"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Bertemu Pria Perjodohan
Humaira duduk termenung. Ia sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya maupun hal lain di sekitarnya.
Semenjak Ratna pergi meninggalkan rumah sakit, pikiran Humaira benar-benar kacau.
Bagaimana tidak? Ratna menekannya tanpa ampun.
Jika ia tidak mau menurut, rumah satu-satunya milik ibunya akan dijual. Kalau rumah itu dijual, ibunya benar-benar tidak akan punya apa-apa lagi. Ibunya bisa melarat.
Jika harus menyewa kontrakan pun tidak semudah yang dibayangkan—untuk makan sehari-hari saja ibunya sudah kesulitan, apalagi harus menanggung biaya sewa rumah tiap bulan.
Humaira saat ini sedang duduk di salah satu sudut ruang tunggu rumah sakit, sengaja menyendiri. Pandangannya kosong, pikirannya melayang entah ke mana membayangkan keputusasaan yang menghimpitnya.
Ingin mengeluh, ingin mengadu, dan ingin melepaskan kesedihannya. Dia tidak tahu pada siapa. Mau datang pada sahabatnya Elin, dia juga tidak mau.
Sudah cukup selama ini dia merepotkan sahabatnya itu, dan dia tidak mau lagi. Akhirnya dia memilih untuk memendam sendirian yang membuatnya hampir stres.
Tes...
Kristal bening dari wajahnya perlahan menetes.
Humaira menunduk membiarkan air matanya perlahan mengalir deras.
Sakit...
Yanti yang tadinya berada di dalam ruang VIP tempat putri bungsunya, langsung melangkah keluar untuk mencari keberadaan putri sulungnya.
Sebagai seorang ibu, Yanti tahu bahwa Humaira sedang berada di titik terendahnya.
Setelah mencari ke sana kemari menyusuri lorong rumah sakit, akhirnya mata Yanti menangkap sosok putrinya yang terduduk sendirian di sudut ruang tunggu—bagian yang paling sunyi dan tersembunyi.
Berjalan mendekat.
"Humaira..." panggil Yanti lembut.
Humaira terkejut buru-buru mengusap air matanya yang sempat menetes.
Yanti menatap wajah putrinya dengan dada sesak. Ia tahu betapa hancurnya perasaan Humaira saat ini.
Belum selesai masalah suaminya dan tekanan dari keluarga Zidan, kini adiknya sedang terbaring sakit. Belum lagi tekanan dan perlakuan semena-mena dari ayah kandungnya serta ibu tirinya.
Yanti paham rasa sakit itu, betapa berat beban yang harus dipikul oleh putri sulungnya.
"Ibu? Kenapa Ibu ke sini?" tanya Humaira tergesa-gesa, berusaha keras menahan getaran suaranya.
Ia tidak ingin memperlihatkan rasa sakit yang menggerogoti dadanya.
Namun, Yanti tentu saja tidak bisa dibohongi. Ia tahu putrinya sedang berada dalam dilema yang teramat sangat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yanti melangkah mendekat lalu duduk di samping Humaira.
Ia memegang lembut bahu putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Menangislah, Nak... kalau kau ingin menangis... Ibu tahu, ini tidak mudah bagimu," bisik wanita paruh baya itu lembut. Ia menepuk bahunya sendiri. "Sandarkan kepalamu di bahu Ibu."
Humaira menatap sang ibu.
Pertahanan Humaira akhirnya runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga akhirnya tumpah tak terbendung.
Humaira langsung berhambur memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan semua rasa sakit, ketakutan, dan keputusasaan yang meremas dadanya.
"Ibu..." tangis Humaira terdengar begitu pilu dan menyayat hati. "Ibu... kenapa semuanya harus seperti ini, Bu...?"
Setelah sekian lama memendam dan menanggung semua penderitaan sendirian, akhirnya tangis Humaira pecah juga di dalam pelukan hangat sang ibu.
Yanti mengelus punggung putrinya ikut menangis. Di wajahnya terlihat lelah dan penuh penyesalan.
"Maafkan Ibu, Nak... Maafkan Ibu. Seandainya dulu Ibu bisa lebih berhati-hati memilih pasangan hidup, mungkin kalian berdua tidak akan menderita seperti ini..." ucap Yanti penuh penyesalan.
Mengingat masa lalu saat Dimas—pria yang dulu begitu tergila-gila padanya namun kini menjelma menjadi sosok yang sangat tega.
Namun semuanya sudah terlambat. Penyesalan tidak akan ada gunanya lagi.
Humaira menggeleng kuat. "Tidak, Bu. Tidak ada yang bisa mendahului takdir. Ibu tidak pernah salah," bisiknya bergetar.
Yanti kembali mengusap lembut punggung putrinya. "Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan Mbak Ratna. Kamu tidak usah menemuinya, tidak usah ikuti kemauannya. Kalau memang rumah itu harus dijual, biarkan saja mereka menjualnya, Nak. Ibu tidak masalah, yang penting anak-anak Ibu selamat dan baik-baik saja."
Humaira melonggarkan pelukannya, menatap mata ibunya dengan sorot mata mantap. "Tidak, Bu! Humaira tidak mau. Rumah itu Ibu beli dari hasil jerih payah Ibu sendiri saat masih menjadi pramugari dulu. Humaira tidak akan pernah membiarkan wanita itu merebutnya!"
"Tapi, Nak... Kamu masih terikat pernikahan dengan Dokter Zidan. Masa iya kamu mau menemui laki-laki lain untuk dijodohkan?" tanya Yanti cemas.
"Ibu tenang saja. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi," jawab Humaira menenangkan. "Tapi Humaira akan tetap menemui pria itu malam ini. Ini satu-satunya cara supaya Tante Ratna tidak punya alasan lagi dan mau mengembalikan sertifikat rumah Ibu."
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Nak?"
"Iya, Bu. Humaira akan pergi. Pokoknya Humaira harus pergi."
"Tapi bagaimana kalau Dokter Zidan tahu...?"
"Ibu tidak perlu khawatir," pangkas Humaira tegas. "Humaira akan mengurusnya. Tidak akan ada seorang pun yang bisa mengambil rumah Ibu."
Yanti memeluk kembali putrinya. "Maafkan Ibu... Ibu benar-benar merasa bersalah padamu."
"Sudah, Bu. Yang berlalu biarkan berlalu. Humaira sayang sama Ibu. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Humaira akan tetap berdiri menjaga Ibu dan Nabila," bisik Humaira, kembali mendekap erat sang ibu dalam kehangatan yang menguatkan.
_____
Saat jam pulang kerja, ternyata Humaira benar-benar datang menemui pria itu, dilokasi yang sudah diberikan Ratna. Dia sengaja kesana untuk menghentikan kegilaan wanita paruh baya tersebut.
Humaira bahkan belum pernah pulang kerumah dan masih memakai baju dinasnya.
Dia sudah berdiri di depan sebuah restoran yang tampak sangat mewah. Deretan mobil mewah terparkir disana dengan rapi.
Humaira mengedarkan pandangannya. Dia sudah bisa menebak, kalau pria itu pasti orang kaya raya. Makanya ibu tirinya bersikeras memaksanya sampai mengancamnya.
Dengan langkah ragu, ia mulai masuk kedalam restoran mewah tersebut.
Matanya mengedar ke setiap sudut ruangan yang remang dan elegan. Kebanyakan pengunjung datang berpasangan.
Namun di sudut area VIP dekat jendela, perhatian Humaira terhenti.
Di sana duduk seorang pria berjas gelap yang terpotong sangat rapi.
Perawakannya tegap, parasnya tampan luar biasa dengan garis rahang yang tegas dan aura dingin yang begitu dominan. Pria itu tampak sangat berkelas.
Tidak mungkin pria sesempurna seperti dia yang dijodohkan Tante Ratna denganku. Batin Humaira saat dia menyadari hanya pria itu yang duduk sendirian.
Humaira kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran mewah tersebut. Ia kembali menyapu setiap sudut, berharap menemukan sosok pria lain yang duduk sendirian.
Namun, nihil. Semua meja diisi oleh pasangan berkemeja rapi dan bergaun anggun.
"Apa mungkin pria itu tidak datang?" gumam Humaira pelan pada dirinya sendiri, rasa ragu menggerogoti hatinya.
Saat Humaira berniat memutar tubuh untuk pergi, pria tampan di meja VIP tadi tiba-tiba mengangkat pandangannya.
Kontak mata mereka bertemu secara tidak sengaja. Manik netra Humaira terkunci oleh tatapan tajam, dingin, dan begitu intens dari pria tersebut.
Tanpa mengalihkan pandangannya, pria itu perlahan berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Humaira.
Perfect.
Satu kata itu langsung terlintas di benak Humaira. Pria itu benar-benar sempurna. Parasnya tampan, dengan postur tubuh tinggi tegap dan proporsional—seperti tipe pria yang sangat menjaga kebugaran tubuhnya di gym.
Setiap langkahnya memancarkan ketegasan dan aura high-class yang kuat.
Pria itu berhenti tepat di hadapan Humaira.
Pandangannya menyapu penampilan Humaira dari atas ke bawah, menyadari gadis di depannya mengenakan pakaian dinasnya, dia tahu itu adalah wanita yang dia tunggu.
"Dengan Humaira Zahara?" tanya pria itu dengan suara bariton yang begitu tenang.
Humaira tersentak, seperti tak percaya.
"D-dengan Pak Alva?" Humaira balik bertanya dengan ragu, mengingat kembali nama yang sempat diucapkan oleh Ratna sebelumnya.
"Iya," jawab pria itu singkat.
Ia lalu mengulurkan tangan kokohnya ke arah Humaira. "Alvaro Raynard. Panggil saja Alva," ucap pria itu memperkenalkan diri.
Humaira tak menyambut tangan pria itu. Alisnya berkerut.
Masa pria seganteng dan sesempurna ini tidak bisa cari jodoh sendiri sampai harus mau dijodohkan? Batin Humaira takut ada kelainan pada pria dihadapannya.
Melihat Humaira yang malah sibuk melamun, pria itu kembali menarik uluran tangannya.
"Maaf, kalau saya lancang," ujar pria itu.
Humaira hanya mengangguk ringan, tanpa banyak bicara.
"Mari kita bicara sebentar," ajak Alva pada wanita di hadapannya.
Humaira lagi-lagi hanya mengangguk lalu mengikuti langkah lebar pria itu menuju mejanya di sudut VIP.
Mereka kini duduk berhadapan.
"Kau pesan minum dulu," ujar Alva datar.
Humaira buru-buru menggeleng. "Tidak, Pak. Saya harus segera pulang. Silakan dimulai."
"Kau harus minum dulu." Alva tidak menerima penolakan. Ia mengangkat tangan, memanggil pelayan restoran, lalu memesankan secangkir cokelat hangat untuk Humaira.
Tak lama kemudian, pelayan datang membawa cangkir berisi cokelat hangat yang berasap tipis.
"Banyak yang bilang cokelat hangat bisa menenangkan hati," ujar Alva tenang, tatapan matanya tajam menatap lurus ke arah Humaira.
Humaira sedikit gugup ditatap pria itu. "Mungkin saja," singkat Humaira menjawab.
Karena tenggorokannya memang terasa kering, ia akhirnya meneguk sedikit cokelat hangat tersebut. Rasa manis dan hangatnya perlahan mengaliri kerongkongannya.
"Well... Humaira Zahara. Anak tertua dari dua bersaudara. Putri Dimas dan Yanti. Bekerja sebagai perawat. Menikah sekitar dua bulan yang lalu menjadi istri pengganti untuk Direktur Rumah Sakit Pramana... Pak Zidan. Saat ini, sedang hamil dengan usia kandungan 9 Minggu."
Uhuk!
Cokelat hangat yang baru saja menggenang di mulut Humaira seketika tersembur keluar mendengar setiap kalimat yang tersusun rapi dari pria itu.
Yang bahkan juga tahu tentang kehamilannya. Padahal dia berpikir hanya dia yang tahu juga dokter yang pernah memeriksanya.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂