Indonesia
NovelToon NovelToon
DEWA PEDANG TANPA TANDING

DEWA PEDANG TANPA TANDING

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Spiritual / Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:103.1k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Su Yun pernah menjalani hidup penuh kegagalan, kehilangan, dan penyesalan. Ketika takdir memberinya kesempatan kembali ke masa lalu, ia bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Berbekal pengalaman dari kehidupan sebelumnya dan warisan misterius Seni Pedang Tanpa Batas, Su Yun menapaki kembali jalan kultivasi. Demi melindungi orang-orang yang berharga baginya, ia harus menghadapi para genius, sekte besar, Binatang Roh, hingga musuh yang jauh melampaui kekuatannya.

Kali ini, Su Yun tidak akan tunduk pada takdir.

Dengan pedang di tangannya, ia akan merebut kembali semua yang pernah hilang—dan membuka jalan menuju puncak dunia kultivasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 — Tak Ada Belas Kasihan di Arena

Wusss!

Su Hei melesat maju.

Jarak di antara mereka lenyap hanya dalam beberapa langkah.

Energi spiritual menyelimuti tinjunya, membuat udara di sekitarnya bergetar.

Sasaran serangan itu jelas.

Dada Su Yun.

Dengan kekuatan sebesar itu, satu pukulan saja sudah cukup untuk menyebabkan luka berat.

Bahkan jika ditahan, energi spiritual di dalam tinju masih dapat menghantam organ dalam.

Su Yun langsung memahami sesuatu.

Su Hei tidak sedang mencoba sekadar memenangkan pertandingan.

Ia benar-benar berniat melukainya.

Atau bahkan membunuhnya.

Tinju itu semakin dekat.

Namun sesaat sebelum mengenai sasaran—

Tap!

Su Yun mengangkat satu tangan.

Telapak tangannya menangkap kepalan Su Hei.

Sangar sederhana.

Seolah serangan yang penuh tenaga itu tidak lebih berat daripada hembusan angin.

Energi spiritual meledak di antara keduanya.

Debu di arena beterbangan.

Namun tubuh Su Yun bahkan tidak bergeser.

“Apa?!”

Dong Mu yang berdiri di luar arena hampir melompat.

Matanya membesar.

Ia tahu kekuatan Su Hei.

Pukulan tadi jelas menggunakan energi spiritual dalam jumlah besar.

Namun Su Yun...

menahannya dengan satu tangan?

Su Hei sendiri membeku.

Ia mencoba menarik tinju.

Tidak bisa.

Genggaman Su Yun terasa seperti penjepit besi.

“Mustahil...”

Su Hei menggertakkan gigi.

Ia tidak percaya bahwa orang yang selama ini disebut sampah bisa memiliki kekuatan seperti ini.

Apalagi Dong Mu dan banyak orang sedang menonton.

Ia tidak boleh kalah.

“Su Hei!”

Dong Mu berteriak dari luar.

“Kau belum sarapan?!”

Wajah Su Hei langsung memerah.

Ia menarik tangannya dengan kasar.

Kemudian mundur setengah langkah.

Aura spiritual kembali meledak.

Kali ini ekspresinya tidak lagi santai.

Ia benar-benar serius.

Su Hei memutar tubuh dan menendang.

Sasarannya kepala Su Yun.

Cepat.

Namun—

Bang!

Sebelum tendangannya sampai, kaki Su Yun lebih dulu menghantam perutnya.

“Ugh!”

Tubuh Su Hei terlempar.

Brak!

Ia menghantam tepi arena dan berguling.

Tangannya langsung memegangi perut.

Wajahnya memucat menahan sakit.

Penonton terdiam.

Tidak ada lagi tawa.

Tidak ada lagi ejekan.

Semua orang melihat jelas apa yang baru saja terjadi.

Ini bukan keberuntungan.

Su Yun benar-benar lebih cepat.

Dan lebih kuat.

“Dia...”

Seseorang menelan ludah.

“Rumornya salah.”

Dong Mu menyipitkan mata.

“Memang tidak sesederhana yang kukira.”

Su Hei memaksa dirinya berdiri.

Kakinya sedikit gemetar.

Namun rasa malu membuatnya tidak mau menyerah.

Ia mengangkat kepala.

Dan saat itulah ia melihat mata Su Yun.

Dingin.

Tidak seperti sebelumnya.

Ada sesuatu di sana yang membuat punggung Su Hei mendadak terasa dingin.

Niat membunuh.

Su Yun mulai berjalan mendekat.

Satu langkah.

Satu langkah lagi.

Aura spiritual perlahan menyelimuti tubuhnya.

Semakin padat.

Semakin tajam.

Su Hei mundur tanpa sadar.

“Kau...”

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Kaki Su Yun sudah bergerak.

Wus!

Tendangan lurus mengarah ke kepala.

Bang!

Pertahanan spiritual di sekitar kepala Su Hei langsung retak.

Tubuhnya kembali terlempar.

Kali ini lebih keras.

Ia berguling beberapa kali sebelum berhenti.

Tidak bergerak.

Tidak jelas apakah masih sadar.

Namun Su Yun tidak berhenti.

Ia terus mendekat.

Suasana di arena berubah.

Juri akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah.

“Nomor 998!”

Ia berdiri.

“Pertandingan sudah selesai! Berhenti!”

Su Yun tidak menjawab.

Dong Mu langsung melompat ke arena.

“Su Yun!”

Ia menghadang.

“Dia sudah kalah!”

“Kau benar-benar ingin membunuhnya?”

Beberapa juri lain ikut bergerak.

Su Yun akhirnya berhenti.

Tatapannya tetap pada Su Hei.

Ia sebenarnya tidak memiliki dendam pribadi terhadap orang itu.

Bahkan tidak mengenalnya sebelum pertandingan.

Namun sejak serangan pertama, niat Su Hei sudah jelas.

Pukulan tadi diarahkan untuk membunuh atau setidaknya melumpuhkannya.

Kalau lawan ingin mengambil nyawanya...

kenapa Su Yun harus berbelas kasihan?

Dalam kehidupan sebelumnya, ia sudah terlalu sering belajar bahwa kelembutan kepada musuh bisa berubah menjadi pisau di punggung sendiri.

Namun ini turnamen.

Ia masih memiliki tujuan.

Masuk wilayah dalam.

Mendekati Qing Er.

Dan meneruskan rencananya.

Membunuh lawan setelah pertandingan dihentikan hanya akan menimbulkan masalah.

Su Yun menarik kembali auranya.

“Baik.”

Juri segera berlari ke arah Su Hei.

Mereka memeriksa napas dan denyut energi spiritualnya.

“Masih hidup.”

Salah satu juri mengembuskan napas.

“Kesadarannya hanya terguncang.”

Dong Mu ikut mendekat.

“Bawa dia berobat!”

Namun setelah memastikan Su Hei masih hidup, kemarahannya justru beralih ke Su Yun.

“Yang Mulia Juri!”

Ia menunjuk Su Yun.

“Dia melanggar aturan!”

“Dia jelas ingin membunuh Su Hei!”

Juri menatapnya dingin.

“Apakah Su Hei mati?”

Dong Mu terdiam.

“Tidak, tapi—”

“Kalau tidak mati, tidak ada pelanggaran.”

Juri melanjutkan.

“Di arena, tinju dan pedang tidak memiliki mata.”

“Cedera adalah risiko pertandingan.”

Dong Mu menggertakkan gigi.

“Tapi dia tetap menyerang setelah Su Hei jatuh!”

Juri mengangkat alis.

“Dan kami menghentikannya.”

“Masalah selesai.”

Dong Mu masih belum puas.

“Ini tidak adil!”

Juri langsung menatapnya.

“Kalau kau tidak bisa menerima kekalahan, jangan ikut turnamen.”

Suasana di sekitar mendadak sepi.

Wajah Dong Mu berubah merah.

Namun ia tidak berani melawan juri.

Akhirnya ia hanya membawa Su Hei pergi bersama beberapa pengikutnya.

Sebelum meninggalkan arena, ia sempat menoleh.

Tatapannya dipenuhi kebencian.

Su Yun tidak peduli.

Ia turun dari arena.

Kali ini, orang-orang tidak lagi menertawakannya.

Sebagian bahkan mundur ketika Su Yun lewat.

Tatapan mereka berubah.

Ada rasa takut.

Ada kehati-hatian.

Hanya dalam dua pertandingan...

gelar “sampah” yang melekat pada dirinya mulai goyah.

Di sudut lain turnamen, beberapa orang berpakaian mewah mengamati dari kejauhan.

“Lumayan.”

Seorang pemuda berkata.

“Sepertinya dia memang punya sedikit kemampuan.”

Orang di sampingnya mencibir.

“Hanya begitu.”

“Belum cukup.”

Pemuda di tengah tersenyum.

“Aku sudah mengatur semuanya.”

Tatapannya mengikuti punggung Su Yun.

“Kalau dia terus menang dan akhirnya bertemu denganmu…”

Ia menoleh kepada pria di samping.

“Jangan gagal.”

Pria itu mengerutkan kening.

“Tuan terlalu mengkhawatirkanku.”

“Oh?”

“Aku tidak mungkin kalah.”

Pemuda itu tersenyum.

“Semoga begitu.”

Kemudian kelompok tersebut pergi.

Su Yun kembali menuju tempat Xin Yue dan Xing Yang menunggu.

Namun begitu sampai, langkahnya langsung berhenti.

Xing Yang duduk di tanah.

Wajahnya pucat.

Bibirnya pecah.

Tubuhnya dipenuhi memar dan beberapa luka.

Xin Yue sedang mengoleskan obat pada lengannya.

“Apa yang terjadi?”

Su Yun langsung mendekat.

Xing Yang tersenyum pahit.

“Tidak ada.”

Xin Yue langsung menatap kakaknya.

“Tidak ada?”

Matanya memerah karena marah.

“Dia bertemu Su Nan Ye!”

Tatapan Su Yun berubah.

“Su Nan Ye?”

Xin Yue mengangguk.

“Pertandingan ketiganya.”

Ia mengepalkan tangan.

“Xing Yang sudah jelas kalah.”

“Tapi orang itu tidak berhenti.”

“Dia terus menyerang.”

“Bahkan setelah Kakak tidak lagi bisa melawan!”

Su Yun melihat luka-luka Xing Yang sekali lagi.

Sekarang ia mengerti.

Su Nan Ye masih menyimpan dendam karena perkataan sebelumnya.

Dan melampiaskannya di arena.

Xing Yang menundukkan kepala.

“Aku ceroboh.”

Tangannya mengepal.

“Aku sudah berlatih begitu lama…”

“Namun bahkan tidak bisa melawannya.”

Ia menggertakkan gigi.

“Aku benar-benar tidak berguna.”

“Jangan bicara bodoh.”

Su Yun duduk di depannya.

“Su Nan Ye berada di tahap kesepuluh Alam Murid Roh.”

“Dan dia memiliki sumber daya jauh lebih baik darimu.”

Xing Yang diam.

“Kalau kau kalah sekarang, bukan berarti akan kalah selamanya.”

Su Yun melanjutkan.

“Yang penting kau masih hidup.”

“Berlatih lagi.”

“Lain kali kalahkan dia.”

Xin Yue mengangguk.

“Kakak Su benar.”

Xing Yang menarik napas panjang.

Akhirnya ia mengangguk.

“Aku mengerti.”

Namun Su Yun tidak mengatakan sesuatu yang ada dalam pikirannya.

Kalau kesempatan datang...

ia sendiri akan menagih luka Xing Yang kepada Su Nan Ye.

Tiga hari berikutnya berjalan cepat.

Satu demi satu peserta tersingkir.

Mayoritas murid wilayah luar yang lemah sudah gugur.

Yang tersisa adalah para elit.

Dan murid wilayah dalam.

Bertentangan dengan perkiraan banyak orang, Su Yun melewati semua pertandingan seleksi tanpa kesulitan besar.

Xin Yue juga beruntung.

Ia tidak bertemu lawan yang terlalu kuat dan berhasil masuk babak berikutnya.

Xing Yang kembali ke rumah untuk memulihkan luka.

Setelah sehari beristirahat, pertandingan putaran berikutnya dimulai.

Jumlah peserta jauh lebih sedikit.

Artinya kemungkinan bertemu murid wilayah dalam jauh lebih besar.

Beberapa peserta wilayah luar bahkan langsung menyerah ketika melihat lawannya berasal dari wilayah dalam.

Su Yun dan Xin Yue berdiri di depan papan pertandingan.

Mereka menunggu.

Buzz!

Tiba-tiba lempengan nomor Su Yun menyala.

Xin Yue langsung tersenyum.

“Kakak Su Yun, giliranmu lagi.”

“Aku akan menonton dari luar.”

Su Yun mengangguk.

“Baik.”

Keduanya berpisah.

Xin Yue menuju area penonton.

Su Yun berjalan ke arena pertama.

Ia naik ke atas panggung.

Lawan belum datang.

Su Yun berdiri tenang.

Namun jumlah penonton kali ini jauh lebih banyak.

Hampir seratus orang berkumpul.

Kemenangan-kemenangan sebelumnya membuat namanya mulai menarik perhatian.

“Su Yun lagi.”

“Aku ingin lihat sampai kapan dia bisa menang.”

“Katanya dia sudah menang beberapa pertandingan tanpa kesulitan.”

“Jangan-jangan bakatnya benar-benar kembali?”

Orang-orang terus berdatangan.

Su Yun tidak memedulikan mereka.

Ia hanya menunggu lawannya.

Kemudian—

keributan muncul dari sisi arena.

Kerumunan mulai terbuka.

Seorang pemuda berjalan menuju panggung.

Xin Yue yang berdiri di antara penonton langsung membeku.

Wajahnya kehilangan warna.

“Tidak…”

Su Yun mengangkat kepala.

Pemuda itu mendekat dengan langkah tenang.

Tatapannya penuh kesombongan.

Su Nan Ye.

Xin Yue menelan ludah.

“Jangan-jangan…”

Tangannya mengepal.

“Lawan Kakak Su Yun benar-benar dia?”

Su Yun sendiri hanya memandang Su Nan Ye.

Tidak terkejut.

Tidak gugup.

Justru sebuah senyum tipis perlahan muncul.

Pertandingan yang ia tunggu...

akhirnya datang.

......................

Bersambung...

1
kute
Lumayan
kute
Luar biasa
Nanik S
Awal yang menaruk
Agus Setiawan
semoga su yun cepat matiiiii😁😁😁
Agus Setiawan
su yun pendekar goblok...kebanyakan coklii😃😃😃
Agus Setiawan
dewa pedang tanpa batas apaan...🤪🤪🤪
Agus Setiawan
udah su yun bunuh aja...pendekar tolol😄😄😄
Okta Oktafianto
keren
Otna Forever: mksh bosku 🙏
total 1 replies
Okta Oktafianto
alurnya kerennnn
Otna Forever: mksh bosku 🙏 jangan lupa baca karyaku yang lain PENGUASA DEWA NAGA
total 1 replies
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
🤣🤣malah di peras Nasib sial murid dalam👍🤣🤣
Eko🍤
mantap Thor lanjut 👍👍
Widianto Dalang
alur terlalu lambat. ud bab 100 lebih, masih seputar keluarga saja. blm ada peningkatan sama sekali
Eko🍤
apakah akan terjadi bentrok🤣🤣👍
will
wah stres gk tuh su yun? 😁👍
Nusra Perdana
tahap ke 6, tahap ke 7..?? namanya apa cok😡😡
Nusra Perdana
tahap ke enam apa..?? emang gak ada namanya Thor
Nusra Perdana
nyebutin kekuatan mereka kok hanya tingkat 5, tingkat 6,8 10..apa gak ada nama ranahnya..?
Nusra Perdana
awal yg bagus..coba kita baca terus😄
Eko🍤
bagus lariiii terus🤣🤣👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!