Indonesia
NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Pengumuman itu bagai petir di siang bolong bagi warga desa. Suasana pagi ini memang cerah, namun hati warga di selimuti awan duka yang terasa begitu kelam. Belum sempat suara Kyai Umar sepenuhnya reda, pintu-pintu rumah warga mulai terbuka lebar. Tanpa perlu dikomando atau diminta oleh siapapun, warga berbondong-bondong keluar rumah. Ada yang bergegas menuju ke kediaman Pak Harto untuk menyiapkan tenda, sebagian lainnya langsung membawa cangkul dan peralatan menuju area pemakaman umum.

Suasana pagi di halaman rumah Pak Harto mendadak ramai oleh lautan manusia yang berduka. Di sudut halaman, para warga saling bahu-membahu mendirikan tenda duka, sementara di pemakaman, suara hantaman cangkul menggali tanah kuburan beradu dengan isak tangis tertahan.

Di tengah kesibukan warga yang menyiapkan segala keperluan, beberapa tetangga berkumpul di teras rumah, merenungi kepergian sang mantan kepala desa sambil berbisik lirih dalam balutan duka.

"Ya Allah, tidak menyangka Pak Harta secepat ini meninggalkan kita," ucap Pak Dirman, seorang petani setempat, sambil menggelengkan kepala tak percaya seraya menyeka pelipisnya. "Padahal minggu lalu beliau masih sempat mampir ke sawah, membawakan saya air minum dan menanyakan hasil panen."

Bu Siti, yang berdiri di sampingnya dengan mata sembab, ikut mengusap air matanya menggunakan ujung kerudung. "Iya, Pak Dirman. Bapak itu orang baiknya luar biasa. Ingat tidak waktu anak saya mau operasi tapi kita tidak punya biaya? Beliau diam-diam melunasi semuanya tanpa mau satupun warga tahu. Kalau bukan karena kebaikan beliau, entah bagaimana nasib keluarga saya waktu itu."

"Beliau memang pemimpin sejati," timpal Pak RT dengan suara parau, menatap nanar ke arah jalan desa menanti ambulan yang membawa jenazah. "Tiga periode beliau memimpin desa ini, tidak pernah sekalipun beliau memanfaatkan jabatan untuk kepentingan sendiri. Semua dipikirkan—kesejahteraan petani, sekolah anak-anak, sampai jalan desa ini diaspal juga berkat kegigihan beliau."

Bisikan-bisikan duka itu terus bersahut-sahutan, dipenuhi rasa kehilangan yang begitu nyata. Di desa itu, Pak Harto bukan sekadar mantan kepala desa; beliau adalah ayah, pelindung, dan pilar bagi seluruh warga. Dan kini, pilar kokoh itu telah runtuh, meninggalkan duka yang teramat kelam di hati setiap orang yang mengenal budi baiknya.

.

.

.

Sirine ambulan yang membawa jenazah almarhum Pak Harto akhirnya memasuki gerbang Desa Bojasari jelang siang hari. Begitu mobil berhenti di halaman rumah duka, isak tangis ratusan warga yang telah berkumpul langsung pecah secara bersamaan. Lambaian tangan gemetar dan linangan air mata menyambut kedatangan peti jenazah yang diturunkan secara perlahan oleh keluarga dan warga.

Setelah proses pemulasaraan dan shalat jenazah di rumah duka, jenazah almarhum dibawa ke masjid desa untuk disalatkan kembali secara berjemaah. Suasana di dalam dan halaman masjid dipadati oleh lautan manusia. Shalat jenazah hari itu tercatat sebagai yang paling ramai dan penuh sesak sepanjang sejarah desa tersebut.

Di saf depan, Pak Wibowo bersama Theo berdiri dengan mata sembab, berusaha tegar di tengah lautan jemaah. Selesai salam, isak tangis kembali bergemuruh di dalam masjid. Beberapa warga tampak saling berbisik penuh haru di teras masjid.

"Luar biasa... Lihatlah betapa banyak yang mengantarkan beliau," bisik Pak Dirman kepada Pak RT sambil menyeka air matanya dengan ujung lengan baju koko putihnya. "Dari ujung desa sebelah sampai pemuda-pemuda karang taruna, semua datang. Belum pernah saya lihat shalat jenazah sesak ini."

"Itu bukti nyata kemuliaan hati almarhum, Pak Dirman," jawab Pak RT dengan suara parau, menatap peti jenazah yang mulai dipanggul bersama-sama. "Semasa hidupnya, hidup beliau diabdikan sepenuhnya untuk menolong orang lain. Wajar jika hari ini langit dan bumi seolah ikut melepas kepergian beliau."

Usai dishalatkan, prosesi dilanjutkan menuju tempat pemakaman umum. Hampir seluruh warga desa—tua, muda, laki-laki, dan perempuan—turut berjalan kaki beriringan mengantarkan jenazah Pak Harto ke peristirahatan terakhir. Langkah kaki yang berat diiringi kumandang kalimat tahlil *“La ilaha illallah”* menggema syahdu sepanjang jalan setapak menuju pemakaman, seolah mengantar kepergian sang pemimpin yang sangat dicintai.

Setibanya di kompleks pemakaman, liang lahat yang telah digali sejak pagi siap menerima kepulangan sang legenda desa. Dengan penuh kehati-hatian, Theo sang cucu kesayangan yang di bantu oleh Ayahnya dan juga Joko bersama beberapa warga menurunkan jenazah Pak Harto ke dalam pusara. Theo menahan isak tangisnya saat dengan tangannya sendiri mulai meletakkan satu persatu papan penutup liang lahat, ia menatap ke arah jenazah Kakek nya untuk yang terakhir kali sebelum ia kembali naik dan tanah pun mulai menutupi liang kubur Pak Harto.

Setelah gundukan tanah dirapikan dan taburan bunga harum disebar di atas pusara, Kyai Umar memimpin doa penutup dengan suara yang bergetar penuh kekhusyukan. Ratusan pasang tangan menengadah, mengaminkan setiap doa agar almarhum diterima di sisi-Nya.

Hingga akhirnya, satu per satu warga mulai meninggalkan area pemakaman dengan langkah berat dan hati yang kosong. Prosesi pemakaman berjalan dengan sangat lancar, mengantarkan Pak Harto menuju keabadian dalam dekapan doa dan cinta dari seluruh masyarakat Desa Bojasari.

.

.

.

Hari beranjak malam, dan hiruk-pikuk kedatangan para pelayat perlahan mereda seiring selesainya rangkaian pengajian dan doa bersama yang digelar di ruang tengah. Satu per satu tetangga dan sanak saudara berpamitan pulang, meninggalkan keheningan yang pekat di dalam rumah warisan Pak Harto.

Di rumah tua yang berdiri kokoh berarsitektur klasik itu, keluarga inti kini berkumpul. Theo, Pak Wibowo, Bu Ani, Kiki, Bu Sri dan Tiara memutuskan untuk bermalam di sana demi menemani Bu Sri.

Selesai membersihkan diri dan merapikan sisa-sisa pengajian, Theo melangkah pelan keluar ke arah beranda depan. Rumah tua milik Pak Harto itu tampak begitu megah dan kokoh, dengan pilar-pilar besar yang menyangga atap tinggi dan halaman yang luas. Di tempat inilah, setiap sudutnya menyimpan jejak sang kakek.

Namun, di balik gelombang kenangan manis itu, ingatan Theo tiba-tiba terseret kembali pada pesan terakhir sang kakek di ranjang rumah sakit: permintaan agar Theo menempati rumah ini, merawat neneknya -Bu Sri, dan keyakinan Pak Harto bahwa hanya Theo yang mampu mengendalikan hal-hal mistis di rumah tersebut.

Theo menelan ludah, meresapi keheningan malam yang terasa berbeda dari biasanya—sebuah awal dari babak baru kehidupannya di rumah peninggalan sang legenda.

Theo mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sakunya, lalu mulai mengambil sebatang dan menyalakan. Kepulan tipis asap rokok melayang di udara malam, membubur ke dalam kegelapan halaman rumah warisan Pak Harto. Theo duduk termenung di undakan teras, disudut lain rumah Pak Harto, beberapa warga desa yang setia termasuk Joko berjaga dan menemani keluarga di malam pertama kepergian almarhum.

Dari balik pintu utama yang terbuka setengah, Pak Wibowo melangkah keluar membawa dua cangkir kopi hangat. Ia mengedarkan pandangan sejenak pada para warga yang duduk berdiskusi pelan di pos ronda darurat halaman, lalu berjalan menghampiri anak tunggalnya.

"Minum dulu, Le. Udara malam di sini lumayan dingin," ucap Pak Wibowo lembut sambil menyodorkan salah satu cangkir kopi kepada Theo.

Theo mendongak, menerima cangkir tersebut dengan sebelah tangan. "Terima kasih, Yah."

Pak Wibowo ikut duduk di samping Theo. Ia menarik napas panjang, menatap megahnya pilar-pilar kayu rumah tua itu sebelum menoleh kepada sang anak. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa lebih intim, terpisah dari obrolan para warga yang lain.

"Theo... Ayah ingin bicara soal pesan mendiang Kakung di rumah sakit kemarin," suara Pak Wibowo mulai serius, namun tetap tenang. Tak lupa Pak Wibowo juga mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya dan menyalakan sebatang rokok.

Theo menunduk, menatap cairan hitam di dalam cangkirnya. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Wasiat Kakung sudah sangat jelas, Le," lanjut Pak Wibowo. "Rumah ini, beserta seluruh peternakan di belakang, harus kamu yang menjaga dan meneruskannya. Tadi di dalam, Ayah juga sudah berdiskusi dengan ibu, adik, dan juga nenekmu. Kami semua sepakat... seluruh aset dan peninggalan Kakung ini resmi akan menjadi milikmu."

Mendengar itu, Theo langsung menggelengkan kepala. Ia meletakkan cangkirnya di samping tangga dengan gerakan agak cepat.

"Nggak bisa gitu, Yah," protes Theo dengan suara parau namun tegas. "Ayah ini anak kandung Kakung. Ayah yang lebih berhak atas semua ini, bukan Theo. Rasanya tidak adil kalau Theo yang langsung menerima semuanya, lagipula, Theo juga memiliki rumah dan pekerjaan di Jakarta yah, Theo nggak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab Theo disana."

Pak Wibowo tersenyum tipis. Ia merangkul pundak anaknya dengan penuh kasih, meredam penolakan Theo.

"Le, dengarkan Ayah,"

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!