Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihanmu Hanya Dua

Dengan tangan yang masih bergetar, ia meraih gelas kaca tersebut, meminum air hangat itu seteguk demi seteguk untuk meredakan rasa mual yang kembali merayap di dadanya, sementara Gavin melangkah kembali menuju meja kerjanya, melanjutkan sandiwara mendinginnya untuk menutupi hancurnya perasaan yang ia miliki di dalam ingan lantai tiga puluh yang sunyi.

Jarum jam dinding di dalam Ruang Kerja Utama CEO terus berputar tanpa suara, menunjuk ke angka yang semakin larut. Tetesan terakhir cairan nutrisi dari botol plastik di atas tiang besi akhirnya berhenti, menyisakan ruang kosong di dalam selang transparan.

Safira Angela menghela napas panjang, dugaannya benar dimana begitu cairan itu habis, sensasi lemas di tubuhnya sedikit berkurang, meski kepalanya masih terasa seperti berputar setiap kali dia melakukan gerakan yang terlalu mendadak.

Dengan sangat hati-hati, tangan kanan Safira bergerak meraih plester medis yang merekat erat di punggung tangan kirinya. Dia meringis kecil saat mencabut perekat tersebut, lalu dengan gerakan perlahan yang dia pelajari dari pengalaman masa lalu, dia menarik jarum infus keluar dari pembuluh darahnya. Setetes darah merah segar sempat menyembul, namun Safira dengan cepat menekannya menggunakan kapas steril yang masih tersisa di atas meja kaca kecil.

Gerakan itu tidak luput dari perhatian Gavin Alvaro Abraham. Meskipun matanya tampak fokus pada layar laptop di hadapannya, indra pendengaran dan perhatiannya sepenuhnya tersita oleh setiap gerak-gerik wanita di sudut ruangan.

Safira menurunkan kedua kakinya dari atas sofa, menapakkan sepatunya kembali ke atas karpet kelabu. Dia merapikan kemeja kerja dan rok hitamnya yang kusut, lalu berdiri dengan perlahan. Tubuhnya sempat bergoyang sedikit, memaksa Safira untuk bertumpu pada sandaran lengan sofa selama beberapa detik hingga keseimbangannya kembali pulih.

Setelah merasa cukup stabil, Safira melangkah mendekati meja kerja Gavin, berhenti dalam jarak aman yang dilingkupi batasan formal.

"Tuan Gavin," panggil Safira, suaranya masih terdengar sangat tipis di dalam ruangan yang sunyi.

"Cairan infus saya sudah habis dan jarumnya sudah saya lepaskan. Waktu sudah hampir tengah malam, jadi saya mohon izin untuk pamit pulang sekarang." izin Safira berpamitan.

Gavin menghentikan ketukan jemarinya di atas papan tik. Pria itu mendongak, menatap Safira dengan pandangan mata elang yang sulit diartikan.

Di balik wajah mendingin yang sengaja dia pasang sejak tadi, ada rasa tidak tega yang kembali mengoyak dadanya saat melihat bagaimana Safira harus mencabut infus itu sendiri dengan wajah menahan sakit. Tubuh wanita itu masih tampak begitu rapuh, seolah-olah embusan angin malam yang kencang di luar sana bisa dengan mudah menumbangkannya lagi.

Entah ada dorongan dari mana sebuah impuls protektif yang sudah lama dia kubur sejak tiga tahun lalu dimana Gavin tiba-tiba menutup laptopnya dengan satu sentakan pelan. Dia berdiri dari kursi kebesarannya, meraih kunci mobil sport hitamnya dan jas beludru yang tersampir di sandaran kursi.

"Aku yang akan mengantarmu." ucap Gavin datar, nadanya tidak menerima bantahan sedikit pun.

Mendengar kalimat yang keluar dari bibir mantan suaminya, sepasang mata jernih Safira seketika membelalak lebar. Rasa panik yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Mengantarnya pulang? Ke rumahnya yang sekarang?

"Tidak, Tuan Gavin! Tidak perlu," jawab Safira dengan nada yang teramat panik, kedua tangannya bergerak mengayun di udara sebagai bentuk penolakan yang keras.

"Saya bisa pulang sendiri menggunakan taksi online. Saya benar-benar tidak ingin merepotkan Anda lagi malam ini. Anda sudah sangat baik dengan membiarkan saya beristirahat di sini." tolak Safira dengan sopan.

Gavin menyipitkan matanya, langkah kakinya bergerak memutari meja mahoni dan berhenti tepat dua langkah di depan Safira.

"Merepotkan? Kamu pikir aku sedang menawarkannya sebagai sebuah kebaikan, Safira? Aku hanya tidak ingin besok pagi mendapati berita bahwa salah satu stafku diculik atau pingsan lagi di pinggir jalan karena kecerobohannya sendiri. Cepat jalan." serunya.

Safira menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang tegas, meskipun kepalanya kembali berdenyut perih akibat penolakan tersebut. Dia tidak boleh membiarkan Gavin tahu di mana dia tinggal sekarang. Rumah kontrakannya yang sekarang adalah rahasia terbesar yang hubungannya dengan kemewahan masa lalu mereka.

"Rumah saya sangat jauh dari gedung pusat ini, Tuan Gavin." Safira mencoba memberikan alasan yang masuk akal, suaranya bergetar menahan rasa cemas yang membubung.

"Saya... saya masih tinggal di daerah pinggiran kota, di sebuah kontrakan petak kecil dekat dengan area perusahaan lama yang Anda akuisisi kemarin. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu lebih dari satu jam dari pusat kota. Ini sudah terlalu larut, dan Anda pasti sangat lelah. Tolong, biarkan saya memesan taksi saja." tolak nya lagi dengan alasan yang cukup masuk akal.

Mendengar kata kontrakan petak, rahang Gavin seketika mengeras sempurna. Sesuatu di dalam dadanya terasa berdenyut nyeri, bercampur dengan amarah yang membakar.

'Kontrakan petak? Wanita yang dulu tinggal di dalam mansion mewah dengan belasan pelayan, sekarang tinggal di sebuah kontrakan petak di pinggiran kota yang kumuh?' batin Gavin bergejolak hebat.

Kenyataan pahit tentang kondisi hidup Safira saat ini hentinya menghantam harga diri Gavin sebagai seorang pria yang pernah berjanji untuk membahagiakannya seumur hidup. Rasa bersalah yang tertutup dendam kembali bergolak di dalam dirinya.

Namun, Gavin tetaplah Gavin Alvaro Abraham. Semakin keras Safira menolak, semakin mutlak pula keinginan pria itu untuk memegang kendali atas situasi ini. Sifat diktatornya yang egois dan suka dibantah langsung keluar ke permukaan.

"Aku tidak peduli seberapa jauh rumahmu, Safira. Bahkan jika rumahmu berada di ujung pulau ini sekalipun, jika aku mengatakan aku yang mengantar, maka tidak ada satu pun kata penolakan yang ingin kudengar dari mulutmu." desis Gavin, suaranya merendah namun sarat akan intimidasi yang mutlak yang langsung mengunci keberanian Safira.

Gavin melangkah maju satu lagi, membuat Safira terpaksa mundur hingga punggungnya membentur tepian meja mahoni. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata jernih Safira yang kini berkedip karena ketakutan.

"Pilihanmu hanya dua, Safira Angela," ucap Gavin dengan nada yang teramat dingin dan kejam.

"Kamu jalan di depanku menuju lift dengan sukarela sekarang juga, atau aku akan menggendongmu lagi di sepanjang koridor gedung ini hingga masuk ke dalam mobilku. Pilih yang mana?"tegas Gavin dengan ancaman.

Ancaman itu main-main. Safira bisa melihat kilatan keseriusan yang bisa diganggu gugat di dalam sepasang mata elang Gavin. Jika dia tetap bersikeras menolak, Gavin benar-benar akan mewujudkan ucapannya, dan itu akan menjadi mimpi buruk yang jauh lebih besar jika ada petugas keamanan basemen yang melihat mereka.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ida Haryono
lanjut thor gmn gavin bs selembut itu dg istri cibtanya....aku jadi sendu nich apkh pasangan kita bs spt itu he..he....
Ani Kurniati
bagus
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Hah? Gimana-gimana?
Ida Haryono
asyiik ya indehoylah terus tapi jgn sd safira sakit ya.....
Ida Haryono
lanjut thor kisah ini bagus dan cinta sehati nrk terjalin kembali mudah2an cita2 Gavin bersama Safura berjalan peniuh kasih d cinta....🤣
Raji Hamizan
nona muda dong jgn nyonya
Ida Haryono
lanjut thor....cerita ini berbeda dgn yg lain2nya .....agk complicated dgn alur csrita msg2 perannya....nggak sabar endingnya....🤣👍
Inooy
aq koq janggal denger Safira memanggil Dimas BAPAK..cukuplah PAK aj g perlu BAPAK
Ghaitsa Adzra Serintia
keren
Ade Chubi
kasihan Safira😭
Paw_chan🐾
bagus
imoe nawar
👍
ILALANG
banyak yang menyalahkan Gavin tanpa melihat tiga tahun yang lalu dimana Gavin dan keluarganya menanggung aib
ILALANG
ini bukan salah Gavin 100% karena yg dia tau kalau mantan istrinya ini sudah menhianatinya diceraikan tanpa alasan dan bahkan tidak ada kabar selama 3 tahun,kalau ada yang bilang kenapa Gavin ga mencari tau penyebabnya itu dikarenakan dia udah sakit hati duluan dan merasa istrinya tidak menginginkannya lagi dan juga merasa dia ditinggal tanpa alasan yang jelas,ingat mereka ini suami istri bukan orang yg masih pacaran,justru dengan Safira menceraikan Gavin malah manjadi aib bagi keluara Abraham,karena orang akan merasa masa seorang Gavin ditinggal cerai sama istrinya,dan itu juga sangat melukai hati Gavin dan merasa tidak memiliki harga dir.
Kalau Safira ya dia memang kasihan karna menanggung beban sendirian tapi ingat dia sendiri yang memilih jalan ini jadi harusnya dia lebih sadar diri ketika Gavin balas dendam
Ade Chubi
duh kasihan Shafira 😭
Ade Chubi
baru mampir baca ,sedih 😭
semangat Shafira💪💪
Hadi Mulyono
ceritanya bagus bahasanya jg Alus .jarang ada kesalahan penulisan .keluarga harmonis suami yg setia penyayang 👍
Hadi Mulyono
kaya raya ganteng setia kayaknya cuma Gavin deh ..jaman sekarang 1001 🤣🤣
Hadi Mulyono
nah gitu ga in satt set
Hadi Mulyono
baca.. air mata ga diem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!