"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Gejolak Aneh
Tapi tiba-tiba Zidan seperti melihat sosok Humaira didalam diri Melodi.
"Melodi, hentikan!" bentak Zidan sebelum Melodi bertindak lebih jauh.
Pria itu memegang kedua bahu Melodi dan mendorongnya mundur dengan tegas, menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka.
"Mas! Kamu nolak aku?!" seru Melodi dengan raut wajah tak percaya, saat pancingannya ditolak mentah-mentah.
"Kamu tidak seperti biasanya," ujar Zidan menggelengkan kepala dengan tatapan kecewa. "Tolong pakai baju kamu dengan benar. Aku mau pulang."
Tanpa menunggu jawaban, Zidan berbalik cepat dan melangkah lebar meninggalkan kamar itu bergegas pergi.
Ada apa dengan Melodi? Semakin kesini, aku semakin tidak mengenalinya. Batin Zidan saat dia sudah tiba di mobilnya.
Zidan memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Setelah tiba dirumah, terlihat sunyi.
Beberapa lampu juga sudah dimatikan. Dia langsung naik ke lantai dua berjalan ke kamarnya.
Dengan perlahan, Zidan memutar gagang pintu kamar.
Pandangan pria itu langsung tertuju pada sosok wanita yang terbaring di atas ranjang king size miliknya yang terlihat samar-samar oleh lampu kecil dipinggir ranjang.
Humaira sudah terlelap. Wanita itu tertidur begitu pulas dengan posisi sedikit miring, tampak sangat keletihan usai menjalani harinya yang panjang—menghadapi tekanan di rumah sakit sekaligus penindasan dari keluarga Zidan di rumah.
Wajahnya yang polos tanpa riasan terlihat begitu pucat dan rapuh. Tak ada lagi binar mata tajam atau sindiran dingin yang tadi siang ia lemparkan di rumah sakit; yang tersisa hanyalah kepasrahan seorang wanita yang kehabisan tenaga.
Entah dorongan dari mana, kaki Zidan melangkah mendekat ke sisi ranjang tempat Humaira. Tatapannya terkunci pada paras istrinya yang sederhana. Gadis itu tidak secantik, apa lagi seputih dan terawat seperti Melodi.
Yang ada pada dirinya semua sederhana tidak ada yang berlebihan. Tapi penampilan sederhana itulah yang sudah berhasil membuat dunia Zidan mulai goyah.
Perlahan, Zidan membungkukkan tubuh tegaknya dan menarik selimut Humaira yang sedikit melorot hingga menutupi dadanya.
Tak lupa, tangan kokoh pria itu terulur lembut merapikan beberapa helai rambut Humaira yang sedikit berantakan di sekitar wajahnya.
Entah mengapa, hanya dengan melihat wajah tenang gadis itu, hatinya yang semula bergemuruh mendadak jadi jauh lebih tenang.
Meskipun tidak dipungkiri akhir-akhir ini Humaira sering membuatnya emosi, jauh di dalam lubuk hatinya, Zidan mulai menyadari bahwa ia merasa jauh lebih nyaman berada di dekat Humaira daripada saat bersama Melodi.
Perbedaan di antara kedua wanita itu kini semakin dia rasakan. Tanpa sadar, perlahan mulai meruntuhkan perasaannya pada Melodi yang selama 7 tahun menjalin hubungan dengannya.
_____
Di dalam kamar mandi, Humaira berdiri menyamping di depan cermin besar.
Jemari tangannya terulur mengusap lembut perutnya yang kini mulai tampak sedikit membuncit seiring berjalannya usia kandungan yang memasuki dua bulan lebih.
Dan tanpa sadar juga Zidan terus mengabaikan penceraian mereka, bahkan tak pernah lagi membahas, seperti tak ingin menceraikan wanita itu.
"Aku tidak bisa terus-terusan berada di rumah ini," gumam Humaira lirih, menatap bayangannya di cermin dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau aku terus di sini, cepat atau lambat Dokter Zidan pasti akan tahu kalau aku sedang hamil. Aku tidak ingin dia tahu... apalagi sampai tahu kalau ini adalah anak kandungnya. Aku sudah terlalu lelah menghadapi keluarganya yang membenciku. Aku harus segera membahas kemana perceraian kami."
Tekad itu makin membulat. Humaira segera membersihkan diri di bawah pancuran air hangat. Namun, usai mandi, ia baru menyadari kecerobohannya.
Karena kepalanya dipenuhi banyak beban pikiran, ia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Biasanya ia selalu berganti pakaian di dalam sebelum keluar.
Tak ingin membuang waktu dan terlambat berangkat kerja, Humaira terpaksa memakai handuk tebal sebatas bawah lutut ke tubuhnya, lalu menyampirkan handuk kecil lain untuk menutupi bagian bahunya yang terbuka.
Dengan hati-hati, ia memutar gagang pintu dan melangkah keluar.
Namun, begitu kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, langkah Humaira seketika terhenti.
Zidan ternyata sudah terbangun dari tidurnya. Pria itu tengah duduk di tepi ranjang, menantinya keluar karena berniat untuk bersiap-siap juga.
Begitu pandangan Zidan jatuh pada sosok istrinya, pria itu mendadak terpaku. Waktu seolah berhenti berputar. Tatapannya terkunci pada Humaira yang berdiri dengan rambut basah dan leher jenjang yang tersisa bintik-bintik air.
Jakun Zidan naik turun menelan ludah dengan susah payah, memancarkan keterkejutan sekaligus pandangan yang berbeda dari biasa.
Sadar akan arah tatapan pria itu yang agak aneh, Humaira sedikit panik dan berjalan cepat ke ruang ganti.
Zidan membuang muka kearah berlawanan. Dadanya tiba-tiba berdegup kencang, bergemuruh tak beraturan.
Pria itu teringat pada Melodi semalam. Dimana kekasihnya itu memakai pakaian yang jauh lebih terbuka dan provokatif di apartemennya bahkan memperlihatkan lekuk indah tubuhnya secara terang-terangan, namun Zidan sama sekali tak merasakan dorongan atau ketertarikan apa pun selain rasa risih.
Anehnya, pagi ini melihat Humaira yang hanya berbalut handuk—yang bahkan masih sangat sopan karena panjangnya di bawah lutut dan bahunya tertutup—naluri kelelakian Zidan justru bangkit secara mendadak.
"Ada apa denganku?!" bisik Zidan frustrasi pada dirinya sendiri.
Buru-buru dia menggelengkan kepalanya, untuk menepis sensasi panas yang membakar dadanya.
Dengan langkah tergesa-gesa, pria itu langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi, memutar keran pancuran, dan menyiram kepalanya dengan air dingin demi memadamkan gejolak asing yang kian tak terkendali.
Mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, Humaira bernapas lega. Tanpa membuang waktu, ia buru-buru memakai pakaian kerjanya.
Meski berniat menghindari suaminya, kebiasaannya sebagai istri tak lantas hilang—ia tetap menyiapkan setelan kemeja Zidan lengkap dengan dasi dan jam tangan yang tertata rapi di atas peraduan.
Usai mengeringkan serta merapikan rambutnya secara terburu-buru, Humaira bergegas melangkah keluar dari ruang ganti dan langsung berderap turun ke lantai bawah.
Dia sangat menghindari Zidan, khawatir jika Zidan mendadak tergerak untuk menyentuhnya mengingat tatapan suaminya tadi sangat berbeda dan aneh.
Sesampainya di bawah, Humaira berjalan menuju meja makan untuk sarapan sebelum berangkat ke rumah sakit.
Tapi, meja itu kosong melompong. Tak ada satu pun sajian yang tersedia.
"Kau mau sarapan?" tanya Siska tiba-tiba, sudah berdiri di dekat meja makan dengan tangan bersedekap.
Humaira menghela napas tipis. "Kalau tidak ada tidak apa-apa. Aku langsung berangkat kerja saja," ujarnya dingin, berbalik berniat pergi.
"Enak saja!" potong Siska cepat. "Kau pikir kalau kau pergi sekarang, siapa yang menyiapkan sarapan buat kami? Suamimu juga belum sarapan! Sana ke dapur, jangan malas-malasan! Buatkan kita semua sarapan, sekalian itu keponakanmu uruskan makanannya seperti semalam!"
Humaira menghentikan langkahnya. Matanya menatap Siska dengan pancaran rasa muak yang sudah di ujung tanduk. Adik iparnya itu benar-benar memperlakukannya tak ubah seorang pelayan.
Namun, enggan memicu keributan pagi-pagi yang hanya akan menguras energinya, Humaira memilih lagi-lagi untuk mengalah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengalihkan pandangannya dan melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga yang membencinya itu.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂