Indonesia
NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan di Antara Batu-Batu Tua

Pegunungan yang membentang di timur Kota Besi Heiyan bukanlah pegunungan biasa. Mereka adalah tulang punggung dunia yang retak, barisan batu granit abu-abu yang menjulang tajam seperti gigi raksasa yang menggerogoti langit. Di sini, udara tipis dan dingin, membawa aroma pinus kering dan salju abadi yang tersisa di celah-celah tebing tertinggi. Tidak ada asap industri. Tidak ada deru mesin. Hanya hening yang begitu pekat hingga terdengar seperti dengungan frekuensi rendah di dalam telinga.

Ren Zexian mendaki dengan napas yang memburu. Kakinya terasa berat, setiap langkah menanjak melawan gravitasi dan kelelahan yang menumpuk sejak mereka meninggalkan kota. Di belakangnya, Lin mengikuti dengan setia, meski wajahnya pucat karena ketinggian. Gadis kecil itu tidak mengeluh. Sejak peristiwa di Menara Jam, ada ketenangan baru dalam dirinya, seolah-olah ia telah menemukan tujuan yang melampaui rasa sakit fisiknya.

"Kita hampir sampai," kata Ren, menunjuk ke sebuah celah sempit di antara dua puncak batu yang tampak mustahil untuk dilewati manusia biasa. "Bao bilang jalannya ada di sana. Lembah Senyap tersembunyi di balik ilusi optik."

Lin mengangguk, matanya yang bercincin perak menyipit menatap celah itu. "Aku merasakannya, Kak. Ada... keheningan yang berbeda di sana. Bukan kosong. Tapi penuh."

Mereka memanjat tebing curam terakhir, jari-jari mereka mencengkeram celah batu yang licin oleh lumut beku. Saat mereka mencapai bibir celah, angin kencang berhembus, hampir menjatuhkan mereka. Tapi begitu mereka melangkah masuk ke dalam celah itu, angin berhenti mendadak.

Dunia di balik celah batu itu berubah.

Mereka tidak berada di lembah hijau yang subur seperti yang dibayangkan Ren. Sebaliknya, mereka berdiri di atas dataran batu luas yang ditutupi oleh ribuan pilar batu berbentuk aneh, menyerupai kaligrafi raksasa yang terpahat oleh alam selama jutaan tahun. Batu-batu itu berwarna putih pucat, berkilau samar di bawah cahaya matahari yang redup. Dan yang paling menakjubkan: tidak ada suara sama sekali. Tidak ada kicau burung, tidak ada desau angin, bahkan suara langkah kaki mereka sendiri seolah-olah diserap oleh tanah.

Ini adalah Lembah Senyap. Tempat di mana suara tidak berani hidup.

Di tengah dataran batu itu, terdapat sebuah kompleks bangunan sederhana yang terbuat dari kayu tua dan batu hitam. Atapnya rendah, menyatu dengan lanskap. Di halaman depan, seorang pria tua duduk bersila, memandangi sebuah kolam air jernih yang permukaannya datar sempurna seperti kaca.

Pria itu mengenakan jubah kasar berwarna cokelat tanah. Rambutnya putih panjang, diikat sederhana. Ia tidak menoleh saat Ren dan Lin mendekat.

"Selamat datang, Pembawa Kebisingan," kata pria tua itu, suaranya terdengar langsung di pikiran mereka, lembut namun berwibawa. "Kalian membawa badai di dalam dada kalian."

Ren berhenti beberapa meter darinya, membungkuk hormat. "Kami mencari Biara Kaligrafi Kuno. Kami dikirim oleh Bao dari Kota Heiyan."

Pria tua itu akhirnya menoleh. Matanya tertutup, tapi ekspresinya tenang. "Bao... anak yang cerewet itu masih hidup? Bagus. Namaku adalah Master Jian. Penjaga terakhir dari Aliran Tinta Murni."

Ia membuka matanya. Iris matanya berwarna abu-abu polos, tanpa kilau, seolah-olah melihat langsung ke dalam jiwa.

"Kalian datang karena The Fade," lanjut Jian, bukan bertanya, tapi menyatakan fakta. "Dan kalian membawa obatnya di dalam tubuh gadis kecil itu."

Tatapannya beralih ke Lin. Lin merasa telanjang di bawah tatapan itu, seolah-olah semua rahasianya terbaca. Tapi ia tidak merasa takut. Ia merasa... dipahami.

"Bisakah Anda menyembuhkannya sepenuhnya?" tanya Ren, suaranya bergetar harap. "Menghilangkan efek samping Tinta Inti selamanya?"

Master Jian menggeleng perlahan. "Menyembuhkan? Tidak. Tinta Inti telah menjadi bagian dari jiwanya. Menghapusnya berarti menghapus sebagian dari dirinya. Yang bisa kami lakukan adalah mengajarkan dia bagaimana menjadi tuan atas tinta itu, bukan budaknya. Mengubah kutukan menjadi berkah."

Ren menghela napas lega. Itu lebih dari yang ia harapkan. "Apa yang harus kami lakukan?"

"Pertama," kata Jian, bangkit dengan gerakan lambat dan anggun, "kalian harus membersihkan kebisingan di dalam diri kalian. Di sini, di Lembah Senyap, pikiran kalian adalah suara yang paling keras. Jika pikiran kalian kacau, lingkungan ini akan menolak kalian. Batu-batu ini akan menghancurkan kalian."

Seolah menjawab ucapannya, tanah di bawah kaki Ren bergetar. Pilar-pilar batu putih di sekitarnya mulai bergeser, membentuk labirin yang mengancam akan menjebak mereka.

"Ujian pertama," kata Jian datar. "Diamkan pikiran kalian. Jika kalian gagal, kalian akan terperangkap di sini selamanya, menjadi patung batu baru di lembah ini."

Ren menelan ludah. Ini terdengar seperti Terowongan Gema, tapi lebih berbahaya. Di Terowongan Gema, musuh adalah ketakutan eksternal. Di sini, musuh adalah kekacauan internal.

"Duduklah," perintah Jian. "Hadapi dirimu sendiri."

Ren dan Lin duduk bersila di atas batu dingin. Ren menutup matanya, mencoba mengosongkan pikirannya. Tapi pikirannya penuh dengan gambar-gambar: wajah Elder Han yang marah, teriakan rakyat di Kota Heiyan, janji pada Bao, ketakutan akan masa depan. Pikiran-pikiran itu berputar cepat, menciptakan kebisingan mental yang menyakitkan.

Tanah di bawahnya semakin bergetar. Retakan-retakan kecil muncul di batu tempat ia duduk.

Aku tidak bisa, pikir Ren panik. Terlalu banyak.

Tiba-tiba, ia merasakan kehangatan di tangannya. Lin memegang tangannya erat-erat. Melalui koneksi batin mereka, Ren merasakan ketenangan Lin. Gadis kecil itu tidak berjuang melawan pikirannya. Ia menerimanya. Ia membiarkan pikiran-pikiran itu datang dan pergi seperti awan di langit.

Ikuti aku, Kak, bisik Lin dalam pikiran Ren. Jangan tahan. Biarkan mengalir.

Ren menarik napas dalam-dalam. Ia berhenti mencoba menekan pikirannya. Ia mengamati mereka. Ia melihat kemarahannya pada Klan Naga, lalu melepaskannya. Ia melihat rasa bersalahnya pada orang tuanya, lalu menerimanya sebagai bagian dari sejarah, bukan beban masa kini. Ia melihat cintanya pada Lin, dan alih-alih menjadikannya sumber kecemasan, ia menjadikannya sumber kekuatan yang stabil.

Perlahan-lahan, kebisingan di kepalanya mereda. Yang tersisa hanyalah keheningan murni. Jernih. Dingin. Damai.

Getaran tanah berhenti. Retakan di batu menghilang. Pilar-pilar batu kembali ke posisi semula.

Ren membuka matanya. Dunia terlihat lebih tajam, lebih jelas. Ia merasa ringan, seolah-olah beban tonase telah diangkat dari bahunya.

Master Jian tersenyum tipis. "Bagus. Kau telah belajar pelajaran pertama: Kekuatan sejati bukan berasal dari menahan arus, tapi dari menjadi air itu sendiri."

Ia menatap Lin. "Dan kau, anak kecil. Kau sudah melakukannya secara alami. Anomali-mu bukan cacat. Itu adalah kemampuan untuk mendengar suara dunia yang lain. Suara yang kami, para biarawan, coba dengar melalui meditasi seumur hidup."

Lin tersenyum malu-malu. "Saya hanya mendengarkan, Tuan."

Jian mengangguk. "Maka mari kita mulai pelatihan sesungguhnya. Selama bulan berikutnya, kalian akan tinggal di sini. Kalian akan belajar Kaligrafi Jiwa—seni menulis realitas bukan dengan tinta di kertas, tapi dengan niat di dalam jiwa. Jika kalian berhasil, Lin akan mampu mengendalikan energinya sepenuhnya. Dan Ren... kau akan menemukan gaya bertarungmu yang sejati. Bukan sebagai penghancur, tapi sebagai penyeimbang."

Ren menatap Lin. Mata gadis kecil itu bersinar penuh harapan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ren tidak merasa sendirian menghadapi kegelapan. Ia memiliki guru. Ia memiliki tempat aman. Dan yang paling penting, ia memiliki waktu.

"Kami siap," kata Ren, suaranya tegas dan jernih, bergema indah di lembah yang sunyi.

Master Jian menunjuk ke arah biara. "Masuklah. Malam akan turun. Dan di Lembah Senyap, malam adalah saat di mana kebenaran paling sering berbicara."

Mereka bangkit, mengikuti pria tua itu menuju bangunan kayu tua. Di belakang mereka, matahari terbenam di balik puncak gunung, mewarnai langit dengan ungu dan emas. Badai di luar mungkin masih mengamuk, perang dengan Klan Naga mungkin belum berakhir. Tapi di sini, di antara batu-batu tua yang bisu, dua jiwa yang retak mulai menyatu kembali, ditempa oleh keheningan yang menyembuhkan.

Perjalanan mereka menuju puncak kekuatan baru telah dimulai. Dan kali ini, mereka tidak akan menulis kisah mereka dengan darah, tapi dengan kebijaksanaan.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!