Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Di balik pilar beton
Di balik pilar beton di balkon yang sepi, hembusan angin malam bertiup kencang, mengibarkan helai-helai rambut hitam Aura yang terurai. Air matanya menetes makin deras, hingga membasahi jemari Farhan yang masih membingkai lembut kedua pipinya.
Farhan menatap manik mata Aura dengan sorot keputusasaan yang begitu pekat. "Jelaskan padaku, Ra... Tolong, buat aku mengerti. Kenapa kamu harus mengorbankan kita? Kenapa harus kamu yang berdiri di pelaminan itu menggantikan kak Keisya?!"
Aura memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran gaun dusty rose nya untuk menahan sesak yang meremukkan dada. Ia tidak mungkin membongkar rahasia bahwa Keisya hamil anak pria lain akibat tragedi malam nahas itu.
Membongkar kehamilan Keisya akan menghancurkan kehormatan kakaknya selamanya dan membunuh ayahnya yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Aura lalu membuka matanya dengan perlahan, dan menatap Farhan di antara derai air mata. "Farhan... Kak Keisya melarikan diri di hari pernikahan itu. Dia pergi meninggalkan pesan penolakan tanpa jejak..."
"Kak Keisya pergi?"
Aura mengangguk lemah, lalu berkata lagi dengan suara yang parau dan bergetar hebat. "Acara akad tinggal menghitung menit. Ratusan tamu sudah hadir, keluarga Mas Fadil dan keluargaku diambang kehancuran nama baik. Papa... Papa hampir pingsan menanggung rasa malu hari itu, Han. Tidak ada pilihan lain... Aku harus turun tangan. Aku terpaksa menjadi pengantin pengganti demi menyelamatkan muka kedua keluarga besar kami."
Farhan mematung. Kebenaran yang baru saja didengarnya menghantam dadanya seperti hantaman batu besar. Selama berminggu-minggu, ia meratapi nasib dan mengutuk takdir, mengira Aura telah berpaling darinya demi kemewahan atau tekanan posisi.
Namun kenyataannya, wanita yang teramat sangat dicintainya ini hanyalah seorang korban yang menumbalkan masa depannya sendiri demi menjaga kehormatan orang lain.
"Ya Tuhan... Aura..." bisik Farhan. Wajah pria dewasa yang biasa tenang dan berwibawa itu kini melunak dengan rasa iba dan penyesalan yang mendalam. "Kenapa kamu harus menanggung beban seberat ini sendirian, Sayang... Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku sejak awal?"
"Aku takut, Han... Aku tidak punya ruang untuk memilih," tangis Aura makin pecah. Tubuhnya semakin bergetar akibat tekanan emosi yang ditahannya selama berminggu-minggu. "Malam pengantin yang seharusnya jadi impian kita... kini berubah jadi neraka buatku. Aku tinggal di rumah yang dingin, dipenuhi kebencian dan prasangka... Tapi aku tidak punya jalan untuk kembali."
Melihat tubuh wanita yang sangat dicintainya bergetar hebat karena menahan isak tangis, runtuhlah seluruh sisa keputusasaan Farhan.
Pria itu kemudian menarik tubuh Aura rapat-rapat ke dalam pelukannya. Tangannya yang hangat mengusap lembut punggung dan belakang kepala Aura, dan mendekapnya dengan penuh perlindungan.
"Suttt... Sudah, Ra. Cukup..." bisik Farhan, matanya sendiri berkaca-kaca menahan haru. "Maafkan aku... Maafkan aku karena sempat meragukanmu dan berpikir yang tidak-tidak tentangmu."
Farhan merenggangkan pelukannya sedikit, dan menatap lurus ke dalam mata Aura dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Dengar aku, Aura. Pernikahan pengganti ini lahir dari keterpaksaan, bukan dari ikatan cinta. Aku tau hatimu ada di mana, dan kamu tau hatiku selalu milikmu. Aku akan selalu setia menunggumu, Ra... Berapa pun lamanya, sampai waktunya tiba kamu bisa lepas dari ikatan ini dan kembali padaku."
Kata-kata penuh kesetiaan itu bagaikan penawar dahaga di tengah gurun pasir yang tandus. Aura tidak kuasa menahan kerinduannya lagi. Ia kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Farhan, dan membalas pelukan itu dengan erat.
Di dalam dekapan hangat Farhan, Aura merasakan setitik ketenangan, rasa aman, dan kenyamanan murni yang sudah lama hilang dari hidupnya sejak hari pernikahan nahas tersebut.
Namun, apa yang sama sekali tidak diketahui oleh Aura maupun Farhan adalah bahwa beberapa meter dari posisi mereka, di balik selasar bayangan pilar utama menuju pintu kaca, berdiri sosok Fadil.
Pria itu telah berdiri di sana sejak awal.
Fadil mematung dalam balutan tuksedo hitamnya yang elegan. Sejak menyadari Aura tak kunjung kembali dari kamar mandi, ia melangkah keluar mencari istrinya, yang ternyata hanya untuk menyaksikan drama menyayat hati di balik remang lampu balkon.
Fadil mendengar setiap kata yang mereka ucapkan. Ia mendengar penjelasan Aura tentang alasan dirinya menjadi pengantin pengganti, mendengar tangisan pilu istrinya tentang 'neraka' yang dijalani di rumah mereka, serta menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Aura nyaman dalam pelukan hangat Farhan.
Jemari Fadil mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan rahangnya terikat keras. Ada gejolak amarah, cemburu, dan rasa terhina yang membakar hatinya. Pria mana yang sanggup melihat istrinya dipeluk erat oleh pria lain di depan matanya sendiri? Sekalipun tak ada cinta antara mereka.
Namun, bukannya melangkah maju menerobos kegelapan, meremukkan wajah Farhan, atau memaki Aura di tempat itu, Fadil hanya menahan dirinya. Pengendalian diri dan gengsi seorang Fadil Wijaksono terlalu tinggi untuk membuat keributan liar di tempat umum.
Fadil menghembuskan napasnya yang sangat dingin melalui hidungnya. Matanya yang tajam menatap pemandangan itu untuk terakhir kali, sebelum akhirnya ia berbalik secara perlahan.
Dengan langkah kaki yang tenang dan tanpa suara, Fadil melangkah mundur, dan masuk kembali ke dalam keriuhan pesta ballroom seolah-olah ia tidak pernah melihat atau mendengar apa pun dari balkon tersebut.
_____
Beberapa menit berlalu di balkon. Isak tangis Aura perlahan mereda. Kehangatan dekapan Farhan secara bertahap menyadarkan kesadaran realistis di benaknya.
Aura tersentak kecil, lalu membelalakkan matanya saat menyadari posisi mereka.
Realitas menghantamnya kembali dengan telak jika ia kini adalah istri sah dari Fadil Wijaksono, dan berada dalam pelukan pria lain di area umum pesta rekan bisnis suaminya adalah sebuah kesalahan besar yang mematikan.
Aura kemudian mendorong dada Farhan secara perlahan, dan melepaskan ikatan pelukan itu. "Farhan... aku harus kembali."
"Aura..." panggil Farhan, sementara tangannya enggan melepas jemari Aura.
"Tolong, Han... Jangan ikuti aku lagi malam ini," tegas Aura. "Jika ada yang melihat kita, nama baik keluargaku dan namamu akan hancur. Terima kasih untuk kata-katamu... tapi saat ini, aku harus menghadapi takdirku."
Tanpa menunggu balasan dari Farhan, Aura membalikkan badan, merapikan gaun serta helai rambutnya yang berantakan, lalu melangkah cepat menerobos pintu kaca menuju koridor dalam gedung.
Saat Aura kembali ke area pesta bernuansa perak di dalam ballroom, dadanya masih berdebar kencang. Ia mengusap sisa air mata di sudut matanya dan memoles bibirnya tipis agar tampil wajar.
Pandangan Aura menyapu ruangan dan mendapati Fadil sedang berdiri di dekat pilar utama, sambil berbincang tenang dengan salah satu kolega bisnisnya seraya menggenggam gelas minuman.
Pria itu tampak begitu anggun, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan raut bahwa ia baru saja menyaksikan skenario kelam di balkon luar.
Aura lantas mendekati Fadil dengan langkah yang ragu. "Mas Fadil..."
Fadil pun menoleh dengan perlahan. Sorot matanya menatap Aura secara lurus, sebuah tatapan yang amat tenang, datar, namun menyimpan kedalaman es yang membekukan.
"Sudah selesai urusanmu di luar?" tanya Fadil, hingga membuat Aura tersentak tipis, dan mengernyitkan dahinya karena bingung.
"M-maksud Mas?"
Fadil menyunggingkan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman samar yang penuh misteri dan ironi, lalu membalikkan badan.
"Pestanya hampir selesai. Ayo kita pulang."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣