Indonesia
NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riana Rainia Rani

POV F

Fuuuuhhh.

Akhirnya selesai juga misiku. Rasanya masih seperti mimpi, duduk berhadapan dengan Dira sore ini. Wanita yang dari kemarin menunjukkan wajah masamnya, ternyata bisa juga melunak meski masih dengan mode cuek. Apalagi saat nomorku tidak diblokir lagi, aku jadi ingin salto saking bahagianya.

Sesaat aku terdiam, memeriksa kembali perasaan ini. Apakah rasa itu masih ada? Mengingat bertahun lamanya aku belajar menganggap Dira sebagai adikku.

Tidak, ternyata rasa itu kini sudah berubah. Berubah menjadi lebih besar dan dalam. Rumit.

Ya Tuhan, apa aku salah jika masih memendam rasa pada Rastadira? Bertahun-tahun aku menghindarinya, mencoba cerita dengan beberapa orang yang kuanggap bisa membuatku lupa pada sosoknya. Namun, satu peristiwa kemarin malah membuatku semakin sulit menjauh. Aku tidak mungkin abai pada pengasingan diri yang dilakukan oleh Dira, karena aku adalah orang pertama yang membuatnya memilih jalan ini. Semoga Dira dan calon anakku selalu baik-baik saja. Aku berjanji akan selalu ada untuk mereka, meski mungkin nantinya aku tidak bisa bersatu dengan Dira.

Ah, entahlah aku jadi sedih jika harus mengingat ini semua. Sesakit ini memang cinta bertepuk sebelah tangan. Apalagi sainganku adalah adik sendiri. Makin berlipat sakitnya. Duh!

Pagi ini aku berangkat lebih awal untuk ke rumah Mama. Semalam Febi meneleponku lagi dan bertanya kapan aku ke rumah. Febi bercerita jika Mama ingin sekali makan tahu kuning khas Kota Kediri, jadi pagi ini kami akan bersama-sama kesana.

“Assalamualaikum.” Ucapku saat memasuki rumah, ada Papa yang tengah bermain dengan gadis cilik di sofa ruang tamu.

“Waalaikumsalam, wah itu ada Pak Dhe datang.” Kata Papa sambil menyambut tanganku yang akan mencium tangannya.

“Mas Fariq cuci tangan dulu kalau mau pegang Riana!” Teriak Febi dari dalam kamar, aku menyahut malas dan menuruti perintahnya.

“Namanya siapa, Pa?” tanyaku saat kembali dari wastafel.

“Ri.. Ri.. Siapa ya, Rina kayaknya.” Jawab Papa ragu.

“Duh, pada gak tahu nama cucunya ini gimana, sih. Tadi mama juga manggilnya Rina, sekarang papa. Namanya tuh Riana Rainia Rani, panggilnya Rina, eh salah Riana.” Celoteh adikku sambil membenarkan riasannya.

“Ribet amat namanya,” ucapku pelan namun terdengar di telinga adikku, alhasil dia pun mengeluarkan lengkingan khasnya kembali.

“Halo Riana, duh sudah punya keponakan aku.” Kuelus pipi Riana yang saat itu tertawa melihatku, lucu sekali.

Papa dan aku bergantian menggoda Riana dengan ekspresi kekekanakkan. Sampai kami tidak menyadari bahwa dua wanita dewasa di rumah itu sudah berdiri di belakang kami.

“Udah ayok, buruan berangkat keburu siang nanti panas di mobil.” Kata Mama.

“Belum juga jam 6 loh, Ma. Masih pagi banget ini,” ucapku sambil terus membuat gerakan cilukba pada Riana yang berbaring di sofa.

“Pengen punya anak, ya? Makanya nikah,” goda Febi. Sepertinya Febi bakal punya bahan ledekan baru nih, seperti dulu juga sering meledekku saat disalip Farhan.

“Halah, Farhan itu juga nikah belum punya anak.”

“Mama!” Kami bertiga berteriak ke arah suara. Rasanya aku tidak terima jika adikku, Dira khususnya, diremehkan hanya karena belum memiliki keturunan.

“Iya maaf, habisnya mama ini gemes sudah pengen gendong cucu. Eh, yang dinikahkan duluan belum juga punya anak.” Kini Mama ikut duduk di sampingku.

“Ma, coba diingat lagi deh. Awal nikah dulu Mas Farhan sama Mbak Dira udah langsung disini lho jagain Mama, merawat Mama yang waktu itu jalan aja nggak bisa. Bahkan di tahun berikutnya waktu ayahnya sakit, dia juga tetep disini nemenin mama, sampai ayahnya berpulang dan aku yang nikah juga Mbak Dira gak pernah lepas dari Mama. Baru beberapa bulan ini aja waktu aku sudah hamil besar Mama benar-benar fit, waktu udah bisa santai eh sekarang ganti ibunya yang sakit dan sekarang dia nemenin disana. Coba deh Mama bayangin kalau jadi Mbak Dira capeknya kayak apa.” Febi tiba-tiba berganti mode psikolog. Kami sekeluarga paham betul watak Mama yang sering jengkel pada hal sepele. Dan Febi seringkali hadir menjadi penengah sekaligus memberikan pengertian supaya Mama sadar akan kekeliruannya.

“Papa sakit perut dua hari aja Mama ngeluhnya luar biasa, ini Dira jagain kita semua selama tiga tahun terakhir nggak pernah dengar dia mengeluh.” Papa yang pendiam turut membela menantu perempuannya. Hah, lagi-lagi aku ingin bersujud di kaki Dira. Bagaimana bisa seorang Fariq yang katanya begitu mencintai Dira malah membiarkan Dira mengurus rumah ini beserta penghuninya seorang diri? Aku menyesal karena terlalu pengecut kemarin, harusnya aku bisa melawan rasa cemburu itu supaya bisa membantu Dira mengurus semuanya.

“Allah tahu waktu yang tepat, Ma. Misal Mbak Dira kemarin punya anak terus siapa yang bantuin Mbak Dira momong? Papa layar, Mama sakit, Mas Farhan kerja, aku kuliah, Mas Fariq minggat.” Febi masih sempat-sempatnya menyindirku dengan mimik wajah menggelikan.

“Iya, iya Mama ngaku salah. Mama nggak kepikiran sampai situ. Gini ini jadi kangen lagi sama Dira, biasanya hari minggu gini dia bikin stok frozen buat bekal Farhan.” Ucap Mama sambil meraih Riana yang ada di sebelahku.

“Kamu nggak pengen gendong keponakanmu, Riq?” Aku yang ditanya langsung menggeleng mantap.

“Bocah ini yang lebih bikin sedih, nih. Sudah kepala tiga belum juga ketemu jodohnya. Wong ya ganteng, mapan, punya rumah sendiri. Mbok ya jangan kerja terus gitu, lho. Ikut kontes jodoh sana, atau minta tolong guru ngajinya Papa aja biar dicarikan wanita soleha.” Mama berkata dengan lancarnya, Febi dan Papa menimpali ucapan Mama dengan tawa renyah.

“Iya ih, Mas Fariq payah banget dari dulu nggak pernah kelihatan sama cewek. Kamu nggak homo kan, Mas?”

“Sembarangan!” Ujarku tak terima, enak saja aku dicurigai sebagai homo.

“Ya makanya move on, dong. Ditinggal pacarnya nikah uda bertahun-tahun masih aja nggak bisa move on.” Papa ikut menimpali. Mereka semua tahu bahwa aku pernah mengalami patah hati yang cukup tragis, yaitu ditinggal menikah. Meski tidak ada yang tahu bagaimana wujud perempuan yang berhasil membuatku gagal move on itu.

“Tenang, nanti kalau sudah waktunya pasti Fariq kenalkan. Sekarang Fariq masih penjajakan.” Terpaksa aku berbohong, daripada dituduh homo dan dijodohkan.

“Oke, ditunggu ya. Jangan sampai nanti Riana punya adek, Pak Dhe nya masih awet menjomblo.” Ucap Mama sekenanya.

“Ih, Mama. Febi masih mau fokus ke Riana, nggak ada itu adek Riana adek Riana. Amit-amit, jangan dulu Ya Allah.” Febi terlihat cemas dengan imajinasinya sendiri.

“Tapi ngomong-ngomong Riana ini mirip siapa, ya? Mirip Dira nggak, sih?” tanya Mama sambil menghadapkan Riana ke kami bertiga.

“Iya bener. Kata Kak Alfi sama mama mertua juga gitu, Riana mirip Mbak Dira. Bisa-bisanya malah mirip Mbak Dira, padahal aku yang hamil dan ngelahirin.” Febi berlagak sedih.

“Ya gimana nggak mirip Dira. Wong kamu kalau ngidam juga request nya ke Mbakmu, kok.” Papa lebih banyak merespon ternyata kali ini. Atau mungkin karena aku jarang bercengkrama bersama keluarga sehingga aku tidak tahu perubahan karakter masing-masing dari mereka.

“Hehehe, iya juga ya.”

“Makanya cantik, mirip Tante Dira ternyata.” Tanpa sadar aku mengamati wajah Riana kembali, dan ikut mengaminkan kemiripan bayi itu dan Dira.

“Kalau mirip aku nggak cantik gitu maksudnya, Mas?” Jangan tanya bagaimana reaksiku. Ngakak.

Sedari pagi aku mengirim pesan pada Dira. Meski hanya dibaca tanpa dibalas, tapi aku cukup senang karena ia tidak memblokirku lagi. Kuberikan kabar tentang acara jalan-jalan hari ini, dan ia baru membalas saat ada foto Riana yang kuselipkan dalam chat-ku.

‘Cantiknya.. ‘

[Kayak kamu, Ra.]

‘Namanya siapa, Mas?’

[Riana. Kalau yang cantik satu lagi namanya Rastadira.]

Hanya dibaca. Aku tertawa kecil, bisa-bisanya aku menggoda adik iparku. Rasanya rindu sekali, ingin aku tatap lagi wajahnya yang ingin menerkamku seperti kemarin saat di Kafe Rima. Terkadang aku bertanya sampai kapan aku bertahan dengan perasaan seperti ini, agak khawatir juga kalau ini berubah menjadi obsesi.

‘Mama sama Papa gimana kabarnya, Mas?’

Oh, ternyata Dira masih tertarik dengan obrolan via aplikasi hijau ini. Mungkin tadi dia sedang repot sehingga pesanku hanya dibaca.

[Alhamdulillah sehat. Makasih ya sudah rawat Mama selama ini.]

‘Sama-sama.’

[Kata Mama, Mama kangen sama kamu.]

‘Iya, kapan-kapan aku main kesana.’

[Anaknya juga kangen sama kamu.]

‘Farhan?’

Ya Tuhan, bisa-bisanya dia menebak nama Farhan. Apa dia lupa kalau aku juga anak Mama?

[Aku, lah.]

Dan lagi-lagi tidak ada balasan. Mulai sekarang aku tidak akan sembunyi-sembunyi lagi untuk menunjukkan perasaanku padanya. Tidak akan lagi aku ulangi kebodohanku empat tahun lalu, menyiksa diri dengan cinta dalam hati.

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!