Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung Walet
“Nona Silvia.” Suara seorang pelayan keluarga Devallion terdengar dari balik pintu, disusul ketukan pelan.
Silvia buru-buru memasukkan buku itu ke dalam tas, “Ada apa, Bik Wulan?”
Wulan tetap berdiri di ambang pintu. Ia sama sekali tidak berani melangkah masuk ke dalam kamar.
Dulu, Chris pernah mengatakan bahwa selain ibunya dan Silvia, tidak seorang pun diperbolehkan masuk ke kamarnya.
Silvia menunduk dan terkekeh pelan. Tak disangka, masih ada orang yang mengingat kebiasaannya.
Wulan tersenyum sopan, “Makan siang sudah siap. Nyonya meminta saya mengantar Anda turun.”
Silvia mengangguk singkat, “Baik.”
Di meja makan.
Sosok yang duduk di kursi utama langsung menarik perhatian Silvia, Theodore Devallion.
Begitu mendengar langkah kaki dari arah tangga, Theodore perlahan mengangkat kepalanya. Saat melihat Silvia, wajahnya yang tampak lelah akhirnya menunjukkan sedikit kehangatan, “Silvia, kamu sudah datang.”
Silvia diam-diam menekan perasaan yang bergejolak dari dasar matanya. Ia berusaha mengangkat sudut bibirnya dan berjalan menghampiri sang kakek. Ia duduk di samping Theodore, “Kakek, kakek sudah pulang.”
Theodore tersenyum penuh kasih. Tangannya perlahan merapikan helaian rambut Silvia yang jatuh di dekat telinganya, “Kakek dengar dari Rosie kalau kamu mau pergi ke luar negeri ya?”
Silvia menundukkan kepala dengan rasa bersalah. Ia tidak berani menatap mata Theodore, “Maaf, Kek. Beberapa tahun ke depan...mungkin aku tidak bisa menemani Kakek lagi.”
Theodore tersenyum, tetapi kerutan di sudut matanya seolah bertambah dalam hanya dalam semalam, “Tidak apa-apa kok. Lagipula, Kakek sekarang juga tidak punya banyak kesibukan. Kalau begitu, nanti Kakek saja yang pergi ke luar negeri untuk mencarimu.”
Silvia mengangguk patuh. Ia mengambil seekor udang yang sudah dikupas dan meletakkannya ke dalam mangkuk Theodore, “Kakek, udangnya manis. Makan yang banyak, ya.”
Theodore menatap udang di dalam mangkuknya. Tatapannya perlahan menerawang. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada seorang pemuda yang dulu selalu tersenyum sambil berkata, “Kakek, makan yang banyak. Kata dokter, udang memiliki protein yang tinggi.”
Makan siang berlangsung dalam keheningan. Theodore hanya makan beberapa suap sebelum akhirnya meletakkan sumpitnya. Ia mengambil tongkatnya dan perlahan berdiri dengan bantuan Mr. Albert.
“Silvia, nanti datang ke ruang kerja kakek sebentar ya.”
Theodore bangkit dengan hati-hati. Dengan bantuan Mr. Albert ia berjalan menuju ruang kerja.
Silvia mengambil piring buah yang baru saja dipotong Wulan, lalu membawanya menuju ruang kerja.
Tok-tok..
“Masuk.”
Silvia mendorong pintu ruang kerja.
Theodore sedang berdiri di depan meja kerja dengan kuas kaligrafi di tangannya.
Sinar matahari sore menembus jendela kayu dan jatuh lembut di rambut putih di pelipis lelaki tua itu.
Tatapan Silvia perlahan bergeser. Di tengah dinding, sebuah foto berukuran besar terpampang jelas. Silvia hanya mengalihkan pandangan tanpa menunjukkan reaksi apa pun, seolah tidak melihat apa-apa.
“Kakek, makan buahnya.”
Theodore masih menggenggam kuas di tangannya. Ia tersenyum tipis, “Silvia, kemari. Lihat ini.”
Melihat Silvia datang, Mr. Albert mundur selangkah dan memberikan tempat untuknya, “Kakek sedang melukis burung walet?”
Kuas yang telah dibasahi tinta kembali menyentuh kertas gambar, menambahkan beberapa sapuan pada sayap burung walet yang sedang terbang. Silvia mengambil batang tinta dari tangan Mr. Albert. Pergelangan tangannya bergerak perlahan, menggosokkan tinta ke atas batu tinta.
“Burung walet selalu mengenali sarangnya. Sejauh apa pun ia terbang, pada akhirnya ia akan kembali.” Theodore menatap burung walet yang tergambar di atas kertas, “Silvia, ada burung yang terlihat seolah terbang semakin jauh. Padahal, sebenarnya...ia hanya sedang terbang semakin tinggi.”
Ia terdiam sejenak, “Jadi, apa pun yang nanti kamu dengar atau lihat, jangan terburu-buru mempercayainya.”
Tangan Silvia yang menggenggam batang tinta terhenti sesaat. Ia hanya menjawab pelan, “Hmm.”
Theodore membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kunci tembaga. Ujung jarinya sampai memutih karena menggenggamnya terlalu erat, “Silvia, kunci ini dulu dititipkan Chris kepada Kakek.”
Ia membuka telapak tangannya dan meletakkan kunci itu ke tangan Silvia, “Ini juga yang dia minta Kakek berikan kepadamu.”