**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001
Sisa yang Cuma Lelah
“Suamiku semalam kayak banteng, Ras. Aku sampai nggak tidur.”
Suara Tiara mengalir santai dari ponsel, disusul tawa kecil dan bunyi es beradu dengan gelas. Mungkin sahabatnya itu sedang berbaring di sofa apartemen sambil minum jus dingin. Sementara Laras duduk kaku di dekat jendela kereta, memeluk tas di pangkuan agar tidak terlempar setiap roda menghantam sambungan rel.
“Kamu malah ketawa,” kata Laras.
“Habis mau gimana? Badanku remuk. Nanti kalau kamu sudah sampai, pijitin aku, ya.” Tiara menguap tanpa ditahan. “Kamar tamu sudah gue siapin. Tinggal aja selama yang lo mau. Apartemen segede ini bikin gue kesepian kalau suamiku lagi kerja.”
Laras tersenyum tipis meski Tiara tidak bisa melihatnya. Lima tahun menikah, ia tidak pernah mengeluh karena kurang tidur setelah dipeluk suami. Ia kurang tidur karena menghitung tagihan, menemani orang sakit, atau menunggu transfer gaji masuk hanya untuk melihat angkanya habis pada hari yang sama.
“Ras? Kok diam?”
“Sinyalnya putus-putus.”
Kebohongan itu keluar pelan. Sinyal di layar ponselnya penuh.
Tiara kembali bercerita tentang jadwal kerjanya di rumah sakit, paket perawatan wajah yang baru dibeli, lalu restoran yang ingin mereka datangi. Laras menyahut seperlunya. Jari-jarinya justru meraba sudut kertas yang tersembul dari dompet.
Foto sebuah rumah contoh.
Atap abu-abu, dua jendela lebar, halaman kecil dengan rumput yang terlalu hijau untuk menjadi nyata. Foto itu sudah terlipat empat. Bekas lipatannya memutih dan satu sudutnya hampir sobek.
Dulu Laras mengambilnya dari brosur perumahan di dekat pasar. Ia menyimpannya di laci paling bawah, di bawah ijazah dan dua helai pakaian yang masih bagus. Setiap kali keadaan rumah kontrakan terasa terlalu sempit, ia akan membuka foto itu sebentar dan membayangkan punya kunci sendiri.
Pagi tadi, foto itu nyaris tertinggal.
Wahyu sudah mengenakan jaket ketika telepon dari rumah sakit masuk. Wajahnya langsung pucat. Ibunya kembali sesak napas, dan dokter meminta keluarga datang.
“Aku harus ke rumah sakit sekarang.” Wahyu memasukkan ponsel ke saku dengan tangan gemetar. “Kamu berangkat sendiri nggak apa-apa, kan?”
Koper Laras sudah berdiri di dekat pintu. Tiket keretanya tidak bisa dibatalkan tanpa potongan besar. Lagi pula, Bu Ratna menunggu jawabannya soal pekerjaan terjemahan di Jakarta.
“Nggak apa-apa. Temani Ibu.”
Wahyu mengangguk, tetapi tidak langsung pergi. Tatapannya turun ke tas Laras.
“Kalau nanti ada obat yang nggak ditanggung BPJS, kamu masih punya uang?”
Pertanyaan itu membuat jemari Laras berhenti pada gagang koper.
“Kemarin aku sudah transfer.”
“Itu buat pemeriksaan sama naik kamar. Obatnya beda lagi.” Wahyu mendekat, suaranya melemah. “Aku minta tolong dulu, Dik. Nanti kalau gajian aku ganti.”
Nanti.
Selama lima tahun, kata itu selalu datang membawa janji dan pulang membawa uang Laras.
Ia kembali ke kamar, membuka laci paling bawah, lalu mengambil tiga lembar uang terakhir yang diselipkan di antara pakaian. Foto rumah contoh terseret keluar bersama uang itu dan jatuh di lantai.
Sepatu Wahyu hampir menginjaknya.
Laras cepat-cepat memungut foto tersebut. Ia membersihkan debu yang tidak ada dengan ujung jilbab, kemudian memasukkannya ke dompet.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan uang. “Cuma ada segini.”
Wahyu menerimanya tanpa menghitung. Wajah laki-laki itu terlihat lega.
“Makasih, Dik. Hati-hati di jalan.”
Pintu menutup. Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan apakah Laras membawa cukup uang untuk makan selama perjalanan. Hanya bunyi motor Wahyu menjauh menuju rumah sakit.
Laras menyeret koper keluar rumah sendirian.
Di warung depan gang, ia sempat mengambil air mineral dari lemari pendingin.
“Yang ini berapa, Bu?”
“Tujuh ribu.”
Tangannya langsung mengembalikan botol itu. Ia memilih botol kecil dari kardus dekat pintu yang tidak sedingin tadi.
“Kalau ini?”
“Empat ribu.”
Baru yang itu ia bayar.
Sekarang botol kecil tersebut tinggal separuh di meja lipat kereta. Airnya sudah tidak dingin, tetapi Laras meneguknya sedikit-sedikit. Di seberang lorong, seorang ibu menyuapi anaknya roti. Di kursi depan, pasangan muda berbagi satu earphone sambil tertawa menonton sesuatu di layar ponsel.
Laras memalingkan wajah ke jendela.
Sawah berlari mundur. Pohon-pohon pisang mengecil, atap rumah menghilang, lalu berganti bangunan yang makin rapat. Bayangannya sendiri muncul di kaca, pucat dan lelah. Ada bekas air mata yang telah mengering di bawah mata kiri.
“Pokoknya jangan sok sungkan di rumah gue,” suara Tiara kembali terdengar. “Anggap aja rumah sendiri.”
Rumah sendiri.
Dua kata itu menekan tepat di tempat yang paling sakit.
“Iya,” jawab Laras. “Terima kasih, Tiara.”
“Eh, nanti pas sampai jangan naik taksi biasa. Pesan mobil yang bagus. Kirim nomor rekening, gue transfer.”
“Nggak usah. Aku masih punya uang.”
Padahal setelah membeli air dan membayar ojek menuju stasiun, uang tunai di dompetnya tidak sampai seratus ribu.
“Lo tuh dari dulu susah banget dibantu.”
Laras tertawa kecil, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. “Aku sudah mau sampai. Nanti aku kabari lagi.”
Setelah panggilan berakhir, pengumuman kedatangan terdengar dari pengeras suara. Penumpang mulai berdiri dan menurunkan barang. Laras menyimpan foto rumah contoh lebih dalam ke sela dompet, lalu menarik kopernya menuju pintu.
Udara Jakarta menyambut seperti uap panas ketika ia keluar dari stasiun. Klakson bersahutan. Orang-orang berjalan cepat seolah setiap menit punya harga. Laras sempat terpaku sebelum sopir mobil daring menelepon dan menyebut titik penjemputan.
Di dalam mobil, ia merapatkan tas ke dada. Jalan layang, papan iklan raksasa, dan gedung kaca melintas di balik jendela. Semakin dekat ke alamat Tiara, semakin tinggi bangunan di sekelilingnya.
“Pertama kali ke daerah sini, Mbak?” tanya sopir.
Laras mengangguk. “Pertama kali menginap.”
Sopir itu menunjuk menara kaca yang berkilau diterpa matahari sore. “Apartemennya di gedung depan, Mbak.”
Laras mendongak sampai lehernya terasa tegang. Di salah satu lantai gedung itu, Tiara hidup di rumah luas yang kadang membuatnya kesepian. Di Kebumen, Laras hidup di rumah sempit yang bahkan tidak pernah terasa menjadi miliknya.
Ia menekan dompet di dalam tas. Ujung foto rumah impian menusuk telapak tangannya.
Untuk pertama kalinya, Laras berharap perjalanan ini tidak hanya membawanya ke Jakarta.
Ia berharap perjalanan ini membawanya cukup jauh hingga ia tak perlu kembali menjadi perempuan yang sama.