Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Ujung Bandara
Plastik hitam flashdisk kecil di genggaman Emily terasa teramat dingin, seolah membekukan telapak tangannya yang gemetar.
Di sekelilingnya, ruang kelas 12 IPS SMA Harapan Bangsa riuh oleh cemoohan yang teredam. Kursi di samping Sean kosong melompong. Cowok itu langsung menghilang meninggalkan area sekolah tepat setelah melontarkan kata-kata kejam yang menghancurkan harga diri Emily di depan ratusan pasang mata. Sementara di koridor luar, Valerie berjalan penuh kemenangan bagaikan seorang ratu yang baru saja memenangkan takhta.
Emily tidak menangis lagi di kelas. Air matanya seolah telah mengering, berganti menjadi hampa yang membakar dada. Dengan jemari yang kaku, ia memasukkan surat kepindahan ke Swiss dan flashdisk misterius itu ke dalam tasnya.
Sore harinya, saat Emily melangkah masuk ke rumah, ia menemukan koper kain miliknya sudah tergeletak di dekat pintu depan.
Ibunya duduk di meja makan, mengamati lembar pendaftaran sekolah di Swiss yang rupanya telah dikirimkan salinannya oleh pihak yayasan. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada penyesalan, apalagi derai air mata dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bagus kalau kamu langsung pindah ke luar negeri," ujar Ibunya datar tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir tehnya. "Dengan begitu, keluarga Wijaya nggak akan mengusik Papa kamu lagi. Setidaknya kamu melakukan satu hal yang berguna buat keluarga ini sebelum pergi."
Kalimat itu menjadi cambuk terakhir yang memutuskan seluruh ikatan emosional Emily dengan rumah tersebut. Emily menarik kopernya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak lagi memiliki rumah untuk pulang, dan kini, ia juga telah kehilangan satu-satunya laki-laki yang ia kira adalah tempatnya berlindung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari kemudian. Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta.
Aroma kopi dan riuh pengumuman penerbangan memenuhi area keberangkatan yang megah. Emily duduk sendirian di bangku besi dekat Gate 7, mengenakan sweater rajut longgar berwarna abu-abu dan kacamata tebalnya. Di pangkuannya, terbaring dua buah koper besar yang siap membawanya terbang melintasi benua menuju Zurich, Swiss.
Penerbangan bernomor LX-195 akan segera melakukan proses boarding dalam waktu tiga puluh menit.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Emily mengeluarkan flashdisk hitam dari saku jasnya. Menggunakan sebuah kabel OTG kecil, ia menyambungkan flashdisk tersebut ke ponselnya, lalu memasang headphone putih di kedua telinganya.
Emily menekan tombol play pada sebuah berkas audio tunggal berdurasi lima menit.
Suara desir angin dan deru napas yang berat serta tidak teratur mendadak memenuhi indra pendengarannya. Itu adalah suara napas yang sangat ia kenal, suara Sean Anderson. Audio itu direkam pada dini hari di penthouse milik Sean, beberapa jam sebelum tragedi di sekolah terjadi.
"Mil... pas kamu dengar rekaman ini, mungkin kamu udah benci setengah mati sama aku," suara Sean terdengar begitu serak, penuh dengan keputusasaan yang sangat dalam. ada jeda panjang di mana suara cowok itu terdengar bergetar menahan tangis.
Dada Emily mencelos. Tangannya seketika mencengkeram tepi bangku besi.
"Kemarin malam, Valerie menelepon aku," lanjut suara Sean di rekaman itu. "Papanya udah menandatangani surat pencabutan beasiswa dan blacklist nama kamu dari seluruh universitas di Indonesia. Valerie tahu persis kalau impian kamu adalah masa depan kamu. Dia mau menghancurkan kamu cuma buat membalas dendam sama aku."
Pernapasan Emily tertahan. Lensa kacamatanya mulai buram oleh embun air mata yang mendadak merebak.
"Aku udah coba telpon seluruh pengacara keluarga Anderson, Mil. Tapi proses hukum butuh waktu berbulan-bulan, sementara surat blacklist kamu bakal diterbitkan pagi ini jam delapan. Aku nggak punya waktu buat bertarung lewat jalur hukum tanpa mengorbankan nama kamu terlebih dahulu."
Suara Sean di rekaman itu terdengar semakin rapuh, diiringi bunyi gesekan kain yang menandakan cowok itu sedang mengusap wajahnya yang frustrasi.
"Satu-satunya cara buat menghentikan Valerie menandatangani surat itu adalah dengan memberikan apa yang dia mau, yaitu kemenangan mutlak di depan umum. Aku harus berpura-pura menghina kamu, membuang kamu, dan menerima pertunangan busuk itu di depan semua orang agar ego Valerie terpuaskan dan dia membatalkan surat blacklist kamu."
Air mata pertama Emily meluncur deras membasahi pipinya.
"Tapi aku nggak akan pernah biarin kamu tinggal di negara ini di bawah bayang-bayang ancaman keluarga Wijaya," tegas suara Sean, kini terdengar begitu intens. "Malam itu juga, aku mencairkan seluruh dana warisan pribadi dari almarhum Nenekku—harta pribadi yang nggak bisa disentuh oleh Orang Tuaku maupun keluarga Valerie. Aku membeli beasiswa penuh dan fasilitas tempat tinggal untuk kamu di Gymnasium Zurich, sekolah terbaik di Swiss. Di sana, kekuasaan keluarga Wijaya atau Anderson nggak ada artinya sama sekali. Kamu bakal aman di sana, Mil."
Isakan pelan lolos dari bibir Emily. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangan di tengah keramaian ruang tunggu bandara.
"Maafin aku, Emily... Maafin aku karena harus jadi iblis yang paling kamu benci di dunia ini. Aku harus menginjak-injak kamu di depan semua orang hari ini, supaya kamu bisa terbang tinggi tanpa ada yang bisa mematahkan sayap kamu lagi. Jangan pernah percaya sama kata-kata kejamku di tangga sekolah tadi. Semua kata-kata itu bohong. Demi Tuhan, aku mencintai kamu melebihi hidupku sendiri."
Suara rekaman itu menghembuskan napas panjang yang sarat akan kepedihan, sebelum diakhiri dengan satu kalimat terakhir yang merobek jiwa Emily:
"Mencintaimu adalah kesalahan paling indah dalam hidupku, Mil. Pergilah... jadilah kuat di sana. Dan kalau suatu hari nanti kamu kembali, aku pastikan aku sudah menghancurkan semua orang yang pernah bikin kamu menangis, termasuk diriku sendiri."
Klik.
Rekaman berakhir. Keheningan yang menyiksa langsung menghantam indra pendengaran Emily.
Emily tertunduk dalam-dalam, menangis sesenggukan di atas ponselnya. Seluruh kemarahan, rasa terkhianati, dan kebencian yang ia rasakan selama dua hari terakhir mendadak hancur berkeping-keping, berganti menjadi rasa sakit yang amat membakar. Sean tidak pernah mengkhianatinya. Cowok itu menanggung seluruh racun, rasa malu, dan kebencian seisi sekolah hanya demi menukar keselamatan masa depannya.
Tiba-tiba, layar ponsel Emily bergetar memperlihatkan notifikasi berita utama dari forum internal SMA Harapan Bangsa:
[BERITA UTAMA: Pesta Pertunangan Megah Sean Anderson dan Valerie Wijaya Resmi Digelar Malam Ini di Hotel Mulia Jakarta.]
Layar itu juga menampilkan foto Sean yang sedang mengenakan tuksedo hitam kaku, berdiri di samping Valerie yang tersenyum lebar. Namun mata Sean di foto itu terlihat benar-benar mati—hampa tanpa ada kehidupan sedikit pun.
"Panggilan terakhir bagi penumpang pesawat Swiss International Air LX-183 tujuan Zurich, dipersilakan menuju Gate 7..." suara mesin pengeras suara bandara menggema nyaring.
Emily menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menarik kedua kopernya, dan berjalan menuju lorong pemeriksaan paspor.
Namun, tepat sebelum ia menyerahkan tiketnya kepada petugas bandara, sebuah dorongan kuat membuat Emily menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, menatap ke arah pembatas kaca transparan yang memisahkan area publik dan area steril penerbangan.
Di sana, berdiri di balik barikade kaca lantai dua yang sepi... adalah Sean.
Cowok itu mengenakan jaket hoodie hitam tebal dengan kupluk yang menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya yang tersembunyi di saki jaket tampak dibebat perban putih, bekas hantaman keras ke dinding beton saat menahan amarahnya. Wajahnya pucat dan kurus, namun matanya yang tajam menatap lurus ke arah Emily dari kejauhan.
Jantung Emily berhenti berdetak. Mereka saling menatap menembus dinding kaca tebal yang memisahkan dunia mereka.
Sean tidak melambai. Ia hanya mengukir sebuah senyuman tipis, senyuman paling tulus dan paling sedih yang pernah Emily lihat. Dari balik kaca, bibir Sean bergerak pelan tanpa suara, membisikkan satu pesan terakhir:
"Pergilah, Princess. Aku percaya kamu bisa lebih kuat menghadapi segala masalah."
Tiba-tiba, dari arah belakang Sean, tiga orang pria bertubuh tegap berjas hitam, pengawal pribadi yang diutus keluarga Wijaya untuk memastikan Sean tidak melarikan diri dari pesta pertunangan, berjalan mendekat. Mereka memegang kedua bahu Sean dengan kasar, memutar tubuh cowok itu untuk menyeretnya pergi menuju mobil yang sudah menunggu.
Sean tidak melawan sedikit pun. Ia membiarkan dirinya diseret bagaikan tawanan, namun matanya tetap tertuju pada Emily hingga bayangannya hilang ditelan belokan lorong bandara.
Tangan Emily mengepal erat pada gagang kopernya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut dan keputusasaan yang selama ini mengurung jiwanya seketika menguap, berganti menjadi sebuah tekad baja yang membara di dalam dadanya.
Ia menyerahkan paspor dan tiketnya kepada petugas bandara dengan tatapan mata yang tak lagi rapuh.
"Selamat jalan, Nona Valencia. Semoga penerbangan Anda menyenangkan," ujar petugas itu ramah.
Emily mengangguk pelan, melangkah masuk ke dalam garbarata pesawat yang akan membawanya meninggalkan Indonesia.
Tunggu aku, Sean, batin Emily dengan suara yang begitu mantap. Aku bakal kembali. Dan saat aku balik nanti, nggak akan ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita lagi.
Bersambung......