Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setelah Tiga hari berlalu, Hari Minggu pagi itu, sinar matahari masuk lewat celah jendela, menyinari ruang tamu yang hening. Biasanya hari ini adalah hari di mana mereka berdua bisa bersantai, berbicara, atau sekadar berjalan-jalan sebentar. Namun kini, suasana itu sudah lama hilang.
Miska berdiri di depan cermin lemari pakaian, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, ada lingkaran gelap di bawah mata akibat sering begadang di malam hari. Ia menyentuh pipinya yang terasa kasar, lalu membetulkan daster nya yang sedikit kusut. Sudah berbulan-bulan ia tidak membeli apa pun untuk dirinya sendiri—semua uang yang diberikan Askar selalu habis untuk kebutuhan rumah, belanja dapur, dan keperluan Ibu Suryati. Sesekali saja ia ingin merawat dirinya, sekadar memakai pelembap atau sabun perawatan agar wajahnya tidak terlihat kering dan kusam setiap kali suaminya pulang.
Di atas tempat tidur, Askar duduk bersandar pada kepala ranjang, matanya terpaku pada layar ponsel yang digenggam erat. Jempolnya bergerak cepat, sesekali sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis—senyum yang tak pernah lagi ia tunjukkan pada Miska. Sesekali ia melirik istrinya yang masih berdiri di depan cermin, menatap dengan tatapan malas dan tak sabar.
"Kamu Ngapain sih berdiri di depan cermin terus?" tanya Askar tiba-tiba, suaranya datar tanpa nada ramah. "Dari tadi bolak-balik lihat wajah sendiri,"
Miska berbalik perlahan, menatap suaminya dengan harapan yang tipis. Ia menarik napas, berusaha terdengar lembut. "mas... saya mau bilang sesuatu?"
"Bicara saja, nggak usah basa basi Nanti saya ada urusan," jawab Askar tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Saya...mau minta uang sedikit saja. untuk beli alat perawatan wajah,wajah ku sekarang kasar dan kering. Saya malu kalau terus-terusan terlihat begitu di depan mas..." Miska menunduk sedikit, suaranya terdengar penuh harap.
Askar akhirnya mendongak, menatap istrinya lalu tersenyum sinis—senyum yang penuh ejekan. "Perawatan wajah? Buat apa?" tanyanya sambil tertawa kecil, seolah permintaan itu adalah hal yang paling konyol. "aku lagi nggak ada uang. Dan nggak usah repot-repot merawat diri juga percuma, toh kamu hanya di rumah saja. Tidak ada orang yang perlu kamu lihat atau kamu pamerkan wajah cantik itu. Cukup kamu urus rumah dan makan, itu sudah lebih dari cukup."
Hati Miska terasa diremas kuat. "Tapi mas kan suami saya... Saya juga mau terlihat baik di depan suami saya sendiri. Apa itu salah?"
Askar bangkit berdiri, meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidur dengan kasar. "Sudah, jangan banyak alasan. Uang yang saya kasi itu untuk kebutuhan rumah, bukan untuk kamu pakai hal-hal yang tidak penting. Kamu itu memang tidak tahu berterima kasih. Sudah makan enak, tidur nyaman, tapi masih saja menuntut ini-itu."
Ia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil kemeja rapi dan menggantikan pakaian santainya. Gerakannya cepat dan tegas, seolah tak sabar ingin segera pergi dari rumah ini.
"mas kamu mau ke mana?" tanya Miska pelan, perasaan cemas mulai merayap di dada. " bukan nya ini hari Minggu... biasanya mas istirahat di rumah."
"Ada klien penting yang harus saya temui. Urusan pekerjaan tidak peduli hari apa pun," jawab Askar singkat, tanpa menoleh. Ia menyisir rambutnya di depan cermin, lalu memakai sepatunya dengan cepat.
"Klien apa yang harus ditemui hari Minggu pagi begini, ? aku boleh ikut nggak?" tanya Miska memberanikan diri, matanya berkaca-kaca.
Askar berhenti bergerak sejenak, lalu menatap tajam ke arah istrinya. "Kamu itu kenapa sih? Selalu saja bertanya ini-itu! Ini urusan kantor, bukan urusanmu. Tinggal di rumah saja, diam-diam jangan banyak tanya. Itu saja."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan keluar kamar, meninggalkan Miska yang berdiri kaku di tempatnya, perasaan hancur berkeping-keping. Ia tahu itu bohong—siapa klien yang mau ditemui pada Minggu pagi? Dan mengapa harus berpakaian begitu rapi dan memakai parfum yang sangat wangi jika hanya bertemu klien?
Suara pintu depan terbuka dan tertutup dengan keras, diikuti langkah kaki Ibu Suryati yang masuk ke kamar Miska dengan wajah penuh kemarahan. Sejak tadi ia sudah mendengar semuanya dari ruang tengah, dan kini ia datang untuk menambahkan luka yang belum kering.
"Hei, kamu!" bentak Ibu Suryati begitu masuk, suaranya melengking tajam. "Kamu itu kenapa sih selalu saja membuat anakku repot?! Hari Minggu saja kamu tidak bisa membiarkan dia tenang!"
"Saya hanya bertanya ke mana Askar pergi, Bu... dan minta sedikit uang untuk perawatan diri saja," jawab Miska pelan, berusaha menahan amarah yang mulai membara di dadanya.
"Perawatan diri? Hah!" Ibu Suryati tertawa sinis, mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari Miska. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu itu hanya istri yang tinggal di rumah, makan dan tidur saja setiap hari! Masih mau pakai uang untuk hal-hal mewah begitu? Kamu pikir uang Askar itu jatuh dari langit?"
"Saya juga bekerja di rumah, Bu! Saya bangun pagi-pagi, membersihkan rumah, mencuci, memasak... Saya tidak duduk diam saja!" Miska akhirnya berani membalas, air mata mulai menggenang di matanya.
"Berani kamu membantah saya?!" Ibu Suryati menepuk meja rias dengan keras, matanya melotot marah. "Pekerjaan rumah itu kewajiban seorang istri! Bukan prestasi yang bisa kamu banggakan di depan suami dan ibu mertuamu! Dan soal Askar pergi—apa urusanmu ke mana dia pergi? Dia laki-laki, dia pencari nafkah, dia bebas mau ke mana saja! Kamu itu jangan terlalu banyak campuri urusannya, kalau tidak mau diusir dari rumah ini!"
"Saya istrinya, Bu... wajar kalau saya ingin tahu, wajar kalau saya ingin diperhatikan..." suara Miska bergetar, air mata jatuh membasahi pipinya.
"Diperhatikan? Kamu pikir kamu siapa yang harus diperhatikan terus?!" Ibu Suryati mendengus kasar, menunjuk wajah Miska dengan jari telunjuknya. "Lihat dirimu sendiri! Kusam, tidak menarik, setiap hari hanya pakai baju lusuh... Tidak heran kalau suamimu bosan dan lebih suka pergi dari pada melihat wajahmu setiap hari! Kalau kamu pandai menjaga diri, dia pasti tidak akan pergi begitu saja di hari Minggu!"
"Saya tidak punya uang untuk membeli baju atau perawatan, Bu... Semua uang yang mas askar kasi, saya pakai untuk kebutuhan rumah dan juga untuk Ibu!" seru Miska, tak tahan lagi.
"Berani kamu menyalahkan saya?!" Ibu Suryati mendorong bahu Miska pelan namun kasar. "Kamu itu memang istri yang tidak tahu diuntung! Sudah diterima di keluarga kami, sudah diberi makan dan tempat tinggal, masih saja banyak menuntut! Mulai sekarang, jangan pernah kamu minta uang sama Askar untuk hal-hal yang tidak penting! Dan jangan pernah kamu tanya ke mana dia pergi atau pulang jam berapa! Itu bukan urusanmu! Kamu hanya perlu diam, tunggu dia pulang, dan melayaninya dengan baik. Kalau tidak, jangan harap bisa tinggal di sini lebih lama lagi!"
Ibu Suryati meludah kasar ke lantai, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan Miska sendirian di kamar yang terasa semakin sempit dan pengap. Miska jatuh berlutut di tepi tempat tidur, menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Rasanya seluruh dunia menindasnya—suami yang tidak peduli, mertua yang selalu membenci, dan tidak ada satu orang pun yang membelanya.
Ia menatap ke arah pintu yang tertutup rapat, lalu ke cermin yang tadi ia tatap. Wajah di sana terlihat rapuh, lelah, dan semakin pucat. Namun di balik rasa sakit yang luar biasa itu, ada sesuatu yang lain mulai tumbuh—sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan lagi kesedihan yang pasrah, melainkan kepahitan yang perlahan-lahan berubah menjadi kekuatan. Jika selama ini kesabarannya hanya dijadikan alasan untuk menginjak-injaknya, mungkin sudah saatnya ia berhenti bersabar. Mungkin suatu hari nanti, mereka semua akan menyesal telah memperlakukannya seperti sampah.
Miska menghapus air matanya dengan kasar, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan tatapan yang mulai berubah—tidak lagi lemah, tidak lagi penuh harap yang sia-sia. Ia berdiri perlahan, menyusun selimut dan merapikan tempat tidur, berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan lagi memohon pada orang-orang yang bahkan tidak pernah menghargainya. Hari itu, di hari Minggu yang sepi dan dingin itu, Miska mulai menyadari satu hal: ia tidak bisa terus bergantung pada kebaikan orang lain, karena kebaikan itu tidak pernah ada untuknya.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪