Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Medan Perang Bernama Restoran Mewah

Atmosfer di sudut ruangan VIP restoran fine dining itu mendadak berubah sepuluh derajat lebih dingin setelah kalimat telak meluncur dari bibir Reina. Suara denting alat makan yang sedari tadi mengisi keheningan kini sepenuhnya lenyap, menyisakan ketegangan pekat yang bahkan bisa dipotong dengan pisau steak.

Demian Lunox langsung berdehem keras untuk mencairkan suasana, sementara Tuan William West justru memperlihatkan senyuman tipis yang sulit diartikan—antara terkejut atau malah terhibur melihat keberanian gadis di hadapan putra tunggalnya.

Di sisi lain, rahang tegas Jino West mengeras seketika. Manik mata kelamnya menyipit tajam, menatap Reina dengan intensitas yang mampu membuat siapa pun bergidik ngeri. Selama ini, tidak ada satu pun orang—bahkan rekan bisnis senior atau para mahasiswi di kampus yang memujanya—yang berani berbicara dengannya dengan nada setajam dan sesinis itu. Baru kali ini, seorang gadis ingusan yang berstatus mahasiswi akhir berani menantang otoritasnya secara terang-terangan di depan orang tua mereka.

"Menarik," desis Jino rendah, suaranya berat namun penuh dengan intimidasi terselubung. Sudut bibirnya terangkat sebelah, membentuk senyuman miring sinis yang sama sekali tidak mencapai matanya. "Selain berstatus sebagai mahasiswi yang bahkan belum menuntaskan skripsinya, nyali gadis ini rupanya jauh lebih besar daripada otaknya."

Reina kontan mendengus pelan, tidak terima dengan sindiran terselubung itu. Ia melipat kedua tangan di depan dada, mempertahankan postur tubuhnya agar tetap terlihat tangguh dan tidak gentar sedikit pun.

"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Muda Jino yang terhormat," balas Reina dengan nada manis yang dibuat-buat, sengaja memancing emosi pria di hadapannya. "Setidaknya, aku menggunakan nyaliku untuk membela diri, bukan untuk merendahkan orang lain yang bahkan belum mengenalku secara pribadi."

"Cukup, Jino, Reina!" Demian akhirnya angkat bicara, suaranya bernada teguran tegas sebagai seorang ayah. Pria paruh baya itu mengusap pelipisnya perlahan, tampak lelah menghadapi tabiat keras kepala kedua anak muda tersebut. "Kalian ini belum resmi bertunangan, tapi sudah saling melontarkan duri seperti landak. Duduklah, Jino. Jangan membuat malu di depan orang tua."

Dengan gerakan kaku yang sarat akan kekesalan, Jino akhirnya menarik kembali kursinya dan duduk dengan punggung tegap bersandar. Ia membuang muka sejenak ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan malam kota, sebelum kembali menatap Reina dengan sorot mata yang menyiratkan sebuah peringatan diam-diam.

Makan malam lanjutan setelah insiden kecil itu berjalan dalam keheningan yang canggung. Tidak ada satupun dari Reina maupun Jino yang berniat membuka percakapan. Sesekali, Demian dan Tuan William membahas rencana bisnis serta tanggal pertunangan yang dijadwalkan berlangsung tepat sebulan setelah Reina menyelesaikan sidang skripsinya. Di kepala Reina, setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan lambat. Ia terus merutuki keputusan sepihak ayahnya yang menjerumuskannya ke dalam hubungan absurd ini.

Satu bulan lagi bertunangan? Dan setelah lulus harus menikah dengan pria es batu yang arogan ini? Mimpi buruk macam apa yang sedang kujalani sekarang? batin Reina merana sambil menusuk potongan daging di piringnya seolah-olah benda itu adalah wajah Jino West.

Tiga hari berlalu sejak malam perjodohan yang penuh dengan percikan api permusuhan itu. Reina kembali disibukkan dengan rutinitas utamanya sebagai mahasiswi tingkat akhir di kampus. Pagi ini, ia harus menghadapi kenyataan pahit lainnya: dosen pembimbingnya mencoret hampir setengah dari bab tiga skripsinya dan memintanya melakukan revisi total dalam waktu tiga hari.

Dengan langkah gontai dan wajah kusut, Reina berjalan menyusuri koridor fakultas menuju perpustakaan pusat. Rambut panjangnya diikat ponytail seadanya, dan ia hanya mengenakan kaos longgar dipadu celana jeans—jauh dari kesan anggun. Saking fokusnya meratapi nasib lembaran kertas revisian di tangannya, Reina tidak menyadari sosok tinggi berjas kasual yang berjalan dari arah berlawanan.

Bruk!

Tabrakan kecil pun tak terhindarkan. Berkas-berkas kertas di tangan Reina berhamburan jatuh berserakan di atas lantai koridor yang bersih.

"Aduh, makanya kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul!" gerutu Reina kesal tanpa memandang siapa orang yang baru saja ia tabrak. Ia langsung berjongkok untuk memunguti kertas-kertasnya yang berserakan.

Sebuah tangan berkulit mulus dengan jam tangan mewah di pergelangan tangannya ikut bergerak memungut beberapa lembar kertas yang jatuh di dekat sepatu pantofel kulit mengilap. Reina mendongak untuk melihat siapa yang membantunya, dan seketika itu juga napasnya tercekat di tenggorokan.

Dihadapannya kini berdiri Jino West.

Pria itu tampak begitu mencolok di tengah lingkungan kampus. Penampilannya sangat rapi, kontras dengan Reina yang terlihat seperti mahasiswi gembel korban revisi dosen. Jino berdiri tegak sambil memegang beberapa lembar kertas skripsi milik Reina, lalu menunduk membaca sekilas tulisan di atasnya dengan sebelah alis terangkat tinggi.

"Ekonomi pembangunan regional?" baca Jino dengan suara rendah yang sarkastis. "Pantas saja otakmu keras seperti batu, bahan bacaanmu saja penuh dengan teori kaku yang kurang fleksibel."

Reina langsung berdiri dengan cepat, merampas kasar kertas-kertasnya dari tangan Jino. Wajahnya memerah karena perpaduan antara rasa malu, lelah, dan amarah yang kembali meluap-luap.

"Hei! Siapa juga yang menyuruhmu ikut campur membaca urusanku?" desis Reina sengit, menatap tajam ke arah Jino yang berdiri jauh lebih tinggi darinya. "Dan apa urusannya kating sepertimu berkeliaran di fakultas sastra dan ekonomi sosial? Kurang kerjaan sekali!"

Jino tidak langsung menjawab. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan abu-abunya, lalu menatap Reina dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sukses membuat harga diri Reina mencuat ke udara.

"Aku tidak kurang kerjaan. Aku kebetulan sedang ada urusan dengan Dekan," jawab Jino tenang, namun ada nada angkuh yang kental di setiap kata yang diucapkannya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Reina, membuat gadis itu reflek sedikit mundur ke belakang. "Dan soal urusan kita... kelihatannya calon tunanganku ini hidupnya sangat berantakan. Pantas saja ayahmu buru-buru ingin menyerahkanmu padaku agar ada yang mengurus."

Mendengar kalimat itu, ubun-ubun Reina serasa mendidih. Ia sudah cukup stres karena revisi skripsi, dan sekarang pria es batu ini dengan sengaja datang untuk merusak kewarasannya lebih jauh lagi.

"Dengar ya, Tuan Muda Jino yang sok tahu!" Reina mendesis tajam, menunjuk tepat di dada bidang Jino dengan jari telunjuknya. "Aku tidak butuh diurus oleh pria arogan sepertimu! Kalau bukan karena menghormati Ayah, aku sudah pasti menolak perjodohan konyol ini sejak hari pertama! Jadi, berhenti menguntitku dan berhenti bersikap seolah-olah kau adalah pemilik hidupku!"

Alih-alih marah atau tersinggung karena ditunjuk-tunjuk di tengah koridor kampus yang mulai ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, Jino justru tersenyum miring. Senyuman itu tampak berbahaya, menunjukkan bahwa ia justru menikmati reaksi meledak-ledak dari gadis di depannya. Bagi Jino, Reina ibarat kucing liar yang mencakar-cakar, sangat kontras dengan wanita-wanita lain yang selalu bersikap manis dan tunduk di hadapannya demi mendapatkan perhatian.

"Menolak perjodohan?" Jino mengulangi ucapan Reina dengan suara berbisik yang menggoda namun penuh penekanan. Ia meraih tangan Reina yang tadi menunjuk dadanya, lalu menurunkan jari itu perlahan dengan gerakan tangan yang tegas namun tanpa perlawanan berarti. "Sayang sekali, Reina Lunox. Mulai hari ini, surat perjanjian pertunangan itu sudah ditandatangani oleh kedua orang tua kita. Kau tidak punya pilihan lain selain menjadi milikku."

Sebelum Reina sempat membalas ucapan atau melepaskan tangannya, Jino berbalik begitu saja, meninggalkan Reina yang berdiri mematung di tengah koridor dengan dada naik-turun menahan amarah yang hampir meledak.

Sialan! Pria itu benar-benar menguji batas kesabaranku! batin Reina mengepalkan kedua tangannya erat-erat, bersumpah dalam hati bahwa ia akan membuat hidup Jino sama kacaunya dengan jadwal revisi skripsinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!