Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Genggaman tangan Hayden pada ponselnya mengerat kencang hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Iris mata kelamnya membeku, berkilat oleh kombinasi terkejut dan amarah yang meledak hebat dari dasar dadanya.
"Siapa yang memberi tahu mereka lokasi rumah Aluna?!" teriak Hayden, suaranya bergema memecah sunyinya hutan pinus di sekeliling studio.
"Mata-mata Nona Valerie yang melacaknya, Tuan! Sekarang saya sedang berada di perjalanan menuju rumah Nona Aluna!" sahut Rendra panik.
Tanpa membuang waktu untuk menjawab, Hayden mematikan sambungan telepon. Pria itu menyambar kunci mobil, melompat masuk ke dalam SUV hitamnya, dan menancap gas dalam-dalam. Raungan mesin dan derit ban beradu keras dengan jalanan berkerikil saat mobilnya meluncur membelah sore.
Pikiran Hayden kacau balau. Bayangan tatapan mati rasa Aluna kemarin bercampur dengan ancaman keluarganya terus berputar liar di kepalanya. Untuk pertama kalinya, ketakutan aneh yang tak pernah ia rasakan merayap cepat—ketakutan bahwa Aluna benar-benar akan menghilang dari jangkauannya.
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit bagi Hayden untuk menerobos lalu lintas dan menghentikan mobilnya secara mendadak di depan rumah sewa sederhana berdinding krem itu. Mobil Rendra sudah terparkir lebih dulu di sana.
Hayden melompat keluar dari mobil, melangkah lebar memotong halaman kecil dengan napas memburu. Pintu kayu depan rumah itu sudah terbuka lebar. Rendra berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi dan menunduk kaku saat melihat atasannya mendekat.
"Di mana Aluna?" bentak Hayden, suaranya serak dan sarat penekanan mutlak.
"Tuan... maafkan saya..." suara Rendra bergetar. "Saya terlambat. Rumah ini... sudah kosong."
Langkah Hayden terhenti seketika. Iris matanya melebar, lalu ia menepis Rendra dan menerobos masuk ke dalam rumah.
Aroma rumah yang biasanya hangat kini terasa hampa. Ruang tamu kecil itu lengang. Tidak ada suara roda kursi Romeo, tidak ada helaan napas Aluna. Hayden melangkah cepat menuju kamar tidur, membuka pintunya dengan sentakan kasar.
Kosong.
Lemari pakaian terbuka lebar, pintunya menggantung miring. Seluruh pakaian Aluna dan Romeo sudah tak ada. Hanya tersisa beberapa gantungan baju plastik yang bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang terbuka sedikit. Di atas meja kayu kecil di sudut kamar, tidak ada lagi barang-barang pribadi mereka.
"Aluna...!" panggil Hayden, suara beratnya bergema di dalam rumah kosong tersebut.
Ia bergerak ke dapur, lalu ke kamar mandi, membuka setiap pintu dengan kepanikan yang kian meluap dan meremukkan dadanya. Namun, tidak ada siapa-siapa. Rumah itu benar-benar ditinggalkan tanpa sisa.
Hayden kembali ke ruang tamu, berdiri mematung di tengah ruangan. Tatapannya terjatuh pada meja kecil dekat pintu. Di sana, tergeletak sebuah amplop putih dan selembar sertifikat kepemilikan rumah.
Dengan jemari yang gemetar, Hayden memungut amplop tersebut. Di dalamnya terdapat kunci rumah dan selembar kertas catatan kecil tulisan tangan Aluna.
Rumah ini peninggalan almarhum orang tua kami. Jika kamu merasa seluruh biaya rumah sakit dan pengobatan Kak Romeo masih kurang, ambil dan jual rumah ini. Aku sudah berpesan pada tetangga, siapa pun yang berniat membeli rumah ini agar menghubungi nomor teleponmu. Dengan ini, kami tidak berhutang sepeser pun padamu, Hayden. Jangan pernah cari kami lagi.
Cengkeraman Hayden pada kertas dan sertifikat itu mengerat hingga remuk. Rahangnya menegang kaku, napasnya naik turun menahan amarah dan kehampaan luar biasa yang mendadak menghantam dadanya bagai pukulan godam. Aluna sengaja memberikan satu-satunya harta peninggalan orang tuanya demi memutus seluruh ikatan dan memastikan dirinya tak lagi terjerat hutang budi pada Hayden.
Rendra melangkah masuk dengan hati-hati. "Tuan... tetangga sebelah baru saja menghampiri saya. Dia bilang, setengah jam yang lalu Nona Aluna dan Tuan Romeo mengangkut barang-barang mereka ke dalam mobil boks kecil. Nona Aluna menitipkan pesan itu pada tetangga jika ada pembeli yang datang..."
"Ke mana mereka pergi?!" bentak Hayden, memutar tubuhnya dan menatap Rendra dengan mata merah membara.
"Saya sudah menanyakan hal itu pada tetangga, Tuan, tapi mereka sama sekali tidak tahu ke mana Nona Aluna dan Tuan Romeo pindah," jawab Rendra cepat. "Saya juga sudah menyuruh tim untuk melacak kamera pengawas di sepanjang jalan utama, tapi Nona Aluna sengaja memilih rute pemukiman sempit yang tidak terjangkau CCTV kota. Ponsel Nona Aluna dan Tuan Romeo juga sudah tidak aktif sama sekali."
"Cari mereka!" teriak Hayden, suaranya menggelegar memenuhi rumah kosong itu hingga Rendra tersentak mundur. "Tutup semua akses keluar kota! Stasiun, bandara, terminal, pelabuhan! Periksa semua rumah sakit dan klinik rehabilitasi di seluruh negeri!"
"Baik, Tuan! Segera saya laksanakan!" sahut Rendra tegas, lalu bergegas keluar untuk menghubungi seluruh jaringan pengawal Mahendra Group.
Sepeninggal Rendra, keheningan kembali menguasai rumah kecil peninggalan orang tua Romeo itu.
Hayden menyandarkan tubuh tegapnya pada dinding kayu, perlahan merosot hingga ia berlutut di atas lantai dingin. Sertifikat rumah dan kertas remukan dari Aluna masih tergenggam erat di tangannya. Seniman genius yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang ia inginkan itu kini terduduk hancur di dalam rumah kosong yang hampa.
Gadis yang berusaha ia kurung, gadis yang ia patahkan sayapnya, kini telah menyerahkan segalanya untuk memotong sisa ikatan di antara mereka—terbang dan melesat pergi ke tempat yang sama sekali tak diketahui Hayden, meninggalkan sang penguasa dalam sangkar emasnya sendiri yang mendadak terasa bagai neraka yang dingin.
*
*
*