Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:69.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Tangis penyesalan yang pecah di dalam ruang kerja Lumiere Bakehouse itu perlahan mereda, menyisakan deru napas Gema yang berat, patah-patah, dan terasa amat menyiksa. Pria itu masih tersungkur berlutut di lantai marmer yang dingin, merengkuh bingkai foto Alana dan Tania di dadanya seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa di tengah kehancuran jiwanya.

​Ujung kemeja kerjanya yang biasa rapi dan licin kini kusut, basah oleh air mata dan peluh yang menyatu. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun usianya berdiri di bumi, Gema merasa benar-benar hancur, terhina oleh kebodohannya sendiri, dan sama sekali tak berdaya. Pria yang selama ini membanggakan logika, kontrol diri, dan keangkuhannya itu kini bertekuk lutut di atas lantai ruang kerja wanita yang telah ia abaikan dan dingin-dinginkan selama hampir tujuh tahun pernikahan mereka.

​Setiap jengkal ruangan itu seolah menghakiminya tanpa bersuara. Piala-piala berderet, sertifikat-sertifikat berbingkai mahoni, hingga senyum lepas Alana bersama Tania di dalam foto semuanya memancarkan fakta brutal bahwa Alana adalah sosok yang utuh, mandiri, dan berprestasi tanpa sedikit pun membutuhkan campur tangan atau validasi darinya.

​"Mas Gema."

​Sebuah suara bernada datar, halus, dan tanpa gelombang emosi sedikit pun tiba-tiba berembus dari arah pintu yang terbuka.

​Gema tersentak pelan. Jantungnya berdesir hebat, seperti dihantam gelombang kepanikan yang mendadak. Dengan jemari yang gemetar hebat, pria itu perlahan mengembalikan bingkai foto kayu putih itu ke atas meja kerja Alana. Ia buru-buru mengusap wajahnya yang basah secara acak menggunakan lengan kemeja, berusaha mengumpulkan sisa-sisa martabatnya yang sudah hancur lebur di atas lantai.

​Saat Gema mendongak dan berdiri dengan langkah bersusah payah, ia mendapati Alana sudah berdiri di ambang pintu. Wanita itu menggandeng jemari mungil Tania yang kini sudah tampak jauh lebih tenang, meski mata bulat anak itu masih menyisakan sisa-sisa sembap.

​Tidak ada amarah meledak-ledak di wajah Alana. Tidak ada tatapan benci, dan yang paling menyiksa dada Gema tidak ada binar rasa kasihan atau perhatian sedikit pun di mata jernih istrinya saat menyaksikan suaminya tersungkur basah oleh air mata di lantai ruang pribadinya.

​Alana menatap Gema dengan tatapan yang amat sangat datar. Sebuah ketenangan berlapis es yang justru terasa jauh lebih mengerikan dan menghancurkan jiwa daripada bentakan atau caci maki.

​"Tania sudah mau makan omurice di dapur," ucap Alana pelan. Suaranya terdengar begitu teratur, santai, dan tanpa riak emosi sedikit pun. "Saya rasa urusan makan siang ini sudah selesai."

​Gema meneguk ludahnya yang terasa begitu pahit bagaikan empedu. Suaranya keluar sangat parau, hampir menyerupai bisikan menahan sakit yang melilit erat di dalam dadanya.

​"Alana..." panggil Gema lirih, matanya menatap Alana dengan pandangan keputusasaan. "Saya... saya minta maaf. Soal makanan laut tadi dan... soal semua yang ada di dalam ruangan ini. Saya benar-benar tidak tahu kalau kamu..."

​"Tidak ada yang perlu dibahas atau dimintai maaf, Mas," potong Alana cepat namun dengan nada yang amat sangat tenang. Wajahnya lurus, tidak memperlihatkan sedikit pun celah emosi. Ia bahkan tidak membiarkan Gema menyelesaikan kalimat penyesalannya. "Soal makanan tadi cuma salah paham kecil. Mas tidak perlu memikirkannya berlebihan."

​Gema tertegun kaku. Tangannya yang menggantung di sisi tubuh bergetar pelan. Respon Alana yang begitu santai dan seolah meremehkan insiden makanan yang bisa membahayakan nyawanya sendiri justru membuat dada Gema makin terhantam hebat.

​"Salah paham kecil kamu bilang, Alana?" tanya Gema dengan mata yang kembali berkaca-kaca memerah, menatap istrinya dengan pandangan tak percaya.

"Kamu bisa bahaya kalau makan makanan laut itu! Kulitmu bisa merah-merah, kamu bisa sesak napas! Dan saya... saya ini suamimu, Alana! Tapi saya sama sekali tidak tahu fakta sedasar itu tentang kamu! Belum lagi piala-piala ini, sertifikat-sertifikat ini... kenapa kamu tidak pernah cerita sedikit pun sama saya kalau kamu sehebat ini?!"

​Alana merapikan posisi tali tas kecil di bahunya dengan gerakan sangat anggun. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Gema yang bergetar tanpa sedikit pun kedipan ragu.

​"Mas Gema ini kenapa?" tanya Alana lirih. Ada nada heran yang amat tipis dan samar terdengar dari suaranya, seolah-olah reaksi Gema saat ini adalah sesuatu yang sangat aneh dan tak masuk akal baginya. "Bukankah selama hampir tujuh tahun ini hubungan kita memang seperti ini?"

​Gema membeku. Lidahnya mendadak kelu saat mendengar pertanyaan retoris itu.

​"Mas Gema fokus dengan pekerjaan dan dunia Mas sendiri di kantor," lanjut Alana dengan ritme bicara yang sangat stabil. "Dan saya mengurus diri saya sendiri beserta Tania di rumah dan di toko ini. Dari dulu kita berjalan di jalur masing-masing, kan?"

​"Tapi Alana, saya sadar saya salah! Saya mau berubah!" selak Gema emosional, melangkah satu tapak mendekati istrinya dengan tatapan memohon yang amat dalam. "Saya mau perbaiki hubungan kita! Saya"

​"Mas Gema tidak perlu merepotkan diri," sela Alana lagi, memotong niat Gema dengan sebuah kalimat yang meluncur begitu dingin, rapi, dan berjarak. "Tidak ada yang perlu diubah atau diperbaiki. Mas tidak membutuhkan saya untuk urusan pribadi maupun pekerjaan Mas. Dan saya pun... sudah sangat terbiasa menjalankan hidup saya sendiri tanpa bergantung pada Mas Gema. Kita jalani saja seperti sedia kala."

​Alana menarik napas halus, lalu mengembuskannya perlahan. "Tidak usah memaksakan sesuatu yang memang tidak pernah ada sejak awal pernikahan kita."

​Kata-kata Alana meluncur dengan sangat lancar. Tidak ada nada tinggi, tidak ada nada menyindir, apalagi tangisan drama. Namun justru karena kepolos datar itulah, dampaknya bagaikan tamparan keras berkekuatan penuh yang menelanjangi seluruh keangkuhan dan rasa percaya diri Gema selama ini. Alana tidak marah. Alana hanya secara halus menolak untuk menganggap Gema penting dalam sisa jalan hidupnya.

​"Saya cuma mengimbangi Mas Gema," tambah Alana pelan, pandangannya beralih sejenak menatap dedaunan di luar jendela ruangan. "Kalau selama bertahun-tahun ini Mas bersikap biasa saja, dingin, dan tidak pernah menuntut apa-apa dari saya selain mengurus rumah dan Tania... maka bersikaplah seperti itu terus. Jangan tiba-tiba bertingkah emosional seperti ini di tempat kerja saya. Ini tidak profesional dan bisa dilihat oleh para staf saya di luar."

​Tidak profesional.

​Kata itu menghantam ulu hati Gema bagai tusukan belati dingin. Istrinya sendiri kini menyejajarkan kehadirannya di toko ini tak ubahnya seorang tamu atau relasi bisnis yang bersikap tidak sopan di area kerja.

​"Alana..." rintih Gema, suaranya bergetar menahan tangis yang makin mendesak keluar dari pelupuk matanya. "Tolong... jangan bicara seperti itu. Kamu ini istri saya..."

​"Saya tahu," sahut Alana singkat tanpa membantah. "Tapi toko ini adalah area profesional saya. Dan jam istirahat Mas Gema pasti sudah habis sekarang."

​Alana melirik jam tangan perak yang melingkar cantik di pergelangan tangan kirinya. "Sebaiknya Mas Gema kembali ke kantor sekarang. Pekerjaan Mas di perusahaan pasti sangat banyak dan tidak bisa ditinggal terlalu lama hanya untuk hal-hal yang tidak penting seperti ini."

​"Kamu... kamu mengusir saya, Alana?" bisik Gema dengan dada yang kian terasa sesak, seolah pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak dihabiskan oleh rasa bersalahnya sendiri.

​"Saya tidak mengusir," jawab Alana datar, wajahnya tetap tidak memancarkan emosi apa pun. "Saya cuma mengingatkan tanggung jawab Mas Gema. Tania akan tetap di sini bersama saya sampai jam operasional toko tutup sore nanti. Nanti sore kami akan pulang sendiri naik taksi. Mas tidak perlu repot-repot meluangkan waktu untuk menjemput."

​Gema mematung. Pria itu menatap wanita di depannya dengan perasaan yang campur aduk hancur berkeping-keping, bersalah, dan disergap oleh rasa takut yang luar biasa hebat.

​Alana berdiri di sana bagaikan sebuah tembok es transparan yang amat tebal. Wanita itu tampak begitu dekat, bisa disentuh oleh tangannya, dan berbicara dengan sangat sopan. Namun jiwanya, hatinya, dan seluruh dunianya telah terkunci rapat di balik benteng kedap udara yang tak lagi bisa ditawar atau ditembus oleh permohonan maaf sebesar apa pun dari seorang Gema.

​Alana lalu sedikit menggeser tubuhnya ke samping pintu, memberi akses jalan yang luas untuk Gema. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Tania pelan-pelan, menatap suaminya dengan tatapan formal yang teramat asing.

​"Mari, Mas. Saya antar sampai pintu depan toko."

​Gema menatap lorong pintu itu dengan pandangan kabur oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Pria itu menyadari satu hal yang teramat pahit: Alana tidak sedang membalas dendam dengannya. Alana hanya sedang mengembalikan hubungan mereka ke titik nol titik di mana Gema menganggap Alana tak ada, dan kini Alana membalasnya dengan memperlakukan Gema sebagai sosok yang tak lagi berpengaruh bagi kebahagiaannya.

​Dengan tubuh yang terasa amat berat, kedua kaki yang melangkah limbung, dan kepala menunduk dalam, Gema akhirnya melangkah melewati Alana. Pria pengusaha sukses yang selalu mendominasi itu kini berjalan keluar dari toko kue megah milik istrinya dengan jiwa yang hampa dan remuk redam.

​Di belakangnya, Alana melangkah mengiringi dengan jarak dua tapak di belakang amat sopan, amat formal, namun mempertegas bahwa di antara mereka berdua, kini hanya tersisa jarak dingin yang tak akan pernah bisa disatukan kembali.

1
falea sezi
ya ampun
Agunk Setyawan
Alana itu anak kandung nya gak sebenarnya
Elina thea
dah tau salah tapi gak mau minta maaf lagi~~~ dasar gak tau diri,sungguhthor dua chapter hari ini sukses bikin aku nangis karna tania/Sob//Sob//Sob/
Elina thea
tragis banget jadi tania/Sob//Sob//Sob/punya bapak gak punya hati.
Zhafran Althaf
kak air bekas cucian baju ku masih banyak ini kalau butuh bantuan buat nyiram ke ortunya Alana dan Risa sok aku bantuin
Arieee
orang" egois👎👎👎👎👎👎
Cha Libra
berharap authournya ngasih KARMA BUAT Ortu Alana ma s risa
susi ana
masukkan RSJ aja si Gema
stela aza
kenapa keluarga alanan g di bikin jatuh miskin kalau perlu di hilangkan dari muka bumi ini dua duanya 🤭
stela aza
s gama sakit jiwa
Tini Uje
ya allah tega bgtt kluarga dajjal sama anak sendiri..masukin tuh sianjing gema pnjaraa thorr 😡esmosiii aku pagi2 nih
Sri Widiyarti
pengen getok kepala si Risa biar sadar....
Brown choco
Kalo mau cerita si risa, bikin judul baru aja jangan buat tokoh pendukung jadi pusat cerita
Tini Uje
koq tau sih thor gemanjing itu alana ada disurbay..sapa yg bocorin yah 😏mudahan kecelakaan tuh sigema2 biar langsung mampus
Elina thea
itu anak udah gak ada ibunya~~~katanya bapaknya cinta mati sama istrinya,pas istri dah gak ada malah di lampiaskan ke anak, bukannya kebalik yah... seharusnya saat istri/ibunya dah gak ada anak itu harus di sayang dan jaga baik2,dah stres si gema ini kayaknya...
sutiasih kasih
otak gema nyangkut di mana gitu🤔🤔🤔....
kejam bgt sm ank sndiri....
nnti klo tania smpe kmbali ke alam baka... bru nyesel km....
Mundri Astuti
ealah ternyata 11 12 ma adiknya yak si gema ...
susi ana
nambah jadi 5 bab sehari Thor 💪😂😂😂
falea sezi
biar mati di jalan anak nya 🤣 ttep aja egois ini bangsatt
Sri Widiyarti
lanjut kak ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!