Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Episode 1

Bab 1

Pagi di Kamar yang Salah

Suite presiden Grand Regalia Hotel tampak seperti baru diterjang badai.

Gelas pecah di dekat sofa. Dua bantal terlempar ke lantai. Gaun hitam Kayla tergeletak di atas karpet dengan salah satu tali bahunya putus.

Kayla duduk di tengah ranjang sambil mencengkeram selimut sampai ke dagu. Wajahnya panas ketika menatap laki-laki asing di seberang sana.

Laki-laki itu berdiri di depan jendela, mengenakan celana panjang dan kemeja putih yang belum dikancingkan. Rambutnya masih berantakan. Ada bekas cakaran merah di dada dan bahunya.

Sial.

Bahkan dalam keadaan seperti ini, laki-laki itu tetap enak dipandang.

Kayla buru-buru mengalihkan mata. Seluruh tubuhnya nyeri. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan aroma jeruk dingin yang tertinggal di bantal membuat beberapa potongan kejadian semalam kembali menghantam ingatannya.

Laki-laki itu mengambil gelas dari meja, mencium sisa cairan di dasarnya, lalu menatap Kayla.

"Sudah ingat?" tanyanya. "Kenapa kau ada di kamarku?"

Kayla menunduk. Ingatan yang tadi hanya berupa pecahan mendadak tersusun lebih jelas.

Semalam Vera mengajaknya makan di ruang privat hotel. Katanya, mereka perlu bicara baik-baik sebagai saudara.

"Minum dulu, Kayla." Vera mendorong segelas jus merah muda ke arahnya. "Kau dari rumah sakit, kan? Pasti capek."

Kayla hanya meneguk setengah gelas.

Sepuluh menit kemudian, tangannya tidak bisa lagi menggenggam sendok.

Panas menjalar dari perut ke leher. Pandangannya berputar. Ia masih bisa mendengar, tetapi tidak sanggup mengangkat kepala ketika Vera dan Tante Fen memapahnya keluar.

Di dalam lift, suara mereka terdengar sejelas bunyi mesin yang membawa mereka naik ke lantai teratas.

"Asal Kayla melahirkan anak untuk Wilson, pernikahanmu akan aman," kata Tante Fen. "Kau yang akan membesarkan anak itu. Semua orang tetap menganggapnya anakmu."

"Tante, kalau Kayla melapor polisi bagaimana?"

"Melapor dengan bukti apa? Lagi pula, apa buruknya menjadi simpanan keluarga Chandra? Dia akan dapat apartemen, mobil, dan uang. Perempuan lain mengantre untuk hidup seperti itu."

"Tapi dia adikku."

"Adik angkat," Tante Fen membetulkan. "Kau membiayai sekolahnya bertahun-tahun. Sudah waktunya dia membalas budi."

Kayla ingin berteriak. Yang keluar dari tenggorokannya hanya suara lemah yang tenggelam di balik dengung lift.

Pintu terbuka di lantai dua puluh.

Vera masih ragu ketika mereka menyeret Kayla menyusuri lorong.

"Kalau Wilson justru menyukai Kayla bagaimana?"

Tante Fen berhenti. "Jadi itu yang kau takutkan?"

"Bukan begitu."

"Kalau malam ini gagal, besok aku akan mencarikan perempuan lain untuk Wilson. Bedanya, perempuan itu tidak akan menyerahkan bayinya kepadamu. Setelah itu, jangan salahkan aku kalau Wilson menceraikanmu."

Vera langsung diam.

Ia telah menandatangani perjanjian pranikah. Jika bercerai, ia akan keluar dari keluarga Chandra tanpa uang. Semua kerabat di Bekasi mengenalnya sebagai perempuan yang berhasil menikah dengan orang kaya. Kehilangan Wilson berarti kehilangan seluruh hidup yang selama ini ia pamerkan.

"Nomor berapa?" tanya Vera akhirnya.

Tante Fen menyipitkan mata ke arah pesan di ponselnya. "2010."

Mereka berjalan beberapa langkah.

"Bukan. Sepertinya 2001. Ya, 2001."

"Tante yakin?"

Tante Fen mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. "Lihat, pintunya terbuka. Wilson pasti sudah menunggu. Cepat masukkan dia."

Mereka menjatuhkan Kayla di atas ranjang.

Dari dalam kamar mandi terdengar suara air. Vera sempat menoleh, tetapi Tante Fen langsung menariknya keluar.

"Pulang bersamaku. Jangan menelepon Wilson malam ini kalau kau masih ingin mempertahankan suamimu."

Setelah pintu tertutup, panas di tubuh Kayla semakin tidak tertahankan. Ia mencoba bangun, tetapi kedua lengannya tidak bertenaga.

Lalu pintu kamar mandi terbuka.

Aroma jeruk yang segar lebih dulu mencapai ranjang. Seorang laki-laki keluar dengan rambut basah dan handuk putih melilit pinggang. Tubuhnya tinggi dan keras. Wajahnya tampan, tetapi sorot matanya sama bingungnya ketika melihat Kayla.

"Siapa kau?"

Kayla ingin menjawab. Lidahnya kelu.

Laki-laki itu mendekat, lalu mendadak mencengkeram tepi meja. Napasnya berubah berat. Gelas kosong di dekatnya jatuh dan menggelinding di atas karpet.

Ternyata bukan hanya Kayla yang telah diberi obat.

Setelah itu, ingatannya terputus-putus. Tangan yang sempat menahannya agar tidak jatuh. Aroma jeruk yang semakin kuat. Suara napas yang kacau. Gaunnya yang robek.

Lalu gelap.

Pagi datang bersama rasa sakit dan sebuah kenyataan yang tidak bisa mereka tarik kembali.

Ucapan Tante Fen sebelum pintu suite tertutup kembali terngiang di kepala Kayla. `2010. Bukan. Sepertinya 2001.`

Laki-laki di hadapannya jelas bukan Wilson.

Tante Fen telah salah memilih pintu.

"Aku seharusnya tidak ada di sini," katanya.

"Itu belum menjawab pertanyaanku."

"Aku dibawa ke kamar ini dalam keadaan tidak sadar."

Tatapan laki-laki itu turun ke gelas di tangannya. "Kebetulan sekali. Minumanku juga dicampur sesuatu."

Mereka terdiam.

Kayla tidak tahu siapa yang menjebak laki-laki itu. Ia juga belum tahu apakah ceritanya akan dipercaya. Namun satu hal sudah jelas. Mereka berdua sama-sama tidak merencanakan malam ini.

Bel kamar berbunyi.

Laki-laki itu mengambil dua jubah mandi dari lemari. Satu dilemparkannya kepada Kayla, satu lagi ia kenakan sendiri.

"Pakai."

"Terima kasih," jawab Kayla, lalu menambahkan dalam hati, setidaknya laki-laki ini masih punya sedikit akal sehat.

Begitu Kayla selesai mengikat jubah, pintu dibuka.

"Surprise!"

Tiga laki-laki menyerbu masuk sambil tertawa. Yang paling depan membawa dua gelas kopi. Yang kedua mengangkat paper bag sarapan. Yang termuda bahkan menyalakan kamera ponselnya.

Tawa mereka berhenti ketika melihat Kayla di atas ranjang.

Tatapan Adrian menyapu ketiganya. "Siapa yang memberi kalian keberanian mencampur sesuatu ke minumanku?"

"Matikan kameranya, Sean," kata laki-laki asing itu dingin.

Sean segera menurunkan ponsel. "Ko, idenya dari Nico dan Vincent. Aku cuma ikut."

Pria berkacamata di sebelahnya menyikut lengannya. "Pengkhianat. Kita bertiga sepakat. Perempuan pendamping dari Amanda seharusnya datang. Kami tidak tahu akan jadi begini."

"Aku cuma mau merekam wajahnya saat kena prank, bukan ini," bela Sean.

"Cukup," potong Adrian.

Jadi nama laki-laki itu Adrian.

Pria yang membawa kopi, Nico, mengamati Kayla. "Tunggu. Kalau perempuan dari Amanda tidak pernah masuk, lalu dia siapa?"

"Namaku Kayla," jawab Kayla. "Dan aku juga ingin tahu kenapa bisa berada di sini."

Sean memiringkan kepala. "Kayla? Nama yang bagus."

"Bukan waktunya menggoda orang," gumam Nico.

Vincent justru menepuk dahinya. "Aku tahu. Dia pasti salah satu penggemar Adrian."

Kayla menatapnya datar.

Vincent semakin bersemangat dengan teorinya sendiri. "Lantai ini butuh kartu akses. Dia mungkin mengikuti Adrian, melihat pintu tidak terkunci, lalu menyelinap masuk. Benar, kan?"

"Hebat," kata Kayla. "Kau menyusun cerita lengkap tanpa satu pun bukti."

Sean menahan tawa. Nico berdeham sambil memalingkan wajah.

Vincent tidak menyerah. "Kalau bukan begitu, kenapa kau ada di ranjang Adrian?"

Pertanyaan itu membuat udara di kamar berubah.

Kayla meremas ujung jubah. Di balik nada konyol Vincent, tuduhannya tetap menghina. Ia yang dijual oleh keluarganya, tetapi pagi ini orang lain melihatnya sebagai perempuan yang sengaja naik ke ranjang laki-laki kaya.

Terpopuler

Comments

tri septi

tri septi

hemmm.... mampir thor🌷🌷🌷

2026-08-22

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!