Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. Surat Pulang dan Tangan yang Menahan
..."Surat menyuruh kami pulang, tapi hati menyuruh kami kembali, maka kami pulang dulu, agar kami bisa kembali dengan cara yang benar."...
Hari ke 36 di Desa Majia dimulai dengan cuaca yang aneh, langit biru tanpa awan untuk pertama kalinya sejak dua bulan, angin bertiup pelan dari arah barat dan membawa bau kayu baru dari rumah-rumah panggung yang baru selesai, dan anak-anak yang biasanya berlari membawa ember lumpur kini duduk di atas jembatan bambu sambil mengayunkan kaki dan melempar batu kecil ke air yang sudah jernih kembali, seakan seluruh dunia baru ingat bagaimana rasanya tenang.
Pagi itu, Jing yue sedang menancapkan paku terakhir di tangga rumah ke 14 ketika terdengar suara terompet dari kejauhan, bukan suara darurat seperti saat banjir, melainkan suara panjang yang teratur, dan ketika semua orang menoleh mereka melihat dua penunggang kuda dengan jubah biru tua dan bendera kecil bergambar naga emas datang menyusuri jembatan darurat yang baru diperbaiki, berjalan pelan karena takut kuda mereka terpeleset di papan yang masih basah.
Seluruh desa berhenti bekerja, palu diletakkan, gergaji diturunkan, dan orang-orang berkumpul di lapangan di bawah balai panggung dengan hati yang berdebar karena mereka sudah hafal bahwa setiap kali surat datang, hidup mereka akan berubah lagi.
Utusan pertama turun, memberi hormat dalam-dalam kepada Jing yue dan para Tetua, lalu mengeluarkan gulungan kuning dengan segel lilin merah dan pita sutra, dan dia membacanya dengan suara lantang agar semua orang bisa dengar, agar tidak ada bisik-bisik dan agar tidak ada salah paham.
"Atas nama Kaisar dan atas nama rakyat Sungai Min," baca utusan itu, "Sekte Emei telah menyelesaikan tugas dengan sempurna, menyelamatkan nyawa, menstabilkan wilayah, membangun kembali desa, dan menciptakan cara baru bertahan dari banjir, oleh karena itu Kaisar memerintahkan agar seluruh murid Emei segera kembali ke Gunung Emei untuk menerima penghargaan, dan wilayah ini akan diserahkan kepada pejabat kabupaten untuk dilanjutkan."
Kalimat terakhir berbunyi, "Segera berangkat dalam tujuh hari, karena musim dingin akan datang dan jalan gunung akan tertutup."
Setelah selesai membaca, utusan itu menyerahkan gulungan itu kepada Jing yue dengan dua tangan, lalu dia dan rekannya mundur dan berdiri menunggu, seakan mereka juga tahu bahwa kata "pulang" yang terdengar manis itu bisa menjadi kata yang paling berat di dunia.
Tidak ada yang bersorak, tidak ada yang menangis, yang ada hanya keheningan yang panjang, keheningan yang diisi oleh suara angin yang menggerakkan bendera kecil di atas balai dan suara anak kecil yang tiba-tiba bertanya "kakak Jing yue mau pergi?" dengan suara yang pelan sekali.
Jing yue menerima gulungan itu, merasakannya ringan di tangan tapi berat di dada, lalu dia melipatnya pelan dan memasukkannya ke dalam dada, di samping tiga surat sebelumnya, surat yang menyuruh datang, surat yang menyuruh tinggal, dan surat yang menyuruh membuat perahu.
Paman Chen adalah orang pertama yang bicara, suaranya bergetar dan dia berkata bahwa mereka berterima kasih kepada istana, tapi apakah mungkin Emei tinggal sebentar lagi, karena rumah panggung baru setengah jadi, karena musim tanam belum mulai, karena orang-orang belum tahu cara merawat perahu ketika musim kemarau.
Tetua Pertama mengangguk dan menambahkan bahwa tanpa Emei, siapa yang akan mengajari cara mengikat tiang agar tidak goyang ketika air naik, siapa yang akan memeriksa apakah tanggul bocor, siapa yang akan menenangkan anak-anak ketika hujan turun di malam hari.
Nenek Sun maju dengan langkah tertatih, menggenggam ujung jubah Jing yue dan berkata bahwa dia sudah terlalu tua untuk belajar hal baru lagi, dan kalau Jing yue pergi maka dia takut dia akan lupa bagaimana cara hidup ketika air datang.
Satu per satu orang maju, bukan untuk memaksa, tapi untuk memohon, dan di dalam permohonan itu ada rasa takut yang jujur, takut kembali menjadi orang yang tidak tahu apa-apa, takut kembali menunggu mati.
Jing yue mendengarkan semuanya tanpa menyela, matanya melihat ke setiap wajah, ke tangan yang kapalan, ke anak yang bersembunyi di belakang ibunya, ke rumah panggung yang baru berdiri dan masih berbau kayu, dan di dalam hatinya dia merasakan tarikan yang sama kuatnya ke dua arah, satu arah menariknya pulang ke Gunung Emei, ke lonceng, ke kabut, ke guru yang sudah tua, dan satu arah menahannya di sini, di tanah yang sudah dia basahi dengan keringat dan air mata.
Lei Feng berdiri di sampingnya, tidak berkata apa-apa, tapi dia menyodorkan sebatang dayung yang baru selesai dia ukir, dan di gagangnya ada tulisan kecil "Untuk Penjaga Gerbang", dan itu membuat dada Jing yue semakin sesak. Setelah semua orang selesai bicara, Jing yue naik ke atas balai agar semua orang bisa melihatnya, dan dia berbicara dengan suara yang tidak keras tapi jelas, suara yang sudah mereka kenal selama tiga puluh enam hari.
"Saudara-saudara," katanya, "surat ini menyuruh kami pulang, dan kami harus pulang, karena kami murid, dan murid harus patuh, karena gunung kami juga menunggu, karena guru kami sudah tua dan mungkin tidak akan menunggu lama lagi."
Dia berhenti sebentar, menarik napas, lalu melanjutkan, "tapi kami juga mendengar kalian, dan kami tidak akan meninggalkan kalian dengan tangan kosong."
Dia lalu berkata bahwa dalam tujuh hari ke depan, semua murid Emei akan bekerja dua kali lipat, bukan untuk membangun rumah baru, tapi untuk mengajari, untuk menuliskan setiap cara mengikat, setiap cara memilih bambu, setiap cara membaca air, ke dalam buku besar yang akan ditinggalkan di balai, agar siapa pun bisa buka dan baca.
Dia juga berkata bahwa dia akan menulis surat kepada istana, meminta agar satu orang pejabat tetap tinggal di sini selama satu tahun, dan meminta agar setiap musim sebelum hujan datang ada kiriman tukang dari kabupaten untuk memeriksa tiang.
"Dan," katanya pelan, "aku akan kembali."
Kalimat terakhir itu membuat semua orang terkejut, dan Jing yue menjelaskan bahwa setelah dia lapor ke gunung, setelah dia menerima penghargaan, dia akan meminta izin untuk kembali ke Sungai Min sebagai orang biasa, bukan sebagai murid yang diperintah, tapi sebagai teman yang memilih tinggal.
Tidak ada yang tahu apakah istana akan mengizinkan, tidak ada yang tahu apakah guru akan mengizinkan, tapi janji itu cukup untuk membuat beberapa orang mengangguk dan beberapa orang menangis.
Tujuh hari berikutnya adalah tujuh hari paling sibuk, karena selain menyelesaikan rumah, semua orang berkumpul di balai setiap malam untuk belajar, Jing yue dan murid-muridnya menggambar di atas papan besar, menunjukkan cara membuat simpul, cara mengetes apakah tiang sudah dalam, cara menyimpan makanan agar tidak jamuran, dan cara mendayung ketika arus kuat.
Buku besar itu ditulis dengan tinta yang dibuat dari arang, halamannya dari kulit kayu, dan sampulnya dari papan, dan di halaman pertama Jing yue menulis "Buku Ini Milik Sungai Min, Bukan Milik Emei".
Di malam keenam, diadakan perjamuan kecil di bawah balai, bukan dengan daging dan arak, tapi dengan nasi, ikan, dan teh jahe, dan setiap keluarga membawa sesuatu, ada yang membawa ubi, ada yang membawa telur, ada yang membawa lagu.
Anak-anak menari, orang tua bercerita, dan di tengah itu Jing yue duduk di lantai bersama Nenek Sun, menyuapi nenek itu bubur karena tangannya gemetar.
Di malam ketujuh, semua barang sudah dikemas, pedang disimpan, jubah dilipat, dan perahu yang akan membawa mereka ke kabupaten sudah diikat di bawah balai.
Pagi keberangkatan, seluruh desa mengantar sampai ke ujung jembatan, dan tidak ada yang melempar beras, tidak ada yang menangis keras, yang ada hanya barisan orang yang berdiri diam sambil memegang tangan anaknya.
Sebelum naik ke perahu, Jing yue berlutut dan menyentuh tanah, lalu dia berdiri dan menatap semua orang dan berkata bahwa dia membawa pulang sesuatu yang lebih berharga dari penghargaan, yaitu nama-nama mereka di dalam hatinya.
Perahu mulai bergerak, dan selama perahu itu masih terlihat, tidak ada yang berbalik, semua orang berdiri sampai titik hitam itu hilang di tikungan sungai.
Di dalam perahu, Jing yue tidak bicara, dia hanya memegang gulungan kuning itu dan buku besar yang akan dia serahkan ke istana sebagai bukti kerja, dan dia menatap ke belakang ke arah rumah-rumah panggung yang semakin kecil.
Lei Feng duduk di sampingnya dan berkata bahwa dia tidak menyangka seorang murid Emei bisa membuat orang menangis hanya karena pergi, dan Jing yue menjawab bahwa itu bukan karena dia hebat, tapi karena mereka sudah terlalu lama tidak punya siapa-siapa yang mau tinggal.
Perjalanan ke ibu kota memakan waktu dua minggu, dan ketika mereka sampai, Kaisar menerima mereka di aula, memuji mereka, memberi mereka lencana perak, dan bertanya apa yang mereka inginkan sebagai hadiah.
Jing yue berlutut dan berkata bahwa dia tidak ingin emas, dia hanya ingin izin untuk kembali ke Sungai Min setahun lagi, dan dia ingin agar istana mengirim satu guru untuk mengajari warga membaca agar mereka bisa memakai buku besar itu sendiri.
Kaisar terdiam lama, lalu mengangguk dan berkata bahwa permintaan itu aneh, tapi dia menyetujuinya.
Malam sebelum kembali ke Gunung Emei, Jing yue duduk di kamarnya, menulis surat terakhir di bukunya, dan dia menulis bahwa hari ini dia pulang, tapi pulang tidak berarti selesai, karena ada tempat yang sudah menjadi rumah kedua, dan ada orang yang sudah menjadi keluarga.
Dia juga menulis bahwa dia tidak tahu apakah dia akan jadi pahlawan atau orang bodoh karena memilih kembali ke tempat yang banjir, tapi dia tahu bahwa kalau dia tidak kembali maka dia akan menyesal seumur hidup.
Ketika dia menutup bukunya, dia melihat ke luar jendela ke arah pegunungan yang jauh, dan dia berbisik bahwa dia akan pulang sebentar, menyapa gunung, menyapa guru, lalu dia akan kembali ke sungai, karena seorang penjaga tidak berhenti berjaga hanya karena lonceng berbunyi.
Dan di kejauhan, di Desa Majia, di atas rumah panggung, Nenek Sun meletakkan buku besar itu di tengah balai, dan setiap malam anak-anak berkumpul di sana untuk belajar membaca dari halaman pertama yang ditulis oleh tangan Jing yue.