, gambar apa?" Ella tidak menjawab. Vivi duduk di sampingnya. Baru kemudian ia melihat isi gambar tersebut. Seorang wanita. Lima anak. Dan seorang laki-laki. Keluarga.

"Tante suka gambarnya." Ella langsung menarik kertas itu. "Ini Mama. Kalau Mama masih ada, Mama pasti gambar lebih bagus."

Vivi tersenyum. "Iya."

Ella melanjutkan. "Mama juga masaknya lebih enak. Mama juga tahu warna favorit aku. Mama nggak pernah salah beli sampo." Karena Vivi hanya mengangguk, Ella akhirnya menoleh. Matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa Mama harus pergi?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tidak ditujukan kepada Vivi. Tidak mengharapkan jawaban. Hanya keluar dari hati seorang anak kecil yang masih kehilangan. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Vivi tidak tahu harus berkata apa. Karena tidak ada jawaban yang bisa memperbaiki kehilangan sebesar itu.

Sebuah pelukan diberikan Vivi pada Ella. Gadis kecil itu membalasnya. Ia menangis dipelukan ibu tirinya.

***

Di tengah semua kekacauan itu, hanya ada satu anak yang tidak membuat masalah. Lili. Justru itu masalahnya. Karena anak kecil itu tampaknya tidak memahami perjanjian rahasia kakak-kakaknya.

1
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
Hesty Mamiena Hg
Naahhh...😌
Hesty Mamiena Hg
Kenapa Vivinya pulang sendiri aja?
Harusnya Baskara dan anak2 ikut, silaturahmi kermh ortu Vivi utk pertama kalinya 🙄
Inooy
bab termewek,,siapa pun anak nya pasti akan merasa tersisihkan jika ayah nya menikah kembali...karena banyak kenyataan nya yg seperti ini, apalagi anak2 nya masih d bawah 12 tahun yg pola pikir nya belum dewasa utk mencermati setiap masalah orang dewasa,,khusus nya masalah orangtua...
Inooy
perang mu akan segera d mulai Vii,,tp ini lain perang nya..anak2 yg pada dasar nya tidak nakal, akan lebih cepat menurut dengan pendekatan, pengertian dn tentu nya dengan kasih sayang yg tulus..
karena inti nya anak2 yg d tinggal meninggal oleh ibu nya, mereka tidak mo memiliki ibu tiri yg stigma nya udh jelek dr jaman dulu..dn mereka tidak mo posisi ibu nya d gantikan oleh siapa pun, apalagi klo ibu nya termasuk ibu idaman bagi anak2 nya..
jd ini PR bwt kamu Vii utk meluluhkan hati anak2, termasuk ayah nya..😂
Inooy
ini sih aq bangeet Vii, suka panas dingin klo d ajak k rumah orang yg belum begitu dekat 😁
Inooy
klo mesin mobil udh d matiin, itu tanda nya udh nyampe Baaas...🤦‍♀️😁
Inooy
irit banget jawaban mu, Baas...

beri sedikit semangat kek apa kek..ini kaya orang lg ngirit uang belanja aaaja 🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!