Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terhisap Ke Dalam Dimensi Kehampaan
Kemenangan yang baru saja dirayakan di empat kota mendadak terasa hampa ketika keheningan janggal menyelimuti udara. Di pusat Kota Zenith, Ayyasy dan Night masih berdiri di tengah jalanan yang dipenuhi abu sisa pertempuran. Melalui saluran komunikasi inter-dimensi yang terhubung dengan alat Arunnaqa dan Dimas, suara napas lega dari teman-teman mereka di Kota Cyber, Harvest, dan Kosmik masih terdengar bersahut-sahutan.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan dalam hitungan detik.
BZZZZZZT... CRACK!
Secara mendadak, frekuensi suara di alat komunikasi terputus total, digantikan oleh dengungan bising yang menyakitkan telinga. Udara di sekitar Ayyasy dan Night merosot tajam hingga berada di bawah titik beku. Di saat yang sama, langit siang yang tadinya cerah mendadak berganti menjadi warna ungu pekat yang membentang luas.
"Ayyasy! Night! Sinyal dimensi terganggu lagi!" teriak suara Dimas yang samar-samar memecah keheningan sebelum akhirnya hilang tersapu noise statis.
Belum sempat Ayyasy merespons, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Bukan guncangan gempa bumi biasa, melainkan pusaran gravitasi masif yang seolah-olah hendak menyedot seluruh materi di permukaan bumi.
WUUUUUUUSHHHHH!
Di udara tepat di atas Ayyasy dan Night, sebuah retakan dimensi raksasa terbuka secara paksa. Portal itu tidak memancarkan cahaya ungu atau keemasan seperti sihir milik Tasya atau Arunnaqa, melainkan lubang hitam pekat tanpa batas yang dikelilingi kilatan petir keperakan—sebuah anomali yang diciptakan langsung oleh kekuatan murni milik Erebos!
"Semuanya, mundur!" teriak Ayyasy penuh komando, mengalirkan Dragon Flame Aura untuk menahan tubuhnya di atas tanah.
Namun, target portal tersebut rupanya bukan seluruh anggota Miracle, melainkan individu-individu tertentu yang telah ditandai oleh energi Erebos sejak pertempuran sebelumnya!
Satu per satu, kilatan cahaya kelam muncul di berbagai penjuru kota, menyeret anggota Miracle dari lokasi mereka bertarung.
Dari Kota Cyber, Arunnaqa yang sedang mengemas konsol teknologinya mendadak terangkat ke udara. "A-apa-apaan ini?! Sistem gravitasi tak bisa mengimbangi tekanan portal ini!" jerit Arunnaqa saat tubuhnya ditarik paksa masuk ke dalam pusaran ruang hitam.
Di Kota Harvest, Davi, Rava, Nailu, dan Cheryl yang sedang membantu pemulihan tanah terhempas ke atas. Davi menghentakkan kakinya memunculkan pilar batu raksasa untuk dijadikan pegangan. "Pegangan!" teriak Davi pada Cheryl dan Nailu. Namun, pilar batu itu hancur menjadi debu begitu tersentuh oleh radiasi energi portal!
"Rava! Tahan!" seru Nailu saat jemarinya terlepas dari bahu Rava.
"Nailu!" Rava mencoba menggapai tangan Nailu dengan benteng berliannya, namun daya hisap portal tersebut terlalu masif dan tak masuk akal. Rava, Nailu, Davi, dan Cheryl seketika terhisap masuk bersamaan.
Sementara itu dari Kota Kosmik, Tasya, Dimas, Iyan, dan Ghofar yang sedang berdiri di dekat observatorium tidak mampu memprediksi arah gempuran ini. Tasya mencoba menggunakan sihir ruangnya untuk menutup retakan tersebut, namun kekuatan portal Erebos jauh melampaui kapasitas sihir yang pernah ia pelajari.
"Sihir ruang milik musuh memakan sihir gua!" ringis Tasya panik.
"Tasya, Iyan, Ghofar! Rapatkan barisan!" teriak Dimas yang kehilangan traksi pada sepatunya. Iyan dengan sigap merangkul lengan Ghofar dan Tasya, mencoba bertahan, namun kekuatan hisap itu menyambar mereka berempat dan melempar tubuh mereka menembus batas dimensi!
Di Kota Zenith sendiri, situasi tak kalah kacau. Sintia yang berada di dekat Ayyasy terhempas angin kencang. "Ayyasy!" jerit Sintia.
Azkailah mencoba menahan Sintia dengan tangannya, namun ia sendiri ikut terseret arus gravitasi yang gila-gilaan tersebut.
Night melesat cepat, melompat dan menyambar tangan Azkailah dan Sintia di udara. Namun portal raksasa tepat di atas mereka menghembuskan gelombang tekanan kedua yang menjatuhkan kesadaran mereka secara instan.
"Night! Azkailah! Sintia!" Ayyasy melompat, membiarkan api naganya membumbung tinggi untuk mengejar kawan-kawannya. Namun tepat saat ia meraih pergelangan tangan Night, portal tersebut menggulung mereka semua ke dalam kegelapan abadi.
SRAAAAAAGH!
Dalam hitungan detik, tiga belas pahlawan Miracle—Ayyasy, Night, Arunnaqa, Azkailah, Rava, Iyan, Sintia, Ghofar, Nailu, Davi, Cheryl, Tasya, dan Dimas—lenyap tanpa bekas terhisap ke dalam retakan dimensi.
Portal raksasa di atas Kota Zenith langsung menutup rapat dengan bunyi THUD keras yang menggetarkan atmosfer, meninggalkan sembilan belas anggota Miracle lainnya yang tersisa di Empat Kota dalam kebingungan dan kepanikan luar biasa.
Di Dalam Dimensi Kehampaan
Ayyasy perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, kepalanya terasa amat berat bagaikan dihantam benda tumpul. Rasa dingin yang teramat sangat menyengat kulitnya, jauh lebih dingin dari udara di ruangan mana pun yang pernah ia kunjungi.
Ketika pandangannya membaik, Ayyasy tersentak dan langsung bangkit berdiri seraya memicu api kecil di telapak tangannya untuk penerangan.
Tempat mereka mendarat bukanlah daratan bumi. Mereka berada di atas hamparan kristal hitam yang melayang di tengah ruang hampa udara. Langit di atas mereka tidak memiliki bintang maupun matahari, hanya pusaran awan ungu kelam yang berputar lambat.
Di sekelilingnya, dua belas kawan-kawannya terkulai lemas di atas tanah kristal.
"Ayyasy...?" bisik suara serak di sampingnya. Night terbangun lebih dulu, memegang kepalanya seraya menarik pedang samurainya untuk memastikan situasi.
"Night! Lu gapapa?" tanyanya cemas.
"Gua baik-baik aja," sahut Night dingin, walau napasnya berat. "Tempat ini... tidak memiliki energi sihir murni. Energi kita bakal terkuras dua kali lebih cepat kalau dipakai di sini."
Satu per satu, anggota tim lainnya mulai sadar. Dimas dan Arunnaqa langsung memeriksa konsol dan kacamata pemindai mereka.
"Sistem penerima sinyal mati total," ujar Arunnaqa dengan nada gemetar. "Kita terisolasi dari dunia luar. Jalur komunikasi ke sembilan belas teman kita di Empat Kota terputus sepenuhnya."
"Bukan cuma terputus," potong Dimas seraya menunjuk ke arah horizon hampa di depan mereka. "Koordinat tempat ini... berada di luar struktur dimensi yang terdaftar dalam atlas Kosmik. Kita ada di dalam wilayah kekuasaan Erebos."
Iyan membantu Sintia berdiri dengan hati-hati. "Sintia, lu bisa berdiri?"
"I-iya, makasih Yan," balas Sintia pelan, melirik sekeliling dengan cemas.
Davi, Cheryl, Nailu, dan Rava merapatkan barisan di sebelah Azkailah dan Ghofar, sementara Tasya mencoba memancing portal balikan menggunakan sihir ruangnya. Namun, setiap kali lingkaran sihir ungu Tasya terbaca, energi di tempat itu langsung menyerapnya hingga padam.
"Gak bisa," bisik Tasya putus asa. "Pintu ruang di sini terkunci dari luar."
"Kalian tidak perlu membuang energi untuk melarikan diri."
Sebuah suara bergaung ganda memecah keheningan di atas hamparan kristal hitam tersebut. Suara yang sangat familiar—suara dingin, pekat, dan penuh dengan intimidasi murni.
Di atas sebuah pilar kristal raksasa yang melayang beberapa puluh meter di hadapan mereka, sosok berpakaian jubah hitam muncul secara bertahap dari balik bayangan. Erebos berdiri di sana, memegang kristal kelamnya yang kini memancarkan pendar hitam keperakan yang sangat terang.
"Selamat datang di Realm of Oblivion... tiga belas pahlawan terpilih," bisik Erebos, tatapan tajamnya menembus barisan Ayyasy dan teman-temannya.
Ayyasy melangkah ke paling depan, mengibaskan tangannya hingga Dragon Flame Aura keemasan membumbung membakar kegelapan di sekitarnya. "Erebos! Apa maksud lu mengisolasi kita bertiga belas di sini?!"
Erebos terkekeh dingin, suara tawanya memantul di seluruh penjuru ruang hampa.
"Sederhana, Ayyasy," sahut Erebos tenang. "Sembilan belas teman kalian di luar sana adalah fondasi pertahanan kota, tapi kalian bertiga belas... kalian adalah otak, jantung, dan senjata terkuat dari Miracle. Dengan memisahkan kalian dari rombongan utama, aku telah merobek separuh dari kekuatan terbesar kalian."
Erebos mengangkat tangan kanannya. Kristal kelam di jemarinya bergetar masif, memunculkan belasan rantai hitam beracun yang melayang siap menerkam dari segala arah.
"Di tempat ini, hukum sihir Empat Kota tidak berlaku. Di tempat ini... aku adalah aturan murni. Pertarungan kalian untuk bertahan hidup yang sesungguhnya... dimulai dari sekarang."
Ayyasy, Night, dan kesebelas pahlawan Miracle lainnya mengencangkan kuda-kuda mereka, bersiap menghadapi ancaman terbesar yang pernah mereka temui di jantung markas musuh.