Indonesia
NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Tekanan dari Dewan Komisaris belum surut, namun Langit Prita Dewanta menolak untuk beranjak dari kursi kebesarannya.

Di tengah badai yang mengancam meluluhlantakkan Dewanta Group, pintu ruang kerjanya kembali terbuka tanpa permisi, kali ini, bukan Paman Hendra yang muncul, melainkan Galang Bharata.

Pria itu melangkah masuk dengan setelan jas rapi, tanpa ada raut penyesalan sedikit pun di wajahnya.

Sifat pengecut dan penuh kepalsuan yang semalam ia tunjukkan di kamar hotel kini telah berganti dengan keangkuhan yang nyata.

Ia berjalan mendekati meja Langit, lalu menarik kursi di hadapan sang CEO tanpa dipersilakan.

"Mau apa lagi kamu ke sini, Galang? Keamanan! Bagaimana bisa pria ini masuk?!" suara Langit meninggi, tangannya bersiap menekan tombol interkom di mejanya.

"Jangan repot-repot memanggil security, Langit," potong Galang dengan senyum sinis yang memuakkan.

"Aku ke sini bukan untuk mengemis maaf atas kejadian semalam, aku ke sini untuk membicarakan bisnis, proyeksi masa depan kita."

Langit melepaskan tangannya dari interkom, bersedekap, dan menatap mantan calon suaminya dengan pandangan yang sarat akan rasa jijik.

"Bisnis? Hubungan kita sudah selesai sejak semalam. Kamu tidak punya hak apa pun di gedung ini."

"Oh, tentu saja aku punya," ujar Galang sambil menyandarkan punggungnya, tampak sangat percaya diri.

"Kita sudah menandatangani beberapa kesepakatan pranikah, termasuk rencana penggabungan beberapa aset properti milikku dengan anak perusahaan Dewanta, pembatalan sepihak yang kamu lakukan semalam merugikan reputasiku sebagai arsitek lanskap ternama, aku kehilangan beberapa klien besar pagi ini karena rumor pembatalan pernikahan kita mulai berembus."

Galang mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Langit dengan mata penuh kelicikan.

"Aku butuh kompensasi, berikan aku hak kepemilikan atas tanah di kawasan CBD yang rencananya akan kita bangun bersama, atau aku akan membawa sengketa pembatalan pernikahan ini ke media, aku akan memutarbalikkan fakta, aku akan bilang kepada publik bahwa CEO Dewanta Group yang agung ini menderita gangguan emosional, menuduhku berselingkuh tanpa bukti, dan mencampakkanku demi menutupi kegagalan proyek Starlight-mu yang hancur itu."

Mendengar ancaman murahan itu, Langit justru terkekeh pelan.

Sebuah tawa yang terdengar dingin dan meremehkan. "Kamu pikir media akan memercayaimu, Galang?"

"Dalam kondisi saham Dewanta Group yang sedang terjun bebas seperti sekarang? Tentu saja," jawab Galang penuh kelancaran.

"Media sangat suka menggoreng cerita tentang kejatuhan seorang wanita karier yang arogan, satu pernyataan saja dariku tentang ketidakstabilan mentalmu, maka sisa investor Starlight akan lari, dan kursi CEO-mu akan benar-benar hilang hari ini juga, Jadi, bagaimana? Pilih beri aku kompensasi, atau kita hancur bersama?"

Sebelum Langit sempat membalas gertakan Galang, pintu penghubung rahasia di samping ruang kerjanya terbuka.

Rian, Kepala Tim IT Forensik internal yang paling tepercaya dan hanya tunduk pada perintah langsung Langit, melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di tangannya, ia membawa sebuah laptop khusus yang masih menampilkan baris-baris kode enkripsi yang rumit.

"Bu Langit, maaf saya menyela. Tetapi ini sangat darurat terkait investigasi serangan siber semalam," kata Rian, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Galang di ruangan itu.

Langit mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Rian melanjutkan. "Katakan, Rian. Apa yang kamu temukan?"

Rian meletakkan laptopnya di atas meja, memutarnya agar menghadap ke arah Langit.

"Kami sudah melacak jejak digital dari akses internal yang digunakan untuk membobol firewall Starlight, benar bahwa pelaku menggunakan akun milik Sarah. Namun, ada kejanggalan yang sangat fatal."

Jari Rian mengetuk layar, memunculkan deretan log aktivitas.

"Token digital yang digunakan untuk menyetujui pengunduhan cetak biru Starlight tidak dikirim dari perangkat milik Sarah, token itu diverifikasi melalui perangkat utama yang terhubung langsung dengan ruang server lantai teratas ini. Pelaku sabotase sistem Starlight menggunakan akses fisik internal dari dalam gedung ini, tepat pada jam dua pagi, saat seluruh gedung sudah kosong."

Mata Langit menyipit tajam menatap data tersebut. "Artinya, Sarah tidak melakukannya dari luar?, seseorang berada di dalam gedung ini?"

"Lebih dari itu, Bu," lanjut Rian dengan nada suara yang memberat.

"Kunci enkripsi tingkat tinggi yang digunakan untuk membuka gerbang data utama Starlight adalah kunci duplikat yang hanya bisa dibuat oleh orang yang memiliki otoritas mutlak atas sistem keamanan Dewanta Group, seseorang yang tahu persis letak kelemahan backup sistem kita. Pelaku bukan sekadar peretas luar yang memanfaatkan Sarah, melainkan ada keterlibatan orang dalam yang sangat dekat dengan Anda, seseorang yang berada di struktur tertinggi perusahaan."

Langit merasakan pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis.

Pikirannya langsung memetakan siapa saja orang yang memiliki otoritas setinggi itu.

Hanya ada segelintir orang, dan salah satunya adalah pamannya sendiri, Hendra Dewanta, yang pagi-pagi sekali sudah datang membawa Dewan Komisaris untuk mendesaknya mundur.

Sabotase ini adalah sebuah kudeta terencana yang memanfaatkan Sarah dan Galang sebagai pion di baris depan untuk menghancurkan kredibilitasnya secara total.

Galang yang duduk di hadapan Langit tampak sedikit gelisah mendengar penjelasan Rian, meski ia berusaha keras menyembunyikannya dengan memalingkan wajah ke arah jendela.

Langit perlahan mengalihkan pandangannya dari layar laptop menuju Galang.

Topeng ketenangan Galang mulai menunjukkan retakan kecil. Langit menyadari sesuatu yang jauh lebih besar sekarang.

Galang bukan sekadar pria hidung belang yang berselingkuh dengan sekretarisnya,

Pria di hadapannya ini adalah bagian dari konspirasi besar yang digerakkan oleh musuh dalam selimut di perusahaannya sendiri untuk menggulingkannya dari takhta CEO.

Dengan perlahan, Langit berdiri dari kursinya.

Karisma kepemimpinannya yang sempat digoyang badai fajar tadi kini kembali memancar penuh, bahkan jauh lebih mengintimidasi dari sebelumnya.

"Kamu mendengar itu, Galang?" tanya Langit dengan suara yang begitu tenang namun mengancam.

"Tim IT-ku baru saja menemukan bukti digital yang akan segera diserahkan kepada pihak kepolisian dan Badan Siber Nasional, kasus ini bukan lagi sekadar skandal pembatalan pernikahan atau sengketa aset bersama yang bisa kamu bawa ke media gosip."

Langit melangkah memutari mejanya, berhenti tepat di samping kursi Galang, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu.

"Ini adalah tindakan sabotase industri, pencurian aset strategis negara, dan konspirasi siber tingkat tinggi. Siapa pun yang terlibat, termasuk wanita selingkuhanmu yang meminjamkan akunnya, dan kamu yang mencoba memerasku menggunakan momentum ini, akan terseret dalam pasal pidana berat dengan ancaman hukuman di atas dua puluh tahun penjara."

Wajah Galang yang tadinya angkuh kini mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya. Ancaman untuk menghancurkan reputasi Langit di media seketika menguap, digantikan oleh ketakutan nyata akan jeruji besi.

"Langit, a-aku gak ada hubungannya dengan peretasan itu! Aku cuma arsitek!" bantah Galang dengan suara yang mulai gemetar, urat-urat di lehernya menegang.

Langit menegakkan tubuhnya kembali, menatap Galang dari atas ke bawah dengan pandangan penuh kemenangan.

"Kalau begitu, bersiaplah untuk membuktikannya di hadapan penyidik, Galang, karena aku tidak akan memberikan kompensasi satu rupiah pun untuk pengkhianat seperti mahluk di hadapanku ini. Rian, panggil tim hukum dan minta sekuriti seret pria ini keluar dari ruanganku sekarang juga." Perintah Langit seketika.

Yang makin penasaran yuk komennya ya, jangan lupa LIKE, VOTE dan HADIAH nya.

1
Bundanya Robby
kapan jatuh cinta beneran nya
Nurhartiningsih
fix bumi ketua mafia yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
jadi penasaran siapakah bumi?
Akhila Davina
semangat kak💪❤️
Akhila Davina
mudah" tidak ada lagi hambatan
Nurhartiningsih
jangan2 bumi adl CEO yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
seperti biasa...pengkhianatnya adl orang dekat
Nurhartiningsih
apakah ini juga ada kaitannya dg keluarga Nugraha????
Akhila Davina
good job Rian❤️
Akhila Davina
semangat 💪❤️
Siti Aisah
oh"sebenernya masih kurang karena penasaran menunggu besok.. tapi apalah daya jadi" terimakasih thor 🤣
Siti Aisah
bang bumi dan rian the best lah.. walaupun bergadang sampai pagi demi langit yg bisa tidur nyenyak😜
Siti Aisah
syukur lah bumi sudah memberikan ide untuk menyelesaikan masalah langit.. walaupun dgn ide yg nyeleneh😁
Kaa
sungguh tak sabar ingin tahu besok gimana Hendra ngadapin itu semua
Kaa
seru Thor aku suka gaya bicara bumi👍
Siti Aisah
thor kukira cuman satu bab 🤭penasaran akan kah langit dan bumi bisa mengatasi masalah yg terjadi??tpi yg penting mah langit bisa tidur sambil di peyuk bumi🤗
Kaa
bumi sungguh menghanyutkan
Akhila Davina
ditunggu
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!