Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Amplop itu
Sejak pertemuan tak terduga dengan Rosalia Danuartha di pusat perbelanjaan hari itu, bayang-bayang ke-minderan mulai menggerogoti benak Aira. Meski Arka telah menegaskan perlindungannya dan berjanji akan selalu berdiri di sisinya, kenyataan tak terbantahkan mengenai perbedaan status sosial mereka terus berbisik di telinga Aira setiap kali ia sendirian.
Pagi itu, di dalam kamar mandi utama yang luas dan berbalut marmer mewah, Aira berdiri di depan cermin besar. Gadis sembilan belas tahun itu memperhatikan bayangannya sendiri. Ia mengenakan gaun katun sederhana yang nyaman. Wajahnya polos tanpa polesan riasan tebal, tampak begitu muda dan amat bersahaja.
Apakah aku benar-benar pantas berdiri di samping pria sekelas Arka Danuartha? batin Aira bertanya-tanya. Kata-kata Rosalia—tentang pasar lelang kemiskinan dan wanita kalangan atas yang seharusnya mendampingi Arka—terus terngiang bagaikan rekaman ulang yang merusak ketenangannya.
Derap langkah kaki yang tegap memecah lamunan Aira. Arka berjalan masuk ke kamar mandi. Pria berusia 39 tahun itu baru saja selesai merapikan kemeja putihnya di depan lemari. Melihat Aira berdiri tercengang menatap cermin, Arka melangkah mendekat dari belakang.
Arka melingkarkan sepasang lengan kokohnya di pinggang Aira, menarik tubuh molek gadis itu menyandar pas di dada bidangnya. Arka membenamkan wajahnya di leher Aira, mendaratkan satu kecupan hangat di sana seraya menghirup aroma harum alami istrinya.
"Melamun apa pagi-pagi begini, hm?" gumam Arka. Suara seraknya yang berat menggema halus di dekat telinga Aira.
Aira tersentak pelan, mencoba menyunggingkan senyum tipis untuk menyembunyikan kecemasannya. "Nggak ada apa-apa, M-Mas..."
Arka memutar tubuh Aira agar menghadapnya. Manik mata hitam Arka yang tajam dan pekat menyipit, membaca raut wajah Aira yang tidak bisa berbohong. Ada kelelahan emosional dan rasa kurang percaya diri yang terpancar jelas dari pendar mata cokelat jernih itu.
Arka memegang kedua pipi Aira dengan jemari tangannya yang besar dan hangat. Ia tidak lagi ingin ada jarak formal di antara mereka.
"Lihat Mas, Aira," kata Arka tegas namun penuh kelembutan, menatap lurus mata istrinya.
"Jangan biarkan perkataan Ibu kemarin mengganggu pikiranmu. Mas tidak suka melihatmu sedih dan murung seperti ini."
Aira menunduk, jemarinya meremas tepi kemeja Arka di bagian dada. "Mas... Aira cuma merasa... apa yang dikatakan Ibu ada benarnya. Mas Arka itu pemimpin perusahaan besar, sering ketemu pejabat dan pengusaha hebat. Sementara Aira... Aira bahkan nggak tahu tata cara pergaulan orang kaya, nggak paham bisnis, dan cuma gadis desa yang pernah dijual keluarganya sendiri..."
Suara Aira memelan di akhir kalimat, bergetar menahan rasa sesak yang terkumpul di dadanya.
Arka menghembuskan napas panjang. Hatinya geram bukan main pada tekanan yang diberikan ibunya, namun di saat yang sama hatinya menggebu oleh rasa cinta dan empati yang mendalam pada gadis polos di hadapannya ini.
Arka menaikkan dagu Aira dengan ibu jarinya, memaksa mata mereka kembali bertaut.
"Dengarkan Mas baik-baik," bisik Arka penuh penekanan yang dalam dan intens.
"Mas memilihmu bukan karena latar belakangmu, bukan karena hartamu, dan bukan karena status sosialmu. Mas mencintaimu karena kamu adalah Aira—wanita tulus yang sudah mengembalikan kehangatan di rumah ini dan memberikan kasih sayang sejati untuk Elano dan Mas."
Arka mendekatkan wajahnya, mengecup bibir Aira dengan kelembutan yang menyalurkan seluruh kekuatannya. "Ingat ini, Aira. Bagi Mas, kamu adalah satu-satunya Nyonya Danuartha. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu."
Meski kata-kata hangat dan perubahan panggilan Arka yang kini menyebut dirinya 'Mas' terasa begitu manis dan menggetarkan dada, rasa minder yang terlanjur menancap dalam di hati Aira tidak bisa hilang begitu saja bagaikan dibalikkan telapak tangan.
Aira hanya mampu mengangguk pelan dan membalas pelukan Arka, berusaha mengikis ketakutannya.
Siang harinya, ketakutan Aira justru mendapatkan ujian nyata.
Sebuah kurir khusus datang ke kediaman Danuartha membawa sebuah amplop tebal berstempel perak resmi dari kediaman Rosalia Danuartha.
Bi Inah menyerahkan surat itu kepada Aira yang sedang menemani Elano menggambar di ruang keluarga.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aira membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan eksklusif berlapis emas untuk acara Jamuan Minum Teh Kemanusiaan dan Yayasan Danuartha yang akan diadakan lusa di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Danuartha.
Bersamaan dengan undangan itu, terdapat selembar memo bergaris rapi yang ditulis tangan langsung oleh Rosalia:
> Aira,
> Jika kamu memang mengaku sebagai istri dari Arka dan berani membawa nama Danuartha, hadir lah di acara jamuan teh ini lusa. Seluruh istri pebisnis papan atas dan wanita bangsawan akan hadir.
> Ini adalah kesempatan bagimu untuk membuktikan apakah kamu layak berdiri di samping Arka, atau kamu hanya akan mempermalukan putraku di depan publik.
> — Rosalia Danuartha
>
Aira menggenggam memo itu erat-erat hingga kertasnya sedikit terlipat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ini bukan sekadar undangan minum teh biasa; ini adalah panggung ujian terbuka yang disengaja oleh Rosalia untuk menjatuhkan mentalnya dan memperlihatkan ketidaklayakannya di depan kalangan atas.
"Mama Aira? Kenapa tangannya gemetaran?" tanya Elano polos sambil mendongak dari buku gambarnya.
Aira buru-buru melipat kertas itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya, mencoba menyunggingkan senyum manis untuk anak sambungnya.
"Nggak apa-apa, Mas Elano... cuma kertas biasa kok."
Namun di dalam hatinya, rasa panik luar biasa mulai melanda. Aira tahu ia tidak bisa melarikan diri. Jika ia menolak hadir, Rosalia akan makin menganggapnya pengecut dan tidak berguna. Namun jika ia hadir, bagaimana jika ia melakukan kesalahan kecil dalam etika makan atau pergaulan yang justru mencoreng nama baik Arka?
Malam harinya, Arka pulang ke rumah membawa sekotak kue manis kesukaan Aira.
Saat mereka bertiga makan malam bersama Elano, Arka mendapati Aira sangat diam. Gadis itu hanya membolak-balikkan nasi di piringnya tanpa benar-benar memakannya. Binar matanya tampak penuh beban pikiran.
Setelah Elano tidur nyenyak di kamarnya, Arka menyusul Aira ke ruang rias di kamar utama. Ia melihat Aira sedang berdiri di depan lemari pakaian, menatap gaun-gaun bagus yang pernah dibelikan Arka dengan raut wajah yang tampak makin cemas dan minder.
Arka melangkah pelan dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang Aira dan menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Arka lembut, mengusap perut Aira yang tertutup gaun rumahan.
"Seharian ini kamu melamun terus. Mas ada salah?"
Aira membalikkan badannya di dalam dekapan Arka. Dengan helaan napas berat, Aira mengambil surat undangan dari Rosalia yang ia simpan di atas meja rias dan menyerahkannya kepada Arka.
"Ibu... mengundang Aira ke acara jamuan teh yayasan lusa," bisik Aira lirih, pandangannya menunduk menatap kancing kemeja Arka.
Arka membaca memo dari ibunya dalam hitungan detik. Seketika itu juga, rahang Arka mengeras tajam. Matanya memancarkan kilatan amarah yang dingin. Pria itu tahu persis taktik ibunya—Rosalia ingin mempermalukan Aira di depan para wanita kelas atas yang terkenal tajam dan suka menghakimi.
"Kamu tidak perlu datang ke acara omong kosong ini," tegas Arka tanpa ragu. Ia hendak meremas kertas undangan itu untuk dibuang ke tempat sampah.
"Mas yang akan mengatasi Ibu."
Namun, Aira menahan lengan Arka. Tangannya yang halus memegang pergelangan tangan pria itu.
"Jangan, Mas..." kata Aira pelan, matanya menatap Arka dengan campuran rasa takut dan keteguhan yang rapuh.
"Aira... Aira harus datang."
Arka menaikkan sebelah alisnya, bertaut heran.
"Kenapa? Kamu tahu Ibu sengaja memasang perangkap untuk membuatmu merasa tidak nyaman, Aira."
"Karena... kalau Aira nggak datang, Ibu dan semua orang bakal makin mikir kalau Aira cuma wanita pengecut yang dibeli Mas Arka," sahut Aira jujur, air mata kepasrahan menetes pelan di pipinya.
"Aira nggak mau bikin Mas Arka malu terus-terusan. Tapi... Aira takut banget, Mas. Aira nggak tahu etika minum teh orang kaya, Aira nggak punya baju yang cocok, Aira nggak tahu cara bicara sama mereka..."
Melihat air mata yang menetes di pipi Aira, hati Arka serasa diiris-iris. Kebucinannya dan rasa sayangnya yang melimpah tak sanggup melihat istrinya tertekan seperti ini.
Arka menarik Aira ke dalam pelukannya yang sangat erat, mengusap rambut panjang Aira dan mengecup puncak kepalanya berulang kali.
"Dengarkan Mas, Aira," bisik Arka penuh rasa cinta yang mendalam. "Kamu tidak pernah bikin Mas malu. Tidak akan pernah."
Arka mengurai pelukan, memegang kedua bahu Aira dan menatapnya dengan penuh kepastian.
"Kalau kamu memang ingin datang dan menghadapi ujian dari Ibu, Mas tidak akan melarangmu. Tapi ingat satu hal: kamu tidak berjalan sendirian. Mas akan menyiapkan semua yang kamu butuhkan. Mas akan minta perancang busana terbaik dan pelatih etika datang besok untuk mendampingimu."
Arka mendongakkan wajah Aira, lalu mendaratkan ciuman dalam yang amat protektif di bibir istrinya, menyalurkan seluruh keyakinan dan dorongan moral untuk gadis muda itu.
"Kamu adalah istri dari Arka Danuartha," tegas Arka dengan suara serak yang mantap di akhir ciumannya.
"Tunjukkan pada mereka semua betapa indahnya wanita pilihan Mas."
Aira memeluk leher Arka erat-erat, menyerap setiap energi dan kasih sayang yang diberikan suaminya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, rasa minder itu masih membayang tebal. Lusa akan menjadi ujian sosial pertama yang sangat berat bagi Aira di dunia pergaulan papan atas yang penuh kepalsuan dan intrik.
_Bersambung