**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Kapten yang Menatapmu Terlalu Lama
Ethan Lienata berhenti dua langkah setelah memasuki ruang pemeriksaan.
Tatapannya tertahan pada wajah Kayla.
"Kapten?" panggil Sean dari belakang. "Berkasnya."
Ethan berkedip dan menyerahkan map. "Maaf."
Ia baru bergabung dengan Angkasa Timur setelah belasan tahun terbang di luar negeri. Tubuhnya tinggi, seragamnya rapi, dan cara bicaranya tenang. Di sampingnya berdiri Shanti, kapten perempuan yang pindah dari maskapai yang sama.
"Ini dr. Kayla, Wakil Kepala Pusat Aeromedis," kata Sean. "Semua kru baru melewati pemeriksaan timnya."
"Istri Kapten Adrian," tambah dr. Wina dari meja administrasi.
Kayla menoleh. "Status pernikahan tidak tercantum dalam daftar pemeriksaan."
Ethan mengulurkan tangan. "Kapten Ethan Lienata. Senang bertemu, Dokter."
Kayla menjabat singkat. "Silakan isi riwayat kesehatan dan obat dengan lengkap."
Saat Kayla berbalik, Ethan masih memandanginya. Bentuk mata perempuan itu mengingatkannya pada sosok dalam foto lama yang disimpan ibunya di antara dokumen keluarga. Ia tidak tahu mengapa ingatan itu muncul sekarang.
Shanti melihatnya.
"Kamu kenal dokter itu?" tanyanya.
"Tidak."
"Tapi kamu menatapnya."
"Wajahnya terasa familiar."
"Dia sudah menikah."
Ethan menutup formulir. "Aku mendengar."
Shanti telah terbang bersamanya selama empat tahun. Ketika Ethan pindah ke Angkasa Timur, ia menolak promosi di maskapai lama agar bisa mengikuti proses rekrutmen yang sama. Semua orang mengira mereka pasangan, meski Ethan tidak pernah memberi jawaban selain menyebutnya rekan kerja.
"Kita datang ke sini bersama," kata Shanti. "Jangan membuat masalah pada hari pertama."
"Menatap seseorang bukan masalah."
"Kalau orang itu istri kapten lain, bisa menjadi masalah."
Ethan menatap formulir lagi. "Karena itu aku tidak akan melakukan apa pun."
Jawaban tersebut seharusnya menenangkan. Justru kata tidak akan membuat Shanti sadar bahwa ada sesuatu yang harus ditahan.
Nada datarnya membuat Shanti tidak bisa melanjutkan, tetapi jari perempuan itu mencengkeram tali tas.
Pemeriksaan dimulai dengan verifikasi identitas, riwayat medis, tekanan darah, penglihatan, pendengaran, serta evaluasi lain sesuai penugasan. Ethan menjawab tanpa mencoba menggunakan pengalaman atau koneksi untuk mempercepat proses.
Kayla memeriksa catatan vaksinasi, riwayat operasi, obat rutin, dan hasil evaluasi penerbangan sebelumnya. Tidak ada penyakit besar yang dilaporkan. Tes penglihatan dan pendengarannya baik. Pemeriksaan saraf singkat tidak menunjukkan kelainan.
Namun ketika manset tekanan darah mengembang, Ethan memandang foto kecil di meja Kayla. Foto itu memperlihatkan Kayla dan Adrian memegang buku nikah.
"Kapten? Jangan menahan napas," kata Kayla.
Ethan mengembuskan perlahan. "Maaf."
Kayla tidak memikirkan arah tatapannya. Banyak kru gugup saat diperiksa, terutama pada hari pertama kerja.
"Tidur berapa jam?" tanya Tiana.
"Empat. Penerbangan saya tiba tengah malam, lalu ada perjalanan darat."
"Kafein?"
"Dua kopi sejak pagi."
Tekanan darah pertama 154/96.
Kayla meminta ia duduk tenang, kaki menapak lantai, tanpa bicara selama lima menit. Pengukuran kedua tetap tinggi.
"Ada riwayat hipertensi?"
"Tidak. Pemeriksaan terakhir normal."
"Kami ulang setelah istirahat lebih panjang. Hari ini jangan dijadwalkan terbang sampai evaluasi selesai."
Shanti mendekat. "Dia baru masuk. Kalau langsung kehilangan jadwal, catatan kerjanya buruk."
"Keselamatan tidak berubah karena hari pertama."
dr. Wina tertawa kecil. "Tekanan naik setelah perjalanan itu biasa. Dokter baru tampaknya senang memakai kapten sebagai contoh ketegasan."
"Karena bisa biasa, kita konfirmasi," jawab Kayla. "Karena bisa juga tidak biasa, kita tidak mengabaikan."
Ethan membuka lencana jadwal dari sakunya dan menyerahkannya kepada Sean. "Saya mengikuti rekomendasi dokter. Pindahkan sesi simulator dan orientasi darat saja."
dr. Wina kehilangan senyum.
"Kapten tidak keberatan?" tanya Kayla.
"Kalau saya memaksa terbang untuk melindungi catatan hari pertama, saya tidak pantas duduk di kokpit."
Jawaban itu membuat dr. Hana yang mengawasi dari bilik sebelah mengangguk.
Sambil menunggu pengukuran ulang, seorang staf operasional datang membawa daftar pemeriksaan mendadak. Ia mengeluh aturan baru membuat tiga kru tertunda dan menyalahkan Kayla di depan ruang tunggu.
"Kalau semua dokter bekerja selambat ini, penerbangan tidak akan pernah berangkat."
Ethan berdiri. "Penerbangan yang berangkat dengan kru tidak layak lebih mahal daripada penundaan. Keluhan jadwal sampaikan kepada operasional, bukan kepada dokter yang sedang bekerja."
Staf itu mengenali pangkatnya dan mundur.
Kayla menatap Ethan. "Saya bisa menjawab sendiri."
"Saya tahu. Saya menjawab bagian yang berkaitan dengan keputusan kapten."
Ia tidak tersenyum atau mencari pujian. Batas itu cukup jelas sehingga Kayla tidak memperpanjang.
Shanti justru semakin diam.
Pengukuran ketiga turun, tetapi masih di atas batas yang ingin diterima Kayla untuk penugasan langsung setelah kurang tidur. Ia meminta pemeriksaan lanjutan, pemantauan tekanan, dan istirahat satu hari sebelum keputusan berikutnya.
Tiana memasang alat pemantau tekanan ambulatory yang dapat dipakai Ethan selama aktivitas normal. Ia menjelaskan cara mencatat waktu makan, kafein, gejala, dan tidur.
"Besok pagi kembali setelah cukup istirahat," katanya. "Jangan mengubah pola hanya agar angkanya bagus. Kami perlu melihat kondisi sebenarnya."
"Baik."
Shanti mengambil jadwal Ethan. "Saya bisa mengambil penerbangannya."
Sean memeriksa daftar kru. "Operasional yang menentukan pengganti. Kamu juga masih menjalani orientasi."
"Saya memenuhi semua syarat."
"Tetap ikut proses."
Shanti menatap Kayla seolah perempuan itu penyebab semua pintu tertutup. Padahal tidak satu pun keputusan dibuat untuk menghukumnya.
dr. Rendra datang meninjau hasil dan mendukung rekomendasi Kayla secara tertulis. Dengan demikian, keputusan bukan perintah pribadi seorang dokter baru, melainkan hasil proses pusat yang dapat ditinjau ulang.
"Tidak ada diagnosis hanya dari satu pagi," jelasnya. "Tapi hari ini saya menyarankan tidak terbang."
"Saya mengerti," jawab Ethan.
dr. Wina berdiri di pintu. "Luar biasa. Hari pertama langsung membuat kapten senior kehilangan penerbangan."
Ethan memasukkan kembali dokumennya, tetapi tidak mengambil lencana jadwal dari Sean.
"Bukan dr. Kayla yang membuat saya kehilangan penerbangan," katanya. "Tekanan darah saya yang belum memenuhi penilaian hari ini."
Ia menoleh kepada Kayla.
Tatapannya berhenti satu detik lebih lama daripada yang diperlukan.
Kayla sudah beralih ke berkas kru berikutnya. Ia bahkan tidak menyadarinya.
Ethan mengikuti Sean keluar menuju sesi orientasi darat. Di ujung koridor, Reyner berpapasan dan mengangguk kepadanya sebagai sesama kapten senior.
"Hari pertama?" tanya Reyner.
"Dan langsung tidak terbang."
"Kalau pusat medis yang baru memutuskan, ikuti saja. Mereka sedang membersihkan sistem."
Ethan melihat kembali ke pintu pemeriksaan yang sudah tertutup. "Saya rasa dokternya tahu apa yang dilakukan."
Reyner mengikuti arah pandangnya, lalu mengingat cangkir yang telah ia serahkan ke laboratorium. Rasa bersalah datang lagi. Sementara Ethan baru mulai menyimpan ketertarikan, Reyner sudah menyimpan rahasia yang jauh lebih berbahaya tentang dokter di balik pintu itu sejak malam jamuan keluarga.
Di belakangnya, kuku Shanti menekan telapak tangan sampai memutih.