Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​ nyaring, disambut sorak-sorai ceria anak-anak kelas satu yang berhamburan keluar dari selasar kelas. Di antara kerumunan bocah berseragam putih-merah itu, Tania melangkah riang. Jemari mungilnya memegang erat tali tas punggung bergambar kelinci, sementara matanya yang bulat berbinar menyapu sekeliling area gerbang sekolah.

​Ada senyum lebar yang terukir di bibirnya. Tania membayangkan Bunda sudah berdiri di dekat mobil, melambaikan tangan seperti janji mereka tadi pagi.

​Namun, langkah kecil Tania mendadak terhenti begitu matanya menangkap sosok wanita paruh baya berbusana sederhana yang berdiri di samping mobil, bukan sosok lembut berseragam apron yang amat dia nantikan.

​"Bi Sastro?" panggil Tania heran, melangkah mendekati asisten rumah tangganya.

​Wajah Bi Sastro tampak tegang dan cemas, meski wanita tua itu mencoba sekuat tenaga memasang senyum hangat begitu melihat Tania. "Eh, Non Tania sudah pulang. Bagaimana sekolahnya hari ini, Sayang?"

​Tania mendongak, matanya terus berkeliaran mengitari area parkir sekolah. "Seru banget, Bi! Tania dapat teman baru! Tapi... Bunda mana, Bi? Kok cuma Bi Sastro yang jemput?"

​Pertanyaan polos dari anak berusia enam tahun itu seketika membuat Bi Sastro menelan ludah dengan berat. Ada kepedihan tersirat di mata Bi Sastro.

Beberapa saat sebelum berangkat menggegas mobil jemputan, telepon rumah berdering gencar dari Maya kepala koki toko kue yang mengabarkan dengan suara panik bahwa Alana baru saja pingsan tak sadarkan diri di dapur toko dan harus segera dilarikan ke IGD rumah sakit.

​Sebelum hilang kesadaran, Alana sempat mewanti-wanti Maya agar menyuruh Bi Sastro segera menjemput Tania ke sekolah tanpa memberi tahu kondisi sebenarnya pada anak itu.

​"Anu... Non Tania... Bu Alana lagi sibuk sekali di toko kue," jawab Bi Sastro lembut, mengelus rambut Tania dengan telaten. "Toko lagi ramai pesanan, jadi Bunda minta Bi Sastro yang jemput Non Tania."

​Bibir mungil Tania sedikit menekuk, memancarkan raut kekecewaan yang tak mampu dia sembunyikan. "Yah... padahal Tania mau pamer nilai mewarnai ke Bunda. Kalau gitu, kita ke toko kue Bunda aja yuk, Bi! Tania mau nungguin Bunda di sana aja sambil makan kue!"

​Bi Sastro meringis pelan, dadanya terasa sesak membayangkan majikan cantiknya yang saat ini sedang terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit.

​"Jangan dulu ya, Sayang," potong Bi Sastro sehalus mungkin, menggandeng tangan kecil Tania menuju pintu mobil. "Bunda pesan sama Bi Sastro, katanya Bunda lagi tidak bisa diganggu sama sekali hari ini karena pekerjaan toko benar-benar menumpuk. Kasihan Bunda kalau kelelahan. Nanti Non Tania di rumah saja ya, mandi, makan siang, terus istirahat. Nanti kalau Bunda sudah pulang, baru Non Tania cerita semuanya."

​Tania menghela napas kecil, menunduk menatap ujung sepatunya. Meski kecewa, anak yang penurut itu akhirnya mengangguk pelan. "Ya udah deh, Bi... Tania pulang ke rumah saja."

​Bi Sastro membukakan pintu mobil, membimbing Tania masuk dengan perasaan berkecamuk. Di dalam hatinya, wanita tua itu terus berdoa keselamatan untuk Alana, nyonya rumah yang selama ini selalu menelan penderitaannya dalam diam.

​Sementara itu, di sebuah ruang perawatan bernuansa putih yang dingin dan beraroma antiseptik yang menyengat, Alana perlahan menggerakkan jemarinya.

​Mata Alana mengerjap lemah, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang agak menyilaukan overhead. Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya, disertai perih melilit yang masih menyisa di ulu hatinya.

Tatapannya yang layu menangkap selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan penawar sakit ke dalam pembuluh darahnya.

​"Bu Alana? Ya ampun, Bu... Ibu sudah sadar?"

​Sebuah suara penuh kecemasan terdengar dari samping ranjang. Maya, yang matanya tampak sembap dan memerah, langsung berdiri dari kursi tunggu.

​Alana menoleh perlahan, napasnya masih terasa berat dan dangkal. Memori terakhir yang dia ingat adalah rasa sakit terbakar yang luar biasa di perutnya saat sedang memegang cangkir teh di pantri toko, sebelum pandangannya berubah gelap gulita dan tubuhnya ambruk ke lantai marmer.

​"Maya..." suara Alana meluncur sangat parau, hampir seperti bisikan.

​"Iya, Bu, ini Maya. Ibu tadi pingsan di dapur toko. Napas Ibu sampai sesak dan wajah Ibu pucat banget kayak kertas. Maya panik banget, jadi Maya langsung panggil taksi dan bawa Ibu ke rumah sakit terdekat," jelas Maya dengan suara bergetar. "Dokter bilang asam lambung Bu Alana sudah parah banget, iritasi hebat karena stres dan perut kosong seharian. Ibu harus dirawat inap minimal dua hari untuk pemulihan."

​Alana memejamkan mata sejenak. Rasa lelah yang teramat sangat menggelayuti seluruh tubuhnya. Namun, di tengah kondisinya yang begitu ringkih, pikiran pertama yang terlintas di kepalanya bukanlah tentang kesehatannya sendiri, melainkan keluarga di rumahnya.

​"Maya..." Alana mencoba menegakkan posisinya, meski Maya dengan cepat menahannya agar tetap berbaring. "Tania... Tania bagaimana? Bi Sastro sudah jemput Tania dari sekolah, kan?"

​"Sudah, Bu! Tadi sebelum Maya bawa Bu Alana ke sini, Maya sudah telepon rumah dan minta Bi Sastro langsung jalan jemput Non Tania. Ibu tenang saja, Non Tania aman sama Bi Sastro," jawab Maya menenangkan.

​Alana mengembuskan napas lega yang amat panjang, rasa cemasnya sedikit mengendur. Namun, sedetik kemudian, sorot mata Alana berubah serius dan penuh penekanan. Dia memegang tangan Maya yang berada di tepi ranjang, mencengkeramnya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.

​"Maya... dengarkan saya," ucap Alana lirih namun sangat tegas. "Tolong... jangan pernah beri tahu Pak Gema atau Tania kalau saya dirawat di rumah sakit."

​Maya terbelalak kaget mendengarnya. "Tapi, Bu Alana! Pak Gema itu suami Ibu! Dia harus tahu kalau istrinya masuk rumah sakit dan terbaring lemah begini! Apalagi Pak Gema mau berangkat ke luar kota"

​"Jangan, Maya!" potong Alana cepat, suaranya sedikit meninggi meski terbatuk pelan setelahnya. "Saya mohon... jangan beri tahu Mas Gema."

​"Tapi kenapa, Bu?" Maya menatap majikannya dengan raut wajah tak habis pikir. "Pak Gema berhak tahu, Bu!"

​Alana mengulas senyum paling pahit yang pernah Maya lihat sepanjang hidupnya. Setitik air mata mengalir menetes dari sudut mata Alana yang sayu, membasahi bantal putih rumah sakit.

​"Mas Gema sedang ada perjalanan bisnis penting ke luar kota siang ini," bisik Alana dengan suara bergetar menahan duka. "Kalau dia tahu saya sakit, dia hanya akan menganggap saya merepotkan dan sengaja mencari perhatian. Saya tidak mau mengganggu pekerjaannya... dan saya tidak mau Tania cemas atau menangis melihat Bundanya terbaring di sini."

​Maya mematung. Dadanya terasa bagai dihantam batu besar mendengarkan alasan yang meluncur dari bibir majikannya. Betapa hancurnya pernikahan wanita anggun ini di balik kemewahan hidup yang terlihat dari luar. Maya bisa merasakan keputusasaan dan rasa sepi yang begitu mendalam dari ucapan Alana.

​"Sampaikan juga pada Bi Sastro," lanjut Alana pelan, jemarinya meremas selimut rumah sakit. "Bilang pada Bi Sastro untuk beralasan pada Tania kalau saya harus menginap di toko atau ada urusan bisnis di luar kota selama dua hari ini. Jangan sampai Tania tahu Bundanya sakit."

​Maya menunduk, tak kuasa menahan air mata yang akhirnya menetes juga melihat ketegaran Alana yang begitu menyiksa diri sendiri. Maya mengusap air matanya pelan, lalu mengangguk pasrah.

​"Baik, Bu Alana... Maya janji. Maya tidak akan beri tahu Pak Gema ataupun Non Tania," tutur Maya dengan suara serak. "Bi Sastro juga nanti akan Maya ingatkan baik-baik."

​"Terima kasih banyak, Maya..." Alana memejamkan matanya kembali, meresapi dinginnya ruangan yang seolah mencerminkan garis hidupnya.

​Di kota Surabaya sana, Gema mungkin baru saja mendarat dan menyalakan ponselnya untuk urusan bisnis, tanpa pernah tahu bahwa wanita yang memegang status sebagai istrinya sedang terbaring lemah berkawan selang infus. Dan di rumah mewah mereka, Tania mungkin sedang menunggu kepulangannya dengan polos.

​Alana menelan kepahitannya sendirian di dalam keheningan kamar perawatan, memilih untuk menjadi hantu yang tak terlihat daripada menjadi beban bagi pria yang tak pernah menginginkannya.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!