Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Suara sirine ambulans menderu di lorong rumah sakit, namun bagi Kim Seokjin, dunia terasa hening dan jauh. Kesadaran itu datang perlahan, seperti seseorang yang muncul dari dasar laut yang gelap.
Hal pertama yang ia rasakan adalah bau antiseptik yang tajam. Kedua, rasa dingin di lengannya-tempat infus terpasang. Ketiga, dan yang paling menyakitkan, adalah tatapan penuh kecemasan Taehyung yang menatapnya lekat-lekat dari kursi di samping tempat tidur. Di belakang Taehyung, berdiri Jungkook, Jimin, dan Jihoon. Wajah mereka semua pucat dan tegang.
Jin mencoba tersenyum, meski otot-otot wajahnya terasa kaku. "Hei... kenapa wajah kalian sedih sekali? Hyung hanya pingsan sebentar."
Taehyung tidak menjawab. Matanya merah karena menangis. Ia menggenggam tangan Jin erat-erat, seolah takut Jin akan menghilang jika dilepaskan. "Hyung berbohong," bisiknya, suaranya serak. "Dokter Wang mengatakan ini hanya anemia. Tapi aku melihat darah itu, Hyung. Darah yang begitu banyak. Itu bukan sekadar anemia."
Di sudut ruangan, Chanyeol berdiri dengan tangan disilangkan, wajahnya suram. Namjoon dan Yoongi juga ada di sana, saling bertukar pandang dengan kekhawatiran. Mereka semua tahu Jin jarang sakit. Jin adalah mesin yang tak pernah rusak. Atau setidaknya, itulah yang mereka percayai selama ini.
Jin menarik napas dalam-dalam, merencanakan skenario berikutnya. Ia tidak bisa membiarkan mereka mengetahui kebenaran tentang sumsum tulangnya. Jika mereka tahu, Taehyung akan berhenti kuliah untuk menjaganya. Perusahaan akan goyah karena rumor CEO sakit kritis. Dan Xiumin akan menyerang lebih keras saat mereka lengah.
"Aku tidak berbohong, Tae," kata Jin dengan nada meyakinkan, meskipun dadanya sesak menahan rasa sakit. "Dokter Wang benar. Ini adalah efek samping dari obat kuat yang aku minum minggu lalu untuk menahan demam agar bisa melakukan siaran langsung. Obat itu keras pada lambung dan pembuluh kapiler hidungnya. Jadi, ketika stresku memuncak tadi, pembuluh darahnya pecah. Itu sebabnya darahnya banyak."
Itu adalah kebohongan yang masuk akal secara medis bagi orang awam. Efek samping obat.
Chanyeol melangkah maju, matanya menyipit. "Obat apa? Dokter Wang tidak menyebutkan obat apa pun dalam laporannya tadi."
Jin tertawa kecil, tawa yang dipaksakan agar terdengar ringan. "Karena itu adalah obat herbal impor dari Tiongkok yang diberikan pribadi oleh Dokter Wang untuk 'stamina darurat'. Dia lupa mencantumkannya di laporan resmi karena dianggap suplemen, bukan obat kimia. Kau tahu bagaimana Dokter Wang, dia agak pelupa soal administrasi tapi jenius dalam pengobatan."
Jin menatap Chanyeol langsung, menggunakan teknik manipulasi psikologis halus yang sering ia gunakan dalam negosiasi bisnis. Tatapan tenang, jujur, dan sedikit kesal karena tidak dipercaya.
Chanyeol diam sejenak. Ia masih curiga, instingnya berkata ada yang salah. Namun, penjelasan Jin terdengar logis, dan otoritas Dokter Wang Do-yang telah melayani keluarga mereka selama puluhan tahun-adalah jaminan kepercayaan tertinggi bagi mereka semua. Jika Dokter Wang bilang itu aman, maka Chanyeol cenderung percaya.
"Kalau begitu," kata Chanyeol akhirnya, meski nadanya masih waspada, "kau harus istirahat total. Tidak ada lagi 'obat stamina'. Tidak ada lagi kerja lembur."
"Janji," kata Jin, mengangkat tangan kanannya yang bebas dari infus untuk bersumpah. "Aku akan menjadi pasien model. Aku akan tidur, makan, dan tidak memikirkan Kim Corp selama dua minggu. Oke?"
Taehyung masih terlihat ragu, tetapi melihat ketegasan Jin, ia akhirnya mengangguk pelan. "Jika Hyung berbohong lagi... aku akan marah besar. Aku akan tinggal di sini dan tidak mau pergi ke kampus."
Ancaman itu membuat Jin tersenyum genuin untuk pertama kalinya hari ini. "Jangan lakukan itu. Kau harus tetap kuliah. Jungkook, Jimin, dan terutama Jihoon-ah menungguimu. Hyung janji, kali ini Hyung benar-benar istirahat."
Jin mengalihkan pandangannya pada Jihoon, si bungsu di antara kelompok teman Taehyung itu. "Jihoon-ah, jaga kakak-kakakmu baik-baik ya. Jangan biarkan mereka membuat keributan di kampus karena khawatir padaku."
Jihoon, yang sejak tadi diam dengan wajah serius, mengangguk tegas. Matanya yang tajam menatap Jin, seolah mencoba menembus topeng itu. "Baik, Jin-hyung. Tapi kalau Hyung sakit lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkan Hyung ke Dewan Direksi sebagai CEO yang lalai terhadap kesehatan diri sendiri."
Candaan tipis dari si bungsu itu berhasil mencairkan suasana sedikit. Jin tertawa lembut. "Dasar anak kecil, sudah jadi pengacara malah mengancam Hyung-nya sendiri."
Perawat masuk untuk mengecek tanda vital Jin. "Tekanan darah stabil. Denyut jantung normal. Tuan Kim, Anda beruntung. Pendarahan sudah berhenti total."
Semua orang di ruangan menghela napas lega. Krisis (sepertinya) telah berlalu.
Namun, saat malam tiba dan semua orang kecuali satu penjaga suster telah pulang, Jin kembali sendirian dengan rasa sakitnya. Begitu pintu tertutup, senyumnya hilang. Wajahnya mengerut kesakitan. Ia meraih tisu dan membersihkan sisa darah kering di sudut hidungnya yang mulai merembes lagi sedikit.
Ia membuka laci meja samping tempat tidur, mengambil botol kecil berisi pil pereda nyeri kuat yang disembunyikannya di balik buku bacaan. Ia menelan dua pil tanpa air, membiarkan rasa pahit itu membakar tenggorokannya.
"Maafkan aku, Tae. Maafkan aku, Jihoon-ah, Jungkook-ah, Jimin-ah," gumam Jin dalam hati, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. "Hyung harus kuat. Hyung harus pura-pura sehat sampai kau benar-benar aman. Sampai Xiumin hancur. Setelah itu... terserah apa yang terjadi pada tubuh ini."
Di luar jendela, hujan mulai turun lagi. Di mansion Kim, Taehyung terbaring di kamarnya, memeluk bantal, merasa ada kekosongan aneh di hatinya. Penjelasan Jin masuk akal, tapi insting adik bungsunya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat besar yang disembunyikan kakaknya.
Sementara itu, di apartemennya yang sepi, Jihoon menerima telepon dari Jungkook.
"Jihoon, V Hyung sepertinya tenang sekarang. Jin-hyung sudah sadar. Tapi... entah kenapa, aku merasa ada yang tidak beres. Chanyeol-hyung terlihat sangat serius tadi."
Jihoon menghela napas, menatap hujan di luar jendelanya. Sebagai yang termuda, ia sering dianggap perlu dilindungi, tapi ia tahu posisinya sekarang berbeda. Ia adalah pengamat dari dua sisi keluarga yang bertikai.
"Jaga V Hyung baik-baik, Kookie Hyung. Dan awasi Jin-hyung. Jangan biarkan dia bekerja. Ada badai yang lebih besar dari yang kita kira sedang datang."
Jihoon menutup telepon, merasakan firasat buruk yang semakin kuat. Ia tahu Xiumin tidak akan diam setelah ancamannya gagal. Dan ia tahu Jin adalah tipe orang yang akan membakar dirinya sendiri demi melindungi orang lain. Pertanyaannya hanyalah: berapa lama lagi Jin bisa bertahan sebelum apinya sendiri memakannya habis?
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Dua hari telah berlalu sejak Jin dirawat di rumah sakit. Suasananya kini jauh lebih tenang, meskipun ketegangan bawah tanah masih terasa kental. Jin sudah diizinkan pulang ke mansion, dengan syarat mutlak: istirahat total dan dilarang menyentuh pekerjaan apa pun selama dua minggu.
Di ruang tamu utama mansion, suasana pagi itu riuh rendah. Taehyung, Jungkook, dan Jimin sedang duduk bersantai sambil menikmati sarapan. Di tengah mereka, Jihoon-si bungsu yang paling muda di antara ketiganya-sedang membereskan piring-piring kotor dengan sigap.
"Jihoon-ah, biar pembantu saja yang membereskan," kata Jimin lembut, mencoba mengambil piring dari tangan sahabat yang di anggap adiknya itu.
Jihoon menggeleng, wajahnya serius. "Tidak apa-apa, Jimin-hyung. Lagipula, aku butuh aktivitas untuk mengalihkan pikiran. Selain itu, sebagai maknae (yang termuda), sudah kewajibanku membantu hyung-hyung."
Jungkook tertawa, mulutnya masih penuh roti. "Dasar Jihoon, terlalu rajin. Kau membuat kami terlihat malas."
"Bukan malas, tapi menghormati kakak-kakak," balas Jihoon cepat, meski ada nada sedih terselip di suaranya. Ia masih merasa bersalah karena meninggalkan Xiumin dan Chen, namun ia tahu pilihannya benar. Sekarang, fokusnya adalah menjaga Taehyung dan memantau keadaan Jin dari kejauhan.
Tiba-tiba, tangga utama berderit pelan. Semua kepala menoleh.
Kim Seokjin turun dengan langkah perlahan. Ia mengenakan robe sutra berwarna krem, rambutnya sedikit berantakan, namun wajahnya sudah kembali cerah. Senyum tipis terukir di bibirnya, topeng kesempurnaan yang kembali ia pasang erat-erat.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Jin ceria, suaranya terdengar sehat dan bertenaga.
"Hyung!" seru Taehyung, segera bangkit dan menghampiri Jin. Ia memeriksa wajah kakaknya dengan teliti. "Bagaimana perasaan Hyung? Apakah pusingnya masih ada?"
Jin tertawa ringan, mengelus kepala Taehyung. "Sudah hilang sama sekali, Tae-tae. Dokter Wang bilang tubuhku hanya butuh waktu untuk membuang sisa obat itu. Sekarang aku merasa segar bugar, siap makan nasi goreng tiga porsi!"
Candaan itu berhasil membuat Taehyung tersenyum lega, meski matanya masih menyisakan keraguan. Jungkook dan Jimin juga tampak rileks mendengar kabar itu.
Namun, Jihoon tidak tersenyum. Dari posisinya di dekat meja makan, ia mengamati Jin dengan cermat. Sebagai calon pengacara yang terlatih dalam membaca bahasa tubuh dan mikro-ekspresi, Jihoon melihat sesuatu yang lain.
Ia melihat bagaimana tangan kiri Jin sedikit gemetar saat memegang gelas air. Ia melihat bagaimana Jin secara halus menghindari cahaya matahari langsung yang masuk melalui jendela besar, seolah silau. Dan yang paling mencurigakan, Jihoon melihat noda merah samar di kerah dalam robe Jin-bekas darah mimisan yang mungkin luput dari pembersihan sempurna.
"Hyung..." gumam Jihoon dalam hati. "Kau berbohong lagi."
Jin menyadari tatapan tajam Jihoon. Ia menatap si bungsu itu, dan untuk sesaat, ada kilatan peringatan di mata Jin. Sebuah pesan diam-diam: Jangan bicara. Jangan tanya.
Jihoon menunduk, pura-pura sibuk dengan piring di tangannya. Ia mengerti. Jin meminta rahasianya dijaga, setidaknya untuk saat ini. Membongkar kebohongan itu sekarang hanya akan membuat Taehyung panik dan merusak momen kedamaian semu yang sedang mereka nikmati.
"Jihoon-ah," panggil Jin tiba-tiba, memecah keheningan kecil itu. "Kau sudah pindah ke apartemenmu? Bagaimana kondisinya?"
Jihoon mengangkat kepala, memasang wajah netral. "Sudah stabil, Jin-hyung. Tempatnya kecil, tapi nyaman. Terima kasih sudah tidak melarangku."
"Aku tidak pernah melarangmu memilih jalanmu," kata Jin lembut, meski matanya menyiratkan kesedihan mendalam karena mengetahui Jihoon harus hidup terpisah dari saudara kandungnya sendiri akibat konflik keluarga. "Hanya saja... hati-hati di luar sana. Dunia tidak seindah yang kau bayangkan."
"Aku tahu, Hyung. Aku punya senjata terbaikku," jawab Jihoon, menepuk-nepuk buku hukum tebal yang selalu ia bawa. "Logika dan keadilan."
Jin tersenyum, kali ini senyuman itu terlihat lebih tulus. "Bagus. Pertahankan itu. Jangan biarkan orang seperti... keluarga tertentu... merusaknya."
Sebutan "keluarga tertentu" itu jelas merujuk pada Xiumin dan Chen. Jihoon mengangguk paham.
Sarapan berlanjut dengan obrolan ringan. Jin bercerita tentang film yang ingin ia tonton, Jungkook mengeluh tentang tugas olahraga, dan Jimin membahas jadwal dansanya. Taehyung tampak bahagia melihat kakaknya kembali seperti sedia kala.
Namun, di balik pintu kaca ruang makan, Chanyeol berdiri mengamati dari kejauhan bersama Yoongi.
"Dia terlalu sempurna," bisik Chanyeol, matanya tidak lepas dari Jin. "Tidak ada orang yang pulih dari pendarahan hebat dan pingsan dalam dua hari dengan energi sebanyak itu. Ada yang salah."
Yoongi mengangguk, melipat tangan di dada. "Aku setuju. Tapi jika kita mendesaknya sekarang, dia akan menutup diri lebih rapat. Kita perlu bukti konkret. Bukan sekadar firasat."
"Bagaimana caranya?" tanya Chanyeol.
Yoongi tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang jarang ia perlihatkan. "Kita tunggu. Saat topengnya retak lagi, kita akan ada di sana untuk menangkap pecahannya. Dan kali ini, kita tidak akan membiarkannya menyembunyikan lukanya sendirian."
Sementara itu, di kamarnya yang tertutup rapat, Jin duduk di tepi tempat tidur setelah semua orang pergi beraktivitas. Senyumnya lenyap seketika. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia mengeluarkan tisu dan membersihkan hidung yang kembali berdarah sedikit.
Ia membuka laci rahasia di meja riasnya, mengambil botol obat kecil berwarna biru. Itu bukan obat anemia. Itu adalah obat imunosupresan kuat yang diresepkan secara khusus oleh Dokter Wang Do untuk menekan reaksi autoimun tubuhnya yang semakin parah.
Jin menelan pil itu dengan tangan gemetar. Napasnya berat.
"Tahan, Seokjin," katanya pada diri sendiri. "Tahan sampai Taehyung lulus. Tahan sampai Jihoon aman. Tahan sampai kau bisa memastikan mereka semua bahagia tanpa kehadiranmu jika suatu hari nanti kau harus pergi."
Air mata menetes dari matanya, jatuh ke atas karpet mahal. Rasa sakit fisik itu mengerikan, tapi rasa sakit karena harus berbohong pada orang-orang yang ia cintai jauh lebih menyiksa.
Di luar, matahari bersinar terang, menipu semua orang dengan kehangatannya. Padahal, di dalam hati Kim Seokjin, musim dingin yang membekukan telah dimulai.