Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Langkah Diatas Papan Catur
Ethan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menetralkan gemuruh emosi yang membakar dadanya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat sebelum akhirnya memaksa jemarinya rileks.
Saat matanya kembali terbuka, tatapan tajam nan dingin yang biasa ia perlihatkan di layar lebar telah kembali. Topeng profesionalismenya terpasang sempurna.
“Ethan! Siap di posisi?” panggil asisten sutradara seraya melambaikan tangan dari dekat set.
“Siap,” jawab Ethan singkat. Suaranya terdengar datar, tanpa cela, seolah konfrontasi sengit dengan investor utamanya beberapa detik lalu tak pernah terjadi.
Ia melangkah mantap menuju area syuting, mengabaikan bisik-bisik para kru yang sejak tadi memperhatikan interaksinya dengan Liam. Ethan tahu betul, di industri ini, menunjukkan kelemahan di depan orang yang memegang kendali finansial sama saja dengan menyerahkan leher untuk disembelih.
Dari kejauhan, di area VIP, Liam berdiri bersedekap. Seringai tipis masih terpatri di wajah sang investor saat ia menyesap kopi hitam. Ia menikmati pemandangan itu, melihat Ethan yang tampak seperti singa dalam kandang, terkepung oleh kekuasaan dan uang ratusan juta dolar miliknya.
Ethan memberikan anggukan, sebuah isyarat bahwa ia sudah siap beradegan. Tepat di saat sutradara bersiap berteriak "Action!", sebuah mobil sedan mewah berwarna putih mulus berpelat nomor khusus perlahan memasuki area steril.
Kemunculan mobil itu kembali menyedot perhatian para kru dan wartawan di luar pagar.
Pintu sedan terbuka. Seorang wanita berpenampilan sangat elegan melangkah keluar dengan kacamata hitam besar dan gaun desainer ternama.
Jane.
Kemunculan Jane di lokasi syuting pagi itu bagaikan gumpalan awan hitam baru yang siap menumpahkan badai.
Liam yang menyaksikan kedatangan Jane dari area VIP tersenyum makin lebar. Senjata terbesarnya untuk menekan Ethan kini telah hadir dengan sendirinya.
Kedatangan Jane, wanita yang saat ini berstatus sebagai tunangan Ethan sekaligus sosok yang paling sering menghiasi sampul majalah bersama Ethan bukan sekadar kunjungan romantis biasa.
Di hadapan publik dan kamera media di luar pagar steril, mereka adalah power couple impian industri hiburan.
“Tahan!” seru sutradara melalui mikrofonnya, menunda aba-aba action yang tinggal seujung lidah.
Kamera-kamera infotainment di balik garis pengaman langsung menyorot ke arah Jane. Kilatan lampu kamera membendung langkahnya saat ia melangkah anggun menembus barikade kru.
Jane melepas kacamata hitamnya pelan, memamerkan senyum manis yang sempurna untuk konsumsi media, sebelum melayangkan tatapan penuh arti ke arah Liam di area VIP.
“Maaf mengganggu waktumu, Sayang,” ujar Jane dengan suara halus yang mengalun mesra. Ia mendekat, membetulkan kerah mantel Ethan di depan para kru.
“Aku cuma mau memberi dukungan langsung untuk tunanganku. Lagipula... bukankah adegan hari ini butuh emosi yang 'nyata'?”
Ethan bergeming. Ia membiarkan jemari Jane menyentuh mantelnya, meski setiap sel tubuhnya menolak. Ia tahu betul permainan ini. Pertunangan mereka memberi Jane akses penuh ke proyek ini, dan Liam memanfaatkan celah itu untuk makin menyudutkan posisinya secara finansial maupun mental.
“Kamu tahu aku tidak suka diganggu saat bekerja, Jane,” sahut Ethan dingin, mempertahankan suara pelan agar tidak tertangkap mikrofon set.
Jane tertawa kecil, menyandarkan posisinya tepat di samping Ethan seraya berbisik tepat di telinga Ethan.
“Media ada di luar, Ethan. Tersenyumlah. Ingat, reputasi dan investasi besar Liam di film ini bergantung pada sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu.”
Ethan mengulas senyum tipis, senyuman tajam yang justru membuat Jane tertegun sejenak. Ia menyentuh pinggul Jane pelan, memberi gestur mesra yang tampak meyakinkan dari kejauhan, lalu balik berbisik.
“Kalau begitu, duduk manis di area VIP bersama Liam dan tontonlah. Jangan sampai tunanganmu ini mengecewakan investor utama.”
Ethan melepaskan genggamannya, melangkah mundur, dan memberikan isyarat tegas kepada sutradara tanpa memedulikan Jane yang kini menatapnya dengan rahang menegang.
“Action!”
****
Aroma harum bawang putih dan herba segar memenuhi dapur berdesain minimalis dengan permukaan granit hitam itu. Di atas kompor induksi, saus pasta berbumbu khas sedang mendidih perlahan di dalam wajan.
Mia mengaduk saus tersebut dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menggenggam telepon seluler keluaran terbaru, hadiah yang Liam berikan tanpa bisa ia tolak. Ia menjepitkan telepon seluler itu di antara telinga dan bahunya saat meraih mangkuk bumbu.
“Apa kamu sungguh-sungguh, Mia? Ponsel baru, tempat tinggal super mewah, dan kamu masih sempat memikirkan jadwal kerja toko?” suara Ivy terdengar nyaring dari balik pengeras suara, bercampur tawa kecil yang diwarnai rasa tidak percaya.
Mia menghela napas pelan, mematikan kompor lalu memindahkan telepon seluler ke genggaman tangannya. Ia berjalan menuju jendela kaca berukuran besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari lantai atas.
“Aku meneleponmu bukan untuk menanyakan jadwal kerja, Ivy,” ujar Mia dengan nada suara yang tenang namun mantap. “Aku sudah mengambil keputusan. Aku ingin mengundurkan diri dari toko perhiasan itu.”
Hening sejenak di seberang telepon, sebelum Ivy akhirnya bersuara dengan nada terkejut.
“Mengundurkan diri? Mia, kamu yakin? Pak Mark bahkan tidak mempermasalahkan izinmu kemarin setelah Pak Liam menelepon langsung. kamu tidak perlu mundur.”
“Aku sangat yakin, Ivy,” sahut Mia seraya menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
“Baiklah. Jika memang itu keputusanmu, aku akan menyampaikannya kepada Pak Mark. Tapi, apa kamu benar-benar baik-baik saja di sana? Dan kamu berhutang banyak penjelasan padaku. Katakan padaku, ada hubungan apa kamu dengan Tuan Liam sebenarnya? Dia itu Liam Vance, Mia. Pria yang tak tersentuh oleh wanita seperti kita.”
Pertanyaan Ivy tepat mengenai sasaran. Mia mengetuk permukaan kaca yang dingin dengan jemarinya.
Ada hubungan apa antara dirinya dengan Liam?
Padahal ia baru beberapa hari mengenal Liam, tetapi Liam memperlakukannya lebih dari seorang kenalan biasa.
“Aku tidak tahu, Ivy,” bisik Mia lirih.
“Mia, jika terjadi sesuatu, Kamu tahu bisa menghubungi aku kapan saja, bukan?” nada suara Ivy melunak, dipenuhi kekhawatiran seorang sahabat.
****
Jane baru saja melangkah menuju area VIP bersama Liam dengan senyum kemenangan yang memudar, digantikan rasa jengkel akibat ketenangan Ethan, saat ponsel di dalam jas desainer milik Liam bergetar.
Liam merogoh saku jasnya, menarik ponselnya, dan melihat nama pengawal pribadi yang ia tugaskan untuk menjaga penthouse tempat Mia tinggal.
“Ada apa?” tanya Liam dingin tanpa mengalihkan pandangan dari Ethan yang kini sedang beradu peran di bawah lampu set syuting.
“Tuan Liam, Nona Mia baru saja mematikan kompor dan sepertinya selesai menelepon,” lapor suara di seberang telepon.
“Awasi wanitaku baik-baik.”
“Baik, Tuan.”
Liam mematikan sambungan telepon. Ia melirik Jane yang kini duduk di sampingnya seraya menyesap minuman dingin.
Selain sebagai artis, Jane adalah putri seorang pengusaha kaya raya. Itulah sebabnya mengapa ia bisa duduk bersama Liam. Karena Jane berada di lingkungan yang sama dengan Liam.
“Kenapa? Ada masalah dengan 'peliharaan' barumu?” sindir Jane tajam, menyadari perubahan ekspresi Liam.
Liam menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. “Bukan masalah. Hanya memastikan aset pentingku tetap berada di tempatnya.”
Ia kemudian bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya, lalu menatap sutradara yang baru saja berteriak “Cut! Perfect!” untuk adegan Ethan.
“Mau ke mana? Syuting baru saja dimulai,” tanya Jane heran.
“Aku ada urusan pribadi yang jauh lebih menarik daripada menonton pertunjukan teater tunanganmu,” sahut Liam datar sebelum melangkah pergi meninggalkan area VIP, membiarkan Jane sendirian memendam kekesalan.
–tbc–