Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Hancurnya Segel Purba
Angin malam yang seharusnya mendinginkan sisa-sisa pertarungan di Kota Angin Hitam mendadak berhenti berhembus. Keheningan yang sangat tidak wajar turun menyelimuti bumi.
Ye Chen baru saja menyarungkan Pedang Bintang Merah-nya, sementara Su Yue'er sedang menetralkan sisa-sisa hawa es di udara. Keduanya bersiap untuk menggunakan jimat teleportasi kembali ke gunung, namun tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.
BUM... BUM... BUM...
Getaran itu menyerupai detak jantung raksasa yang berasal dari dasar kerak bumi.
"Apa yang terjadi?!" Ye Chen terhuyung, nyaris kehilangan keseimbangannya saat retakan raksasa mulai menjalar di jalanan batu Kota Angin Hitam, membelah reruntuhan Keluarga Ye menjadi dua bagian.
Wajah Su Yue'er berubah seputih kertas. Mata biru kristalnya membelalak ngeri saat ia menatap celah jurang yang baru saja terbuka di depan mereka. Hawa murni yang luar biasa kotor, kuno, dan mematikan menyembur keluar layaknya gunung berapi darah yang meletus.
"Mundur! Cepat mundur!" teriak Su Yue'er, menarik lengan jubah Ye Chen dan melesat mundur sejauh ribuan meter hingga mereka mencapai batas tembok kota yang hancur.
Dari dalam jurang yang gelap gulita itu, pilar cahaya berwarna merah kehitaman menembus langit, menutupi cahaya bulan dan mengubah malam menjadi neraka.
«HAHAHAHA! Tiga ribu tahun... TIGA RIBU TAHUN AKU TERKURUNG DI DALAM KANDANG SEMPIT INI!»
Sebuah suara yang sangat mengerikan, seolah perpaduan dari jeritan jutaan jiwa yang disiksa, menggema dari dalam celah bumi. Tekanan spiritual dari suara itu saja sudah cukup untuk membuat Ye Chen dan Su Yue'er memuntahkan seteguk darah segar.
Inti Emas di dalam Dantian mereka bergetar hebat, nyaris retak. Ini bukanlah kekuatan yang bisa ditahan oleh manusia fana!
Ranah Transformasi Dewa Tingkat Puncak!
Dari dalam kabut darah yang pekat, sebuah tangan raksasa yang terbuat dari tulang belulang merah dan otot-otot yang membusuk merayap naik, mencengkeram tepi jurang. Kemudian, sosok raksasa setinggi puluhan meter menarik dirinya keluar dari kedalaman bumi.
Itu adalah Leluhur Iblis Darah Purba. Kepalanya menyerupai naga tak bertanduk dengan tiga pasang mata laba-laba yang menyala merah menyala. Tubuhnya dipenuhi duri tulang, dan setiap napas yang ia hembuskan membawa badai racun.
Leluhur Iblis itu menatap langit, lalu menundukkan kepalanya, mengunci pandangannya pada Ye Chen dan Su Yue'er yang kini terlihat tak lebih dari sekadar dua ekor semut di matanya.
"Darah... Darah murni dari para jenius!" Leluhur Iblis menjilat bibirnya yang robek, air liurnya jatuh dan melelehkan batu-batu di bawahnya. "Kalianlah yang membunuh boneka kecilku tadi, bukan? Tidak masalah. Menelan kalian akan memulihkan sepuluh persen esensi kehidupanku!"
Monster itu mengangkat salah satu tangannya. Seketika itu juga, ruang di sekitar Ye Chen dan Su Yue'er membeku. Tekanan dari Transformasi Dewa mengunci mereka di tempat. Keduanya bahkan tidak bisa mengangkat satu jari pun, apalagi mencabut pedang.
"Apakah ini akhir kita?" batin Ye Chen dengan keputusasaan yang mencekik. Perbedaan antara Inti Emas dan Puncak Transformasi Dewa seperti jarak antara lalat dan langit itu sendiri.
Namun, tepat saat tangan tulang raksasa itu menukik turun untuk menghancurkan mereka, sebuah helaan napas panjang yang terdengar sangat santai memecah ketegangan di udara.
"Baru saja bangun dari tidur panjang, kau sudah berteriak-teriak dan mencoba memakan murid-muridku. Apakah di neraka tidak ada pelajaran tata krama?"
Suara itu tidak keras, namun entah mengapa, suara itu mengusir seluruh kabut darah dan tekanan spiritual di sekitar Ye Chen dan Su Yue'er, membebaskan mereka seketika.
Keduanya mendongak dengan mata berbinar. "Guru!"
Di udara, tepat di antara tangan raksasa Leluhur Iblis dan kedua muridnya, ruang tiba-tiba terbelah layaknya tirai yang dibuka. Lin Xuan melangkah keluar dari kehampaan dengan tangan di belakang punggung. Jubah putihnya yang memancarkan cahaya suci berkibar pelan, sangat kontras dengan pemandangan neraka di sekelilingnya.
Leluhur Iblis Darah menghentikan serangannya, tiga pasang matanya memicing menatap pemuda berjubah putih yang baru saja muncul. Ia mencoba memindai kultivasi Lin Xuan.
"Hanya seorang bocah di tahap Setengah Langkah Transformasi Dewa?" Leluhur Iblis mendengus remeh, tawanya menggelegar hingga awan merah bergetar. "Tiga ribu tahun lalu, Leluhur Pendiri Sekte Bintang Jatuh yang berada di tingkat tertinggi Transformasi Dewa terpaksa membakar jiwanya hanya untuk bisa menyegelku! Sekarang, seekor cacing berani menghalangiku?!"
Lin Xuan bahkan tidak melirik iblis raksasa itu. Ia menunduk menatap Ye Chen dan Su Yue'er yang masih pucat pasi.
"Kalian berdua telah melakukan pekerjaan dengan baik. Mengusir gulma kecil," ucap Lin Xuan lembut. "Mundur dan pulihkan Qi kalian. Perhatikan baik-baik. Guru akan menunjukkan kepada kalian bagaimana cara mencabut akar raksasa yang membandel."
"B-baik, Guru! Hati-hati!" Ye Chen dan Su Yue'er segera melesat menjauh, mencari perlindungan di atas bukit yang aman, mata mereka tak berkedip menatap ke arah langit.
Melihat dirinya diabaikan, amarah Leluhur Iblis meledak. "Beraninya kau mengabaikanku! Jadilah genangan darah, Bocah!"
"Domain Iblis: Samudra Pemakan Surga!"
Leluhur iblis itu merentangkan kedua tangannya. Seketika, lautan darah sungguhan yang berisi ribuan tengkorak menjerit meletus dari dalam bumi, menggulung ke atas seperti tsunami raksasa yang diarahkan untuk menelan Lin Xuan. Hukum alam di sekitar kota itu tercemar sepenuhnya oleh energi kematian.
Di atas bukit, napas Su Yue'er tertahan. "Itu adalah Domain! Hanya ahli tingkat dewa yang bisa memanifestasikan lautan hukum alam mereka ke dunia fana!"
Namun, menghadapi tsunami darah kematian yang bisa melenyapkan sebuah negara kecil itu, Lin Xuan hanya tersenyum tipis.
"Memamerkan Domain di hadapanku?" gumam Lin Xuan santai.
Ia tidak repot-repot mengeluarkan pedang atau menggunakan segel. Lin Xuan hanya melangkah maju satu langkah, menabrakkan tubuhnya langsung ke arah tsunami darah tersebut.
Tepat sebelum darah kotor itu menyentuh ujung jubahnya, kekuatan dari Wilayah Mutlak (Absolute Domain) radius 150 KM dan energi dari Vena Spiritual Akar Dunia meledak dari tubuh Lin Xuan, menyatu dengan esensi Setengah Langkah Transformasi Dewa miliknya.
WUUUSSSHHHH!
Di mana pun kaki Lin Xuan berpijak, lautan darah itu mendadak menguap menjadi asap putih.
Lin Xuan berjalan santai di udara, membelah tsunami darah raksasa itu menjadi dua bagian yang sangat rapi seolah Musa yang membelah Laut Merah. Hukum kematian milik iblis itu dihancurkan secara instan oleh otoritas penciptaan mutlak dari sang Ketua Sekte.
"Mustahil!" Leluhur Iblis melangkah mundur, matanya membelalak ngeri. "Domain Darahku dihancurkan tanpa riak Qi?! Sihir apa yang kau gunakan?!"
Lin Xuan tiba di depan wajah raksasa iblis itu. Jarak mereka kini hanya beberapa meter. Pemuda yang terlihat sekecil debu di hadapan monster raksasa itu perlahan mengangkat wajahnya.
"Sihir? Tidak. Aku hanya menggunakanmu sebagai batu asahan," ucap Lin Xuan dingin.
Selama ini, sistem selalu memberinya kekuatan dengan cara curang. Namun untuk menembus Transformasi Dewa sepenuhnya, ia membutuhkan sinkronisasi antara tubuh, jiwa, dan tekanan dari luar. Menghadapi entitas di puncak fana ini adalah katalisator sempurna.
"Sekarang," Lin Xuan mengepalkan tangan kanannya, dan seketika itu juga, gravitasi di sekitar Leluhur Iblis meningkat sepuluh juta kali lipat. "Beri aku sedikit perlawanan yang layak, monster tua."
BOOOOOOM!
Sebuah tekanan transparan dari langit menghantam kepala Leluhur Iblis Darah Purba. Monster raksasa itu menjerit kesakitan, lututnya hancur saat ia dipaksa berlutut di tanah oleh beban yang setara dengan dijatuhi benua.