Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Payung dan Senyum di Tengah Hujan
Cynthia terpaku menatap sosok asing di hadapannya. Di saat seluruh dunianya seakan runtuh dan tak ada satu pun yang memihak padanya... justru pria yang baru pertama kali ia temui inilah yang berhenti dan peduli. Tanpa banyak tanya, tanpa menuntut balas budi.
"Mbak? Ayo pakai jaketnya dulu. Nanti masuk angin lho," ucap Aloy lembut sambil menyodorkan jaket tebalnya sekali lagi. Senyumnya tetap hangat, seakan tak terpengaruh oleh derasnya hujan maupun kesedihan yang memancar dari wajah Cynthia.
Dengan tangan gemetar, Cynthia menerima jaket itu. Bahannya tebal dan hangat, seketika memberikan rasa nyaman di tengah dinginnya hujan yang menusuk tulang.
"Terima kasih..." ucapnya pelan, suaranya masih terdengar serak menahan tangis.
Aloy tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. "Sama-sama. Sekarang... Mbak mau saya antar pulang ke mana? Atau ada tempat lain yang ingin dituju?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat hati Cynthia kembali perih. Pulang ke rumah? Ke rumah tempat orang tuanya baru saja menerima lamaran adik kandungnya sendiri dari pria yang tujuh tahun ia cintai? Itu mustahil baginya saat ini.
Cynthia menggeleng pelan, air mata kembali jatuh membasahi pipi. "Saya... belum tahu mau ke mana."
Melihat kesedihan wanita itu, Aloy tak bertanya lebih lanjut. Ia seakan paham bahwa ada luka mendalam yang sedang dirasakan Cynthia. Dengan tenang, ia membuka payung lipat yang tersangkut di bagian belakang motornya, lalu berdiri melindungi Cynthia dari guyuran air hujan.
"Kalau begitu... biarkan hujan yang menampar duluan. Kita tunggu di sana saja," ucapnya sambil menunjuk sebuah warung kecil beratap penyangga tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa menunggu jawaban, ia memandu Cynthia berjalan menuju tempat yang agak terlindungi itu.
Sepanjang perjalanan singkat itu, Aloy terus memastikan payung lebih condong ke arah Cynthia. Bahu kirinya sendiri terlihat basah kuyup terkena air hujan, namun ia seakan tak peduli sama sekali.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Cynthia tiba-tiba saat mereka sudah berdiri di bawah atap warung. "Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kenapa kau begitu baik padaku?"
Aloy menoleh, lalu tersenyum santai seakan hal yang ia lakukan adalah hal yang paling wajar di dunia ini.
"Karena setiap orang berhak diperlakukan dengan baik, terlebih saat mereka sedang terluka," jawabnya tenang. "Dan percayalah... senyummu yang sebenarnya jauh lebih indah daripada air mata yang membasahi pipimu itu."
Hati Cynthia bergetar mendengar kalimat itu. Tujuh tahun bersama seseorang yang ia kira adalah segalanya... tak pernah sekalipun ia mendengar kata-kata yang begitu menyentuh hatinya seperti yang baru saja diucapkan orang asing ini.
"Namaku Cynthia..." ucapnya lirih, akhirnya memperkenalkan diri.
"Cynthia..." Aloy mengulangi namanya perlahan, seakan menikmati setiap suku kata. "Nama yang seindah pemiliknya. Senang sekali akhirnya mengetahui namamu, Cynthia."
Di saat itu, di tengah derasnya hujan dan rasa sakit yang luar biasa... Cynthia menyadari satu hal. Pertemuan ini bukan sekadar kebetulan semata. Ada sesuatu di balik tatapan teduh dan senyum tulus pria bernama Aldy Reynaldi itu. Sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami saat ini.
Dan tanpa Cynthia ketahui... pertemuan sederhana di bawah payung kecil inilah yang perlahan-lahan akan menyembuhkan luka hatinya, sekaligus membawanya menuju sebuah takdir yang jauh lebih indah dari apa yang pernah ia bayangkan selama tujuh tahun lamanya.