Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Yang Menanti Di Depan Pintu
Di dapur, Riana baru saja menata karton susu segar dan deretan sayuran ke dalam rak kulkas. Reza berdiri di sampingnya, membantu memasukkan potongan daging ke dalam wadah penyimpanan freezer. Suasana di antara mereka perlahan terasa hangat dan tertata, melupakan sejenak badai yang menghantam rumah tangga rahasia mereka sejak kemarin.
Ting! Ting! Ting!
Suara notifikasi WhatsApp dari ponsel Riana yang tergeletak di atas kitchen island berbunyi beruntun tanpa jeda. Suara getarannya berderik keras menembus keheningan dapur.
Riana menghentikan tangannya. Dahi cantiknya berkerut heran. Jarang sekali ada pesan bertubi-tubi yang masuk ke ponselnya di hari libur seperti ini, apalagi dari grup obrolan angkatan kampus.
Reza ikut menghentikan aktivitasnya. Pandangannya beralih dari pintu kulkas menuju layar ponsel Riana yang terus menyala terang menampilkan rentetan nama kontak teman-teman seangkatannya.
"Ponsel kamu bunyi terus tuh," gumam Reza pelan, mengelap tangannya dengan tisu dapur.
Riana melangkah mendekati meja, menyambar ponselnya. Begitu menggeser layar kunci, matanya langsung membelalak kaget. Puluhan pesan pribadi dan pautan dari grup obrolan jurusan langsung memenuhi layarnya.
Grup Chat "Pendekar Kampus '25"
Dita (Anak Jurusan): @Riana Ini beneran lo sama Kak Reza tadi pagi di supermarket dekat komplek kampus?! 😱
Riko: [Menampilkan Foto] Gilaaa! Kak Reza dorong troli, Riana yang milih sayur! Kak Sela dikemanain woi?!
Maya: Lah bukannya kemarin Riana bilang gak kenal-kenal amat sama Kak Reza? Kok belanja bulanan bareng kayak suami istri?!
Riana membeku di tempatnya. Ibu jarinya gemetar saat mengusap layar ponsel, memperjelas gambar yang diunggah di grup. Di foto itu, terlihat jelas Riana dan Reza yang sedang berdiri sangat dekat di antrean kasir, lengkap dengan ekspresi wajah mereka yang panik dan bibir bawah Reza yang tertempel plester kecil.
"Kenapa, Ri?" tanya Reza yang menyadari perubahan raut wajah Riana yang mendadak pucat pasi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Riana membalikkan layar ponselnya dan menunjukkan foto itu tepat di depan mata Reza.
Mata Reza membelalak sempurna. Seluruh rasa tenang yang baru saja ia rasakan musnah seketika. Belum sempat Reza bersuara, ponsel di dalam saku celananya sendiri mendadak bergetar hebat. Nama "Sela ❤️" kembali memanggil, disertai belasan pesan ancaman dan tangisan dari kekasihnya yang sudah melihat foto viral tersebut.
Kebohongan "sepupuan" yang baru saja mereka rakit tadi pagi hancur lebur sebelum sempat mereka pertahankan.
Aduhhh... aku salah ngomong yaa?" desah Riana panik, memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening. "Tapi kan seharusnya gak apa-apa cuma bilang sepupu doang? Daripada mereka curiga yang enggak-enggak!"
Reza tidak langsung menjawab. Pria itu menatap layar ponselnya yang terus bergetar tanpa henti, memancarkan nama Sela yang tak henti-hentinya menuntut penjelasan. Raut wajah Reza mengeras. Emosi, rasa bersalah pada Riana, serta keputusasaan menghadapi ancaman Papanya bercampur menjadi satu.
Dengan gerakan tegas, Reza menekan tombol daya ponselnya agak lama. Layar hitam perlahan redup, mematikan seluruh saluran komunikasi dengan dunia luar.
"Za? Kok dimatiin?!" tanya Riana kaget melihat tindakan suaminya.
Reza meletakkan ponsel yang sudah mati itu di atas meja kaca dengan bunyi letak yang cukup nyaring. Ia menghela napas panjang, lalu menatap Riana dengan pandangan lelah namun sarat akan keseriusan.
"Kalau ditanggapi sekarang, makin liar ceritanya," ucap Reza dengan suara berat dan datar. "Mereka udah makan rumor itu, Ri. Bilang sepupu di depan anak-anak kampus yang haus gosip itu sama aja ngasih mereka bahan buat makin ngobrak-ngabrik kehidupan kita."
Riana terduduk lemas di salah satu kursi kitchen island. Ponselnya sendiri masih bergetar beruntun di atas meja, menampilkan puluhan pesan dari Dita dan teman-temannya yang menuntut klarifikasi.
"Terus besok gimana?" tanya Riana lirih, menatap Reza dengan raut bingung. "Sela pasti nyariin kamu di kampus. Temen-temen angkatan aku juga pasti bakal terus menekan aku buat buka suara."