"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
"Karena manusia yang sudah di cintai sang Dewi itu adalah Leluhur keluarga Danendra, kami menjaga pohon itu adalah sebagai permintaan maaf keluarga kami pada sang Dewi yang sudah di rusak oleh salah satu leluhur kami, cinta tulus dari orang yang menjaga lah yang akan membuat sang Dewi memaafkan leluhur Danendra" jawab Hamka
"Akhirnya aku paham, tidak sembarang orang yang bisa mendekati pohon itu, karena si pohon adalah bentuk dari rasa sedih, kecewa, takut, tapi juga bahagia karena dia akan punya kesempatan untuk kembali menjadi sosok aslinya dengan bantuan dari keturunan orang yang dia sayangi, iya kan?" tanya Panca
"Iya, kakak benar" jawab Hamka
Mereka melanjutkan perjalanan mereka sambil terus mengobrol, hingga dua jam kemudian, mereka sudah sampai di depan gerbang resort yang masih tertutup karena bukan hari Jum'at.
"Rileks kak" ledek Hamka begitu terdengar bunyi gerbang yang akan di buka karena Panca terlihat sangat gugup.
Trak. Trak. Sreeek.
"Papa! Abang!" dua anak kecil yang hanya beda satu tahun itu langsung berlari memeluk Hamka.
"Kalian baik baik saja?" tanya Hamka menggendong keduanya
"Baik bang, pa" jawab keduanya
"Kenalkan Ini Om Panca" ucap Hamka menunjuk Panca yang ikut tersenyum melihat interaksi ketiga orang di depannya.
"Halo Om Panca" sapa keduanya mencium tangan Panca meski masih di gendong Hamka.
"Ada Panca juga" sapa Sagara menghampiri Panca dan memeluknya
"Iya pak, saya akan membeli perlengkapan bayi di untuk di kampung" jawab Panca sopan tapi ada satu orang yang terus menatapnya intens bahkan sedikit galak. Dialah Miqdad.
"Bang ini siapa?" tanya Miqdad memastikan karena dia mendengar nama Panca dari mulut Sagara, nama yang sama dengan yang di bicarakan Haris adalah orang yang akan jadi jodoh Mahira.
Miqdad bahkan sampai menilai penampilan Panca dari atas sampai bawah, terlihat sederhana tapi juga berwibawa. Kulitnya yang kuning Langsat membuat pesona Panca berbeda dengan orang kota, dia seperti simbol kesederhanaan tapi juga ketegasan.
"Panca, dia salah satu tetua di kampung mahoni" jawab Sagara merangkul Miqdad agar berkenalan dengan Panca.
"Assalamu'alaikum, nama saya Adhyaksa Panca Sena Om" sapa Panca sopan mencium tangan Miqdad
"Wa'alaikumussalam, saya Miqdad, adiknya bang Gara" jawab Miqdad menghela nafasnya karena ternyata Panca juga seorang muslim tapi ada satu masalah lagi dalam pikiran Miqdad, jumlah istri Panca.
"Usia kamu berapa tahun?" tanya Miqdad
"Saya dua puluh tiga jalan dua empat Om" jawabnya merasa aneh karena seperti sedang di interogasi.
"Ada berapa perempuan di rumah kamu?" tanya Miqdad lagi membuat Sagara dan Hamka hampir tertawa karena mereka tahu tujuan Miqdad bertanya seperti itu.
"Hanya ada dua" jawab Panca membuat Miqdad melotot tak percaya
"Dua kamu bilang hanya! Memangnya kamu maunya berapa istri?" tanya Miqdad dengan nada ketus
"Maksud Om apa ya? Saya tidak mengerti" tanya Panca kebingungan sementara Sagara dan Hamka sudah terkekeh.
"Kamu bilang di rumah kamu ada dua perempuan kan, itu istri kamu sudah dua kenapa kamu bilang cuma" jawab Miqdad geregetan
"Oh.. Seperti itu, mereka bukan istri saya, itu ibu dan adik ipar saya, saya belum menikah" jawab Panca
"Yakin?" tanya Miqdad tidak percaya
"Iya Om, memangnya kenapa bertanya sampai sejauh itu? Saya malah jadi takut" ucap Panca
"Hah.. Syukurlah, Mahira tidak jadi istri ke tiga, jaga anak saya, kalau sampai kamu buat dia menangis, awas kamu! akan saya potong burung kamu sampai habis!" ancam Miqdad membuat Panca Shok dengan pernyataan tiba tiba dari Miqdad.
"A.. A.. Apa tadi Om? Saya tidak dengar" gugup Panca karena takut kalau sampai yang dia dengar itu salah. Mahira mau di titipkan padanya, itu artinya dia akan menikahi perempuan idamannya sejak enam tahun lalu.
"Tidak jadi deh, sepertinya kamu tidak tertarik" jawab Miqdad ketus
"Tertarik ko Om, tapi saya hanya terkejut saja, ini bagaimana menjelaskannya ya" ungkap Panca gugup
Dia tidak tahu kalau ternyata yang ada di depannya ini adalah ayah dari Mahira, makanya dia tadi tidak segugup itu, tapi setelah tahu, apalagi Miqdad tiba tiba menitipkan Mahira padanya, bibirnya tiba tiba saja terasa kaku untuk berbicara dan juga mengatakan kalau sebenarnya dia sudah menyukai Mahira sejak lama, tapi dia pendam dalam dalam.
"Saya sudah tahu semuanya, kamu bertemu anak saya sejak bertahun-tahun lalu saat dia study tour di Jogyakarta dan dia yang memberikan kalung itu sama kamu kan?" tanya Miqdad dan Panca mengangguk gugup
"Memangnya kamu bisa tahu yang mana Mahira dari tiga perempuan yang datang ke sini itu?" tanya Sagara menunjuk Lyra, Esmeralda dan Mahira yang berjalan mendekati para lelaki itu.
Mata Panca langsung tertuju pada gadis berusia sembilan belas tahun dengan rambut panjang yang dia gerai, rambutnya yang tertiup angin dan wajahnya yang cantik membuat Panca lupa kalau di sana dia tidak sendiri. Apalagi saat mata mereka beradu, Mahira langsung terkejut karena dia melihat lelaki yang selalu ada dalam mimpinya sekarang ada di depannya, dengan kalung yang sama yang dia berikan pada lelaki itu beberapa tahun yang lalu.
"Khhmm!" suara deheman Miqdad langsung membuyarkan lamunan Panca.
"Astagfirullah, maafkan saya" ungkap Panca terkejut karena dia baru sadar kalau terlalu larut dalam kekagumannya melihat gadisnya yang dulu begitu kecil sekarang sudah berubah dewasa.
"Mana yang namanya Mahira?" tanya Sagara ketika tiga perempuan itu sudah berdiri di depan Panca.
"Ini, yang ada tahi lalat kecil di bawah matanya" jawab Panca menunjuk Mahira.
"Itu Lyra" ledek Sagara
"Tidak mungkin, saya masih ingat kalau Mahira ada tahi lalatnya di sini, saya juga sering mengawasinya saat kuliah di jakarta dulu" celetuk Panca keceplosan
"Nah kan ketahuan" sinis Hamka
"Astagfirullah, maafkan saya lagi, saya tidak bermaksud lancang, saya hanya ingin tahu keadaan Mahira saja, tapi saya tidak mendekatinya Om, saya hanya melihat dari jauh saja" ungkap Panca gelagapan dan panik karena ketahuan menjadi penguntit Mahira sejak kuliah.
"Ya ampun, apa yang seperti ini yang kamu bilang sering ada di mimpi kamu setelah kamu menerima lamaran Satria?" tanya Miqdad dan Mahira hanya menunduk malu.
Miqdad memang sudah berbicara berdua dengan Mahira tentang kegelisahan Mahira setiap malam sejak beberapa minggu ini, dan setelah di desak, akhirnya Mahira mau mengaku kalau dirinya terus di datangi seorang lelaki yang dulu dia berikan kalung miliknya setelah menerima lamaran Satria. Itu membuat Mahira tidak tenang, bahkan sampai mengalami gangguan mistis karena terus di datangi seorang kakek yang mengatakan kalau jodohnya adalah lelaki yang ada dalam mimpinya.
"Sudah, adzan Maghrib sudah berkumandang, ayo Kita ke hotel, besok pagi pagi sekali kita ke kampung Mahoni, Panca juga sebaiknya menginap bersama kami" ajak Sagara dan semuanya setuju