Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Periksa Tugas
“Satu bulan itu lebih dari cukup.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Kirana selama dua hari berikutnya. Bahkan sekarang, saat berdiri di depan ruang dosen dengan buku tugas hitam di dada, suaranya masih terdengar terlalu dekat.
Pukul empat lewat tiga menit. Koridor Fakultas Ekonomi mulai sepi. Winda sudah pulang karena harus membantu ibunya mengurus pesanan olshop, sementara hujan tipis membuat cahaya sore di jendela berubah kelabu.
Kirana mengetuk pintu.
“Masuk.”
Arya duduk di belakang meja. Jasnya tergantung di sandaran kursi, lengan kemeja putih digulung sampai siku. Di samping laptop ada dua cangkir kopi, satu hitam dan satu berwarna lebih pucat.
“Tugas tambahan, Prof.” Kirana meletakkan buku di meja.
Arya menunjuk kursi di depannya. “Duduk.”
“Saya bisa menunggu di luar.”
“Saya akan memeriksanya sekarang.”
Kirana duduk dengan enggan. Arya membuka buku itu, membaca halaman demi halaman tanpa terburu-buru. Keheningan hanya diisi suara hujan dan sesekali notifikasi dari laptopnya.
“Yang itu untuk kamu.” Arya menunjuk cangkir berwarna pucat.
“Saya nggak minta kopi.”
“Bukan kopi. Susu hangat, sedikit madu.”
Kirana mengendusnya. Aroma manis lembut naik bersama uap. “Kenapa susu?”
“Kamu minum dua gelas kopi sejak pagi.”
“Prof lihat dari mana?”
“Satu di tanganmu saat masuk kampus. Satu lagi di meja perpustakaan.”
“Mengamati lagi?”
“Kebetulan lewat.”
“Dua kali?”
“Kampus ini tidak terlalu besar.”
Kirana menyentuh cangkir. Hangatnya merambat ke jari yang dingin karena hujan. Ia menyesap sedikit sebelum sempat mengingat bahwa dirinya seharusnya menolak. Rasanya pas, tidak terlalu manis.
“Kalau tidak suka, tinggalkan,” kata Arya.
Kirana menyesap lagi. “Saya cuma nggak mau mubazir.”
“Tentu.”
Ada tawa tersembunyi dalam satu kata itu. Kirana meletakkan cangkir sedikit keras.
“Periksa saja tugasnya.”
Arya kembali membaca. Beberapa menit berlalu sebelum ia menyodorkan satu lembar cetak. “Kamu memilih rasio yang benar, tapi asumsi pertumbuhanmu terlalu aman.”
Kirana mengambil lembar itu. Mereka sempat benar-benar membahas analisis keuangan, tanpa sindiran dan tanpa Singapura. Arya menjelaskan singkat, tajam, dan jauh lebih mudah dipahami daripada buku teks. Kirana membantah satu asumsi, lalu membuktikannya dengan data di halaman belakang.
Arya memeriksa angka tersebut dan mengangguk. “Bagus.”
Pujian sederhana itu terasa lebih memuaskan daripada yang ingin Kirana akui.
“Jadi tugas saya nggak berantakan?”
“Analisis utamanya bagus.” Arya membalik halaman. “Revisinya tetap ceroboh.”
Ponsel Arya menyala. Pesan dari Rian muncul singkat di layar.
Rapat pukul 16.30 siap, Pak.
Arya mengetik balasan tanpa mengalihkan perhatian terlalu lama dari buku.
Tunda tiga puluh menit.
Kirana sempat melihatnya. “Prof punya rapat. Saya bisa kembali besok.”
“Rapatnya bisa menunggu.”
“Tugas mahasiswa lebih penting?”
“Mahasiswanya.”
Ujung jari Kirana mencengkeram tali tas. “Tolong jangan bicara begitu di kampus.”
“Di sini hanya ada kita.”
“Pintunya terbuka.”
“Supaya kamu merasa aman.” Arya akhirnya mengangkat wajah. “Kalau kamu ingin pergi, pintunya tidak pernah saya kunci.”
Kirana menoleh pada celah pintu. Jantungnya justru berdetak lebih keras karena Arya memberinya pilihan.
“Bagaimana tugas saya?” tanyanya.
“Berantakan.”
“Apa?”
Arya memutar buku agar menghadap Kirana. Ia menunjuk satu paragraf dengan pena. “Sumber pertama tidak mendukung kesimpulanmu. Tabel kedua belum direvisi. Dan di halaman enam, kamu menulis angka yang berbeda dari laporan asli.”
Kirana meraih buku. “Nggak mungkin.”
“Periksa.”
Ia membaca ulang, lalu menemukan tiga kesalahan kecil yang disebut Arya. Rasa malu berubah menjadi curiga.
“Prof sengaja cari-cari kesalahan.”
“Saya membaca pekerjaanmu.”
“Mahasiswa lain juga diperiksa sedetail ini?”
“Tidak ada mahasiswa lain yang meninggalkan catatan seperti milikmu.”
Kirana menutup buku. “Kita kembali ke masalah itu lagi?”
“Kita belum pernah menyelesaikannya.”
“Karena Prof nggak bilang sebenarnya mau apa.”
Arya bersandar. “Baik. Untuk setiap satu kesalahan, satu halaman revisi tambahan.”
“Itu nggak masuk akal.”
“Atau kamu bisa mengganti hukumannya dengan cara lain.”
Nada suaranya tetap dingin, tetapi tatapannya jatuh pada bibir Kirana. Udara di dalam ruangan seolah berubah lebih berat.
“Cara apa?” tanya Kirana, padahal ia sudah tahu.
Arya berdiri.
Ia berjalan mengitari meja tanpa tergesa. Kirana ikut bangkit, mundur satu langkah ketika pria itu berhenti di depannya.
“Satu ciuman,” ucap Arya.
Napas Kirana tersangkut. “Prof menggunakan nilai untuk meminta ciuman?”
Ekspresi Arya berubah seketika. “Tidak.”
Ia mengambil buku dari tangan Kirana, menulis nilai A di halaman terakhir, lalu menandatanganinya.
“Nilaimu tidak bergantung pada apa pun selain pekerjaanmu. Revisi itu tugas tambahan, tidak masuk sistem.” Ia menyerahkan buku tersebut kembali. “Dan ciuman hanya terjadi kalau kamu menginginkannya.”
Kirana terdiam. Jawaban itu menghapus alasan termudah untuk marah.
“Kalau saya nggak mau?”
“Kamu pulang.”
“Lalu upah yang mau Prof tagih?”
“Saya tunggu sampai kamu memberikannya sendiri.”
Hujan memukul kaca sedikit lebih keras. Arya berdiri dekat, tetapi tidak menyentuh. Kirana bisa mundur, bisa memutar badan, bisa berjalan keluar lewat pintu yang masih terbuka.
Ia tidak melakukan satu pun.
“Prof terlalu percaya diri,” bisiknya.
“Kamu belum pergi.”
Kirana mengangkat dagu. “Mungkin saya cuma penasaran.”
“Penasaran pada apa?”
“Apakah Prof selalu bicara sebanyak ini sebelum mencium perempuan.”
Sesuatu yang gelap dan panas melintas di mata Arya.
Ia mengangkat satu tangan, menahannya di samping kepala Kirana tanpa menyentuh dinding. Tubuhnya menutupi cahaya, membuat Kirana merasa dikepung meski jalur ke pintu tetap terbuka.
“Tidak ada perempuan lain,” katanya.
Kirana ingat pengakuan di kamar hotel. Pertama kali. Saat itu ia mengira Arya hanya mengatakan sesuatu untuk menenangkan rasa malunya.
“Jangan bohong.”
“Saya tidak pernah punya alasan untuk berbohong kepadamu.”
Wajah mereka tinggal sejengkal. Napas Arya menyentuh bibirnya. Kirana bisa mendengar detak jantung sendiri, bisa merasakan panas menjalar dari leher ke dada.
Arya tidak mengurangi jarak terakhir.
“Bilang kalau kamu mau,” bisiknya.
Kirana membuka bibir, tetapi suara batuk keras terdengar dari koridor.
“Prof. Arya?” panggil Pak Yudi. “Anda masih di dalam?”
Kirana melompat mundur. Bahunya membentur rak buku dan sebuah map hampir jatuh. Arya menangkap map itu sebelum menyentuh lantai, sementara Kirana buru-buru merapikan rambut.
Pak Yudi muncul di celah pintu, menyipitkan mata ke dalam ruangan. “Oh, ada mahasiswa.”
“Saya menyerahkan tugas, Pak,” kata Kirana terlalu cepat.
“Bagus, bagus.” Pak Yudi mengangkat payung. “Saya pulang dulu. Jangan lupa kunci ruang staf.”
Setelah langkahnya menjauh, Kirana meraih tas.
“Saya juga pulang.”
Arya tidak menahannya. Ia hanya bersandar pada meja sambil memandang Kirana menuju pintu.
“Rana.”
Kirana berhenti tanpa menoleh.
Suara Arya turun, cukup pelan untuk membuat kulit tengkuknya meremang.
“Utang yang tadi, kita ganti dengan cara lain.”
Kirana keluar sebelum pria itu melihat senyum kecil yang gagal ia tahan.