Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kembali ke masa lalunya.
Perlahan ia mulai menuju ke kekuatan aslinya di kehidupan pertamanya. Kini bahkan ia dikenal sebagai salah satu dari Lima Raja Dunia. Seseorang dengan pengaruh dan kekuatan yang luar biasa.
Petualangannya terus dimulai. Ia kini menuju sebuah pulau misterius yang berisi harta karun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maju Kalian Semua
Seorang murid yang berada tidak jauh dari tempat pemuda itu tergeletak menatap tubuh rekannya dengan mata terbelalak.
"Mustahil..."
Suaranya bergetar.
"Dia... benar-benar mati?"
Beberapa murid lain yang mengenal pemuda tersebut juga langsung berubah ekspresi. Mereka tidak menyangka rekannya yang merupakan murid inti akan mati hanya dalam satu serangan.
"Kau membunuhnya!"
"Berani sekali kau!"
"Jangan biarkan dia pergi!"
Kemarahan segera menguasai mereka.
Beberapa murid yang merupakan kenalan pemuda yang baru saja dibunuh langsung mencabut pedang mereka. Tanpa memikirkan perbedaan kekuatan, mereka bergerak bersama dan menyerang Boqin Changing.
Wusss! Wusss!
Beberapa bilah pedang menebas dari berbagai arah.
Namun Boqin Changing bahkan tidak terlihat tergesa-gesa. Tubuhnya bergerak ringan. Satu langkah ke samping kemudian sedikit menundukkan kepala.
Pedang lain melewati bahunya. Ia berputar dan kembali menghindari serangan berikutnya. Semua gerakan para murid itu terlihat begitu lambat di matanya.
Boqin Changing terus bergerak di antara mereka dengan santai. Tidak satu pun pedang berhasil menyentuh tubuhnya. Kemudian ia mulai menyerang.
Bum!
Satu pukulan menghantam dada seorang murid. Tubuh murid tersebut langsung terdiam sebelum jatuh ke tanah.
Boqin Changing berbalik.
Bum!
Pukulan berikutnya mengenai seorang murid lainnya.
Tubuhnya langsung roboh.
Bum!
Bum!
Bum!
Dalam waktu singkat, satu demi satu murid yang menyerangnya jatuh ke tanah setelah menerima satu pukulan dari Boqin Changing.
Tidak ada yang mampu bertahan. Tidak ada yang mampu melarikan diri. Setiap kali Boqin Changing menggerakkan tangannya, satu nyawa anggota Sekte Darah Bulan Hitam berakhir.
Murid-murid lain menatap pemandangan tersebut dengan wajah pucat.
"Mereka semua..."
"Mati?"
Beberapa murid yang melihat rekan-rekan mereka tewas kembali dipenuhi kemarahan.
"Jangan diam saja!"
"Serang dia!"
"Kita harus membalas mereka!"
Beberapa murid hendak maju, tetapi suara seorang tetua langsung terdengar keras.
"Berhenti!"
Para murid terpaksa menghentikan langkah mereka.
Seorang tetua berdiri di depan mereka dengan tatapan serius.
"Jangan maju!"
Ia menatap Boqin Changing dengan penuh kewaspadaan.
"Dia bukan lawan yang bisa kalian hadapi."
Murid-murid terdiam.
Sementara itu, seorang tetua lainnya perlahan berjalan keluar dari kerumunan. Tangannya menggenggam pedang. Tatapannya tajam ketika melihat Boqin Changing.
“Bocah, kau terlalu sombong."
Langkahnya terus maju ke arah Boqin Changing. Aura pendekar suci perlahan keluar dari tubuhnya. Beberapa murid yang berada di dekatnya langsung mundur.
Tetua tersebut adalah salah satu ahli kuat Sekte Darah Bulan Hitam. Ranahnya berada di tingkat pendekar suci awal.
Tetua itu langsung mengayunkan pedangnya. Namun kali ini, Boqin Changing tidak menghindar.
Wusss!
Bilah pedang melesat ke arah tubuh Boqin Changing dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan serangan para murid sebelumnya.
Namun tepat ketika pedang itu hampir menyentuh tubuhnya, Boqin Changing mengangkat tangannya.
Tang!
Jari-jarinya langsung menangkap bilah pedang tersebut.
Mata sang tetua membelalak.
"Apa?"
Ia mencoba menarik pedangnya kembali. Namun bilah itu sama sekali tidak bergerak.
Boqin Changing menatapnya dengan tenang. Kemudian tangannya sedikit mengerahkan tenaga.
Krek!
Bilah pedang tersebut langsung patah di tangannya. Suara patahan itu terdengar jelas di tengah kerumunan.
Sang tetua terpaku. Boqin Changing membuang potongan pedang tersebut. Kemudian kakinya bergerak.
Bum!
Satu tendangan menghantam tubuh sang tetua.
Tubuh tetua itu langsung melesat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.
"Ahhh!"
Tubuhnya menghantam sebuah bangunan.
Bum!
Bangunan itu langsung runtuh.
Namun tubuhnya belum berhenti. Ia kembali menghantam bangunan lain.
Bum!
Kemudian bangunan berikutnya.
Bum!
Debu dan pecahan batu berhamburan ke udara. Tubuh sang tetua akhirnya jatuh ke tanah setelah menghantam beberapa bangunan.
Orang itu tidak bergerak. Ia telah mati.
Kesunyian kembali menyelimuti seluruh kawasan Sekte Darah Bulan Hitam. Kali ini, tidak ada seorang pun yang berani tertawa.
Para tetua yang sebelumnya hanya mengamati dari kejauhan akhirnya berubah sikap. Mereka semua maju dan mengambil posisi bertarung.
Tatapan mereka tertuju pada pemuda misterius di depan mereka. Pemuda ini, tidak bisa diremehkan.
Barusan, salah satu tetua mereka yang berada di ranah pendekar suci awal telah mati hanya karena satu tendangan. Tidak ada pertarungan panjang dan tidak ada teknik khusus. Hanya satu tendangan.
Para murid menatap Boqin Changing dengan wajah tidak percaya. Beberapa bahkan mulai mundur tanpa sadar.
Rasa takut perlahan muncul di hati mereka. Pemuda yang sebelumnya mereka anggap gila kini berdiri di tengah sekte mereka seolah-olah tidak ada seorang pun yang mampu mengancamnya.
Boqin Changing mengamati para tetua yang kini bersiap bertarung. Wajahnya tetap tenang. Kemudian ia berkata dengan suara datar,
"Siapa lagi yang mau maju?"
Orang-orang Sekte Darah Bulan Hitam masih terdiam. Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Boqin Changing.
Para murid hanya menatapnya dengan rasa takut yang semakin jelas, sementara para tetua terus mengawasi setiap gerakannya.
Hingga akhirnya, dua orang tetua saling bertukar pandang. Keduanya kemudian melangkah maju.
Sret! Sret!
Mereka langsung menghunuskan pedang masing-masing.
Aura kuat perlahan keluar dari tubuh mereka. Jelas bahwa kedua tetua tersebut berniat menghadapi Boqin Changing secara bersamaan.
Namun sebelum keduanya sempat bergerak, guncangan ringan tiba-tiba terasa di seluruh kawasan sekte.
Grrr...
Tanah bergetar. Beberapa bangunan ikut bergoyang. Debu berjatuhan dari atap-atap bangunan, sementara bebatuan kecil di tanah bergerak dan bergeser.
"Apa?"
"Gempa?"
Para murid yang semula ketakutan mendadak berhenti bergerak.
Namun ekspresi mereka perlahan berubah. Bukan ketakutan melainkan kegembiraan.
"Hehehe..."
"Patriak!"
"Patriak telah keluar!"
"Ini adalah aura pendekar bumi milik Patriak!"
Suara sorakan mulai terdengar dari berbagai penjuru. Para murid yang sebelumnya mundur kini justru menunjukkan keberanian mereka kembali.
Mereka semua mengetahui sumber tekanan tersebut. Patriak Sekte Darah Bulan Hitam, Mo Shi!
Pemimpin sekte yang telah memimpin Sekte Darah Bulan Hitam selama bertahun-tahun. Ia adalah seorang ahli yang telah mencapai ranah pendekar bumi.
Getaran tanah semakin kuat selama beberapa saat. Kemudian sebuah sosok tiba-tiba muncul dari kejauhan. Sosok itu turun dari langit dengan kecepatan tinggi.
Wusss!
Jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Tubuhnya perlahan turun dan akhirnya mendarat di tengah kawasan sekte.
Bum!
Kedua kakinya menyentuh tanah. Tekanan kuat langsung menyebar ke segala arah.
Beberapa murid segera berlutut. Para tetua juga menundukkan kepala dengan hormat.
"Salam, Patriak!"
"Salam, Patriak!"
Suara mereka terdengar hampir bersamaan.
Mo Shi tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju ke depan.
Di sana berdiri seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Kemudian pandangan Mo Shi bergerak ke sekeliling. Ke arah mayat-mayat murid berserakan di tanah.
Beberapa murid inti yang baru saja tewas tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Beberapa bangunan juga telah hancur akibat serangan sebelumnya.
Tatapan Mo Shi menjadi semakin dingin. Ia kembali melihat Boqin Changing. Pemuda itu berdiri dengan tenang seolah-olah semua yang terjadi di sekelilingnya bukanlah sesuatu yang perlu diperhatikan.
Mo Shi mengerutkan kening. Ia tidak mengetahui siapa pemuda tersebut. Namun melihat kondisi sektenya, ia langsung memahami bahwa semua kekacauan ini pasti berhubungan dengan pemuda di depannya.
"Bocah..."
Suara Mo Shi terdengar berat. Ia menatap Boqin Changing dengan tatapan penuh kemarahan.
"Kau benar-benar kelewatan..."