Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Ninja Rumahan

"Waduh gawat, Dan! Ini nenek-nenek tua pengemis ini beneran mati tegak di tempat nggak ya? Kalau sampai dia tewas di dalam jadwal jam shift tugas kita, bisa berabe dan panjang urusan hukumnya kita nanti!" bisik Yono panik setengah mati sembari ujung sepatu safety-nya tampak menusuk-nusuk pelan bagian pundak Reno untuk mengecek tanda kehidupan.

Sementara di sisi lain, Idan malah memilih langsung mengambil langkah seribu berlari panik, menyerbu masuk ke dalam ruangan pos satpam tempat di mana rekan mereka yang bernama Joko kebetulan sedang asyik mengaduk secangkir kopi saset dengan penuh khidmat dan kedamaian.

"Gawat darurat tingkat nasional, Jok! Ada sesosok nenek-nenek tua pengemis mengalami gejala pingsan estetik tepat di depan pintu gerbang emas! Kayaknya sistem mesin tubuhnya mendadak mati total!"

"Nenek-nenek pengemis apaan sih maksud lo? Jangan suka ngaco dan nakut-nakutin orang ya lo, ini kondisi hari masih siang bolong begini!" sahut Joko heran bercampur kesal, saking terkejutnya sampai membuat sendok kecil di tangannya hampir saja jatuh ke lantai.

"Udah deh, sekarang nggak usah banyak tanya yang membagongkan dulu! Cepetan lo bantuin kita gotong itu raga renta si nenek sebelum tubuh dekilnya berubah fungsi jadi monumen batu di depan gerbang utama! Kalau sampai Nona Muda atau nyonya besar komplek tahu ada 'pemandangan kumuh' begini mengotori gerbang, sertifikat resmi profesi satpam kita berdua bisa langsung disita sepihak!"

Idan tanpa perasaan langsung menarik paksa kain kerah baju dinas milik Joko dengan sangat beringas. Joko pun akhirnya terpaksa berlari terbirit-birit mengikuti langkah kaki Idan keluar pos.

Di area depan gerbang emas, satpam Yono ternyata sudah bersiap siaga dalam posisi memasang kuda-kuda kokoh untuk mengangkat bagian kaki si nenek pengemis.

"Oke siap ya semuanya, hitungan ketiga. Satu... dua... angkat!" instruksi Yono memberikan komando dengan nada suara rendah.

"BERHENTIIIII!!!!"

Sebuah teriakan vokal bernada melengking tinggi mendadak berkumandang memecah suasana tegang di depan lobi. Ketiga petugas satpam berbadan beton itu seketika langsung mematung kaku di tempat layaknya sebuah patung batu, bahkan satpam Joko hampir saja terjungkal ke depan karena terpaksa melakukan aksi rem mendadak pada kakinya.

Dari arah dalam halaman, muncullah seorang gadis remaja yang tampak mengenakan selembar baju hoodie berukuran kedodoran longgar, lengkap dengan masker medis putih yang menutupi separuh area wajah cantiknya, serta sepasang kacamata hitam berukuran besar nangkring di hidungnya.

Gadis misterius itu tampak berdiri bertumpu pada kedua belah lutut kakinya, embusan napas di dadanya tampak memburu naik-turun dengan sangat cepat, persis mirip seperti sesosok orang yang baru saja selesai mengikuti lomba lari maraton antarkecamatan.

Pasokan udara di dalam paru-parunya dirasakan sangat panas membara, sebuah konsekuensi medis karena ia tadi nekat melakukan aksi lari maraton kilat dari area lantai dua mansion yang ukuran luasnya minta ampun itu, langsung menuju ke arah pintu gerbang depan.

"Apa... hosh... hosh... yang sebenarnya sedang... hosh... hosh... kalian bertiga lakukan pada nenek ini, hah?!" tanyanya dengan nada suara yang sedikit teredam kain masker medis, namun gurat nadanya tetep terdengar sangat tajam menusuk lubang telinga.

"Kenapa kalian berdua tega sekali mencoba mengusir paksa nenek tua ini dari depan rumah?!"

Reno, yang sebenarnya sejak tadi cuma melakukan aksi merem ayam alias pura-pura pingsan, diam-diam tampak sedikit mengintip dari balik celah kelopak matanya yang keriput.

‘Eh, bentar deh... ini cewek aneh sebenarnya siapa sih? Apa jangan-jangan ini adalah sesosok sepupu perempuannya si Adit yang dulu di zaman SMA sempat digosipin punya sifat songong tumpah-tumpah plus berwajah buruk rupa itu ya? Penampilan dandanannya misterius banget jahanam, mirip kayak agen rahasia intelijen yang gagal total,’ batin Reno menebak-nebak heran di dalam hati.

Melihat adanya seberkas kesempatan emas yang terbuka lebar untuk bisa menerobos masuk ke dalam istana pasokan air minum mewah, Reno tanpa pikir panjang langsung mengeksekusi jurus "bangkit dari kubur".

Ia seketika membuka kedua belah matanya lebar-lebar, lalu bangkit berdiri secepat kilat dengan sebuah gerakan tubuh yang sedikit memaksakan otot tulang pinggang si nenek, sampai area pinggangnya kembali mengeluarkan bunyi krek yang sangat nyaring membelah lobi.

Keempat orang manusia yang berdiri di sana seketika langsung tersentak kaget sampai melompat mundur akibat syok menyaksikan keajaiban supranatural tersebut. Satpam Joko secara refleks langsung memegangi pergelangan lengan baju Reno, membantunya berdiri tegak sambil mengekspresikan wajah sok protektif di depan majikannya.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Nona Muda, sepertinya nenek tua dekil di depan kita ini status profesinya adalah seorang pengemis jalanan. Tadi kelakuannya sempat maksa nekat mau masuk melewati celah gerbang, kami bertiga cuma takutnya dia ini sengaja datang mau melakukan aktivitas survei lokasi demi melancarkan hal-hal kriminal yang tidak diinginkan," lapor satpam Joko dengan lancar sambil tangan kanannya melepaskan cengkeramannya pelan-pelan dari lengan Reno.

Gadis misterius berwajah "ninja" itu tampak menatap lekat ke arah rupa fisik Reno (yang saat itu masih berwujud nenek Tari pengemis) dengan seberkas pandangan mata yang sangat sulit untuk dibaca maknanya dari balik lapisan kacamata hitam besarnya.

"Apa beneran begitu kenyataan ceritanya, Nek?"

Reno tanpa buang waktu langsung mengeluarkan jurus andalan andalannya: Sebuah Akting Aktris Pemenang Piala Oscar.

Ia sengaja mengatur ritme embusan napas suaranya agar terdengar se-parau dan se-lemas mungkin, seolah-olah kondisi pita suaranya baru saja habis digosok paksa menggunakan lembaran amplas bangunan.

"Saya... saya di sini sejujurnya hanya ingin meminta setetes pasokan air minum dan sedikit makanan ganjal perut, Nona Muda yang baik. Tubuh renta saya ini rasanya sudah nggak kemasukan makanan nasi sejak zaman kolonial penjajahan dulu... eh salah maksud nenek sejak kemarin sore. Saya beneran dilanda kelaparan yang sangat hebat sebadan-badan," ucapnya memelas sambil sepasang matanya memberikan pandangan memohon yang tingkat kemelasannya paling maksimal.

Gadis ber-hoodie longgar itu tampak mengamati dengan teliti selembar buntalan kain hitam kumal milik Reno yang isi di dalamnya cuma ada satu buah ubi mentah bertekstur keras mirip beton tadi.

Ia kemudian melipat kedua belah tangannya bersedekap di depan dada, memberikan sebuah gestur pancaran otoritas kepemimpinan yang sangat kental, seolah-olah dirinya adalah sesosok ratu agung di dalam wilayah kekuasaan mansion tersebut.

"Baiklah kalau begitu ceritanya, biarkan saja nenek tua ini melangkah masuk ke dalam rumah. Lagipula sekadar memberi makan gratis untuk satu orang tua renta begini dijamin tidak bakal bikin angka nilai saham perusahaan keluarga saya mendadak anjlok jatuh kok," tegasnya dengan nada bicara sombong berwibawa, namun di sisi lain terbukti memiliki hati yang baik selevel malaikat.

"Kalian bertiga buruan buka lebar-lebar pintu pagarnya sekarang juga!"

‘Beuh buset dah, ternyata beneran terbukti 100% apa kata si Adit dulu. Ini cewek kalau sekali membuka mulut berbicara, tingkat kesombongan bahasanya beneran tumpah-tumpah mengotori lantai! Tapi ya sudahlah bodo amat nggak apa-apa juga sih bagi gue, yang penting tujuan utama gue siang ini dapet pasokan air minum gratis sukses tercapai!’

1
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!