Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tiyas mencubit lengan Narendra dengan cukup keras, membuat pria itu merintih kesakitan sambil tertawa makin kencang.
"Aduh! Ampun, Tiyas! Sakit, aduh!" seru Naren sambil mengelus lengannya yang memerah, tapi matanya tetap berbinar-binar penuh keriangan.
"Menjengkelkan kamu, Naren!" omel Tiyas lagi, dadanya masih naik turun mengendalikan degupan jantungnya yang hampir copot.
"Bisa-bisanya kamu bercanda soal nyawa di saat aku lagi panik setengah mati! Kalau aku beneran pingsan gimana?!"
"Ya, nanti aku napas buatan, dong," goda Naren cepat seraya menyunggingkan senyum jahil yang bikin gemas.
"Naren!" pekik Tiyas dengan wajah yang mendadak kembali merona merah padam.
Ia mengalihkan pandangannya, mencoba bersikap galak meski gagal total karena sudut bibirnya terus-menerus tertarik ke atas.
Melihat Tiyas yang salah tingkah, raut wajah Naren perlahan berubah menjadi lebih lembut.
Pria itu meraih kotak beludru merah dari pangkuan Tiyas, mengambil cincin berlian yang berkilau indah dari dalamnya, lalu menggenggam jemari tangan kiri Tiyas dengan sangat hati-hati.
"Bercandanya udah, sekarang beneran," bisik Naren dengan suara rendah dan sarat akan ketulusan.
Sorot matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Tiyas.
"Tiyas, terima kasih sudah mau percaya lagi sama cinta. Terima kasih sudah milih aku buat jadi masa depan kamu."
Dengan gerakan perlahan dan penuh penghormatan, Naren menyematkan cincin itu ke jari manis Tiyas.
Ukurannya pas sempurna, seolah memang ditakdirkan untuk melingkar di sana.
Tiyas menatap jemarinya yang kini dihiasi cincin pemberian Naren.
Air mata yang kali ini benar-benar terharu kembali menetes pelan di pipinya.
"Aku yang harusnya terima kasih, Naren," balas Tiyas lurus menatap Naren.
"Kamu yang sudah menyelamatkan aku dari kegelapan itu."
Naren tersenyum manis, mengusap lembut air mata di pipi Tiyas dengan ibu jarinya, lalu mencium punggung tangan wanita itu lama.
"Nah, sekarang juragan restoran udah nungguin kita," ujar Naren kembali ceria, menyalakan mesin mobilnya.
"Ayo, kita kasih Imelda kejutan yang sebenarnya!"
Sesampainya di rumah makan milik Imelda, suasana sore itu tampak cukup ramai. Narendra memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan, lalu membukakan pintu untuk Tiyas.
Dengan genggaman tangan yang saling bertaut rapat, mereka berdua melangkah masuk menuju area kantor pengelola di bagian belakang.
Imelda, yang sedang sibuk mengecek tumpukan nota di meja kerjanya, mendongak begitu mendengar pintu ruangan terbuka.
"Eh! Kalian berdua udah sampai?" seru Imelda heboh, langsung beranjak dari kursinya.
"Bagaimana urusan di Pengadilan Agama? Beres, kan? Si mantan brengsek itu nggak bikin ulah lagi, kan?"
Tiyas tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum misterius, lalu perlahan menyibakkan rambutnya ke belakang telinga menggunakan tangan kirinya—secara sengaja memamerkan cincin berlian yang melingkar indah dan berkilau di jari manisnya.
Mata Imelda yang jeli langsung tertuju pada kilatan cahaya di jari sahabatnya.
Detik itu juga, matanya membelalak sempurna, dan mulutnya menganga lebar.
"SEBENTAR, INI NGGAK SALAH LIHAT KAN?!" pekik Imelda histeris, suaranya melengking tinggi hingga mengejutkan beberapa staf yang melintas di luar ruangan.
Imelda langsung berlari menghampiri Tiyas, menyambar tangan kiri sahabatnya itu dan memeganginya erat-erat di bawah sorotan lampu.
Ia menatap cincin itu dan wajah Tiyas bergantian dengan raut tak percaya.
"TIYAS! JANGAN BILANG KALAU," Imelda menggantung kalimatnya, menatap Naren yang berdiri bangga di samping Tiyas dengan senyum lebar.
"Iya, Mel. Aku udah nerima lamaran Naren," jawab Tiyas malu-malu, dengan rona merah yang kembali menghiasi pipinya.
"AAAAAHHHH! DEMI APA?! AKHIRNYA!"
Imelda menjerit kegirangan lalu melompat kecil sebelum menghambur memeluk Tiyas dengan sangat erat hingga Tiyas hampir terhuyung ke belakang.
Ia menggoyangkan tubuh sahabatnya itu penuh suka cita, tak sanggup membendung rasa bahagianya.
"Aku seneng banget, Tiyas! Ya ampun, mau nangis rasanya!" seru Imelda seraya melepaskan pelukannya, mengusap sudut matanya yang mendadak basah oleh air mata haru.
Ia lalu menatap Narendra dengan acungan dua jempol tebal.
"Naren, kamu memang juara! Cowok sejati! Nggak sia-sia perjuangan kamu selama ini!"
Narendra tertawa renyah. "Terima kasih, Imelda. Ini juga berkat dorongan dan bantuan kamu dari awal."
"Pokoknya hari ini makan sepuasnya di restoran aku, gratis! Kita rayakan kemenangan besar ini!" seru Imelda heboh seraya merangkul bahu Tiyas.
"Selamat tinggal masa lalu kelam, dan selamat datang kehidupan baru yang penuh kebahagiaan!"
Tiyas menatap Imelda dan Narendra bergantian dengan senyuman paling hangat yang mekar di wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasa utuh, dicintai, dan dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya.
Di tengah kehebohan suasana di dalam ruangan, Imelda kembali terbuka.
Robby, kekasih Imelda, melangkah masuk sambil membawa dua kotak besar pizza hangat yang aromanya langsung memenuhi seluruh ruangan.
"Ada heboh-heboh apa nih di luar sampai kedengaran?" tanya Robby ceria.
Namun, kalimatnya terhenti saat matanya menangkap kehadiran Narendra dan Tiyas yang berdiri berdampingan dengan senyum sumringah.
"Robby! Lihat nih!" seru Imelda heboh sambil menarik tangan Tiyas dan memamerkan jari manis sahabatnya ke depan wajah sang kekasih.
"Tiyas sama Naren mau nikah!"
Robby membelalak kaget sebelum raut wajahnya berubah menjadi senyuman penuh rasa bangga.
Kekasih Imelda itu juga sangat bahagia melihat Naren yang akhirnya berhasil memenangkan hati Tiyas setelah melalui begitu banyak perjuangan dan masa-masa sulit.
Sebagai sesama pria, Robby tahu betul betapa tulusnya pengorbanan dan kesabaran Naren selama ini.
"Seriusan?! Wah, selamat ya, Bro!" seru Robby bersemangat.
Ia langsung menaruh kotak pizza di atas meja dan menghampiri Narendra, memberikan pelukan hangat khas laki-laki sambil menepuk-nepuk punggung Naren dengan mantap.
"Mantap banget kamu, Naren. Aku benar-benar bangga sama kamu. Akhirnya perjuangan kamu berbuah manis juga!"
Narendra tertawa renyah membalas tepukan di punggungnya.
"Terima kasih banyak, Rob. Ini juga berkat doa dan dukungan kalian berdua."
"Nah, pas banget kan! Aku tadi sengaja beliin pizza favorit kita buat ngerayain kemenangan Tiyas di pengadilan, eh ternyata dapet bonus berita bahagia kayak gini!" ujar Robby seraya membuka dua kotak pizza tebal beraroma gurih daging dan keju yang meleleh manis di atas meja.
"Ayo, ayo, semuanya duduk! Kita makan pizza ini sampai habis!" ajak Imelda bersemangat, menarik kursi untuk Tiyas.
Mereka berempat pun berkumpul di sekitar meja kerja Imelda, menikmati potongan pizza hangat diiringi gelak tawa dan obrolan tentang rencana masa depan.
Kehangatan persahabatan itu menyempurnakan hari bahagia Tiyas dan Narendra, menandai awal dari kisah baru mereka yang dipenuhi cinta dan kebahagiaan sejati.
Tiyas bangkit dari duduknya, merapikan gaun krem lembutnya yang sedikit kusut setelah duduk berbincang hangat bersama mereka.
"Aku ke kamar mandi dulu," ucap Tiyas meminta izin dengan senyum manis yang masih terukir di wajahnya.
"Sip, Tiyas! Kamar mandi sebelah kanan di ujung lorong ya!" sahut Imelda riang, sementara Narendra dan Robby menganggukkan kepalanya mengiyakan seraya melanjutkan obrolan seru mereka tentang rencana syukuran.
Tiyas melangkah santai menyusuri lorong restoran yang cukup tenang menuju kamar mandi.
Rasa lega yang luar biasa atas kebebasannya, ditambah gejolak emosi bahagia sejak pagi tadi, membuat tubuhnya sebenarnya cukup lelah.
Namun, Tiyas menepis rasa pening tipis yang mulai menjalar di pelipisnya.
Ia masuk dan segera buang air kecil, mengunci pintu dari dalam.
Setelah selesai dan hendak berdiri merapikan pakaian serta membasuh tangannya di wastafel, tiba-tiba pandangannya menggelap secara mendadak.
Pandangan matanya mengabur, dan kepalanya berputar hebat seperti dihantam gelombang pusing yang luar biasa tajam. Tubuhnya kehilangan keseimbangan seketika.
Brugh!
Tubuh Tiyas terkulai lemas dan roboh begitu saja di atas lantai keramik kamar mandi yang dingin. Posisinya tergeletak tak berdaya tepat di balik pintu yang terkunci rapat.
Sementara itu di ruang depan, gelak tawa masih pecah di antara Narendra, Imelda, dan Robby.
Suara alunan musik restoran dan riuh rendah pengunjung membuat mereka bertiga tidak ada yang menyadari benturan keras di dalam kamar mandi tersebut.
Narendra masih sibuk mendengarkan cerita konyol Robby, sama sekali belum menyadari bahwa wanita yang baru saja menerimanya sedang terbaring tak sadarkan diri di sudut lorong restoran.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘