Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KORIDOR SEKOLAH DAN CATATAN YANG TERTINGGAL

Suasana SMA Garuda siang itu terasa lumayan terik. Bel istirahat pertama baru saja berbunyi memecah keheningan koridor. Suara riuh para siswa yang berhamburan keluar kelas memenuhi lorong-lorong bangunan berlantai dua tersebut.

Aluna melangkah keluar dari kelas 11 IPS 2 bersama pacar—maksudnya sahabat karibnya, Maya. Tangan Maya merangkul lengan Aluna erat-erat sambil mengoceh tentang tugas Geografi yang menumpuk.

"Na, gila ya Bu Ratna, baru juga minggu ketiga udah ngasih tugas Kliping Sejarah Dunia sejilid ensiklopedia!" keluh Maya dramatis. "Mau nangis rasanya."

Aluna terkekeh pelan. "Namanya juga Bu Ratna, May. Nanti sore kita kerjain bareng aja di perpustakaan kalau kamu bingung."

"Wah, penyelamatku!" Maya memeluk lengan Aluna lebih kencang.

Namun langkah mereka terhenti saat melewati area koridor utama yang menghubungkan gedung IPA dan IPS. Di depan papan pengumuman besar, kerumunan anak-anak kelas 10 dan 11 tampak sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka, Devan berdiri bersama dua teman tim basketnya.

Devan tampak sangat menonjol dengan postur tubuhnya yang tinggi, mengenakan kemeja putih yang digulung rapi sampai siku dan papan dada berlogo OSIS. Ia sedang menjelaskan jadwal latihan basket untuk anggota baru dengan suara yang tenang namun tegas.

"Sumpah ya, Kak Devan tuh gantengnya makin-makin pas kelas 12," bisik Maya mendadak heboh sambil menyenggol bahu Aluna. "Gak heran cewek-cewek kelas sepuluh pada melotot gitu. Udah pinter, kapten basket, anak OSIS lagi. Tipe idaman banget gak sih, Na?"

Aluna tersentak. Pandangannya tak sengaja beradu dengan mata Devan yang saat itu juga sedang menoleh ke arah koridor.

Mengingat 'peraturan rahasia' yang mereka buat di parkiran tadi pagi, Aluna buru-buru membuang muka, berpura-pura sangat tertarik melihat deretan piala di dalam etalase kaca dekat tangga.

"B-biasa aja ah, May," sahut Aluna mencoba terdengar secasual mungkin, meski detak jantungnya mendadak tidak bisa diajak kompromi.

"Iya sih, dengar-dengar dia dingin banget kalau sama cewek. Mana pernah kelihatan pacaran," lanjut Maya tanpa curiga. "Tapi eh, Na, bukannya orang tua kamu sama orang tuanya Kak Devan baru aja nikah? Berarti sekarang kamu satu rumah dong sama dia?"

Pertanyaan Maya yang mendadak membuat Aluna hampir tersedak ludahnya sendiri. Pipinya memerah panik. "O-oh... itu... iya, kan orang tua kita emang nikah. Tapi kita... ya biasa aja, kayak saudara pada umumnya."

"Enak banget ya punya kakak ganteng begitu! Kalau aku jadi kamu, pasti tiap hari betah di rumah," goda Maya tertawa pelan.

Aluna hanya bisa tersenyum canggung. Betah sih betah, batinnya, tapi tiap detik rasanya mau serangan jantung.

Dari kejauhan, Devan memperhatikannya. Ia melihat betapa paniknya Aluna saat menjawab pertanyaan Maya. Sudut bibir Devan terangkat amat tipis—hampir tak terlihat—sebelum ia kembali fokus pada adik-adik kelas di depannya.

Jam pelajaran terakhir selesai pukul tiga sore. Kebanyakan siswa sudah berhamburan pulang, menyisakan area perpustakaan yang tenang dan hening.

Aluna duduk di salah satu sudut meja panjang dekat jendela besar yang menghadap ke taman dalam sekolah. Di depannya menumpuk tiga buku referensi Sejarah. Angin sore berembus pelan menerobos celah jendela, menerbangkan beberapa helai anak rambut di dahi Aluna.

"Aduh, buku ensiklopedia zaman Renaissance-nya di rak mana ya?" gumam Aluna pelan pada dirinya sendiri.

Ia berdiri, berjalan menyusuri lorong-lorong rak buku yang tinggi dan temaram. Ketika sampai di rak bagian Sejarah Dunia, Aluna mendongak. Buku yang dicarinya bertengger di rak paling atas, sedikit jauh dari jangkauan tangannya.

Aluna berjinjit, mengulurkan tangan kanan sedapat mungkin. Tangannya hanya mampu menyentuh tepi bawah sampul buku tebal itu.

Saat ia hampir menyerah dan berniat mencari bangku kecil, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menyelimuti tubuhnya dari belakang.

Sebuah lengan berotot dengan kemeja putih terulur dengan mudah melintasi atas kepala Aluna, menggapai buku tebal itu tanpa kesulitan.

Aluna membeku. Punggungnya hampir menempel pada dada bidang seseorang di belakangnya. Aroma wangi maskulin khas mint dan sabun mandi yang sangat ia kenali langsung merayap masuk ke inderanya.

"Nyari yang ini?" suara berat dan berkarakter itu berbisik lembut tepat di atas kepalanya.

Aluna berbalik cepat, dan gerakannya membuat jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Devan berdiri tepat di hadapannya, memegang buku ensiklopedia tebal itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya bertumpu pada pinggiran rak buku—secara tidak langsung mengurung Aluna di antara tubuhnya dan rak.

"K-Kak Devan?!" bisik Aluna panik, matanya bergerak liar menatap sekitar, takut ada petugas perpustakaan atau siswa lain yang melihat. "Ngapain di sini? Nanti kalau ada yang lihat gimana?"

"Perpustakaan udah sepi, Aluna," balas Devan santai. Matanya menatap wajah panik Aluna dengan binar geli yang jarang diperlihatkan pada orang lain. "Dan bukannya kamu yang butuh buku ini?"

Devan menyerahkan buku tebal itu ke pangkuan tangan Aluna.

"Makasih..." gumam Aluna pelan, menyembunyikan wajahnya di balik buku tebal itu demi menutupi rona merah di pipinya. "Tapi Kak Devan kok tahu aku di sini?"

"Aku lihat kamu jalan ke perpustakaan tadi sama Maya. Pas Maya pulang duluan, aku masuk," jelas Devan jujur. Ia tidak memundurkan langkahnya sama sekali, justru makin mengamati raut canggung adik tirinya.

Devan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah lembar kertas lipat berwarna biru muda yang sudah terisi tulisan tangan yang sangat rapi. Ia menyelipkan kertas itu ke dalam buku catatan yang dipegang Aluna.

"Apa ini?" tanya Aluna bingung.

"Rangkuman bab tiga dan empat buat tugas Sejarahmu. Daripada kamu pusing nyari di buku segede gini sampai malam," jawab Devan tenang.

Aluna membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya tertulis poin-poin penting lengkap dengan garis bawah warna-warni dan penjelasan singkat yang sangat mudah dipahami. Coretan tangan Devan yang tegas dan bersih menghiasi tiap garisnya.

"Kakak... ngetik dan ngerangkum ini kapan?" Aluna menengadah, matanya berbinar tak percaya. Rangkuman ini pasti memakan waktu cukup lama di tengah kesibukan Devan sebagai anak kelas 12.

Devan mengusap tengkuknya canggung, sedikit membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan sedikit rona hangat di wajahnya sendiri. "Semalam. Pas kamu tidur."

Jantung Aluna rasanya melompat dari tempatnya. Perhatian-perhatian kecil Devan yang tak terduga seperti inilah yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan dirinya.

"Inget perjanjian kita kan?" bisik Devan kembali menatap Aluna, nadanya berubah menjadi lebih lembut. "Di sekolah kita pura-pura nggak kenal dekat... tapi aku nggak pernah bilang aku gak boleh merhatiin kamu dari jauh."

Aluna terpaku. Kalimat Devan menggantung di udara perpustakaan yang sunyi, meninggalkan sensasi manis yang meletup-letup di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!