IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Sindiran
Malam itu, Liam kembali ke penthouse dengan seluruh kebenaran yang telah terungkap masih membara dalam dadanya, namun ia memilih untuk tidak segera mengonfrontasi Helena secara langsung dengan kasar. Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk mulai memainkan permainan yang jauh lebih halus dan menyiksa, yaitu sebuah rangkaian sindiran terselubung yang akan perlahan membuat Helena menyadari bahwa topengnya mulai terkuak, tanpa memberikan kesempatan baginya untuk segera melarikan diri atau menyusun pembelaan yang matang.
Ketika Helena menyambutnya di pintu dengan senyum manis seperti biasa, Liam membalasnya dengan senyum yang sama hangatnya, meski di balik ekspresi tenang tersebut, tersimpan kesiapan mental untuk memulai serangkaian permainan kata yang telah ia rencanakan dengan begitu cermat sepanjang perjalanan pulang.
"Bagaimana harimu, Helena?" tanya Liam santai, melepas jasnya dan duduk di sofa ruang keluarga. "Kudengar SoHo sedang banyak pameran seni menarik akhir-akhir ini. Apakah kau sempat mengunjunginya?"
Pertanyaan yang tampak begitu biasa itu membuat Helena sedikit terkejut, matanya berkedip cepat sebelum ia berhasil menguasai ekspresinya kembali. "SoHo? Tidak, aku tidak pergi ke sana. Aku hanya menghabiskan waktu di rumah hari ini."
"Oh, benarkah?" Liam mengangguk pelan, senyumnya tetap terjaga meski matanya menyimpan kilatan yang begitu tajam dan mengamati. "Aku pikir aku melihat mobil yang mirip denganmu terparkir di sana ketika aku melewati daerah itu tadi siang. Mungkin aku salah lihat."
Helena tertawa kecil, namun tawa itu terdengar sedikit lebih gugup dari biasanya. "Kau pasti salah lihat, Liam. Banyak mobil yang modelnya serupa di kota ini."
"Kau benar," jawab Liam, memilih untuk tidak mendesak lebih jauh malam itu, membiarkan benih kecurigaan kecil itu tertanam dalam pikiran Helena tanpa memberikan bukti konkret yang bisa segera ia bantah.
Selama beberapa hari berikutnya, Liam terus melanjutkan strategi sindiran halus tersebut, menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang tampak begitu polos namun sesungguhnya penuh perhitungan, masing-masing dirancang untuk membuat Helena semakin gelisah tanpa pernah memberikan alasan yang jelas untuk kecurigaannya.
"Aku dengar Marcus Kane baru saja membeli sebuah apartemen baru di SoHo," ucap Liam suatu malam sambil menikmati makan malam bersama, nada suaranya begitu santai seolah sekadar membicarakan gosip bisnis biasa. "Kau pernah mendengar tentang dia? Kudengar dia cukup terkenal di kalangan sosialita New York."
Nama itu membuat Helena tersedak sedikit pada makanannya, matanya membelalak sejenak sebelum ia berusaha keras menormalkan ekspresinya. "Aku... aku tidak begitu mengenalnya. Kenapa kau tiba-tiba membicarakan dia?"
"Tidak ada alasan khusus," jawab Liam, mengangkat bahu dengan santai meski di dalam hatinya, ia menikmati setiap detik kegelisahan yang mulai jelas terlihat di wajah Helena. "Aku hanya mendengar namanya disebut dalam sebuah pertemuan bisnis tadi. Katanya dia cukup dekat dengan beberapa wanita di lingkaran sosial kita."
Helena terdiam, mencoba menelan makanannya dengan susah payah, tangannya yang memegang garpu terlihat sedikit gemetar meski ia berusaha keras menyembunyikannya. "Aku... aku rasa aku pernah bertemu dengannya sekali di sebuah acara amal. Tidak lebih dari itu."
"Ah, begitu," ucap Liam, mengangguk pelan sambil melanjutkan makan malamnya seolah topik tersebut tidak lagi penting baginya, meski sesungguhnya ia memperhatikan setiap gerak-gerik Helena dengan begitu teliti, mencatat bagaimana wanita itu mulai menghindari kontak mata langsung dengannya, bagaimana tangannya terus bergerak gelisah di bawah meja.
...***...
Beberapa hari kemudian, Liam kembali melancarkan sindirannya, kali ini dengan pendekatan yang sedikit lebih tajam. Mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga menonton acara televisi, ketika sebuah berita tentang properti mewah di SoHo muncul di layar.
"Kau tahu," ucap Liam santai, matanya tetap tertuju pada layar televisi, "aku baru saja menyadari betapa menariknya kawasan SoHo belakangan ini. Banyak apartemen mewah baru yang dibangun di sana, kebanyakan dimiliki oleh para pengusaha muda yang baru mewarisi kekayaan keluarga mereka."
"Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan SoHo?" tanya Helena, mencoba terdengar santai meski nada suaranya sedikit menegang.
"Hanya penasaran," jawab Liam, akhirnya menoleh menatap Helena dengan senyum yang begitu tenang namun penuh makna tersembunyi. "Aku dengar banyak hubungan rahasia terjalin di apartemen-apartemen mewah semacam itu. Kau tahu bagaimana kalangan sosialita kita, selalu penuh dengan rahasia dan kejutan."
Kata-kata itu membuat wajah Helena memucat sejenak, meski ia berusaha keras mempertahankan ekspresi tenangnya. "Aku tidak begitu tertarik dengan gosip semacam itu, Liam."
"Tentu saja," jawab Liam, kembali menatap layar televisi seolah tidak ada yang aneh dengan percakapan mereka, meski senyum tipis yang tersembunyi di sudut bibirnya menunjukkan kepuasan tersendiri menyaksikan kegelisahan yang mulai jelas terlihat pada diri Helena.
Malam itu, ketika mereka bersiap untuk tidur, Liam melanjutkan sindirannya dengan sentuhan yang lebih personal. "Helena, aku memperhatikan kau akhir-akhir ini sering menggunakan parfum baru. Aromanya begitu berbeda dari yang biasa kau pakai."
Helena terdiam sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati. "Aku hanya ingin sedikit perubahan. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak ada alasan khusus," jawab Liam, berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar dengan ekspresi yang begitu tenang, meski di dalam hatinya, ia menikmati setiap momen ketidaknyamanan yang berhasil ia ciptakan. "Aku hanya berpikir, parfum yang berbeda terkadang menandakan seseorang sedang mencoba menciptakan kesan berbeda untuk seseorang yang berbeda pula."
Kalimat itu membuat Helena membeku sejenak, matanya menatap Liam dengan tatapan yang sulit ditebak. Ada campuran rasa antara kecurigaan bahwa Liam mungkin telah mengetahui sesuatu, dan usaha keras untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah kebetulan semata.
"Apa maksudmu, Liam?" tanya Helena, suaranya kini terdengar lebih tegang, tidak lagi sepenuhnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang mulai menguasainya.
"Tidak ada maksud apa pun," jawab Liam, tersenyum tipis sambil memejamkan matanya, berpura-pura bersiap untuk tidur. "Aku hanya bercanda, Helena. Selamat malam."
Helena berbaring di sampingnya dengan tubuh yang terasa kaku, pikirannya dipenuhi kegelisahan yang semakin sulit ia abaikan. Ia mulai bertanya-tanya apakah Liam benar-benar hanya bercanda, ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dalam tersembunyi di balik setiap sindiran halus yang terus ia lontarkan selama beberapa hari terakhir ini.
Sementara itu, Liam berbaring dalam kegelapan dengan mata terpejam, namun pikirannya sama sekali tidak tenang untuk tidur. Ia menikmati setiap detik dari permainan psikologis yang telah ia mainkan kepada Helena. Ada rasa kepuasan tersendiri menyaksikan bagaimana wanita yang telah begitu licik memanipulasinya kini mulai merasakan sedikit dari ketidaknyamanan dan ketidakpastian yang selama ini selalu ia rasakan tanpa pernah Helena sadari.
"Nikmati saja ketenanganmu yang semu ini, Helena," bisiknya dalam hati, sebuah senyum tipis yang penuh perhitungan terukir di wajahnya dalam kegelapan kamar tersebut. "Karena waktu untuk kebenaran sesungguhnya terungkap sepenuhnya, sudah semakin dekat."