`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15_Cemburu Sang Tiran & Telepon dari Melbourne
...BAB 15_Cemburu Sang Tiran & Telepon dari Melbourne...
Malam makin larut, namun kamar utama di Penthouse mewah kawasan Senopati itu masih terang benderang. Lea berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang menyajikan pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta dari lantai empat puluh. Setelah memastikan orang-orang suruhan Teo terkecoh di kawasan kontrakan Palmerah sore tadi, Lea berpindah ke kediamannya yang sebenarnya menggunakan taksi lain secara sangat rahasia dan lihai.
Lea menyesap cokelat hangatnya dengan tenang seraya menikmati embun malam yang menempel di kaca. Setelah dipikir-pikir, tuduhan dan prasangka Teo bahwa 'Alia' mungkin terbelit utang rumah sakit neneknya hingga dijemput pria kaya adalah alibi gratis yang sangat menguntungkan. `Biarkan saja otak arogan itu merangkai konspirasi sendiri dan tenggelam dalam rasa bersalahnya`, batin Lea sinis dengan senyum miring yang menawan.
`Ting.`
Ponsel berenkripsi khusus milik Lea berdering pendek. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal yang sangat mudah ditebak siapa pemiliknya.
``
Lea tertawa renyah membaca pesan penuh emosi tertahan dari Teo Ozawa. Pria itu benar-benar terobsesi hingga nekat mencari nomor pribadinya dari data sekolah dan menguntitnya sampai ke gang rumah.
Dengan jemari cantiknya yang lentik, Lea membalas pesan itu dengan sangat santai:
``
Di seberang sana, Teo yang sedang duduk di sofa kamar mewahnya langsung melempar ponsel mahal itu ke sofa saat membaca balasan penuh ejekan dari Lea. Gigi Teo bergemelutuk rapat, dadanya bergemuruh hebat oleh perpaduan antara amarah yang menumpuk, gengsi tinggi, dan rasa cemburu asing yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
`"Reno, Bagas,"` panggil Teo dingin pada dua sahabatnya yang sedang duduk kaku di ruang tengah rumahnya. `"Cari tahu siapa pria bernama Julian yang berhubungan dengan Alia. Aku mau datanya lengkap besok pagi!"`
`"Bos... bukannya kata pengawalmu sore tadi Alia benar-benar masuk ke kontrakan kumuhnya dengan cardigan kusam?"` tanya Reno hati-hati. `"Mungkin pria kaya bernama Julian itu cuma bos tempat kerja paruh waktu Alia yang baru? Atau... mungkin bos yang ngasih dia utangan buat pengobatan neneknya di rumah sakit?"`
`"Tutup mulutmu!"` bentak Teo tajam, matanya berkilat penuh obsesi gelap. `"Perempuan itu tidak sesederhana yang kita kira. Dia sudah berubah... dan aku tidak akan tenang sebelum menundukkannya kembali di bawah kakiku!"`
Keesokan harinya, suasana Ozawa School kembali memanas sejak pukul tujuh pagi.
Seluruh murid yang biasanya memenuhi lapangan dan koridor mendadak menahan napas saat melihat mobil sport hitam milik Teo Ozawa memasuki area parkiran sekolah. Teo turun dengan setelan seragam yang rapi, namun raut wajahnya sangat dingin dan terdapat lingkaran hitam tipis di bawah matanya karena tidak bisa tidur semalaman memikirkan nama 'Julian'.
Tak lama kemudian, sebuah taksi konvensional berhenti di depan gerbang. Lea turun dari sana dengan anggun, membawa tas sekolahnya yang cukup berat berisi buku-buku pelajaran. Penampilannya tetap tampak sederhana sebagai Alia, namun cara berjalannya memancarkan dominasi mutlak seorang `high society` yang tak terbantahkan.
Teo yang sudah menunggu di dekat gerbang langsung melangkah lebar mendekati Lea. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Teo merampas tas sekolah dari tangan Lea dan menyampirkannya di bahunya sendiri—menjalankan peran pelayannya di hadapan ratusan pasang mata murid yang menonton dengan takjub dan ketakutan.
`"Kamu terlambat tiga menit,"` desis Teo dingin seraya berjalan mesejajari langkah Lea.
`"Mobil taksiku terjebak macet,"` sahut Lea santai tanpa beban sedikit pun. `"Lagi pula, seorang pelayan tidak boleh memprotes majikannya."`
Teo mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencoba menahan godaan untuk bertanya lebih jauh soal foto kemarin sore. Saat mereka berjalan menyusuri koridor utama menuju kelas, beberapa murid perempuan dari geng perundung lama Alia—yang dipimpin oleh `Sheila`—tampak berdiri menanti di depan pintu kelas dengan tatapan benci yang membakar.
Sheila yang merasa posisinya terancam sejak kejadian pembantaian intelektual di aula saat ujian seleksi olimpiade kemarin, melangkah maju memotong jalan Lea dengan berkacak pinggang.
`"Alia! Kamu pikir setelah pelet murahanmu berhasil bikin Teo berlutut, kamu bisa bersikap sok berkuasa di sekolah ini?!"` bentak Sheila penuh nada iri dan dengki. `"Kamu cuma perempuan miskin berbeasiswa yang tidak tahu diri! Kemarin sore aku dengar kamu dijemput mobil Alphard mewah, kamu menjual diri ke pria kaya demi uang, ya?!"`
`PLAK!`
Suara tamparan keras bergema dahsyat di koridor lantai dua.
Bukan Lea yang menampar, melainkan Teo Ozawa sendiri yang melangkah maju dengan cepat dan mendaratkan tamparan keras di pipi Sheila hingga perempuan itu terdorong dan tersungkur kaku ke lantai koridor.
Seluruh murid di koridor menjerit kaget, menutupi mulut mereka dengan wajah pucat pasi. Sheila memegangi pipinya yang memerah panas dan terasa perih seraya mendongak menatap Teo dengan mata berkaca-kaca penuh ketidakpercayaan.
`"Teo... kamu... kamu menamparku demi membela perempuan miskin ini?!"` tangis Sheila histeris dengan suara bergetar.
Teo melangkah mendekat, menatap Sheila dari atas dengan sorot mata membunuh yang sangat mengerikan dan dingin. `"Jaga mulut murahanmu, Sheila. Siapa pun yang berani menyentuh, menghina, atau memfitnah dia di sekolah ini... artinya berurusan langsung denganku. Pergi dari hadapanku sebelum aku membuat keluargamu hancur!"`
Sheila yang gemetar ketakutan langsung dibantu berdiri oleh teman-temannya dan berlari menjauh dari koridor seraya menangis sesenggukan.
Di tengah riuhnya koridor yang masih shock berat melihat sang tiran menampar anggotanya sendiri demi 'Alia', ponsel berenkripsi di dalam saku blazer Lea mendadak bergetar pendek berulang kali.
Lea melirik layarnya secara sembunyi-sembunyi. Nama `Liam` muncul di layar dengan catatan `missed call ke-14` beserta sebuah pesan singkat:
``
Lea mendadak menepuk jidatnya pelan secara samar. `Astaga, aku lupa menelepon si jenius itu semalam gara-gara melayani telepon posesif Julian dan mengurusi taksi Alphard`, batin Lea seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat licik.
Mumpung Teo sedang menjadi pusat perhatian dan sibuk mengintimidasi murid-murid lain yang menonton di koridor, Lea melangkah mundur perlahan, berbalik arah menuju area toilet wanita yang sepi untuk 'menjinakkan' pacar pertamanya itu sebelum si jenius dari Melbourne tersebut nekat terbang ke Indonesia.
Lea masuk ke dalam toilet, mengunci pintu, lalu menekan tombol panggil. Hanya dalam satu kali nada dering, panggilan itu langsung diangkat dari Melbourne.
`"Lea! Astaga, akhirnya kamu menelepon!"` suara Liam terdengar sangat khawatir bercampur lega luar biasa di ujung telepon. `"Aku tidak bisa tidur semalaman menunggu kabarmu! Bantuan soal ujian seleksi olimpiade kemarin tidak ada masalah, kan? Kamu baik-baik saja di Jakarta, kan? Kenapa ponselmu susah dihubungi?!"`
Lea memasang intonasi suara paling lembut, lirih, penuh rasa bersalah yang amat manis dan memikat.
`"Liam sayang... maafkan aku ya,"` bisik Lea manja dengan nada menyesal yang diproduksi secara sempurna. `"Soal-soal ujian seleksi olimpiade dari kamu kemarin sempurna banget, aku berhasil bungkam mereka semua tanpa tersisa! Tapi semalam kondisi kesehatan nenekku mendadak drop di rumah sakit, jadi aku harus mengurus administrasi dan menunggunya di ruang perawatan sampai pagi. Aku sangat lelah dan panik sampai lupa mengabarimu..."`
Di Melbourne, amarah dan rasa frustrasi Liam karena diabaikan semalaman mendadak meleleh total mendengar suara lembut nan rapuh milik Lea.
`"Astaga... kenapa tidak bilang dari semalam, Sweetheart?"` nada suara Liam berubah menjadi hembusan napas penuh penyesalan. `"Maafkan aku sudah berpikiran buruk dan menuntutmu. Yang penting kamu selamat dan ujian seleksi itu lancar. Bagaimana keadaan nenekmu sekarang?"`
`"Sudah jauh lebih stabil kok, berkat dukungan dari kamu,"` puji Lea lihai, memberikan reward emosional manipulatif untuk menyenangkan hati Liam. `"Kamu memang pacarku yang paling pintar, paling perhatian, dan paling bisa kuandalkan di seluruh dunia."`
Liam di ujung telepon tersentuh bangga. `"Apa pun untukmu, Lea. Kalau ada soal olimpiade atau tugas rumit lain di sekolah itu, langsung kirimkan padaku ya."`
`"Terima kasih banyak, Liam sayang. I love you,"` bisik Lea manis sebelum mematikan sambungan telepon tersebut.
`Tut.`
Lea mematikan layar ponselnya, lalu berkaca di depan cermin toilet seraya merapikan rambutnya. Senyum puas dan licik merekah indah di wajah cantiknya. `Liam` tetap berada di bawah kendalinya sebagai si jenius yang penurut, sementara tiran arogan Ozawa School di Jakarta ini sudah mulai berlutut pasrah menjadi tameng pelindungnya. Perangkap sang ratu kini mencengkeram erat dari segala penjuru.