Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Udara siang kota terasa jauh lebih segar setelah hujan deras berhenti mengguyur jalanan aspal.

Gibran melangkah keluar dari area pasar giok dengan koper perak di tangan kirinya dan senyum tipis di wajahnya.

Ia memberhentikan sebuah taksi premium yang kebetulan sedang melintas lambat di depan lobi utama.

Ciiiit.

"Ke pusat perbelanjaan Grand City Mall sekarang juga, Paman," ucap Gibran sambil membuka pintu dan duduk di kursi belakang.

Sopir taksi itu sempat melirik dari kaca spion melihat pakaian lusuh Gibran, namun matanya langsung melotot melihat koper perak tebal tersebut.

"B-baik, Tuan Muda. Kita akan tiba di sana dalam waktu lima belas menit," jawab sopir itu dengan nada sangat hormat.

Gibran bersandar nyaman di kursi kulit taksi itu sambil menatap pantulan wajah kusamnya di kaca jendela mobil.

"Penampilan adalah segalanya di kota ini, dan aku butuh senjata yang lebih baik dari sekadar jaket usang ini," batin Gibran dengan tenang.

Taksi berhenti tepat di depan lobi utama mal terbesar dan termewah di pusat ibu kota.

Gibran mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyerahkannya kepada sopir.

"Ambil saja kembaliannya, Paman," ucap Gibran santai lalu melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.

Langkah pertama Gibran tertuju pada sebuah salon pria eksklusif yang memajang harga layanan mulai dari jutaan rupiah.

Tring.

Lonceng pintu salon berbunyi nyaring menyambut kedatangan Gibran ke dalam ruangan beraroma lavender itu.

Beberapa penata rambut menatap aneh ke arah pakaian basah Gibran, namun manajer salon yang bermata jeli langsung berlari menghampiri koper peraknya.

"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu untuk menyempurnakan hari Anda?" sapa manajer itu dengan senyum ramah yang terlatih.

"Cuci rambutku, cukur dengan gaya paling modern yang kalian miliki, dan bersihkan wajahku dari semua debu jalanan ini," perintah Gibran sambil duduk di kursi VIP.

Wusss. Snip snip snip.

Hanya dalam waktu satu jam, gunting dan pisau cukur dari penata rambut profesional itu bekerja seperti sihir yang nyata.

Gibran menatap dirinya di cermin besar dan nyaris tidak mengenali pantulan wajahnya sendiri.

Rambut gondrong berantakannya kini tertata rapi dengan gaya comma hair yang mengekspos dahi tegasnya.

Kulit kusamnya terlihat jauh lebih bersih dan bersinar, memancarkan ketampanan maskulin yang selama ini tersembunyi di balik debu kemiskinan.

"Kerja yang bagus, ini tip untuk kalian semua," ucap Gibran sambil membagikan beberapa lembar uang seratus ribu kepada para staf salon.

Setelah puas dengan rambut dan wajahnya, Gibran melangkah masuk ke butik pakaian desainer ternama dari Italia.

Ia menunjuk sebuah setelan jas kasual berwarna biru navy yang dipadukan dengan kemeja hitam sutra di bagian dalamnya.

"Ambilkan ukuran yang pas untukku, dan sekalian sepasang sepatu pantofel kulit buatan tangan yang ada di rak itu," instruksi Gibran kepada pelayan wanita.

Pelayan wanita itu tersipu malu melihat wajah tampan dan aura berwibawa Gibran.

Ia segera menyiapkan pakaian tersebut dan mengantar Gibran menuju ruang ganti VIP.

Srek srek.

Gibran keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari pemuda terminal beberapa jam yang lalu.

Jas navy yang pas di tubuh tegapnya membuat pundaknya terlihat lebih lebar dan gagah.

Sebagai sentuhan akhir, Gibran membeli sebuah jam tangan perak elegan seharga seratus juta rupiah dan memasangnya di pergelangan tangan kiri.

Total belanjaannya hari ini mencapai hampir dua ratus juta, namun jumlah itu hanyalah remahan kecil dari koper uangnya.

"Sempurna. Sekarang mari kita lihat apakah anjing-anjing di pasar giok itu masih berani menggonggongiku," gumam Gibran sambil merapikan kerah jasnya.

Gibran kembali memanggil taksi dan meluncur lurus kembali menuju Pusat Pelelangan Giok Bintang Emas.

Kali ini ia tidak berjalan menuju area tenda kaki lima di lantai dasar yang kotor dan bising.

Langkahnya langsung tertuju pada eskalator emas yang mengarah ke Lantai Dua, yaitu Zona Lelang VIP khusus elit.

Dua penjaga keamanan bertubuh raksasa berseragam hitam langsung menyilangkan tangan mereka menghentikan langkah Gibran di depan pintu kaca.

"Maaf Tuan, area ini hanya dikhususkan untuk tamu undangan VIP dan member elit dengan jaminan minimal saldo satu miliar," ucap penjaga itu tegas.

Gibran tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan kartu hitam VIP dari bank Keluarga Larasati.

Mata kedua penjaga itu membelalak sempurna melihat logo naga emas yang tercetak di sudut kartu hitam tersebut.

Itu adalah kartu akses tingkat tertinggi yang bahkan jarang dimiliki oleh para bos besar di kota ini.

"M-maafkan kelancangan kami, Tuan Muda! Silakan masuk dan nikmati fasilitas VIP kami!" ucap kedua penjaga itu serempak sambil membungkuk sembilan puluh derajat.

Pintu kaca otomatis terbuka. Hembusan angin AC yang sangat sejuk dan aroma kopi mahal langsung menyapa wajah Gibran.

Ruangan VIP ini sangat luas, bersih, dan dihiasi lampu kristal gantung yang mewah di langit-langitnya.

Batu-batu giok yang dipajang di atas meja berlapis kain beludru di sini berukuran jauh lebih besar dan tampak sangat menjanjikan.

[Memindai area VIP. Menemukan tiga puluh dua material dengan fluktuasi energi rendah.]

[Menemukan dua material dengan fluktuasi energi menengah. Menemukan satu material dengan fluktuasi energi ekstrem.]

Layar antarmuka sistem langsung membanjiri penglihatan Gibran dengan berbagai penanda cahaya berwarna-warni dari setiap sudut ruangan.

"Bagus sekali, tempat ini benar-benar tambang emas sungguhan bagiku," batin Gibran dengan seringai puas.

Gibran mulai berjalan santai mengelilingi meja pameran dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara bariton yang sangat ia kenal sedang mengoceh keras dari arah meja tengah.

"Master Wong, kali ini Anda tidak boleh salah pilih lagi. Ayahku nyaris membunuhku karena kejadian memalukan di lantai bawah tadi!" keluh suara tersebut.

Itu adalah Rio Mahendra. Pria arogan itu ternyata belum pulang dan malah mencari peruntungan di lantai VIP.

Rio tampak berdiri di sebelah seorang pria tua kurus berpakaian tradisional Tiongkok yang sedang memegang kaca pembesar.

"Tenang saja, Tuan Muda Rio. Mata tuaku ini sudah menilai batu selama empat puluh tahun lebih," jawab Master Wong sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang.

Gibran tersenyum miring melihat mangsa empuknya ternyata menyerahkan diri secara sukarela ke hadapannya.

Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di sebelah meja yang sedang diamati oleh Rio dan pakar tua tersebut.

"Batu kuning raksasa ini memiliki corak sisik ular air yang sangat langka di bagian luarnya," jelas Master Wong sambil menunjuk sebuah batu seukuran bola basket.

"Saya berani bertaruh nyawa, di dalam batu ini ada giok kuning madu kualitas tinggi yang nilainya mencapai lima miliar rupiah!" lanjutnya dengan sangat percaya diri.

Rio langsung tersenyum lebar. Matanya berbinar rakus membayangkan ia bisa membalas kerugian dan mengembalikan harga dirinya di depan sang ayah.

"Luar biasa Master Wong! Berapa harga buka untuk batu kuning ini, Bos?" tanya Rio kepada pemilik meja pameran.

"Untuk Tuan Muda Rio, harga dasarnya adalah delapan ratus juta rupiah," jawab pemilik meja dengan senyum lebar.

Gibran melirik sekilas ke arah batu kuning raksasa itu dan membiarkan sistemnya bekerja.

[Analisis material selesai. Corak luar adalah hasil manipulasi kimia buatan.]

[Kualitas batu: Pasir padat campuran semen. Energi giok: 0 persen. Nilai: Nol rupiah.]

Gibran harus menggigit lidahnya sendiri agar tidak tertawa meledak melihat kebodohan pakar tua gadungan itu.

Batu itu rupanya adalah batu palsu yang sengaja diwarnai dan dipoles untuk menipu pembeli rakus seperti Rio.

Gibran kemudian memutar pandangannya dan memindai batu hitam kecil seukuran kepalan tangan yang tergeletak di pojok meja yang sama.

Batu hitam itu memancarkan cahaya merah darah yang sangat terang dan menyilaukan mata Gibran.

[Kualitas: Giok Darah Merah Murni tingkat tinggi. Taksiran nilai: Dua miliar rupiah.]

Gibran menemukan targetnya. Ia berdehem pelan untuk menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

"Ekhem.

Permisi, batu kuning yang sangat indah. Aku bersedia membayar satu miliar untuk batu kuning raksasa ini," ucap Gibran dengan nada suara tenang dan berat.

Rio langsung menoleh dengan wajah tidak suka karena ada orang yang berani memotong transaksinya.

Namun kemarahan Rio langsung tertahan saat ia melihat penampilan Gibran yang sangat berkelas dan mengintimidasi.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!