Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Menembus Hutan Mangrove dan Senandung di Bawah Bintang
BAB 29: Menembus Hutan Mangrove dan Senandung di Bawah Bintang
Fajar hari ketiga cuti militer menyapa pesisir selatan dengan suasana yang jauh lebih tenang.
Semilir angin laut yang membawa aroma garam segar menerobos masuk melalui celah jendela kamar resor, membangunkan Mayang dari tidurnya yang lelap.
Di sampingnya, Mayor Aris sudah duduk tegap di tepi ranjang, merapikan tali sepatu olahraganya.
Baret hijau dan seragam PDH-nya masih tersimpan rapi di dalam koper, pagi ini, sang Komandan Batalyon kembali sepenuhnya tampil sebagai seorang suami yang siap memanjakan istrinya.
Mayang mendudukkan dirinya perlahan, membetulkan letak kacamata berbingkai tipis di wajahnya.
Rambut hitamnya yang sedikit berantakan diusap lembut oleh Aris.
"Pagi, Istriku," sapa Aris dengan suara baritonnya yang dalam dan hangat.
"Hari ini kita punya jadwal petualangan yang berbeda. Kita tidak akan mendaki bukit atau berenang di laut lepas, tapi menjelajahi tempat yang lebih tenang."
Mayang menatap suaminya dengan mata berbinar penasaran. "Ke mana, Mas? Jangan bilang diculik ke tengah hutan latihan militer lagi ya?"
Aris terkekeh rendah, suara tawa renyah yang kini semakin sering terdengar selama masa bulan madu mereka.
"Bukan hutan tempat latihan perang, Mayang. Kita mau menyusuri labirin hijau hutan mangrove di ujung teluk. Ayo siap-siap, perahu kano kita sudah menunggu di dermaga."
Pukul delapan pagi, setelah menikmati sarapan serabi kuah kencana dan teh hangat di teras resor, mereka bergerak menuju area konservasi bakau.
Di tepi dermaga kayu yang tenang, sebuah kano ganda berwarna jingga cerah telah bersandar. Petugas konservasi lokal menyerahkan dua buah pelampung keselamatan dan dua bilah dayung kayu.
Aris dengan sigap membantu Mayang memakai pelampung keselamatan, memastikan tali pengikat di dadanya terpasang erat dan aman.
Setelah itu, Aris memegang erat lengan istrinya saat Mayang melangkah turun menaiki bagian depan kano.
Aris sendiri mengambil posisi di bagian belakang posisi penentu arah dan kendali utama, persis seperti perannya sebagai pemimpin di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
"Siap, Nyonya Aris?" tanya Aris seraya memegang dayung kayunya.
"Siap, Mas Komandan!" jawab Mayang mantap sambil tersenyum lebar.
Dengan beberapa kayuhan kuat dan teratur dari Aris, kano ganda itu perlahan meluncur mulus meninggalkan dermaga, membelah permukaan air sungai yang tenang bagaikan cermin.
Mereka mulai memasuki kawasan hutan mangrove yang rapat. Pepohonan bakau berukuran raksasa dengan akar-akar yang menjulang megah di kanan-kiri sungai membentuk lorong hijau alami yang menaungi mereka dari terik matahari pagi.
Suasana di dalam hutan mangrove begitu sunyi, magis, dan menenangkan.
Suara hiruk-pikuk dunia luar seolah lenyap seketika, digantikan oleh derak dahan pohon yang tertiup angin, kecipak air dari ujung dayung, serta nyanyian burung-burung liar yang saling bersahutan dari balik rimbunnya dedaunan.
"Mas, lihat itu!" bisik Mayang setengah berteriak girang sambil menunjuk ke arah dahan bakau di sebelah kiri mereka. "Ada burung raja udang warna biru terang!"
Aris menghentikan kayuhannya sejenak, membiarkan kano meluncur pelan terbawa arus tenang.
Ia mengikuti arah pandangan istrinya, lalu tersenyum melihat binar kebahagiaan yang begitu murni di mata Mayang dari balik lensa kacamatanya.
"Di sini memang tempat perlindungan satwa liar, Mayang," ujar Aris lembut, menyandarkan dayungnya di tepi kano. "Suasananya tenang sekali, kan?"
Mayang menoleh ke belakang, menatap wajah tampan suaminya yang terlihat begitu santai tanpa beban garis ketegasan markas.
"Iya, Mas. Rasanya tenang banget. Kalau di Mako, kepala rasanya penuh dengan berkas administrasi Persit, laporan kegiatan, sama rasa cemas setiap kali Mas Aris ada tugas mendadak. Tapi di sini... waktu rasanya berhenti khusus buat kita berdua."
Aris menatap lekat-lekat manik mata istrinya. Tangan kekar yang terbiasa memegang senjata itu terulur ke depan, mengusap lembut pipi Mayang yang tersiram bayangan dedaunan hijau.
"Saya memang sengaja merencanakan semua ini, Mayang," ucap Aris dengan nada suara yang bergetar penuh ketulusan.
"Selama satu tahun belakangan, kamu sudah terlalu banyak berkorban. Kamu menanggung rindu di tengah perpisahan tugas, menjaga kehormatan Batalyon, dan berdiri tegar di saat situasi sulit. Liburan ini adalah cara saya untuk membayar semua rasa lelahmu."
Mata Mayang mendadak hangat. Bulir air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ia meremas jemari tangan Aris yang hinggap di pipinya.
"Mas Aris tidak pernah berutang apa pun sama Mayang. Bisa menjadi istri dari pria paling hebat dan penyayang seperti Mas Aris itu sudah lebih dari cukup buat Mayang."
Mereka menghabiskan waktu hampir tiga jam menyusuri labirin hutan mangrove tersebut mendayung santai, mengabadikan foto-foto kebersamaan, dan sesekali berhenti di bawah naungan pohon bakau tua untuk saling bertukar cerita tentang impian-impian masa depan mereka.
Menjelang siang hari, perahu kano kembali ke dermaga utama.
Untuk makan siang kali ini, Aris membawa Mayang ke sebuah saung terapung yang dikelilingi tambak ikan milik warga lokal.
Di saung bambu yang sederhana itu, mereka menikmati hidangan kepiting soka goreng tepung yang renyah, udang bakar madu dengan aroma bakaran yang menggugah selera, serta semangkuk tumis kangkung terasi yang masih hangat.
Mayang makan dengan sangat lahap, membuat Aris tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bangga seraya terus menyodorkan potongan daging kepiting pilihan ke piring istrinya.
Sore harinya, setelah kembali ke resor dan beristirahat sejenak, Aris meminta Mayang mengenakan gaun malam terbaiknya.
Tanpa sepengetahuan Mayang, sang Mayor telah menyiapkan sebuah kejutan romantis khusus untuk menutup hari ketiga bulan madu mereka.
Ketika matahari mulai terbenam dan menyemburkan warna gradasi ungu keemasan di langit pesisir, Aris menuntun Mayang berjalan menuju sudut pantai berbatu karang yang agak terisolasi dari area utama resor.
Begitu sampai di lokasi, Mayang seketika menghentikan langkahnya. Matanya membelalak kaget bercampur haru.
Di atas hamparan pasir putih yang bersih, telah tertata sebuah meja makan kayu privat dengan taplak putih anggun.
Puluhan lilin-lilin kecil aromaterapi menyala temaram di dalam wadah kaca, membentuk jalan setapak bersinar menuju meja makan.
Di sudut tak jauh dari sana, seorang musisi lokal bersiap dengan gitar akustiknya, memainkan nada-nada lagu romantis yang lembut hening dihembus angin pantai malam.
"Mas Aris... ini semua..." suara Mayang tercekat, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Aris tersenyum manis, merangkul pinggang Mayang dari samping. "Kejutan kecil dari suamimu. Mari, Ibu Komandan, malam ini milik kita."
Aris menarikkan kursi kayu untuk Mayang, menyajikannya hidangan makan malam bergaya barbecue tepi pantai yang disiapkan khusus oleh koki resor potongan iga sapi panggang beraroma asap yang empuk, kentang tumbuk yang lembut, serta salad buah segar.
Di bawah pendar lampu lilin yang hangat dan ribuan bintang yang bertaburan di langit malam tanpa polusi, mereka menikmati makan malam paling romantis dalam hidup mereka.
Alunan petikan gitar akustik yang membawakan lagu-lagu cinta mengalun begitu syahdu, menyatu dengan irama deburan ombak laut yang lembut.
Di pertengahan makan malam, Aris tiba-tiba meletakkan pisau dan garpunya.
Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Mayang, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan sangat ksatria.
"Ibu Komandan yang cantik..." bisik Aris dengan tatapan mata yang begitu dalam dan memabukkan.
"Maukah berdansa sebentar dengan suamimu di bawah sinar bintang?"
Mayang tertawa renyah dengan pipi merona merah. Ia menyambut uluran tangan Aris, membiarkan tubuhnya ditarik mendekat ke dalam pelukan hangat sang suami.
Di atas pasir pantai yang lembut, diiringi senandung musik akustik dan desir angin malam, Aris melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mayang, sementara Mayang menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris.
Mereka berdansa pelan, berputar lambat mengitari pendar cahaya lilin.
"Terima kasih untuk malam yang indah ini, Mas Aris," bisik Mayang pelan di dada Aris, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.
Aris merapatkan pelukannya, mendaratkan kecupan hangat yang lama di puncak kepala Mayang. "Apapun akan saya lakukan untuk wanita yang menjadi pemilik jiwa dan napas saya. Hari ini, esok, dan selamanya."
Malam ketiga cuti militer itu pun berlalu dengan sempurna, dibalut oleh romansa hangat dan janji cinta abadi yang kian mengikat erat hati sang Komandan Batalyon dan istri tercintanya.